
CTAK!
Rafael menekan tombol lampu yang berada di tembok gerbang masuk taman, sehingga lampu-lampu nya menyala dan pemandangan indah itu terlihat lagi. Mereka berdua masuk ke dalam taman, dan seperti biasa mereka duduk-duduk lagi di gazebo taman.
Bianca menaruh kantong belanjanya, " katanya mau ngomong, ngomong apa kak? " tanya Bianca.
Rafael terdiam sejenak. Dia masih belum tau mau memulai pembicaraannya dari mana, dia takut salah bicara nanti. Rafael menarik nafasnya, menggenggam tangan Bianca lalu menatapnya dengan lembut.
" tadi siang.. kamu ngeliat udah sejauh apa? " tanya Rafael.
" maksud kakak? "
" yang tadi siang, di kelasku, aku aku tau kamu liat, sejauh apa kamu liat? "
" waktu kakak bilang kak Zena gila dan obsesif sampe kak Zena cium kakak. " jawab Bianca dengan tenang.
" kamu gak marah? atau kamu kecewa gak sama aku? " tanya Rafael dengan perasaan dag dig dug ser~.
»»————\> **R&B** <————««
Bianca terdiam. Dia seperti sedang berfikir, tapi ntahlah, Rafael tidak tahu isi hati Bianca. Beberapa detik kemudian dia membuka suara.
" aku gak marah kok! " ucapnya.
" kenapa? kamu bohong kan, kamu pasti marah sama aku, kita yang pacaran aja gak pernah ciuman begitu tapi Zena.. "
" aku gak bohong, aku gak marah sama kakak, emang aku agak kesel sama kelakuannya kak Zena, tapi aku gak mau bikin masalah sama dia, aku males ribut. " jawab Bianca.
suasana hening sejenak, beberapa detik kemudian, Bianca mendekat dan mencium pipi Rafael dengan cepat. Rafael melihat ke arah Bianca dengan tatapan terkejut.
" apa, kenapa? kalo aku cium, kakak mau cuci muka karena takut jerawatan? " tanya Bianca dengan sedikit nada bercanda.
Rafael tersenyum lalu menggelengkan kepalanya pelan. Sedetik kemudian, Rafael mendekatkan wajahnya ke wajah Bianca, tangan kanannya menyentuh pipi Bianca, menatap nya dengan lembut, dan Bianca membalas tatapannya dengan tatapan jahilnya yang khas.
" boleh aku cium kamu? " tanyanya sambil menatap Bianca.
Bianca dengan tatapan jahilnya menjawab " gak boleh, aku tuh anak baik-baik tau~ ", katanya dengan nada menggoda.
" hehe, apanya yang baik-baik? nakal gini.. " kata Rafael kemudian.
sedetik kemudian, Rafael mencium hidung mancung Bianca lalu terkekeh geli seraya mengobrak abrik rambut Bianca.
" jangan obrak abrik rambutku ah! jadi amburadul kan! " gerutu Bianca.
" gak apa-apa, lucu kok kalo rambut kamu amburadul gitu. "
" dasar! "
Rafael memandang ke arah langit, bintang-bintang bertaburan dan bulan yang bersinar membuat langit tampak terang oleh sinar bulan. Angin sepoi-sepoi berhembus pelan, ketika menerpa wajah dan tubuh rasanya sangat sejuk. Suara air kolam ikan yang beriak, dan aroma bunga yang harum tercium samar, membuat Rafael dan Bianca jadi merasa sangat tenang dan damai.
Rafael memejamkan matanya, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Bianca. Dia ingin istirahat, dia ingin mengistirahatkan pikirannya yang kacau sejak tadi siang.
Bianca menaruh tangannya di belakang kepala Rafael. Mengelus pelan rambutnya, lalu berkata " aku bukan orang yang bakal marah ke kakak cuma karena kakak dicium kak Zena, marah cuma bakal bikin aku capek, mending aku tenang, biar damai aja udah.. "
" apa alasan kamu gak marah ke aku karena kejadian itu? " tanya Rafael.
" ya, karena aku gak mau marah-marah gak jelas yang bakal nambah beban pikiran kakak, kalau aku harus marah-marah gak jelas ke kakak cuma karena aku cemburu, itu malah bakal bikin cape ke aku sendiri, aku juga yang gak akan tenang nantinya.. "
mendengar jawaban Bianca, Rafael tersenyum tipis. Dia sedikit mendongakkan kepalanya, lalu perlahan mencium pipi Bianca.
" hahaha! kata siapa, aku bakal nyebarin rumor aneh ke seluruh gedung sekolah ah~ " ujar Bianca dengan nada jahilnya.
" hahaha! kenapa gitu? " tanya Rafael.
" ya apalagi, aku ini serakah kak~ kalo rumor itu nyebar kan aku bisa dengan mudah ngedepak kakak dari posisi ranking 1 sesekolah, dan aku yang bakal gantiin kakak.. gimana, pinter kan aku? ".
" hehehe! itu sih bukan pinter namanya, tapi licik. kamu emang serakah ya Ca! hahaha! " Rafael pun akhirnya tertawa, dia bisa tersenyum lebar lagi, berkat Bianca.
" mau nyemil? " tanya Bianca.
" boleh. "
Bianca lalu mengeluarkan dua bungkus keripik kentang, sebungkus cookies, dan dua botol soda lemon. Makanan makanan favoritnya, junk food lovers dia.
" mau sekalian nonton? " tanya Bianca.
" nonton apa? aku sih ikut kamu aja. "
" hm.. antara series horor thriller, atau anime? pilih yang mana? " kata Bianca memberikan opsi.
" anime aja ah! mendingan jadi wibu aku daripada dijejelin tontonan yang berdarah-darah gitu. " jawab Rafael, jujur dari lubuk hati yang terdalam.
" dih dasar! auranya aja yang sangar, dijejelin tontonan setan dan berdarah nolak anda. "
" aku gak suka soalnya. "
yah. Jadilah mereka menonton anime di malam itu, sambil nyemilin keripik dan minumnya soda. Malam itu Rafael jadi semangat lagi, berkat pacar tersayang nya. Kepribadian Bianca yang hangat dan ceria, membuat Rafael jadi merasa nyaman terus berada di dekat Bianca, kalau bisa, Rafael mau tidak pernah berpisah dengan Bianca, agar nantinya hanya dia yang bisa memiliki Bianca, sebagai istrinya, punya anak bersama Bianca, dan menghabiskan masa tua bersama Bianca, sepertinya hidup akan selalu menyenangkan kalau dia terus bersama Bianca.
✄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈
Waktu terus berjalan, tak terasa sudah jam 20.30 WIB saja. Khawatir orang tuanya akan mencarinya, Bianca meminta pada Rafael untuk mengantarkannya ke rumah. Rafael mengiyakannya, Bianca membereskan sampah dan sisa cemilannya, lalu menghampiri Rafael yang sudah bertengger di atas motor ninja nya. Sebelum keluar dari taman, Bianca mematikan lampu taman, taman yang tadinya cerah dan gemerlap, kembali menjadi taman yang sunyi dan gelap.
Bianca naik ke jok belakang motor Rafael. Memeluknya erat dari belakang, dan Rafael segera melajukan motornya itu, mengantarkan pacarnya pulang ke rumah calon mertua, ea🗿.
Jalanan terlihat tak terlalu sepi, masih ada banyak kendaraan yang lalu lalang di jalan, mungkin karena memang belum terlalu malam.
Bianca menyandarkan kepalanya ke punggung Rafael seperti biasanya, memejamkan mata, mencari kenyamanan untuk nya.
tak butuh waktu lama untuk sampai ke rumah Bianca, motor Rafael sampai di depan pagar rumah Bianca. Bi Arum seperti biasa masih terjaga, dia membukakan kunci pagar dan menyambut Bianca, tak lupa juga bi Arum menawarkan pada Rafael untuk singgah sebentar.
" mau mampir dulu a? nanti biar bibi siapin minuman.. " kata bi Arum.
" gak usah bi, saya mau langsung pulang aja, takut kemaleman.. " kata Rafael.
mata Rafael lalu teralih fokusnya ke jendela kamar Zena yang terbuka, lampunya pun masih menyala. Di dalam jendela yang terbuka itu ada Zena, yang sedang melihat Rafael dari atas.
merasa muak dan kesal, Rafael segera mengalihkan pandangannya dan berpamitan pada Bianca dan bi Arum.
" pamit ya bi, Ca.. "
" iya, pergi sana.. hati-hati ya~ " kata Bianca kemudian.
" iya. ", kemudian Rafael meninggalkan halaman rumah Bianca.
『••✎••』Bersambung...