
.
.
.
Hari ini seluruh publik di buat terkejut, ketika semua stasiun televisi, koran, majalah dan artikel berita membicarakan tentang berita dari CEO muda dan sukses, yaitu Oh Sehun. Mereka tidak menyangka bahwa sang CEO yang menjadi idola dan menantu idaman itu telah menikah, terlebih lagi yang membuat mereka terkejut adalah wanita yang Sehun nikahi ini adalah seorang gadis yang belum lama hangat di perbincangan kan publik karena kasus meninggalkannya sang ayah. Namun, ada juga yang mendoakan dan senang dengan pernikahan Sehun dan Jiyeon, banyak komentar positif yang mengatakan bahwa mereka berdua adalah pasangan yang cocok juga sangat serasi, bak dewa dan dewi dari kayangan, serta banyak doa-doa yang mereka berikan untuk pernikahan Sehun dan Jiyeon.
"Wah daebak!! Sehun berita mu langsung masuk trending nomor satu di seluruh dunia. Benar-benar pesona seorang Oh Sehun, hebat sekali". Krystal sampai geleng-geleng kepala, matanya fokus pada benda persegi yang ada di genggaman tangan, dan jarinya sibuk menscroll layarnya. Padahal baru tadi pagi dia dan Jiyeon pergi untuk mengadakan konferensi perss, sekarang beritanya langsung menyebar luas seantero korea.
"Tentu saja, berita ini harus jadi yang pertama. Ini adalah salah satu cara untuk memancing musuh". Ucap Sehun bangga.
"Tapi apa kau benar-benar akan menikah dengan Jiyeon?" Krystal meletakkan ponsel yang sejak tadi menjadi fokusnya di atas meja. Sekarang hanya ada mereka berdua di ruang tamu, Baekhyun sibuk mengurus para wartawan yang menanyakan berita tentang Sehun sedangkan Jieun membantu Jiyeon berganti pakaian juga membersihkan riasan wajah.
"Tentu saja, aku sudah mendaftarkan pernikahan ku dengan Jiyeon di catatan sipil. Mereka yang mencoba membantah berita ini juga tidak akan ada gunanya, karena bukti sudah ada" Sehun menggoyang-goyangkan wine yang tinggal setengah gelas, kemudian meminumnya hingga habis tak tersisa.
Jiyeon dan Jieun turun kebawah, mereka bergabung bersama dengan Krystal dan Sehun.
"Bagaimana? Kau suka dengan akting ku tadi? Sudah cocok menjadi suami yang baik bukan?" Goda Sehun pada Jiyeon yang kini malah menatap Sehun dengan mata kucingnya yang tajam.
"Ya, bagus sekali.. Kenapa kau tidak ikut casting saja, sekalian jadi artis". Krystal tertawa mendengar jawaban Jiyeon, gadis ini sudah berubah bukan lagi orang yang sama, yang Krystal temui dan ajak berkenalan dua minggu yang lalu. Tak sia-sia dia meluangkan waktunya untuk melatih Jiyeon.
"Kenapa tertawa? Kau pikir lucu?" Kesal Sehun dan memutar bola matanya malas.
"Aku masih tidak menyangka bahwa kau akan menikah dengan Jiyeon, wah Sehun apa kau benar-benar tergila-gila pada Jiyeon?" Celetuk Jieun menatap Sehun dan Jiyeon bergantian. Dia adalah orang yang berteriak histeris kesenangan pertama kali ketika Sehun mengatakan akan menikah dengan Jiyeon.
"Omong kosong apa yang kau bicarakan? Bukankah aku sudah bilang bahwa pernikahan ini hanya bagian dari rencana. Itu saja. Jangan berpikir yang aneh-aneh Lee Jieun!" Sehun memperingatkan, Jieun langsung menutup mulutnya.
"Yaahhhh... Aku sangat ingin melihat reaksi ibu tiri juga adik tiri Jiyeon setelah melihat berita ini. Waahh... Pasti menyenangkan sekali, membayangkan saja membuat ku tertawa". Krystal tergelak, dia menikmati imajinasi yang ia buat sendiri, membayangkan dua orang itu bak cacing kepanasan dan marah-marah tidak jelas setelah melihat berita hari ini.
"Setelah ini, mereka tak akan lagi bisa tertawa di atas penderitaan ku. Aku akan merebut apa yang harusnya menjadi hak ku dari tangan mereka". Aura dingin itu tiba-tiba keluar dan membuat Jieun yang duduk di samping Jiyeon merinding, Krystal menghentikan tawanya dan menepuk bahu Jiyeon pelan.
"Ya, sudah saatnya mereka mendapatkan balasan atas apa yang telah mereka perbuat padamu Jiyeon"
"Rasa sakit juga penghianatan yang mereka lakukan, akan aku kembalikan beserta dengan bonusnya". Jiyeon menyeringai.
Jauh dalam lubuk hati Jiyeon, dia berdoa semoga ayah dan ibunya memberikan restu dan tidak akan marah melihat putrinya yang dulu selembut salju berbuah menjadi sekeras batu. Rasa sakit itu masih bersarang di hati Jiyeon dan tak akan sembuh sebelum orang-orang itu mendapatkan balasan atas apa yang mereka lakukan. Bukan Jiyeon yang memulai, tapi merekalah yang lebih dulu menyulut api dalam diri Jiyeon.
Sehun tiba-tiba saja berdiri, dia membenarkan letak jasnya. Krystal mengerutkan kening dan kini mendongak menatap dirinya.
"Yak! Kau mau kemana?" Tanya Krystal, dia itu memang tidak suka menahan apapun yang mengganjal dalam hati. Suka bilang suka, benci bilang benci. Itulah Krystal.
"Ke kantor, memang mau kemana lagi?" Sehun melenggang pergi meninggalkan ruang tamu, langkahnya semakin samar dan tak terdengar ketika berhasil melewati pintu, semenit kemudian deru mobil yang terdengar tanda Sehun telah pergi.
"Ish... Aku tidak tahu apa yang Sehun katakan sehingga kau setuju untuk menikah dengannya? Kau tidak hilang akal kan Jiyeon?"
"Tidak, sama seperti yang Sehun katakan.. Ini adalah bagian dari rencana, kalian berdua tidak perlu khawatir aku masih sangat waras." Jiyeon tersenyum tipis, dia beranjak dari sana meninggalkan Krystal juga Jieun.
"Ku rasa mereka berdua memang cocok." Celetuk Jieun sambil menatap punggung Jiyeon yang kini sedang menaiki anak tangga. Dia mulai berpikir bahwa Sehun dan Jiyeon sebenarnya memiliki watak yang sama dan dikelilingi dengan hawa dingin yang menakutkan. Dia merasakannya beberapa hari terakhir ketika bersama dengan Jiyeon.
"Hem... Mereka berdua memiliki ambisi yang kuat, saat aku berlatih bersama Jiyeon aku bisa merasakan tekad juga luapan emosinya, jika aku tidak terlatih mungkin saja aku akan babak belur di hajar Jiyeon." Krystal sependapat dengan Jieun, dua orang itu memiliki sisi yang orang lain tidak ketahui, sisi yang terpendam di dalam diri mereka masing-masing. Bedanya Jiyeon membangkitkan sisi itu karena rasa sakit yang ia terima sedangkan Sehun, entahlah dia penuh teka-teki dan rahasia.
"Hei, bagaimana jika kita pergi shopping? Sudah lama kita tidak shopping dan perawatan." Usul Jieun, dia merasa bosan. Beberapa hari ini tak pergi ke salon juga hanya berdiam di dalam rumah karena perintah Sehun yang memintanya untuk menjaga Jiyeon.
"Hem, boleh juga.. Ah, aku akan menunjukan mobil baru ku padamu." Bangga Krystal.
"Kau membeli mobil? Kapan?" Rengek Jieun, dia ingin membeli mobil tapi di rumah ini sudah ada banyak mobil.
"Sehun yang membelikannya untuk ku, upah karena aku berhasil mendapatkan informasi tentang Jiyeon."
"Aaaa... Enak sekali, aku juga mauuuu."
"Minta saja pada Sehun."
"Kau tahu Krys, aku masih ingin menghirup udara segar. Sudahlah ayo kita pergi, sekalian ajak Jiyeon juga, dia pasti juga bosan di rumah terus."
"Baiklah, cepat sana panggil dia."
Jieun bangkit dari duduknya, berlari kecil menaiki anak tangga dan masuk kedalam kamar Jiyeon. Hari ini mereka akan menguras habis isi dompet Sehun.
***
Tablet berukuran sedang itu di lempar dengan kuat dan hancur berkeping-keping di atas lantai, seolah benda itu tidak berharga sama sekali. Napas orang yang tadi melempar tablet itu naik turun dengan tidak teratur, emosinya membuncah dan siap meledak kapan saja.
"Bagaimana ini bisa terjadi?! Tidak mungkin!! Berita ini tidak mungkin benar!!" Ucapnya dengan emosi, membuat suaranya meninggi tak seperti biasanya.
"Ini tidak mungkin!!" Lagi, dia menyangkal sebuah berita yang baru saja ia baca dari tablet yang telah hancur tak berbentuk di atas lantai itu. Dia menolak untuk percaya bahwa wanita yang ada di dalam berita itu adalah Park Jiyeon yang sama, yang telah dia usir dengan tangannya sendiri dari rumah ini.
"Eommaa bagaimana ini?" Gadis belia itu juga tak kalah terkejut dengan berita itu, dia tak percaya bahwa Jiyeon bisa menikah dengan seorang yang hebat seperti Oh Sehun, sungguh dia tidak percaya dengan semua itu. Dia pikir Jiyeon akan frustasi gila dan mengakhiri hidupnya. Sungguh ini di luar prediksinya, dia berharap mendengar kabar meninggalkannya Jiyeon bukan malah menikah.
Wanita yang di panggil ibu itu memegangi kepalanya yang mendadak pusing, dia berjalan pelan dan duduk di sofa yang tak jauh dari tempatnya berdiri, masih dengan memegangi kepalanya yang pusing. Sedangkan gadis belia itu mengikuti dan duduk di samping ibunya.
"Eomma bagaimana? Apa yang harus kita lakukan? Jiyeon telah mendapatkan dukungan yang kuat."
"Tenanglah, kau tenang saja Nayeon meskipun dia mendapatkan dukungan yang kuat, dia tetap tidak akan bisa melakukan apapun. Jiyeon itu lemah, hatinya sangat lemah, dia tidak akan pernah bernai melakukan sesuatu."
Mereka pikir, mereka telah mengenal Jiyeon dengan baik. Tapi benarkah Jiyeon tidak akan melakukan apapun? Mereka belum tahu saja bahwa kini Jiyeon tengah mempersiapkan diri untuk melawan mereka.
Gadis bernama Nayeon itu percaya saja dengan ucapan sang ibu, karena dia sendiri juga tahu watak lembut Jiyeon yang bahkan dulu dengan bodohnya mengakui kesalahan yang tidak ia lakukan. Saat itu Nayeon tidak sengaja menabrakkan mobil milik sang ayah dan menyebabkan seseorang masuk kedalam rumah sakit, dia ketakutan dan tidak tahu harus melakukan apa, Jiyeon merasa kasihan dan tidak tega akhirnya dia mengakui bahwa dialah yang menyebabkan kecelakaan hingga sang ayah marah dan menghukum Jiyeon tidak boleh keluar rumah dan seluruh fasilitasnya di sita. Bukannya berterima kasih Nayeon malah berpura-pura di depan sang ayah dan ikut menyalahkan Jiyeon. Licik sekali.
"Iya eomma, Jiyeon tidak akan bisa melakukan apapun, lagipula perusahaan sudah di pegang oleh Appa jadi dia tidak akan bisa masuk ke perusahaan." Nayeon tersenyum miring.
Sebuah rahasia lain yang tidak di ketahui orang adalah sebenarnya ibu tiri Jiyeon pernah memiliki hubungan gelap dengan paman Jiyeon dan hasil dari hubungan mereka adalah Nayeon. Mereka memang sudah lama mengincar harta dan perusahaan ayah Jiyeon.
***
Seharian berkeliling mall membuat kaki tiga gadis itu serasa bengkak apalagi Jieun memakai heels tinggi semakin terasa bengkaknya. Barang belanjaan mereka berjejer penuh di atas meja, hari ini mereka benar-benar menikmati acara berbelanja walau sepanjang hari ini Jiyeon hanya diam dan mengikuti saja. Mereka sempat mampir salon sebelum pulang dan Jieun mengganti warna rambutnya menjadi biru, Jiyeon juga ikut mengganti warna rambut hitamnya menjadi coklat. Sedangkan Krystal tetap dengan rambut hitamnya yang menawan.
"Apa yang kau beli tadi?" Tanya Jieun pada Krystal.
"Sebuah jaket kulit terbaik, sepatu, celana jeans juga beberapa potong baju. Kau sendiri, apa yang kau beli?"
"Aku membeli banyak sekali aksesoris yang lucu dan manis, kutek, baju, gaun dan banyak lagi. Kalau kau Jiyeon?"
"Aku? Hanya sebotol parfum"
Krystal dan Jieun membuka mulut mereka lebar, terkejut dengan jawaban simpel Jiyeon. Seharian berkeliling mall dengan berbagai macam toko yang menggoda mata setiap wanita hanya dengan sekali melihat dan Jiyeon hanya membeli parfum? Benar-benar gadis yang unik pikir Jieun dan Krystal.
"Kau yakin tidak membeli apapun?" —Jieun
"Hem.. tidak sama sekali"
"Benar hanya itu?" —Krystal
"Ya, hanya itu"
"Wahh... benar-benar sulit di percaya, berkeliling mall hanya membeli itu?" —Krystal
"Aku masih belum membutuhkan sesuatu, jadi aku hanya membeli itu"
Krystal dan Jieun saling berpandangan, kemudian menatap semua belanjaan mereka yang begitu banyak. Jiyeon tiba-tiba berdiri. "Aku akan ke kamar ku sekarang." Jiyeon melangkah pergi meninggalkan ruang tamu juga Jieun dan Krystal.
Jiyeon membuka pintu kamarnya, dia melangkah masuk kedalam mencari tombol lampu dan kemudian menyalakan lampu yang ada di dalam kamarnya. Jiyeon mengerutkan kening ketika melihat sebuah cincin di atas meja dekat ranjangnya ketika dia hendak meletakkan parfumnya.
***
"Cincin siapa ini?" Gumam Jiyeon, tak hanya cincin rupanya netra Jiyeon juga menangkap ada selebar note di dekatnya. Jiyeon mengambil note itu dan membacanya.
'Cincin ini aku siapkan untuk mu, kau harus memakainya. Sandiwara pernikahan ini tak akan lengkap jika tanpa cincin pernikahan. Kau tidak ingin wartawan tahu jika pernikahan kita ini palsu bukan?—Oh Sehun'
Jiyeon menghela napas, harusnya dia sudah tahu bahwa hanya Sehun saja yang akan masuk kedalam kamarnya dan meletakkan benda ini. Jiyeon meletakkan kembali cincin itu dan lagi, ketika dia menoleh ke arah ranjang matanya menangkap sebuah smartphone yang terlihat masih baru dengan pinta pink tergeletak begitu saja di atas ranjangnya. Pasti ini juga kerjaan Sehun, pikir Jiyeon.
***
Jiyeon membiarkannya saja, dia melangkah menuju balkon. Sang gadis kini berdiri sambil menatap jauh ke depan, matahari akan segera terbenam. Jiyeon terlihat memikirkan sesuatu, helaan napas meluncur dari bibir kecilnya.
"Menikah ya?" Gumam Jiyeon yang hanya angin saja yang mampu mendengarnya.
Flashback_
"Appa kau harus minum obat mu supaya tidak sakit." Gadis cantik itu tengah membujuk sang ayah untuk mau minum obat yang telah dokter berikan setelah memeriksa kondisi ayahnya.
"Tidak, Appa tidak sakit Jiyeon, appa hanya lelah saja." Elak sang ayah yang tidak mau minum obat.
"Eh.. tetap saja appa harus meminum obat ini supaya lelah appa hilang, ayolah appa." Jiyeon mempoutkan bibirnya lucu, berharap dengan cara ini ayahnya akan mau minum obat dan benar saja ayahnya bersedia meminum obat yang telah Jiyeon bawa.
"Nah begitu... Appa akan harus terus sehat hingga aku menikah nanti." Si gadis tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang putih.
Sang ayah membelai lembut surai hitam di gadis, putrinya ini sangat berharga dan sangat ia sayangi. Wajahnya yang mirip dengan mendiang istrinya membuat Junsu tidak bisa menolak apapun yang Jiyeon minta. Dia teramat menyayangi Jiyeon.
"Tentu saja appa akan sehat hingga kau menikah nanti dan appa sendiri yang akan menyerahkan putri appa pada calon suaminya kelak." Junsu mengecup pucuk kepala putrinya itu penuh kasih sayang.
"Janji ya appa?! Appa tidak boleh ingkar janji." Jiyeon mengacungkan jari kelingkingnya dan di sambut dengan jari kelingking sang ayah.
"Tentu saja sayang, pernikahan mu nanti akan menjadi pernikahan termegah dan mewah. Semua hanya untuk anak appa yang cantik ini."
"Tidak appa, aku tidak menginginkan pernikahan yang mewah, aku hanya ingin appa menemani ku hingga aku menikah nanti."
Jiyeon memeluk ayahnya, dia memang sudah bisa bermanja-manja pada sang ayah. Junsu mengusap punggung juga rambut Jiyeon.
"Iya iya... appa yang akan menamai mu sampai kau menikah."
"Aku sayang appa!"
"Appa juga sayang pada mu Jiyeon."
Flashback end_
"Appa..." Lirih Jiyeon sedih. Air mata Jiyeon mengalir begitu saja ketika mengingat kenangannya bersama sang ayah. Sungguh masa-masa yang tak bisa Jiyeon ulangi dan akan selalu Jiyeon rindukan sampai kapanpun. Padahal ayahnya sudah berjanji akan selalu sehat dan menemaninya hingga dirinya menikah, tapi sekarang tidak ada siapapun lagi. Jiyeon menghapus air matanya, dia tidak boleh kembali lemah dan kehilangan dirinya. Jiyeon harus kuat demi ayahnya.
Di bawah sana, Sehun melihat semuanya terlihat jelas dari balik kaca mobilnya. Ya, dia baru kembali dari kantor dan tidak sengaja melihat Jiyeon berdiri di balkon kamarnya. Sehun pikir Jiyeon akan kembali bunuh diri tapi rupanya prasangka Sehun salah, gadis itu sedang menangis.
"Apa yang membuatnya terlihat begitu sedih hingga menangis?" Gumam Sehun masih memperhatikan Jiyeon.
"Sehun kita sudah sampai, kenapa tidak turun?" Baekhyun akhirnya buka suara karena sejak tadi Sehun hanya diam dan tak berniat untuk turun dari dalam mobil. Baekhyun kan masih harus memasukan mobil kedalam garasi.
Sehun tak menjawab dan langsung turun begitu saja. "Ishh... Tuhan menciptakan mulut untuk berbicara, tapi Sehun? Hanya di gunakan sebagai hiasan saja mungkin." Baekhyun geleng-geleng kepala dan memasukan mobil kedalam garasi.
Maapin kalau ada salah kata, semoga kalian suka sama part kali ini.
Di tunggu vommetnya💜
Tonton juga teaser cerita ini ya teman-teman, keceh lho
Video by jiyeonarts jangan lupa subscribe jugaa😚😚