President'S Priceless Wife

President'S Priceless Wife
Part 28





.


.


.


.


.


.


Jiyeon mengetuk pintu ruang kerja Sehun pelan, ia sudah mencari si pria sejak tadi di semua ruangan dalam rumah ini dan memang di mana pun tidak ada, hanya ruangan ini saja yang belum ia datangi. Jiyeon kembali mengetuknya hingga akhirnya sebuah suara dari dalam meminta Jiyeon untuk masuk, benar dugaan Jiyeon, Sehun ada di dalam.


Setelah pulang dari kantor, Jiyeon belum melihat batang hidung Sehun, akhir-akhir ini si pria tampak sibuk dengan tumpukan dokumen bahkan tak jarang Sehun bergadang demi untuk menyelesaikan semua pekerjaannya.


Jiyeon masuk ke dalam ruangan Sehun setelah mendapatkan izin sang pemilik, ia melihat Sehun duduk di balik meja dengan laptop yang menyala juga beberapa dokumen yang berserakan di sisi lain. Wajah Sehun terlihat serius juga lelah, terbukti dengan kantung mata hitam yang menghiasi sekitar area matanya.


“Ada apa Jiyeon? Apa kau butuh sesuatu?“ Sehun mengalihkan sejenak atensinya dari depan laptop, menatap Jiyeon yang kini berdiri di depan mejanya, ragu.


Melihat Sehun yang lelah seperti ini, Jiyeon jadi ragu ingin menyampaikan maksud dan tujuannya menemui si pria, “Apa kau hanya akan diam saja di situ?“ Lagi, Sehun membuka suara karena Jiyeon tak kunjung mengatakan apa pun, padahal terlihat jelas di wajahnya jika ia ingin menyampaikan sesuatu pada Sehun, juga tidak mungkin Jiyeon sampai repot menemuinya jika tidak punya sesuatu untuk di sampaikan.


“Begini Sehun, ada sesuatu yang ingin aku minta tolong darimu,“ Akhirnya Jiyeon mengatakannya juga, ia sudah tidak bisa mundur lagi, sudah cukup ibu tiri dan adik tirinya hidup mewah dengan harta ayahnya, sekarang saatnya ia kembali pada tujuan awalnya tetap bertahan hidup, yaitu balas dendam.


“Katakan saja, Jiyeon. Apa yang kau ingin aku lakukan?“ Jiyeon mendekat, ia memberikan sebuah map coklat pada Sehun. Sehun menatap map itu bingung.


“Apa ini, Jiyeon?”


“Ini adalah hasil tes obat-obatan milik ayahku, aku mengambil obatnya dari rumah beberapa waktu yang lalu bersama Krystal dan Jieun.”.


Sehun membuka map coklat itu dan membaca isinya, “Kau mengambil obat-obatan ini sendiri?”


“Tidak, ada Jieun dan Krystal yang membantuku”


“Apa ibumu tahu tentang ini? Apa terjadi sesuatu yang buruk saat kau melakukan hal ini?” Jiyeon menggeleng. Sehun meletakkan map itu di atas meja, menghela napas pelan, “Kapan kau melakukannya? Kenapa tidak memberitahuku?”


“Aku melakukannya saat kau pergi untuk menyelamatkan Kai, lagi pula waktu itu kau bilang aku boleh melakukan apa pun yang aku inginkan dan jangan merasa seperti tahanan, ” Jiyeon tidak mengerti, kenapa Sehun malah menanyakan hal ini bukan tentang map-Nya.


“Lain kali setelah kau melakukan sesuatu atau hendak melakukan sesuatu yang berbahaya, beritahu aku, aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk padamu, ” Jiyeon mengerutkan kening, berpikir apakah sekarang Sehun sedang mengkhawatirkannya, atau mungkin karena lelah makanya dia bicara melantur.


“Baiklah Sehun, akan aku lakukan.”


“Jadi bantuan apa yang kau ingin aku lakukan?”


“Jadi.... ” Jiyeon menceriakan semua yang ingin ia lakukan pada sang ibu tiri, mereka harus membayar apa yang telah mereka perbuat selama ini.




Pagi itu, di kediaman keluarga Park terlihat tenang dan juga damai. Ibu dan anak tengah menikmati sarapan dengan nikmat, para pelayan melayani mereka dengan sangat baik meskipun dalam hati menyumpah serapah dan mencibir.


Mereka sangat menyayangkan bahwa Nona pemilik rumah yang sesungguhnya malah di usir pergi dari rumah ini, ingin marah dan menghujat tapi mereka masih butuh pekerjaan dan siapa mereka? Hanya pelayan yang tidak memiliki hak apa pun.


Ketenangan itu berubah, ketika terdengar suara pintu yang di ketuk kencang dari luar, “Siapa yang datang? Kenapa tidak sopan sekali,” Ucap sang wanita paruh baya. Ia meminta salah seorang pelayan untuk membukakan pintu.


Tak lama kemudian pelayan yang ia suruh membukakan pintu kembali dengan tergopoh-gopoh, seolah baru saja berhasil kabur setelah melihat hantu.


“Nyonya itu di depan... itu... ada... itu...”


“Bicara yang jelas! Apa kau gagu!!” Bentak sang Nyonya besar.


“Di luar ada polisi yang mencari Nyonya,” Akhirnya pelayan itu berhasil menyampaikan apa yang ingin ia ucapkan.


“Polisi? Untuk apa polisi mencari ku?”


“Eomma, ada apa ini?”


“Selamat pagi, ada apa ya ini?” Meskipun perasaannya tidak enak, ia tetap bersikap biasa saja tak mau membuat polisi curiga.


“Selamat pagi, Nyonya. Kami di sini membawa surat penangkapan untuk anda, tolong ikut kami ke kantor tanpa melawan,” Ucap seorang polisi berbadan besar dengan jaket hitam.


Ibu tiri Jiyeon tertawa sumbang, sepertinya ada kesalahpahaman di sini, dia tidak merasa melakukan sesuatu hal yang melanggar hukum bahkan selama ini dia tenang-tenang saja di dalam rumah, tidak menipu atau mencuri apa pun milik orang lain, lantas kenapa polisi ingin menangkapnya? Mungkin mereka salah alamat.


“maaf tapi sepertinya kalian salah orang, saya tidak merasa melakukan tindak kejahatan,” Ibu tiri Jiyeon berusaha berkilah, Nayeon tampak khawatir dan ketakutan di belakang ibunya.


“tidak Nyonya, kami mendapatkan laporan bahwa Anda dengan sengaja melakukan rencana pembunuhan terhadap mendiang Tuan Park, sebaiknya Anda jangan beralasan lagi dan ikut kami.” Polisi itu memberikan kode pada anak buahnya untuk membawa ibu tiri Jiyeon.


“apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku!” Ibu tiri Jiyeon meronta-ronta, ia berteriak tidak bersalah sedangkan Naeyon mencoba menahan polisi membawa ibunya pergi, matanya tampak berkaca-kaca.


“Jangan bawa ibu saya! Dia tidak bersalah, kalian pasti salah orang... Aku mohon lepaskan ibuku!” Salah seorang petugas menepis tangan Naeyon hingga jatuh tersungkur sedangkan polisi tetap membawa ibunya masuk ke dalam mobil.


“Nayeon jangan khawatir! Eomma tidak bersalah, eomma pasti akan segera keluar! Cepat hubungi pengacara juga Ayahmu! Suruh mereka untuk membebaskan eomma!” Teriak Ibu tiri Jiyeon sebelum pintu mobil tertutup.


Mobil itu melesat pergi meninggalkan halaman rumah kediaman keluarga Park, Nayeon masih terduduk di tanah dengan derai air mata. Tak jauh di sana, Jiyeon melihat semuanya, ini masih awal dan tidak akan ada yang bisa membebaskan ibu tirinya dari hukuman penjara.


“Sekarang apa yang akan kau lakukan?” Tanya Sehun yang duduk di bagian kemudi, ia sampai membatalkan meeting penting demi untuk menemani Jiyeon melihat ibu tirinya di seret oleh polisi. Ya sudahlah, lagi pula ia tidak akan bisa tenang jika Jiyeon pergi sendirian, karena terlalu berbahaya.


“Aku akan ke kantor polisi, kita lihat siapa yang datang untuk menolongnya.” Sehun mengangguk mengerti, ia menjalankan mobilnya menuju kantor polisi.



“Sudah aku bilang! Aku tidak tahu apa pun tentang obat-obatan itu! Kenapa kalian terus saja mendesak ku?!”


Proses interogasi masih berlanjut dan sejak tadi ibu tiri Jiyeon terus berkilah, mengatakan bahwa ia tidak tahu apa pun mengenai obat-obatan yang selama ini di konsumsi sang suami. Ia mengutuk Jiyeon karena berani melaporkannya pada polisi, anak kelinci penakut itu benar-benar telah berubah menjadi macan betina yang mengerikan.


“Jangan berbohong lagi Nyonya, bukti juga sudah ada bahkan kami juga memiliki saksi yang melihat Anda menukar obat-obatan milik Tuan Park. Jika Anda masih ingin berbelit-belit, maka hukumannya akan lebih berat lagi,” Petugas itu sudah habis kesabaran. Di balik ruang interogasi, Jiyeon memperhatikan gerak-gerik dan tingkah laku ibunya, ingin rasanya ia ke sana dan memberikan tamparan dan pukulan yang sangat keras pada wanita jahat itu.


Entah sampai kapan sang ibu tiri akan berkelit dan mengatakan tidak tahu padahal bukti sudah ada di depan mata, Jiyeon geram sendiri.


“Sepertinya proses ini akan lama, Nona. Apa Anda akan tetap di sini menyaksikannya?” Petugas yang menjaga ruangan ini membuka suara.


Jiyeon menghela napas, biarkan saja ibu tirinya terus berkilah, meskipun begitu hukuman pidana sudah menanti. Jiyeon memutuskan untuk keluar dan menunggu hasilnya saja.


“Ibu tiri mu pasti mendapatkan ganjaran atas perbuatannya.” Ucap Sehun saat mereka keluar dari ruang interogasi, ia juga melingkarkan tangannya pada pundak Jiyeon, seolah tengah memberikan dukungan emosional pada sang gadis. Jiyeon tersenyum, ia amat sangat berterima kasih pada Sehun, jika tidak ada pria ini mungkin saja Jiyeon sudah mati dengan sia-sia tanpa tahu kebenarannya.


“Terima kasih Sehun, jika tidak ada kau mungkin aku sudah lama mati tanpa membalas perbuatan kejam ibu tiri ku,” Jiyeon berucap dengan tulus, sorot matanya me-lembut, Sehun mengusap-usap lengan Jiyeon dan mengangguk kecil.


“Sudah aku duga! Kaulah dalangnya!!” Nayeon berteriak dan mendorong tubuh Jiyeon hingga jatuh kebelakang. “Dasar wanita sialan! Kau pasti yang telah melaporkan eomma ku, bukan?!!” Naeyon kembali ingin menyerang Jiyeon tapi Sehun berhasil menangkap tangannya, beberapa polisi juga membangun menahan Nayeon agar tidak berbuat kekerasan.


Sehun membantu Jiyeon berdiri, ia membersihkan belakang baju Jiyeon yang kotor. Jiyeon menatap Nayeon tajam.


"Harusnya aku yang marah! Kalian sudah menghancurkan keluargaku! Bahkan kalian tega meracuni ayahku dan setelah beliau tiada kalian menikmati kekayaannya!!" Jiyeon tidak bisa lagi menyembunyikan kesedihan dan amarah yang ia tahan selama ini, biar saja semua orang tahu betapa busuk ibu dan adik tirinya ini.


"Ibumu pantas mendapatkan nya, ini adalah balasan untuk orang seperti kalian!!"


"Park Jiyeon sialan! Aku pasti akan membalas mu!!" Nayeon meronta-ronta ingin mencakar Jiyeon, tapi untunglah polisi itu berbadan kekar hingga Nayeon tidak bisa lepas dengan mudah.


Sehun membawa Jiyeon pergi karena wajah Jiyeon tampak pucat, ia seperti mengalami tekanan yang berat. Sepertinya Jiyeon butuh istirahat beberapa waktu untuk menegakan pikirannya terlebih dahulu.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Sehun saat mereka dalam perjalanan pulang.


Jiyeon memijit pelipisnya yang terasa nyeri, "Ya, aku baik-baik saja hanya sedikit pusing," Jawab Jiyeon seadanya.


"Istirahatlah, jangan pikirkan apapun dulu."


"Hem.."


Jiyeon memandang keluar jendela, menatap setiap orang yang berlalu lalang, ia ingin semua masalah ini cepat selesai dan ia bisa bernapas lega serta tersenyum tanpa beban. Jika saja menyelesaikan masalah ini semudah membelikan telapak tangan, maka Jiyeon tak perlu sepusing ini.




Maaf ya kalau part kali ini nggak ada feelnya buat kalian...


Tapi, semoga kalian tetep suka♡️