President'S Priceless Wife

President'S Priceless Wife
Part 32



.


.


.


.


.


Jiyeon keluar dari gedung kantor bersama dengan Chanyeol setelah selesai membahas kontrak kerja juga keuntungan-keuntungan apa saja yang akan Chanyeol dapatkan selama menjabat sebagai CEO sementara dalam waktu tak kurang dan lebih dari dua tahun. Dan Jiyeon sendiri akan menjadi asisten pribadi Chanyeol sekaligus belajar bagaimana cara mengurus sebuah perusahaan.


"Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik, Chan.." Ucap Jiyeon sebelum masuk kedalam mobil, Chanyeol tersenyum dan mengangguk pelan.


"Ya, aku juga berharap begitu.. Hati-hati saat pulang, sampai bertemu besok dan jangan sampai terlambat." Jiyeon terkekeh pelan mendengar kalimat terakhir Chanyeol, belum mulai kerja saja Chanyeol sudah memperingatkan agar dirinya tidak datang terlambat. Benar-benar contoh bos yang baik.


"Siap bos!" Jiyeon memberikan hormat layaknya siswa yang sedang hormat pada bendera negara, Chanyeol tersenyum lebar kemudian mengacak rambut Jiyeon-gemas.


"Dasar kau ini, sudah sana pulang," Ucap Chanyeol.


"Aku pergi dulu." Ucap Jiyeon dan masuk kedalam mobil, Chanyeol mengangguk. Ketika mobil itu perlahan menjauh Chanyeol masih di sana dengan ekspresi wajah yang telah berubah muram, perlahan helaan napas meluncur dengan bebas dari mulut kecilnya. Masih belum percaya jika gadis yang baru saja pergi tadi sudah milik orang lain. Dengan langkah berat, Pria ini kembali masuk kedalam gedung.


"Nona, apa kita langsung pulang? Atau ada tempat yang ingin anda datangi terlebih dahulu?" Tanya Tao pada Jiyeon yang duduk di belakang. Ia melirik sang gadis lewat kaca spion yang terpasang cantik di depannya.


Jiyeon melirik jam yang ada di tangannya, ini sudah masuk jam makan siang untuk pegawai kantor. Jika di pikir-pikir selama menjadi istri Sehun, tidak pernah sekalipun Jiyeon menginjakkan kakinya di gedung perusahaan Sehun. "Kita ke perusahaan Sehun saja," Jawab Jiyeon, tak ada salahnya ia datang dan mengejutkan Sehun.


"Baik Nona.." Tao langsung saja menuju perusahaan Sehun yang memang lokasinya tak jauh dari posisi mereka sekarang ini. Sedang di belakang, Jiyeon tengah tersenyum sambil menatap keluar kaca mobil, entah kenapa hari ini suasana hatinya benar-benar bagus sekali dan dia jadi bersemangat.


Mobil yang membawa Jiyeon, berhenti tepat di depan gedung tinggi menjulang milik Sehun, ia benar-benar baru pertama kali datang dan jujur ia takjub melihat betapa kayanya seorang Oh Sehun tak heran jika banyak wanita yang mendekati juga para ibu yang ingin menjadikannya menantu.


Seorang security membukakan pintu mobil untuk Jiyeon, gadis itu turun dan berterima kasih pada sang security. "Tao kau langsung pulang saja, aku bisa pulang naik taxi nanti," Ucap Jiyeon yang kembali membuka pintu belakang mobil.


"Tapi Nona, tuan pasti tidak akan mengizinkan.."


"Tidak apa-apa, kau pasti lelah karena terus menungguku.. Pulang dan istirahat saja."


Jiyeon menutup kembali pintu mobil itu dan melangkah masuk kedalam gedung tanpa mendengar jawaban Tao. Baiklah, karena bosnya sendiri yang menginginkan seperti itu maka Tao dengan senang hati mengikuti perintah, ia membawa mobil itu menjauh dan keluar dari lingkungan perusahaan Sehun.


Jiyeon mendekati meja informasi, ia tidak tahu dimana letak ruangan Sehun dan akan lebih baik jika ia bertanya dari pada tersesat nanti. "Permisi.." Sapa Jiyeon pada wanita yang berdiri di balik meja.


"Iya nona, ada yang bisa saya bantu?"


"Bisakah anda memberitahukan saya dimana letak ruangan tuan Oh Sehun?"


"Tuan Oh Sehun? Dengan siapa sekarang saya bicara?"


Jiyeon tersenyum, "Park Jiyeon.."


Wanita itu tampak bergumam dan detik berikutnya ia memasang ekspresi wajah terkejut. "Oh, maafkan saya Nona. Pantas saja wajah anda tampak tak asing, senang sekali bisa bertemu dengan Nona secara langsung... Mari saya akan antar ke ruangan tuan Oh," wanita itu tampak girang, seolah baru saja menang lotre. Ia keluar dari balik meja itu dan meminta Jiyeon untuk mengikutinya.


"Anda benar-benar cantik, bahkan lebih cantik saat di lihat secara langsung," Puji sang wanita ketika mereka berada di dalam lift. Ia masih tidak percaya bisa bertemu dan sedekat ini dengan istri atasannya yang selalu muncul menghiasi layar kaca beberapa bulan terakhir ini.


Jiyeon tersipu, "Terima kasih, Nona juga sangat cantik.." Balas Jiyeon.


"Tuan Oh dan Nona adalah pasangan yang serasi, aku benar-benar mendukung kalian semoga menjadi keluarga yang harmonis dan segera di berikan keturunan," Wanita muda itu mengakhiri kalimatnya dengan tertawa. Jiyeon sendiri juga tertawa pelan, sambil memikirkan hal yang lain.


Tak terasa, mereka telah sampai di lantai dimana ruangan Sehun berada. Wanita muda itu masih menemani Jiyeon hingga sampai di depan pintu ruang kerja Sehun, ia harus memastikan bahwa istri bosnya tidak tersesat.


"Silahkan Nona,"


"Terima kasih ya,"


"Sama-sama Nona, kalau begitu saya permisi dulu," wanita muda itu pergi meninggalkan Jiyeon, jika terlalu lama meninggalkan meja informasi bisa-bisa ia di pecat, mau makan apa keluarga yang ada di rumah nanti.


Jiyeon hendak masuk kedalam, namun sebuah suara menghentikannya, "Siapa kau bernai sekali mau masuk kedalam?" Jiyeon seketika menoleh dan mendapati seorang wanita dengan rambut blonde melipat tangan di dada, tatapan matanya seolah menyelidik Jiyeon dari ujung kaki hingga ujung rambut.


"Aku ingin bertemu dengan Sehun," Ujar Jiyeon mencoba bersikap ramah dengan wanita yang entah siapa itu. Kenapa banyak sekali wanita yang berkeliaran di kantor Sehun, pikir Jiyeon.


"Tuan Oh sedang sangat sibuk sekarang, ia melarang siapapun untuk mengganggunya!" Tegas wanita itu. Jiyeon mengerutkan kening, apakah wanita ini tidak tahu siapa dirinya atau bagaimana? Kenapa sikapnya berbeda sekali dengan karyawan yang tadi. "Jika kau masih kekeh ingin bertemu, kau bisa menunggu di sana," Wanita itu menunjuk sebuah ruang tunggu yang tak jauh dari ruangan Sehun.


"Tapi aku-"


"Jika tidak mau, ya sudah pergi sana,"


Jiyeon menghela napas, "Baiklah, aku akan menunggu," Ia tidak mau membuat keributan nanti yang ada semua orang di kantor ini akan berpikir bahwa ia gadis yang tidak beretika dan akan ada banyak gosip nanti, ia menjadi cukup populer sekarang-Sepertinya. Dan menjaga sikap itu perlu.


Jiyeon berjalan menuju ruang tunggu, ia duduk di sofa sedangkan wanita tadi kembali ke ruangannya di sebelah ruangan Sehun. "Ah, rupanya dia sekretaris Sehun," Gumam Jiyeon.


Jiyeon menunggu cukup lama, sudah sekitar setengah jam dan Sehun masih belum keluar dari ruangannya. "Wah, dia benar-benar gila kerja," Jiyeon kembali bergumam. "Sepertinya ini bukan ide yang bagus, harusnya aku pulang saja tadi," lagi Jiyeon kembali bermonolog.


"Hei Jiyeon, kau disini?" Jiyeon menoleh ketika mendengar suara yang tak asing menyapa Indra pendengaran.


"Oh, ya, aku mau bertemu dengan Sehun," Rupanya orang itu adalah Baekhyun yang datang entah dari mana membawa map berwarna merah.


"Mau bertemu dengan Sehun, lalu kenapa kau duduk disini? Kenapa tidak langsung masuk saja?"


"Inginnya sih begitu, tapi wanita di sebelah tidak mengijinkan ku masuk," Tunjuk Jiyeon pada wanita yang berada di dalam ruangan sebelah ruangan Sehun.


Ketika dua orang itu sibuk mengobrol, Sehun keluar dari dalam ruangan karena Baekhyun begitu lama sedang berkas yang Baekhyun bawa harus segera di urus. Tentu saja ia terkejut ketika melihat Jiyeon ada di sini, terbukti dengan bola mata yang sedikit membulat dan kedua alis terangkat.


"Jiyeon, kau disini? Sejak kapan?" Tanya Sehun, ia sampai lupa dengan tujuannya keluar dari dalam ruangan.


"Sejak setengah jam yang lalu, mungkin.." Ucap Jiyeon sambil tersenyum, Sehun mengerutkan kening bingung. Sudah selama itu tapi kenapa Jiyeon hanya duduk disini dan tidak masuk kedalam.


Wanita di sebelah ruangan Sehun Pun juga keluar, "Oh maaf presdir, apa Nona ini membuat keributan? Padahal saya sudah menyuruhnya untuk menunggu, maaf," Sehun mengerti sekarang, jadi alasan kenapa Jiyeon tidak langsung masuk kedalam adalah karena sekretaris yang baru bekerja seminggu ini.


Sekertaris itu pikir Sehun sedang ribut-ribut dengan Nona muda yang entah siapa itu, ia tidak menyadari ekspresi wajah Sehun yang berubah dingin dan menakutkan, "Jadi kau yang melarangnya masuk kedalam?" Tanya Sehun dengan nada suara yang menakutkan.


"Benar presdir.." ucapnya bangga, tidak tahu saja jika Sehun sedang kesal.


"Bagus sekali, mulai besok kau tidak perlu lagi datang ke kantor ini,"


"Kau masih bertanya apa salah mu?" Sehun menatap wanita itu tak percaya, "Aku tidak mau mempekerjakan orang yang bahkan tidak mengenali wajah istriku!! Mulai besok jangan datang lagi, segera kemasi barang-barang mu dan angkat kaki dari kantor ku!" Bentak Sehun, Jiyeon tak menyangka bahwa Sehun akan semarah ini bahkan ia tak segan-segan untuk memecat karyawan itu. Baekhyun tersenyum, sudah menduga jika hal ini akan terjadi, salah sendiri memancing ke marahan Oh Sehun.


"Jangan pecat saya, presdir, saya salah mohon maafkan saya... saya tidak tahu jika Nona ini adalah istri anda, saya mohon beri saya kesempatan.." Wanita itu memohon tapi apapun usaha yang ia lakukan tak akan merubah pendirian Sehun, sekali ia bilang tidak maka itu artinya tidak.


Sehun tak mempedulikan karyawan itu, ia menarik tangan Jiyeon dan masuk kedalam ruangannya. "Baek, kau urus dia dan pastikan dia keluar dari kantor ini," ucap Sehun sebelum menutup pintu ruangannya. Baekhyun mengerti dan langsung saja melakukan apa yang Sehun suruh.


"Sehun, kau tidak harus memecat nya, wajar jika dia tidak mengenaliku karena ini pertama kali aku datang ke kantor mu.." Ucap Jiyeon ketika keduanya tengah duduk di sofa di dalam ruangan Sehun.


"Sudahlah, jangan pikirkan hal itu lagipula aku memang tidak suka dengan sekretaris itu, mengganggu sekali, bagus aku punya alasan untuk memecat nya." Jawab Sehun enteng, "Aw... lelahnya..." Ucap Sehun dan tiba-tiba selonjoran dengan menjadikan paha Jiyeon sebagai bantal. Tentu tindakan Sehun ini membuat Jiyeon terkejut.


"Yak! Sehun, kau ini sedang apa? Bangun sekarang juga!" Ucap Jiyeon dan berusaha menyingkirkan kepala Sehun dari pahanya.


"Aku lelah Jiyeon, seharian menatap semua berkas itu membuat mataku sakit dan kepalaku pusing... biarkan seperti ini, lima menit saja." Ucap Sehun sambil memejamkan kedua matanya.


Baiklah, Jiyeon tidak punya pilihan lain. Dia sendiri melihat dengan jelas tumpukan kertas yang ada di meja Sehun, pasti pria ini bekerja begitu keras. Jiyeon benar-benar tidak bergerak, ia berusaha untuk membuat Sehun tidak terganggu. Jika di perhatikan, pria yang tengah memejamkan mata dan tidur di pangkuannya ini sangatlah tampan, kulitnya juga putih bersih dan wajahnya mulus tanpa noda. Tanpa sadar, Jiyeon tersenyum.


"Mau sampai kapan kau memperhatikanku?" Ucap Sehun sambil kedua mata perlahan terbuka, pipi Jiyeon langsung merah padam seolah ketahuan mencuri, buru-buru ia mengalihkan pandangannya kelain tempat sambil berdehem kecil.


"Siapa yang memperhatikanmu? Aku tidak," Kilah Jiyeon. Sehun bangkit, kembali memposisikan diri untuk duduk, ia tersenyum kecil.


"Baiklah, baik... bukan kau, mungkin hanya perasaan ku saja," Ucap Sehun mengalah. "Jadi, ada apa kau kemari? Tidak biasanya kau datang.."


"Tadinya aku mau mengajakmu makan siang bersama, tapi aku sudah tidak berselera, apa sebaiknya aku pulang saja?"


"Jangan, disini saja.. sebentar lagi aku juga mau pulang jadi sekalian pulang bersama... Tunggu, pekerjaan ku tinggal sedikit.." Sehun berdiri, stamina tubuhnya sudah terisi penuh dan siap untuk mengerjakan pekerjaannya lagi.


"Baiklah, aku akan menunggu.."


"Jika kau ingin sesuatu, katakan saja, aku akan meminta orang untuk mengantarkannya kesini," Jiyeon mengangguk sebagai jawaban.


Sehun duduk di kursi kebesarannya sambil tangannya sibuk berkutat dengan dokumen-dokumen di atas meja. Jiyeon memperhatikan sambil tersenyum, sekali lagi ia benar-benar takjub dengan ketampanan Sehun. Lagi-lagi perasaan aneh itu kembali menyapa hati Jiyeon, perasaan aneh dan sesuatu yang berdebar di dalam jantungnya.


"Bagaimana urusan mu hari ini? Apa semua berjalan dengan lancar?" Jiyeon langsung tersadar dari lamunannya beberapa saat lalu.


"Oh, iya.. semua berjalan lancar dan kau tahu CEO sementara perusahaan ayah ku ternyata teman masa kecilku dulu, ia juga tetangga ku saat kami masih kecil," Jiyeon tersenyum lebar ketika mengatakan hal ini, bahkan wajahnya tampak berseri-seri.


"Kau kelihatannya senang sekali, siapa dia?" Sehun sesekali melirik Jiyeon dan kembali pada dokumennya.


"Park Chanyeol, sudah sekitar lima tahun kami tidak bertemu jadi rasanya senang bisa bertemu lagi,"


"Park Chanyeol?" Ulang Sehun, kegiatan tulis menulisnya terhenti untuk sesaat, seolah nama itu tak asing di pendengaran.


"Hem, Park Chanyeol.. dia bersama keluarga tinggal di Belanda selama ini, kalau tidak salah.." Jiyeon mencoba mengingat-ingat.


Sehun menatap Jiyeon penuh selidik, "Hei lolipop... Jangan bilang dia cinta monyet mu?" Jiyeon tertawa setelah mendengar ucapan Sehun, bagaimana bisa Sehun berpikir seperti itu, "Yak! Kenapa kau tertawa?! Jangan-jangan benar.. Park Jiyeon!"


Jiyeon berusaha untuk menghentikan tawanya dan melambaikan tangan pada Sehun, "Tidak, bukan dia bukan cinta monyet ku.. kami hanya teman biasa, aneh-aneh saja kau ini," Jelas Jiyeon yang masih berusaha mengendalikan tawanya.


"Ingatlah Jiyeon, kau sudah punya suami jadi jangan macam-macam.." Sehun berucap tanpa menatap Jiyeon. Jiyeon mengerutkan kening menatap Sehun aneh.


"Hei Sehun, kau tidak sedang cemburukan?"


"Apa? Aku? Cemburu? Hah.. yang benar saja, aku hanya mengingatkan jangan macam-macam karena publik tahu bahwa kita ini suami istri," Balas Sehun, Jiyeon tersenyum perasaannya sedikit merasa aneh seolah kecewa dengan jawaban Sehun.


"Kau ini berpikir apa, Jiyeon? Mana mungkin Sehun cemburu, dasar bodoh."


"Sial! Apa kelihatan jelas?!"


...


Chanyeol mengambil sekaleng soda dari dalam lemari pendingin, ia berjalan menuju sofa di ruang tengah dimana laptop dan semua pernak-pernik pekerjaannya berada. Ia membuka kaleng soda itu dan meminumnya perlahan.


"Ada apa kawan? Kenapa wajah mu muram begitu? Bukankah harusnya kau senang karena bertemu dengan Jiyeon Mu?" Rupanya Chanyeol sedang melakukan panggilan Video dengan Lay yang sekarang berada di Belanda. Chanyeol tersenyum masam, Jiyeon bukan lagi Jiyeon-nya karena sekarang Jiyeon sudah menikah dengan orang lain.


"Hyung, ku rasa aku membutuhkan mu.." Ucap Chanyeol dengan wajah putus asa, ia sendiri disini dan tidak ada tempat untuk berbagi keluh kesah.


"Yak! Ada apa?! Ceritakan padaku, kau ini kenapa?" Lay khawatir, ini tidak seperti yang ia bayangkan. Ia pikir Chanyeol akan bahagia, bahkan di sudah bersemangat untuk menggoda Chanyeol.


Chanyeol tersenyum masam, "Kau tahu, harusnya aku kembali lebih awal supaya dia tetap menjadi milikku..."


"Chanyeol berhenti berputar-putar dan bicara yang jelas!"


"Jiyeon, dia... dia sudah menikah." Air mata itu berhasil keluar dari pelupuk mata Chanyeol, air mata yang ia tahan sejak mengetahui fakta bahwa Jiyeon sudah menikah. Chanyeol menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil kepala tertunduk kebawah.


"Apa?! Apa kau bilang?!" Lay tak percaya, ternyata ini alasan Chanyeol terlihat kacau. Siapapun pasti akan terluka ketika tahu orang yang di cintai telah menjadi milik orang.


"Dia sudah menikah, Hyung!"


"Bagaimana bisa?"


"Aku juga tidak tahu, Hyung... Aaarrgghhh..."


Jika Lay ada di sana, pasti dia sudah memeluk Chanyeol tapi sayang mereka berada di tempat yang berbeda, mengatakan kalimat untuk menghibur Chanyeol juga tidak ada gunanya sekarang.


"Besok aku akan ke Korea, tunggu aku datang..."


"Yak! Hyung, mau apa?"


"Tentu saja menghibur mu, bodoh.. sudah jangan sedih, saat aku di sana akan aku buat kau lupa dengan kesedihan mu.."


Pip.


Layar laptop itu sudah kembali berwarna putih, Lay mematikan sambungan telepon mereka. "Hiss... orang ini, aku sedang sedih jadi ingin tertawa kan.. Hyung, Hyung.." Chanyeol menghela napas sambil bersandar pada punggung sofa, ia berusaha melupakan rasa sakitnya tapi tetap saja tidak hilang. Bayangan ia melamar Jiyeon pecah dan hancur, sudah benar-benar tidak ada harapan kah?


To be continue


Maaf updatenya lama... semoga kalian suka sama part kali ini, huhu...


See you next part♡️