President'S Priceless Wife

President'S Priceless Wife
Part 20




.


.


.


.


.


.


Akhirnya Jiyeon tetap pergi ke Busan bersama dengan Sehun. Ia hanya duduk diam melihat keluar kaca mobil sepanjang perjalanan. Sehun tak mempermasalahkan hal itu, ia membebaskan Jiyeon melakukan apapun yang di sukai si gadis. Jiyeon benar-benar tidak habis pikir, kenapa Sehun bersikeras mengajaknya ikut? Jiyeon baik-baik saja di rumah ada Krystal dan yang lain dia hanya butuh istirahat sebentar sampai pikirannya tenang bukan suatu masalah besar. Tapi Sehun begitu berlebihan hingga Jiyeon tidak boleh jauh darinya supaya ia bisa mengawasi Jiyeon dengan tenang. Ah sudahlah, memikirkan ini semakin membuat kepala Jiyeon berdenyut nyeri. Perjalanan masih jauh, Jiyeon memejamkan mata dan bersandar pada punggung kursi, tak lama kemudian Jiyeon mulai terlelap dan memasuki alam mimpinya.


Sehun yang sejak tadi fokus pada pikirannya sendiri menoleh ke samping dan mendapati Jiyeon yang sudah tertidur. Ia tersenyum tipis, melepas mantel tebal miliknya dan menutupi tubuh Jiyeon dengan mantel itu supaya di gadis tak merasa kedinginan. Baekhyun melirik keduanya dari kaca spion depan dan berdehem kecil, tatapan matanya sulit untuk di artikan. Hanya Baekhyun dan pikirannya sendiri yang tahu.


Akhirnya setelah perjalanan cukup panjang, mereka sampai juga di Vila milik Sehun. Sebelum datang Sehun sudah memberitahu semua pengurus di Villanya untuk menyiapkan satu kamar untuk Jiyeon juga semua keperluan si gadis. Ia juga meminta pengurus Villanya menyiapkan menu makanan yang sehat dan melayani Jiyeon dengan baik jika gadis itu sudah ada disini. Karena Jiyeon tak kunjung bangun saat mereka sudah sampai, akhirnya Sehun mengangkat tubuhnya dan membawanya masuk. Semua pelayan langsung menyambut kedatangan Sehun juga Jiyeon, mereka tersenyum senang karena akhirnya tuan muda mereka telah menikah dan bahkan membawa istrinya ikut serta ke Busan. Melihat istri tuan mudanya yang tertidur pulas di gendongan sang suami membuat mereka tersenyum malu-malu, juga menunduk mencuri pandang.


Sehun langsung melangkah menuju sebuah kamar yang berada dekat dengan ruang tamu, ruangan itu sebelumnya hanya kamar kosong yang tidak terpakai tapi pelayan Sehun sudah membersihkannya dan merubahnya menjadi kamar yang sangat indah juga layak untuk di tempati.


Setelah membaringkan Jiyeon juga menyelimutinya, Sehun keluar dari dalam kamar tersebut. Para pelayannya masih berdiri di depan menunggu perintah Sehun. Mereka juga sebelumnya adalah orang-orang yang kurang beruntung dan gelandangan yang bertemu kemudian akhirnya bekerja pada Sehun. Mereka mengabdikan hidupnya untuk melayani Sehun yang sudah mereka anggap penyelamat.


"Ketika dia bangun, layani dia dengan baik." Ucap Sehun sebelum melangkah pergi meninggalkan para pelayan itu. Mereka semua mengangguk mengerti.


Sehun sudah ada di depan sebuah pintu kayu yang warnanya mulai memudar, bukan karena Sehun tak ingin mengecat ulang tapi sang pemilik kamar yang tak mau kamarnya di cat ulang. Ia mengetuk pintu kayu itu pelan lalu membukanya. Seorang wanita paruh baya menyambutnya dengan senyuman manis dan bangkit memposisikan diri untuk duduk. Sehun tersenyum tipis dan berjalan mendekat pada sang wanita yang sudah tak muda lagi.


"Kau sudah datang?" Ucap wanita itu dan mempererat selimut yang menutupi tubuhnya agar terasa hangat. Di usianya yang renta ini, tubuhnya tidak bisa bertahan dengan udara dingin. Sehun mengangguk sebagai jawaban.  "Kau tidak berubah, tetap saja bandel, sudah aku bilang untuk datang seminggu sekali tapi bahkan satu bulan pun kau hampir tidak pernah datang, anak ini." Wanita tua itu tersenyum dan memukul pelan lengan Sehun.


"Bibi kau tahu kan, aku sangat sibuk sekali jadi kesulitan untuk mengatur waktu datang kemari. Lagian Bibi selalu menolak jika aku mengajak untuk tinggal di Seoul." Wanita paruh baya itu menyentuh tangan Sehun dan mengusap-usapnya pelan sambil tersenyum lembut.


"Ini rumah ku Sehun, kampung halaman ku dan disini aku lahir serta menghabiskan seluruh sisa umurku, aku tidak bisa meninggalkan tempat ini, kau pun juga tahu hal itu." Selalu ini yang wanita paruh baya itu ucapkan bila Sehun mengajaknya pergi dan tinggal di Seoul. Dia adalah salah satu wanita yang berjasa dalam hidup Sehun selain ibunya, wanita ini telah merawat Sehun sejak kecil juga merupakan pelayan yang paling setia pada ibu Sehun, bisa di bilang mereka teman sepermainan saat masih kecil. Ketika ibu Sehun meninggal dan keluarganya pindah, wanita ini memilih tetap tinggal dan merawat Vila ini, namun karena usianya sudah renta jadi Sehun memintanya untuk tidak bekerja terlalu berat dan banyak-banyak istirahat. Sehun pernah tinggal di Vila ini beberapa tahun sebelum akhirnya Sehun memutuskan untuk keluar dan menghadapi dunia yang keras dan sulit.


"Iya Bi, aku mengerti... Tinggalan disini selama apapun yang Bibi mau." Ucap Sehun dan menepuk-nepuk tangan keriput itu pelan.


"Kau mengajaknya kesini?" Tanya wanita paruh baya itu mengalihkan topik pembicaraan. Sehun tersenyum dan mengangguk. "Apa dia cantik? Dia baik?" Lagi Sehun mengangguk menjawab pertanyaan sang ibu pengasuh. Wanita itu tersenyum dalam hati bersyukur karena Sehun menemukan wanita yang cocok dan juga baik. Ia selalu khawatir dengan kehidupan Sehun, namun tak pernah melarang apapun yang Sehun lakukan, hanya mendukung layaknya seorang ibu meskipun dia hanya ibu pengasuh saja.


"Dia sedang tidur saat ini, besok saja Bibi bertemu dengannya, sekarang Bibi juga harus istirahat." Sehun kembali meminta wanita paruh baya itu untuk berbaring, kemudian ia membenarkan letak selimut wanita paruh baya itu. "Selamat malam Bi." Ucap Sehun sebelum keluar dari kamar sang wanita paruh baya.



Sinar matahari mulai menerangi bumi yang tadinya gelap berubah menjadi terang, Jiyeon masih tertidur pulas di dalam kamar sedangkan Sehun sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Ia harus menghadiri meeting dengan klien pagi ini supaya setelah ini bisa bersantai sejenak. Baekhyun sudah menyiapkan mobil tinggal menunggu Sehun saja. Semalam setelah datang, ia langsung pergi tidur lelah mengemudi sepanjang jalan. Sehun tidak mudah percaya dengan siapapun, makanya dia tidak suka di sopiri orang lain, jika bukan Baekhyun atau Kai maka orang lain tidak boleh menyetir untuknya. Itu sudah mutlak dan tidak bisa di rubah oleh siapapun.


Mereka langsung berangkat tapi sebelum itu Sehun memastikan bahwa Jiyeon masih tertidur dan meminta pelayan untuk menyiapkan sarapan juga air hangat untuk Jiyeon, barulah ia benar-benar pergi.


Jiyeon membuka mata, matahari sudah tinggi di atas sana. Ia menoleh kesana-kemari dan tak mendapati siapapun berada di ruangan yang sangat asing baginya. Kemarin saat perjalanan ia tertidur dan tidak ingat apapun setelah itu. Mungkin Sehun yang membawanya kesini, ya siapa lagi jika bukan dia? Jiyeon beringsut bangun dari posisi tidurnya dan tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk dari luar. Jiyeon mengerutkan kening, siapa yang datang? Mungkin Sehun? Gadis itu berdiri dan membuka pintu kamarnya. Betapa terkejutnya ia ketika membuka pintu dan melihat tiga orang pelayan membungkuk memberikan hormat, sudah seperti putri di dalam drama saja.


"Selamat pagi Nyonya, tuan muda bilang kami harus melayani anda dengan baik ketika anda sudah bangun." Ucap seorang gadis yang terlihat masih muda dengan pipi chuby nya yang membuatnya tampak mengemaskan.


"Kami sudah menyiapkan air hangat untuk Nyonya mandi juga pakaian yang akan Nyonya kenakan. Kami akan membantu anda membersihkan diri Nyonya." Adalah pelayan yang lain yang membawa handuk dan pakaian untuk Jiyeon kenakan setelah mandi. Jiyeon masih tidak mengerti dengan situasi ini, hal seperti ini memang bukan pertama kalinya untuk Jiyeon mengingat sebelum ini dia pernah tinggal di rumah mewahnya yang memiliki banyak pelayan, hanya saja dia sudah terbiasa melakukan semua hal sendirian.


"Eee... Begini, aku bisa mandi dan berganti pakaian sendiri kalian tidak perlu repot-repot membantu ku." Jiyeon tersenyum kikuk dan mengambil pakaian serta handuk dari tangan salah satu pelayan.


"Tapi Nyonya... Tuan muda bilang—"


"Tidak apa-apa, aku bisa sendiri."


Jiyeon kembali masuk kedalam dan menutup pintu kamarnya, ia tidak mau sampai pelayan-pelayan itu masuk kemudian membantunya mandi. Oh yang benar saja, dari dia berusia 6 tahun hingga sebesar ini, dia sudah tidak pernah di mandikan oleh orang lain kecuali saat sakit atau demam, mungkin ibunya akan mengelap tubuhnya dengan handuk kecil dan air hangat, hanya saat itu saja.


Jiyeon sudah selesai mandi dan berganti pakaian, rupanya para pelayan itu masih berdiri di depan pintu kamar Jiyeon dan hal itu sukses membuat Jiyeon kembali terkejut. "Kalian masih disini?" Tanya Jiyeon setelah mengatasi keterkejutannya.


"Tentu saja, tugas kami adalah melayani dan menjaga Nyonya jadi kami akan selalu berada di dekat Nyonya bila tuan tidak ada." Ya, mereka sangat setia pada Sehun ini pantas mendapat pujian. Entah apa yang Sehun berikan hingga mereka bisa begitu patuh dan setia seperti ini.


Jiyeon makan dengan tidak nyaman, bagaimana bisa nyaman jika tiga pelayan muda berwajah polos itu terus menatap dirinya dan sibuk dengan pikiran-pikiran mereka. Baiklah, Jiyeon hanya harus mengabaikan mereka dan makan dengan tenang.


"Tundukan kepala kalian! Tidak sopan menatap orang yang sedang makan." Suara itu mengagetkan Jiyeon bahkan hampir tersedak, para pelayan itu langsung menunduk menyadari kesalahan mereka dan Jiyeon menoleh kebelakang melihat siapa yang datang. Suara ketukan tongkat yang bertabrakan dengan lantai membuat Jiyeon semakin penasaran dengan sosok yang belum nampak batang hidungnya.  Tak lama kemudian sosok itu muncul dan berjalan pelan-pelan menghampiri Jiyeon yang menatapnya bingung. Dalam hati bertanya-tanya, siapakah gerangan wanita paruh baya itu.


"A—Annyeonghasimika..." Sapa Jiyeon yang sudah merubah posisinya menjadi berdiri kemudian sedikit membungkuk memberikan hormat.


"Duduklah nak, tidak perlu sungkan denganku." Ucap wanita itu dan ikut duduk bersama dengan Jiyeon di meja makan. Jiyeon kembali duduk dan masih memperhatikan wanita paruh baya yang dudu di sampingnya. "Makanlah..." Jiyeon menurut dan memakan sarapannya hingga habis sedang wanita itu tersenyum menatap Jiyeon dalam diam.


"Berapa usiamu?" Tanya wanita itu setelah Jiyeon selesai sarapan, kini mereka berjalan-jalan di halaman depan rumah. Jiyeon menuntun wanita itu untuk duduk di sebuah kursi panjang setelah lama berjalan-jalan.


"26 tahun..." Jawab Jiyeon apa adanya.


"Masih sangat muda rupanya." Jiyeon tidak mengerti, kenapa wanita ini bertanya prihal usianya, ah sudahlah mungkin memang hanya sekedar ingin tahu.


"Maaf, saya harus memanggil anda apa?" Ya, sejak tadi Jiyeon kebingungan memanggil wanita paruh baya ini. Beliau sudah tua tapi rambut di kepala masih banyak yang hitam.


"Panggil apapun yang kau inginkan nak, tapi Sehun biasa memanggilku Bibi."


"Ah Begitu..." Jiyeon manggut-manggut mengerti.


"Sehun sudah banyak bercerita tentang mu padaku." Jiyeon mengernyit bingung, ia baru kenal Sehun beberapa hari saja lalu bagaimana bisa ia bercerita tentangnya pada wanita ini? Entah kebohongan apa yang Sehun ceritakan pada wanita paruh baya ini. Atau mungkin saja wanita yang Sehun ceritakan bukan dirinya, "Dan ya, kau benar-benar cantik sama seperti yang Sehun katakan." Jiyeon hanya tersenyum kikuk, baiklah dia masih harus bersandiwara menjadi istri Sehun. Berapa banyak lagi orang yang akan mereka tipu.


"Bibi ini siapanya Sehun? Maaf, Sehun tidak pernah menceritakan kehidupan pribadinya padaku selain apa yang aku ketahui." Bukan, bukan Jiyeon ingin mengorek informasi tentang kehidupan pribadi Sehun dia hanya ingin tahu siapa wanita ini. Itu saja.


"Aku pelayan pribadi juga teman ibu Sehun saat beliau masih hidup, juga merupakan ibu pengasuh yang merawat Sehun sejak ia masih kecil. Bisa dibilang, aku telah mengabdikan hidupku untuk keluarga Oh." Jelas wanita itu, Jiyeon mengangguk mengerti, rupanya dia ibu pengasuh Sehun. "Meskipun terlihat dingin dan keras kepala, tapi Sehun adalah anak yang baik. Pernikahan kalian pasti berumur panjang dan diberkati." Wanita itu tiba-tiba tersenyum dan mengusap rambut Jiyeon lembut.


"Dia kehilangan ibunya saat masih muda kemudian ayahnya menikah lagi sejak saat itu Sehun menjadi pendiam dan semakin tertutup. Ayahnya membawa ia pergi ke luar negeri demi untuk melupakan kenangan pahit disini. Tak ada lagi tawa bahagia seperti saat ia masih kecil, Sehun ku dia sudah banyak berubah." Wanita itu menerawang jauh ke depan. Membayangkan betapa dulu Sehun kecil sangat mengemaskan dan wajahnya penuh dengan rona kebahagiaan. Sekarang semua itu tinggal kenangan saja.


Jiyeon baru tahu fakta ini, fakta bahwa ibu Sehun sudah meninggal juga tentang keluarganya. Mungkinkah ibu tiri Sehun sama mengerikan seperti ibu tirinya? Dan itu yang membuat Sehun kabur dari rumah dan menetap disini. Entahlah, banyak sekali pertanyaan yang berkecamuk dalam benak Jiyeon tapi tak ada satupun yang terjawab.


"Aku sudah tidak muda lagi dan kapan saja bisa pergi meninggalkan dunia ini. Sehun tidak mudah percaya dengan orang lain dan terus menutup diri, nak bisa aku minta tolong padamu?"


"Apa? Apa yang bisa aku bantu Bi?"


"Jagalah Sehun, dia memiliki banyak luka yang tidak dapat dilihat orang lain dalam hatinya, jangan mengkhianatinya dan tetaplah disisi Sehun. Itu saja yang aku inginkan dari mu."


Jiyeon tidak tahu harus bagaimana, hingga akhirnya ia mengangguk mengiyakan permintaan wanita paruh baya itu. Sang wanita tersenyum dan menggenggam jemari Jiyeon erat. Ia berharap gadis ini mampu membuat Sehun merasakan apa yang namanya cinta juga kasih sayang. Melunakkan hatinya yang telah berubah menjadi sekeras baja.


Ketika ia masuk kedalam vila, rupanya Jiyeon sudah akrab dengan ibu pengasuhnya bahkan mereka bercengkrama dan tertawa bersama. Seharian ia memikirkan apa yang di lakukan sang gadis rupanya ia hanya khawatir hal yang tidak perlu. Baguslah, sepertinya Jiyeon sudah baik-baik saja.


Jiyeon yang menyadari kedatangan Sehun, tersenyum kecil. "Kau sudah kembali." Jiyeon berdiri dan menghampiri Sehun, mengambil alih tas kerja yang Pria itu bawa. "Bersihkan dirimu, kita makan malam bersama setelah itu." Ya, Jiyeon bersikap seperti ini karena ibu pengasuh Sehun tengah memperhatikan mereka, akan terlihat aneh jika dua orang itu tak berinteraksi dengan baik layaknya suami dan istri. Sehun Pun mengerti karena setelah ucapannya yang terakhir, ia memberikan kode pada Sehun.


"Hem..." Jawab Sehun dan berlalu.


Setelah makan malam, Sehun mengajak Jiyeon untuk berjalan-jalan sebentar di pinggir pantai menikmati udara malam yang segar. Awalnya Jiyeon menolak tapi Sehun terus memaksa jadilah ia tidak punya pilihan lain selain menuruti kemauan Sehun. Keduanya berjalan beriringan tanpa menggunakan alas kaki, Jiyeon memakai mantel tebal dengan syal yang melilit leher kecilnya agar tetap hangat sedangkan Sehun memakai celana kain berwarna hitam dan kemeja putih dengan garis horizontal berwarna hitam. Tidak ada pembicaraan apapun hanya berjalan-jalan menikmati deburan obak yang datang bergantian membasahi kaki mereka juga angin yang bertiup menerbangkan apapun.


"Kau menyukai tempat ini?" Sehun akhirnya buka suara setelah berperang dengan batin dan pikirannya. Jiyeon menoleh sekilas sebelum menjawab pertanyaan Sehun.


"Hem... Suka, jauh dari kota yang bising." Jawab Jiyeon memasukan kedua tangannya kedalam saku mantel agar tetap hangat.  "Disini sangat tenang dan orang-orangnya juga ramah." Tambahnya.


"Kemarin saja bilangnya tidak mau, sekarang siapa yang betah tinggal disini." Sindir Sehun sambil menatap ke lain tempat. Jiyeon mendengus dan melirik Sehun dengan ekor matanya—nampak kesal.


"Kau bisa tinggal disini selama apapun yang kau mau. Anggap saja liburan untukmu setelah kerja keras yang kau lakukan." Sehun kembali berucap namun kini ia menoleh pada Jiyeon yang juga menatap dirinya.


"Hei Sehun..." Panggil Jiyeon.


"Hem... Apa?" Tanya Sehun penasaran. Jiyeon menggelengkan kepalanya, kalimat yang ingin ia katakan hanya sampai di ujung bibir namun tak berhasil Sehun dengar. Ini bukan saat yang tepat dan mereka tidak sedekat itu. Mungkin lain waktu jika ada kesempatan lain, Jiyeon akan bertanya. "Apa? Kau mau bilang apa?"


"Tidak... Tidak jadi, lupakan saja." Jiyeon kembali berjalan. Sehun menatap punggung itu penasaran, tapi sudahlah dia tidak akan memaksa Jiyeon untuk bicara jika gadis itu memang tidak ingin.



Ini hari kedua Jiyeon berada di Busan dan dia benar-benar senang karena pelayan di Vila Sehun mau mengajaknya ke pasar untuk membeli ikan dan beberapa bahan untuk makan siang. Tentu setelah bujuk rayu dan semua usaha Jiyeon kerahkan. Jiyeon baru kali ini ke pasar nelayan, ikan-ikan masih segar dan terlihat lezat.


Jiyeon kembali setelah mendapatkan semua bahan yang pelayan butuhkan. Pelayan-pelayan itu tentu senang sekali karena Nyonya mudanya ini mau ikut ke pasar yang ramai dan kotor. Tidak seperti kebanyakan wanita kaya lainnya.


"Nyonya anda istirahat saja, biar kami yang siapkan makan siang." Ucap pelayan itu karena melihat Jiyeon yang ingin ikut memasak. Mereka tidak mau kena marah tuan mudanya karena membiarkan Nyonya muda memasak di dapur. Jadi akhirnya Jiyeon mengalah dan pergi ke ruang tengah, mungkin menonton TV tidak ada salahnya, beberapa hari ini dia tidak menonton berita.


Jiyeon menyalakan TV layar lebar di ruang tengah dan duduk santai, acara berita itu sebentar lagi akan di mulai setelah drama pagi. Ia sampai hafal jadwal siaran berita karena sering menonton TV jika tidak ada pekerjaan lain.


"... Hari ini Son Naeun kembali di periksa polisi karena kasus kematian Yoo Seungho calon suaminya, nampak sekaki wajah lelah juga depresinya karena terus mendapat tekanan dari berbagai pihak... bla... bla..."


Jiyeon tertegun menatap layar televisi, seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar. "Yo-Yoo Seungho mati?" Bukan ini, bukan ini yang Jiyeon mau, kematian terlalu mudah untuk Pria brengsek itu, dia masih harus membayar kesalahannya pada Jiyeon tapi bukan dengan jalan kematian, ini terlalu mudah untuknya. Sehun? Ya, semua ini pasti Sehun yang melakukannya. Jiyeon mengeram marah dan mematikan layar televisi itu cepat. Ia masuk kedalam kamar dan menutup pintunya sedikit kasar.


Sehun yang mendapat laporan dari pelayan Vila bahwa sejak pagi tadi setelah menonton TV Jiyeon tak keluar dari kamar bahkan tak memakan makan siangnya menjadi khawatir dan bergegas kembali. Ia mengetuk pintu kamar Jiyeon pelan sebelum menyeruak masuk kedalam. Di lihatnya Jiyeon duduk bersila di atas ranjang dengan tangan yang di lipat di dada, tatapan matanya begitu tajam dan kilatan amarah tergambar jelas di kedua matanya. Entah apa yang terjadi dengan gadis itu.


"Ada apa Jiyeon? Kenapa kau tidak keluar dan makan makananmu? Kau marah? Kenapa?" Tanya Sehun yang masih belum mengerti situasi Jiyeon.


"Kenapa? Kenapa kau membunuhnya?! Siapa yang mengizinkan mu untuk membunuhnya Sehun?!" Bentak Jiyeon yang tidak suka cara Sehun menyelesaikan masalah ini. Jiyeon bisa dan punya cara sendiri untuk melakukannya.


Ah, Sehun mengerti sekarang. Jiyeon mungkin baru saja tahu bahwa Seungho sudah tiada dan tentu dengan mudah Jiyeon tahu siapa pelakunya. Jadi dia marah karena hal ini? Sehun tersenyum kecut. "Aku menyelesaikan apa yang tidak bisa kau selesaikan Jiyeon, dia memang pantas untuk mati." Jiyeon bangkit dan berdiri tepat di hadapan Sehun. Pandangan mata mereka beradu.


"Aku bisa menyelesaikannya Sehun! Aku bisa membalasnya! Harusnya kau tidak membunuhnya dulu!" Jiyeon kembali menaikkan nada bicaranya, emosinya tengah meluap-luap sekarang dan tidak bisa ia kendalikan.


"Bagaimana kau akan membalas? Bagaimana kau akan menyelesaikannya?!" Sehun menyeringai. "Apa setelah dia benar-benar melecehkan mu baru kau akan membunuhnya?!" Jiyeon semakin melotot marah pada Sehun, sedikit terluka dengan ucapan si pria, tangannya terkepal kuat di bawah sana. "Atau jangan-jangan sebenarnya kau masih ingin kembali bersama dengan pria brengsek itu? Iya begitu?!"


PLAK!


Jiyeon tidak tahan lagi, ucapan Sehun sungguh keterlaluan, ia akhirnya melayangkan sebuah pukulan keras pada pipi Sehun. Kembali pada Seungho? Sungguh membayangkan saja membuat Jiyeon jijik. Bukan seperti itu maksud Jiyeon kenapa Sehun tidak mengerti bahwa kematian terlalu mudah untuk pria itu, Jiyeon masih ingin melihat wajah tersiksa Seungho dan pria itu masih harus membayar semua rasa sakit yang Jiyeon alami.


"Aku tidak serendah itu Sehun!" Jiyeon melangkah pergi setelah mengucapkan kalimat itu, ia muak, muak sekali. Tidak ada perasaan bersalah atau menyesal setelah menampar Sehun.


Sehun tahu dia keterlaluan, ucapannya pasti menyakiti perasaan Jiyeon tapi sungguh ia merasa kesal karena Jiyeon menyalahkan dirinya karena kematian Seungho. Oke, memang dia yang meminta untuk membunuh Seungho tapi semua itu demi kebaikan Jiyeon. Kenapa gadis itu tidak mengerti betapa khawatirnya Sehun padanya.


"Sial!" Sehun menendang sudut ranjang dengan keras, tak peduli jika kakinya akan berdenyut nyeri setelah ini. Jiyeon butuh menenangkan diri begitu juga dengan dirinya. Sebaiknya mereka tak saling bicara dulu sebelum keadaan kembali tenang.


Hari sudah larut malam, Sehun sibuk menenangkan diri dan berdebat dengan batin juga egonya sejak tadi di dalam ruang kerjanya. Ia salah dan harusnya membicarakan semuanya dulu pada Jiyeon, ya mungkin harusnya begitu. Baiklah untuk pertama kalinya Sehun akui bahwa dirinya bersalah dan harus meminta maaf lebih dulu pada Jiyeon, juga karena tadi telah menyakiti perasaan Jiyeon. Meskipun egonya melarang, tapi Sehun tetap melangkah menuju kamar Jiyeon. Di ketuk nya pintu kayu itu pelan. Tak ada jawaban dari dalam hingga akhirnya Sehun membuka pintu kamar Jiyeon.


Ketika dibuka, tidak ada siapapun kamarnya kosong. "Jiyeon?" Panggil Sehun dan masuk kedalam, ia membuka kamar mandi yang juga kosong tidak ada apapun. "Jiyeon! Kau dimana? Jiyeon!" Sehun sudah memastikan bahwa kamar Jiyeon kosong, akhirnya ia keluar dan berjalan cepat menuju dapur. Para pelayan itu mungkin saja tahu dimana Jiyeon.


"Kalian melihat Jiyeon?"


"Nyonya? Kami tidak melihatnya sejak sore tadi."


"Sial! Dimana dia?" Sehun mengumpat dan keluar Vila mencari Jiyeon entah kenapa perasaannya sedikit tidak enak, seperti ada sesuatu yang mengganjal. Ia mencari di sekitar Vila mungkin saja Jiyeon berada di suatu tempat. Baekhyun yang melihat Sehun berlarian seperti orang gila malam-malam begini akhirnya keluar dan mencari tahu apa yang terjadi.


"Ada apa Sehun? Kenapa kau berkeliling seperti satpam?"


"Kau melihat Jiyeon?" Baekhyun mengernyit, ia sempat berpapasan dengan Jiyeon siang tadi tapi tidak tahu kemana si gadis pergi, matanya merah tampak menahan tangis.


"Siang tadi aku melihatnya pergi, tapi tidak tahu kemana."


"Hubungi Kai, tanya apa Jiyeon kembali ke Seoul? Suruh mereka mencarinya juga."


"Baik Sehun."


Baekhyun tak banyak bertanya, ia tahu pasti bahwa kini Jiyeon menghilang entah kemana. Benar kan yang ia katakan, gadis ini sangatlah merepotkan dan Baekhyun sudah memperingatkan untuk tidak membawa Jiyeon ikut bersama ke Busan. Beginilah jadinya.


Semua orang kini sibuk mencari Jiyeon yang hilang bak di telan Bumi. Kai yang berada di Seoul juga ikut mencari karena Jiyeon tidak kembali ke rumah. Entah dimana wanita itu bersembunyi.  Mereka sudah menyisir setiap tempat dan hari juga sudah sangat larut malam, kasihan jika memaksakan mereka untuk tetap mencari.


Baekhyun berlari, entah dari mana asalnya membawa ponselnya yang baru saja mendapat panggilan masuk dari nomor asing. "Sehun!! Gawat! Gawat!" Ucapnya dari kejauhan, napasnya memburu sudah seperti di kejar hantu.


"Ada apa? Bicara yang jelas!" Kesal Sehun, ia masih bingung dengan Jiyeon yang tiba-tiba menghilang dan perasaan tidak enaknya, Baekhyun malah heboh sendiri.


"Jiyeon.... Black Doggie.... Jiyeon..." ucap Baekhyun terbata-bata.


"Yak! Bicara yang jelas! Ada apa dengan Jiyeon!"


"Jiyeon di culik."


"Apa?!"



Maaf ya karena upnya lama. Semoga masih ada yang nunggu kelanjutan cerita ini dan maaf moment Hunjinya masih dikitt...


Di tunggu vommetnya♡️