President'S Priceless Wife

President'S Priceless Wife
Part 15




.


.


.


.


.


.


Nayeon memasang ekspresi wajah kesal, dia keluar dari dalam kamar menuju ruang tengah dimana sang ibu berada. Gadis itu langsung duduk di sofa dengan tidak santai. Sang ibu yang sibuk membaca tabloid melirik si anak yang cemberut.


"Ada apa sayang?" Si ibu menutup tabloid itu dan meletakkan kembali ke tempat asalnya, yaitu di atas meja.


"Desainer itu belum memberikan kabar hingga sekarang, aku juga sudah berusaha menghubungi perusahaannya tapi tidak ada jawaban." Nayeon menendang-nendang angin di bawah kakinya, bibirnya manyun.


Si ibu juga mulai berpikir. Mungkinkah mereka telah di tipu?. Tidak tidak, pastinya sang Desainer sangat sibuk hingga belum sempat mengabari mereka lagi terkait kontrak yang telah di sepakati.


"Tenanglah sayang, mereka pasti akan menghubungi kita jika waktunya telah tiba. Eomma yakin itu." Si ibu menenangkan sang anak dengan mengusap-usap kepalanya. "Bagaimana jika kita berbelanja saja supaya kau tidak suntuk?" Usul sang ibu.


Mata Nayeon berbinar. "Ayo eomma!" Nayeon langsung berdiri mengambil tas yang berada di dalam kamar dan bergegas kembali menghampiri sang ibu.


Percuma saja mereka menunggu, sampai kapan pun tidak akan ada yang menghubungi. Jadi teruslah berharap pada harapan kosong.


...


Hari sudah sore ketika Krystal dan Jiyeon kembali. Mereka berdua masuk kedalam rumah dengan wajah lelah yang amat ketara. Entah apa yang mereka berdua lakukan hingga sore begini di luar sana. Dua orang itu duduk di sofa, beristirahat sejenak sebelum kembali ke kamar untuk membersihkan diri.


"Oh, kalian sudah kembali." Jieun yang muncul dari arah dapur menghampiri Krystal juga Jiyeon. Dia baru saja membuat jus jeruk. "Kemana saja kalian?" Tanya Jieun sambil meletakkan jus jeruk di atas meja, jus itu terlihat segar dan Krystal langsung saja menyerobot jus milik Jieun, meminumnya hingga habis tak tersisa.


"Yak! Kenapa kau minum? Aku tidak membuat ini untuk mu!" Jieun kesal, dia saja belum minum barang seteguk jus jeruk buatannya dan dengan tak tahu dirinya Krystal menghabiskan jus itu tanpa sisa.


"Aih.. sudahlah, kau bisa membuatnya lagi nanti, aku sangat haus." Ucap Krystal kelewat santai, seolah tak merasa bersalah sama sekali. Jieun memberengut.


Ketika dua orang itu sibuk lomba menatap. Jiyeon menoleh mendengar sebuah suara langkah kaki setelah decitan pintu tertutup. Seorang pria dengan stelan kemeja rapi di padukan dengan jas putih panjang tersenyum ke arahnya. Jiyeon mengenal orang itu, bahkan sebenarnya dia menunggu kedatangannya.


"Dokter Kim anda disini?" Jiyeon berdiri, membungkuk sedikit memberikan hormat pada sang Dokter yang usianya memang terbilang lebih tua di banding Jiyeon.


"Ya, aku baru saja memeriksa kondisi Sehun juga Kai." Ucap sang Dokter menjelaskan maksud kedatangannya ke kediaman Sehun. Dokter Kim juga baru saja mengganti perban yang ada di tangan kanan Sehun menjadi lebih baik.


"Oh begitu... lalu bagaimana dengan obat yang aku minta dokter untuk memeriksanya?" Jiyeon tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya, dia sungguh tidak sabar melihat hasil lab tentang obat-obat itu. Krystal dan Jieun yang tadi bertatapan sengit ikut menoleh mendengarkan pembicaraan Jiyeon dan dokter Kim.


"Ah, aku hampir saja lupa." Dokter Kim membuka tas kerjanya, mengubek-ubek isi di dalam tas tersebut dan mengeluarkan sebuah map coklat. "Ini dia." Dokter Kim memberikan map itu pada Jiyeon. Jiyeon menerimanya dengan senang hati.


"Bagaimana hasilnya dok?"


"Sebaiknya kau buka dan baca sendiri saja Jiyeon."


"Kalau begitu terima kasih dokter."


"Iya sama-sama."


Dokter Kim pamit untuk pulang karena hari sudah menjelang malam. Krystal, Jieun dan Jiyeon. Mereka bertiga melihat map coklat yang berada di tangan Jiyeon dengan rasa penasaran. Tangan Jiyeon bergerak untuk membuka map tersebut. Jiyeon mengeluarkan kertas yang berada di dalam map, jantung ketiganya berdegup kencang seolah hendak membaca surat cinta saja.


Jiyeon membaca setiap kata demi kata dalam kertas tersebut. Dan ketiga gadis itu menutup mulutnya tak percaya melihat hasilnya yang mengatakan bahwa obat-obatan itu memang benar telah di tukar dengan racun yang akan membuat orang ketika meminumnya perlahan-lahan syaraf nya akan lumpuh dan berfungsi dengan tidak benar, juga bisa menyebabkan serangan jantung.


"Ya Tuhan, ibu tiri mu benar-benar iblis!" Krystal berucap dengan kesal, sorot matanya terlihat marah. Tak berbeda dengan Jiyeon, dia ingin meremas kertas itu tapi tidak, Jiyeon punya rencana yang lebih baik dengan hasil lab ini.


"Rasanya aku ingin membunuh ibu tiri dan adik tiri mu Ji." Krystal menunjukan tangannya yang terkepal kuat di udara. Jieun mengangguk setuju.


"Itu tak akan lama lagi.. aku akan menghancurkan mereka, itu pasti!" Janji Jiyeon dengan mata bengisnya. Dalam hati dia merasa kesal, marah dan banyak sekali perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya. Kenapa dia baru tahu kenyataan ini sekarang? Kenapa tidak sebelum ayahnya meninggal? Jiyeon benar-benar menyesal.


Krystal menepuk bahu Jiyeon. "Kami akan siap kapanpun itu ketika kau membutuhkan bantuan Ji." Ucap Krystal bersungguh-sungguh. Jiyeon hanya tersenyum kecil dan mengangguk.


Jiyeon sudah selesai membersihkan diri, ia turun kebawah dan melihat Jieun dan Baekhyun tengah makan berdua. Jiyeon menghampiri keduanya.


"Oh Jiyeon, kau sudah selesai mandi. Bisa tolong aku?" Ucap Jieun sebelum Jiyeon duduk di salah satu kursi.


"Ada apa Jieun?"


"Tolong antar kan makan malam untuk Sehun, aku tadi ingin mengantarkannya sendiri tapi sudah terlanjur makan." Jieun tersenyum lebar menampilkan deretan gigi putihnya yang rapi. Dia memang sengaja menyuruh Jiyeon membawakan makan malam untuk Sehun, lagipula itu juga adalah tugas seorang istri untuk melayani suami bukan? Jadi tidak ada salahnya.


"Baiklah akan aku antar kan." Jiyeon mengambilkan makan malam untuk Sehun dan membawanya menuju kamar Sehun.


"Yak! Bukankah aku sudah mengantar makanan untuk Sehun tadi." Baekhyun bersuara setelah sejak tadi hanya diam menikmati makanannya.


"Eh? Kau sudah mengantarkannya?" Jieun tidak tahu jika Baekhyun sudah mengantarkan makan malam untuk Sehun. "Lalu kenapa kau diam saja bodoh?!" Jieun memukul kepala Baekhyun dengan sendok. Baekhyun mengaduh kesakitan lalu mengusap-usap kepalanya yang di pukul Jieun.


Baekhyun tidak bodoh, dia tahu maksud Jieun meminta Jiyeon mengantar makanan untuk Sehun. Tidak akan semudah itu membuat Sehun dan Jiyeon jatuh cinta. Apalagi Sehun adalah tipe orang yang hanya mencintai satu orang dalam hidupnya. Meskipun orang itu sudah menikah dengan orang lain.


"Jangan terlalu banyak berpikir Jieun, Jiyeon dan Sehun tidak akan mudah untuk saling mencintai satu sama lain. Mereka bersama karena hubungan ini saling menguntungkan." Baekhyun berucap sambil memasukan makanan kedalam mulutnya, meskipun dia tahu bahwa Sehun sering menggoda Jiyeon tapi bukan berarti keduanya telah jatuh cinta.


"Apa salahnya aku membantu hubungan mereka? Kau bukan tuhan yang tahu segalanya Baek." Jieun melirik si pria tajam. Dia yakin, hati keduanya tidaklah terbuat dari batu dan lambat laun pasti akan luluh juga jika terus menghabiskan waktu bersama.


Jiyeon mengetuk pintu kamar Sehun pelan dan ketika mendengar suara 'masuk' Jiyeon memutar knop dan mendorong pintu supaya terbuka. "Yak!" Jiyeon membalik badan ketika baru satu langkah masuk kedalam kamar Sehun, bagaimana tidak jika ketika dia masuk malah mendapati pemandangan yang tak ia harapkan sama sekali.


Sehun saat ini tak memakai baju hingga tubuh bagian atasnya terekspos dengan bebas. "Yak! Kenapa kau membalikkan badan? Apa tubuhku sejelek itu hingga kau berbalik?" Sehun merasa tersinggung karena tiba-tiba Jiyeon berbalik setelah melihat dirinya yang tidak memakai baju atasan.


"Bukan begitu... haishh... kenapa kau tidak memakai baju?" Jiyeon masih membelakangi Sehun. Dia bukannya tidak suka melihat tubuh atas Sehun tapi lebih pada malu. Kenapa Sehun tidak mengerti maksud Jiyeon.


"Yak! Berbalik lah, jangan membelakangi ku seperti itu." Jiyeon mau tak mau berbalik karena jika tidak Sehun pasti akan marah pada dirinya.


"Sehun kau sudah makan?" Tanya Jiyeon memastikan bahwa sisa makanan ini masih baru.


"Hem.. Baekhyun yang membawakan untuk ku." Jawab Sehun tanpa menoleh pada Jiyeon karena saat ini dia tengah sibuk melakukan sesuatu.


Jiyeon berdecak, kenapa tadi Baekhyun tidak bilang jika sudah membawakan makanan untuk Sehun jadi Jiyeon tidak perlu kemari kan. "Sia-sia saja aku membawa makanan kemari." Gumam Jiyeon. Dia menoleh pada Sehun yang menunduk dengan tangan kiri sibuk bergerak-gerak.


"Kau sedang apa? Kenapa masih belum pakai baju juga?"


"Tidak lihat? Aku sedang mengoles obat pada luka ku." Sehun menunjukan bekas luka yang ada di tubuhnya. Jiyeon tidak tahu jika selain wajah, tubuh Sehun juga terluka, bahkan lebih parah ketimbang wajahnya. Jiyeon mengernyit perih membayangkan betapa saktinya luka-luka itu. "Oh sial! Kenapa letaknya di sana, aku susah melihatnya." Eluh Sehun yang tangannya tak sampai dan pandangannya terbatas. Jiyeon yang melihatnya tentu tak akan tinggal diam.


"Berikan obatnya, biar aku yang oleskan untuk mu." Jiyeon meletakkan piring yang ia bawa di samping piring sisa makanan Sehun.


Sehun menoleh pada Jiyeon tapi belum memberikan obat oles nya pada Jiyeon. "Kau tidak jijik melihat luka-luka ini?" Jiyeon kembali mengernyit mendengar pertanyaan Sehun. Kenapa harus jijik? Jiyeon malah merasa kasihan dan luka itu harus segera di obati.


"Tidak Sehun, kenapa harus jijik? Sudah berikan obatnya biar aku bantu oleskan." Jiyeon mengambil obat yang ada di atas kasur karena Sehun tak juga memberikan obat itu pada dirinya. "Geser sedikit dan duduklah dengan benar." Sehun menurut. Dia bergeser kanan, memberikan ruang untuk Jiyeon agar si gadis bisa duduk. Dia juga menegakkan tubuhnya.


"Tahanlah sebentar, ini mungkin akan terasa perih." Ucap Jiyeon sebelum mengoleskan obat.


"Hem.."


Jiyeon mulai mengoleskan obat pada punggung Sehun yang terluka, si gadis dengan hati-hati mengoleskannya. Tubuh Sehun kadang menegang sebentar kala rasa perih itu menyapa, desisan pelan tak luput dari pendengar. Jiyeon ingin bertanya tapi sudahlah, ini bukan urusannya. Biarlah Sehun sendiri yang bercerita jika dia memang mau bercerita.


"Hari ini kau pergi kemana? Kenapa tidak memberitahu ku?" Tanya Sehun di tengah-tengah Jiyeon mengobati lukanya.


"Melakukan sesuatu, nantinya kau juga akan tahu." Jawab Jiyeon yang serius dengan kegiatannya. Sehun sudah banyak membantu dirinya dan kini Jiyeon ingin melakukan sesuatu dengan caranya sendiri tanpa campur tangan Sehun. Jiyeon ingin buktikan bahwa dia juga bisa melakukan sesuatu dengan usahanya sendiri.


"Sesuatu apa maksudmu? Jiyeon apa rencana mu sebenarnya?" Sehun menengok sedikit, ekor matanya melirik Jiyeon di belakangnya. "Kau benar-benar tak ingin memberitahuku?"


Jiyeon menghela napas. Bukan maksud Jiyeon tidak mau memberitahu Sehun, sekali lagi Jiyeon hanya ingin berusaha dengan kemampuannya sendiri. "Bukan begitu Sehun, aku pasti akan memberitahumu tapi tidak sekarang."


"Baiklah kalau begitu, tapi jika kau butuh sesuatu atau kesulitan beritahu aku." Sehun kembali menengok ke depan. Dia tidak meragukan Jiyeon, tapi tetap saja Sehun khawatir kalau Jiyeon sampai salah dan malah mencelakai diri sendiri.


Jiyeon tersenyum samar. "Tenang saja Sehun, Krystal dan Jieun bersama dengan ku, tidak akan terjadi apa-apa." Jiyeon percaya pada dua temannya.


"Hem.. Baguslah jika begitu."


Jiyeon sudah selesai mengobati semua luka di tubuh Sehun, dia akui Sehun mempunyai tubuh yang atletis dengan perut kota-kota yang sexy. Pastilah semua wanita yang melihat akan jatuh hati.


"Sudah selesai." Ucap Jiyeon menutup obat oles Sehun dan berdiri.


"Ambilkan kemeja ku." Jiyeon menoleh kesana-kemari dan melihat kemeja putih milik Sehun tergeletak di sisi ranjang yang lain. Jiyeon mengambilnya dan memberikan pada Sehun. "Bantu aku memakainya juga." Jiyeon merotasi kan bola matanya jengah, Sehun yang sakit dan Jiyeon yang harus repot. Baiklah, dia harap Sehun cepat sembuh agar tidak merepotkan terus menerus.


"Tugas ku sudah selesai, aku akan kembali sekarang." Jiyeon berbalik, dia butuh mengisi perutnya yang berteriak minta diisi. Namun Sehun kembali mencegah gadis itu pergi.


"Kembalilah kesini lagi nanti."


"Kenapa?"


"Tentu saja kau harus menemaniku, aku masih sakit. Ingat?"


"Ya ya, aku akan kembali nanti."


Sehun melepaskan tangannya yang memegangi lengan Jiyeon dan membiarkan gadis itu pergi mengisi perutnya yang sempat ia dengar berbunyi. Jiyeon menutup pintu kamar Sehun pelan. Dia geleng-geleng kepala sebelum akhirnya beranjak dari depan kamar Sehun.


Jiyeon melihat Baekhyun yang keluar dari kamar Kai, langsung saja dia menghampiri si pria pendek itu. "Yak! Baekhyun-ahhh!" Teriak Jiyeon ketika hampir dekat. Menyadari ada tanda bahaya, Baekhyun mengambil langkah seribu menuju kamarnya yang tak jauh dari kamar Kai.


Namun sayangnya, langkah kaki Jiyeon dan Baekhyun lebih lebar Jiyeon hingga kini Jiyeon berhasil menarik kerah belakang baju Baekhyun. "Mau lari kemana kau, huh?"


"A-aku tidak lari, aku mau tidur Jiyeon." Ucap Baekhyun sambil tersenyum lebar.


"Kenapa kau tidak bilang jika Sehun sudah makan? Jadi aku kan tidak perlu mengantar makanan padanya. Haishhh..."


"Ya tadinya aku mau memberitahu, tapi kau sudah terlanjur pergi jadi ya sudahlah."


"Dasar kau ini."


Jiyeon melepaskan tangannya yang mencengkram kerah belakang Baekhyun, jiyeon hendak bertanya lagi tapi Baekhyun sudah berlari lebih dulu. "Yak! Baekhyun! Yak! Hisss... aku kan belum selesai." Ucap Jiyeon berdecak kesal. Sudahlah, Jiyeon memutuskan untuk mengisi perutnya lebih dulu, jika tidak dia akan terus marah-marah karena lapar.


Jiyeon kembali ke kamar Sehun ketika sudah sangat larut malam. Dia sengaja menunggu sampai Sehun tidur baru kembali supaya nanti ia bisa tidur di sofa. Untunglah, Sehun sudah tidur sekarang jadi dia bisa menemani si pria dan tidur di sofa.


Jiyeon berjalan dengan pelan, mengambil bantal. Jiyeon menepuk-nepuk pelan bantal itu sebelum ia gunakan untuk tidur. Sebelum tidur Jiyeon sempat melihat Sehun sebentar dan barulah ia memejamkan mata.


Lagi-lagi mimpi buruk itu menghampiri tidur lelap Sehun, ia bergerak kesana-kemari dengan gelisah sambil bergumam tak jelas. Keringat dingin kembali membasahi dahi Sehun. "Tidak... Tidak... Tidak..." Gumam Sehun ketakutan. Nafasnya naik turun tidak teratur.


Jiyeon yang belum tidur terlalu lelap mendengar suara berisik yang di sebabkan oleh tubuh Sehun yang bergerak gelisah. Gadis itu membuka mata, mengucek-uceknya pelan dan bangkit dari posisi tidurnya. Dia melihat Sehun yang kembali seperti kemarin. Si gadis bergegas menghampiri Sehun.


"Sehun... Sehun... Hei..." Jiyeon memeriksa apakah Sehun demam lagi, tapi suhu tubuh Sehun normal. "Astaga, apa yang terjadi padanya." Jiyeon benar-benar tidak tahu apa yang terjadi pada Sehun dan harus bagaimana dia sekarang.


Jiyeon menggoyang tubuh Sehun pelan dan tak henti memanggil nama Sehun. "Sehun, Oh Sehun! Buka matamu Sehun! Sehun!" Jiyeon menaikkan nada suaranya.


Sehun membuka mata dan langsung memeluk Jiyeon erat. Napasnya memburu dengan wajah panik. Jiyeon sendiri terkejut dengan apa yang Sehun lakukan ini, tapi dia tak langsung mendorong Sehun, karena kondisi Sehun.


"Sehun ada apa? Kau mimpi buruk lagi?" Tanya Jiyeon dan menepuk-nepuk punggung Sehun.


Sehun tidak sadar dan reflek saja memeluk Jiyeon ketika kedua matanya terbuka. Bener, ia baru saja bermimpi buruk sangat buruk sekali. Setelah Sehun sedikit tenang Jiyeon melepaskan pelukannya. Kedua mata saling berpandangan dalam.


"Aku baik-baik saja.." Ucap Sehun dan mengalihkan pandangan matanya. "Kembalilah tidur dan jangan beri tahu siapapun tentang hal ini." Sehun kembali merebahkan tubuhnya dan menutup seluruh tubuh dengan selimut. Bahkan ia tidak peduli jika Jiyeon tidur di sofa atau di sampingnya. Jiyeon tidak tahu mimpi apa yang Sehun impikan hingga membuatnya begitu ketakutan, bahkan tatapan mata Sehun sangat jelas bahwa ada sesuatu yang Sehun sembunyikan.


"Tidurlah Sehun..." Gumam Jiyeon dan beranjak dari sisi ranjang Sehun.



Di tunggu vommetnya♡️