
.
.
.
♔️♔️♔️
Di sebuah ruangan yang nampak mewah, terlihat dua orang wanita yang asik menyesap anggur berkualitas tinggi. Mereka berdua puas dengan berita yang baru saja tayang di TV, rencananya berhasil dan kini mereka tengah merayakan keberhasilan atas rencana mereka.
"Dimana pun dia berada, pasti sekarang dia tengah menangis meratapi nasibnya". Ucap wanita yang lebih tua dan di sabut gelak tawa dari keduanya.
"Benar sekali Eomma, dia tidak akan bisa melakukan apapun sungguh miris sekali" Tambah sang gadis muda dan kembali menyesap anggur miliknya.
"Sekarang harta kekayaan ayahnya telah menjadi milik kita. Sebenarnya aku tidak ingin mengusirnya karena dia masih berguna untuk kita, menjadi babu misalnya. Tapi jika saja ayahnya tidak meninggalkan surat wasiat yang mengatakan bahwa seluruh aset perusahaan serta rumah akan jatuh ke tangan Jiyeon maka aku tidak harus mengusirnya". Wanita tua itu terlihat jengkel juga kesal. "Aku telah menjadi istrinya, tapi tidak mendapatkan apapun! Rasakan sendiri akibatnya!"
"Benar eomma, untung saja kita telah menyembunyikan surat itu di dalam brankas. Jiyeon tidak akan bisa melakukan apapun"
"Kau benar sayang, mungkin sekarang dia sudah jadi gelandangan atau mungkin karena putus asa mengakhiri hidupnya"
Lagi gelak tawa mereka semakin keras, seolah kemenangan telah di dapat dan tidak akan ada yang merebutnya. Mereka tidak tahu saja bahwa sebentar lagi, Mala petaka itu akan datang dan mereka berdua tak akan bisa tertawa seperti itu lagi.
***
Tak sehari pun Jiyeon lewatkan untuk berlatih bersama Krystal, dia sudah bertekad untuk bertambah kuat supaya ketika nanti menghadapi ibu tiri dan adik tirinya dia tak merasa takut kemudian kembali di remehkan, api dalam diri Jiyeon semakin berkobar dan bertambah besar. Selama proses latihan tak jarang Jiyeon mendapat pukulan dan luka-luka kecil akibat serangan Krystal yang kadang juga berlebihan. Tapi itu bukan apa-apa, rasa sakit di hati Jiyeon jauh lebih perih dari pada luka fisiknya.
"Hari ini kau sudah cukup baik Jiyeon, aku suka dengan semangat mu". Ujar Krystal tatkala menyudahi latihan untuk hari ini, dia mengerti bahwa memaksakan diri juga tak akan bagus untuk hasilnya nanti. Bukannya bertambah kuat, salah-salah malah tubuh semakin remuk.
Nafas Jiyeon masih naik turun dengan tidak teratur. Keringat hasil latihannya bercucuran membasahi seluruh tubuh. Bahkan kini cara menatap Jiyeon juga sudah berubah. Lebih tajam dan garang. Tak sia-sia latihannya bersama Krystal hampir satu minggu ini.
"Latihan hari ini cukup sampai disini saja, aku tak ingin melihat mu mati kehabisan tenaga". Ucap Krystal di sambut tawa setelahnya, ya dia hanya bercanda dan memang selalu kalimat itu yang Krystal ucapkan setelah latihan selesai. Jiyeon tersenyum tipis.
"Aku tidak akan mati semudah itu Krystal, tenagaku masih cukup kuat untuk menghajar mu". Balas Jiyeon yang kini sudah berdiri tegak, walau masih mengatur nafasnya.
"Sudahlah, kita lanjutkan saja besok jangan terus memaksakan diri, apa kau tidak lelah seharian berlatih? Hari sudah mau gelap, aku juga butuh merawat diri. Jangan bersikap seolah tidak ada hari esok"
Krystal melenggang pergi dari ruang latihan khusus yang di buat Sehun, letaknya tepat di belakang rumah megah Sehun dan hanya orang-orang tertentu saja yang di perbolehkan masuk serta menggunakan fasilitas yang ada. Ada tiga ruangan latihan khusus, yaitu ruang menebak, ruang bela diri dan tinju. Semua itu adalah kesukaan Sehun. Tapi Jiyeon baru menggunakan ruang bela diri saja, belum sampai menebak.
Krystal sudah pergi dan sekarang hanya ada Jiyeon seorang di tempat ini. Dia menghela napas panjang, otot-otot tubuhnya terasa nyeri, tangannya tak semulus dulu dan ada sedikit lebam di pipi kanannya akibat tak berhasil menangkis serangan Krystal. Jiyeon lelah, mungkin benar kata Krystal. Dia terlalu memaksakan diri hingga lupa jika tubuhnya bukan mesin yang bisa bekerja tanpa henti, dia hanya manusia bisa. Jiyeon tidur telentang di atas matras, menatap langit-langit atap yang transparan hingga dia bisa melihat bahwa di luar sana hari sudah berganti petang.
"Aku pasti kembali, tunggu dan lihat saja kalian tak akan selamanya tertawa di atas penderitaan ku". Gumam Jiyeon, tangannya terkepal kuat di bawah sana.
Jiyeon terkejut ketika ruangan yang hampir gelap ini tiba-tiba terang, dia bangkit duduk dan melihat siapa yang datang.
"Kenapa tidak kembali bersama Krystal?" Rupanya Sehun yang datang. Jiyeon menatap Sehun yang masih menggunakan stelan kerja lengkap. Jiyeon kira ini masih terlalu sore untuk Sehun pulang dari kantor. Ya, tinggal selama hampir satu minggu lebih bersama Sehun membuat Jiyeon tahu jadwal pria itu karena Baekhyun akan membacakan jadwal Sehun sebelum mereka berangkat.
"Tidak apa-apa, aku masih ingin disini". Jawab Jiyeon apa adanya.
Sehun mendekat, dia tidak datang dengan tangan hampa entah apa yang di bawa dalam kotak kecil yang di tenteng itu. Sehun ikut duduk di hadapan Jiyeon.
"Ishhh... Krystal itu.." Desis Sehun menatap wajah Jiyeon yang penuh dengan luka lebam.
"Kau mau apa?" Tanya Jiyeon ketika tangan Sehun meraih dagunya. Sehun sibuk mengamati wajah Jiyeon.
"Lihatlah wajahmu, kenapa masih bisa kena pukulan? Apa kau sungguh-sungguh berlatih?"
Jiyeon menepis tangan Sehun dari dagunya. "Tentu saja aku berlatih, kau tentu tahu bahwa level Krystal lebih tinggi dari pada aku, jadi wajar jika gagal menghindar atau menangkis pukulannya"
"Wah... Rupanya kau semakin pandai berbicara, apa Krystal yang mengajari mu? Ini, obati luka mu dan segeralah kembali, Jieun sudah menyiapkan makan malam"
Sehun bangkit. Berbalik. Kemudian melangkah pergi meninggalkan ruangan itu, tadinya ingin memberitahu Jiyeon sesuatu tapi nanti saja mereka bicara lagi. Biarkan Jiyeon istirahat dan memulihkan tenaganya.
***
"Yak!" Jieun menampik tangan Baekhyun yang hendak mengambil daging yang tinggal beberapa potong. "Baekhyun-ah jangan makan itu! Aku memasaknya khusus untuk Jiyeon, dia butuh banyak protein bodoh" Amuknya pada Baekhyun.
"Ishh... Itukan masih banyak, kenapa kau pelit sekali? Menyebalkan!" Baekhyun menatap Jieun jengkel.
"Kau makan yang lain saja, ini ku siapkan khusus untuk Jiyeon"
"Yak! Aku hanya akan makan sepotong tidak menghabiskannya, lagi lupa Jiyeon juga belum datang dia tidak akan tahu jika aku memakannya"
"Pokoknya tidak boleh! Ambil saja yang lain!"
Ketika dua orang itu tengah asik berdebat, Krystal datang dan dengan tidak tahu dirinya memakan daging yang ada di piring. Jieun dan Baekhyun hanya bisa melongo ketika daging yang ada di piring telah habis masuk kedalam perut Krystal.
"Kenapa kalian menatap ku seperti itu?" Tanya Krystal benar-benar tidak merasa bersalah sama sekali, bahkan kini dia beralih menyantap makanan yang lain.
"Aku susah payah membuatnya untuk Jiyeon, malah orang lain yang memakannya". Jieun hanya bisa meratapi nasib dan kembali duduk di tempatnya.
Baekhyun tertawa. "Itu adalah karma instan untuk mu, salah siapa kau melarang ku memakannya. Jika tadi kau izinkan hal ini pasti tidak akan terjadi"
"Yak! Diam lah bodoh... ishh..."
Baekhyun masih asik tertawa, melihat wajah sengsara Jieun benar-benar menyenangkan untuknya. Sedangkan Jieun ingin rasanya memukul kepala Baekhyun, tapi ia urungkan niatnya itu ketika melihat Sehun datang dan ikut bergabung di meja makan. Tak lama kemudian Jiyeon menyusul setelah membersihkan diri juga mengganti pakaiannya.
"Jiyeon bagaimana latihan mu hari ini? Aigo, wajah mu semakin banyak lebamnya". Tanya Jieun ketika Jiyeon telah duduk manis di kursinya. Setelah hari itu hubungan Jieun dan Jiyeon mulai membaik, mereka menjadi teman sekarang.
"Krystal apa kau tidak keterlaluan? Lihatlah wajah Jiyeon sampai lebam begitu"
"Yak! Lee Jieun namanya juga latihan apapun bisa terjadi, ini tidak ada apa-apanya di banding dengan latihan ku yang dulu" Krystal membela diri, lagipula dia tidak sepenuhnya salah mereka baru latihan beberapa hari jadi wajar jika Jiyeon belum benar-benar bisa menghindar dari semua serangan Krystal.
"Jika kalian masih ingin mengobrol jangan disini, ini tempat makan bukan bergosip"
Jieun langsung mengatupkan bibirnya, jika Sehun sudah buka suara itu artinya dia terganggu. Akhirnya mereka makan dengan tenang tanpa ada perdebatan lagi.
"Jiyeon, datanglah ke ruang kerja ku setelah ini, ada hal yang ingin aku bicarakan dengan mu". Sehun berdiri, dia telah selesai makan dan langsung pergi begitu saja tanpa mendengar jawaban dari Jiyeon.
Jiyeon sendiri masih menikmati makanan yang tinggal satu suap. Setelah itu barulah dia datang menghampiri Sehun di ruang kerjanya.
"Kira-kira apa yang akan mereka bicarakan?" Celetuk Baekhyun, Krystal dan Jieun juga penasaran. Kenapa tidak membicarakannya disini saja? Kenapa harus di ruang kerja Sehun?
"Dari pada kita penasaran, bagaimana jika kita sedikit mencuri dengar?" Ide Krystal yang langsung di setujui oleh Baekhyun dan Jieun. Tiga orang itu bergegas menuju pintu ruang kerja Sehun.
"Apa yang ingin kau bicarakan dengan ku?" Tanya Jiyeon langsung pada intinya. Kini dia berdiri di hadapan Sehun yang duduk manis di kursi kebesarannya. Entah apa yang akan Sehun bicarakan, Jiyeon hanya menunggu.
"Aku mendapatkan informasi bahwa paman mu juga terlibat dalam rencana pengambilan alih perusahaan ayah mu"
"Apa? Paman ku?"
"Ya, dia bekerja sama dengan ibu tirimu"
Jiyeon meremas ujung dress-nya kuat-kuat, tak percaya dengan semua ini. Bagaimana bisa pamannya tega melakukan hal itu. Entah orang-orang macam apa yang selama ini berada di sekeliling Jiyeon dan Ayahnya. Amarah itu kembali meluap.
"Mereka pasti sudah merencanakan semua ini sejak lama"
"Sepertinya begitu dan sekarang paman mu yang ditunjuk sebagai direktur utama Hansang"
"Ini tidak boleh di biarkan, aku harus merebutnya kembali! Perusahaan itu adalah hasil kerja keras ayah ku, mereka seenaknya saja mengambilnya!!"
Jiyeon berang, emosinya tak dapat di kendalikan. Dia hendak keluar tapi Sehun mencegahnya dan menenangkan. Akhirnya Jiyeon kembali tenang.
"Aku tahu kau marah dan ingin menghabisi mereka, tapi ini bukan saat yang tepat, kau tidak bisa tiba-tiba muncul dan marah-marah di hadapan mereka. Kendalikan dirimu!"
Ucapan Sehun dibenarkan oleh hati Jiyeon. Dia sekarang tak memiliki apapun untuk bisa melawan mereka, Jiyeon hanya akan memperlakukan diri sendiri jika datang ke sana sekarang. Sama seperti datang ke medan perang tanpa senjata, itu bunuh diri namanya.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?"
Sehun tersenyum, ini adalah pertanyaan yang sudah ia nantikan. "Mudah saja... Menikahlah dengan ku". Ucapnya tanpa beban.
Jiyeon sontak kaget dengan jawaban Sehun. "Apa? Menikah?!" Jiyeon menatap Sehun dengan wajah terkejutnya, dia mulai berpikir apakah Sehun ini gila atau semacam psikopat. Kenapa tiba-tiba meminta Jiyeon menikah dengannya? Benar-benar jawaban yang aneh. Tapi sedetik kemudian Jiyeon berpikir, mungkin Sehun sudah menyiapkan sebuah rencana atau apapun itu. "Apa kau sudah hilang akal? Apa yang akan aku dapat jika menikah dengan mu?"
"Park Jiyeon, apa kau tidak tahu? Aku adalah pemegang saham terbesar di perusahaan ayah mu, jika aku menarik saham ku maka cusssss..." Sehun membuat gerakan tangan seperti pesawat yang akan jatuh. "Maka perusahaan mu mungkin hanya akan tinggal nama saja". Sehun tidak mengatakan omong kosong, dia memang pemegang saham terbesar di perusahaan ayah Jiyeon dan beberapa perusahaan lain. Semua orang tahu itu. Apakah dia tidak punya televisi, di internet juga banyak berita tentang Sehun bagaimana Jiyeon bisa tidak tahu?
"Kau tidak perlu khawatir Jiyeon, ini hanya pernikahan bisnis di antara kita, aku membantu mu balas dendam dan kau membantu dengan menikah dengan ku. Sederhananya, hubungan kita ini saling menguntungkan. Dan juga aku bisa menjadi wali mu secara sah di mata hukum. Bagaimana apa kau setuju?"
Jiyeon masih diam, otaknya sibuk mencerna semua ucapan Sehun. Dia harus pikirkan ini baik-baik. Jika benar Sehun adalah pemegang saham terbesar di perusahaan ayahnya, maka hal ini sangat menguntungkan bagi Jiyeon, dia bisa masuk kedalam perusahaan itu dengan mudah. Baiklah, keputusan ini pasti akan menguntungkan Jiyeon, lagi pula ini hanya pernikahan bisnis dan Jiyeon hanya harus menjadi istri di atas kertas saja, bukan istri yang sesungguhnya.
"Baiklah, aku setuju... Kita akan menikah". Keputusan akhir yang Jiyeon ambil, semoga saja dia tidak salah dan akhirnya menyesal setelah mengambil keputusan ini. Sehun tersenyum, dia tahu bahwa Jiyeon bukan gadis yang bodoh yang akan menolak tawaran sebagus ini.
"Gadis pintar, setelah menikah aku akan memberikan setengah saham ku padamu dengan begitu kau bisa masuk ke perusahaan Hansang dengan mudah"
Jiyeon melongo, dia dengan mudahnya memberikan setengah saham pada Jiyeon, benar-benar pria yang sulit di mengerti.
"Kau boleh keluar sekarang, masalah pernikahan biar aku yang urus cukup fokus saja pada latihan mu"
"Ya aku mengerti"
Jiyeon berbalik, dia melangkah menuju pintu keluar yang ada di ujung sana.
Sedang di luar. Jieun, Krystal dan Baekhyun masih sibuk menempelkan telinga ke pintu berharap bisa mendengar apa yang terjadi di dalam, tapi percuma saja tak ada yang bisa mereka dengar. Pintu ini terlalu tebal.
Jiyeon membuka pintu dengan tiba-tiba, walhasil tiga orang itu jatuh dan mencium lantai. Jiyeon terkejut sekali melihat ini.
"K-kalian sedang apa?" Tanya Jiyeon, sebenarnya dia sudah tahu jawabannya. Pasti mereka mencoba menguping pembicaraan Jiyeon dan Sehun tapi malah jatuh tersungkur.
Baekhyun langsung berdiri begitu juga dengan Krystal dan Jieun.
"Aku sedang melakukan pemeriksaan, ya pemeriksaan". Jawab Baekhyun dan tersenyum lebar.
"Ya, kami mengecek apakah pintu itu masih kokoh atau tidak... begitulah". Jieun juga ikutan mengatakan hal bodoh seperti Baekhyun. Sedangkan Krystal tak mau ikut-ikutan bodoh seperti dua orang itu.
"Kami akan pergi sekarang, sampai jumpa Jiyeon" Jieun menarik Krystal pergi, padahal dia tidak ingin pergi masih mau di sana dan mengintrogasi Jiyeon tentang apa yang baru saja dibicarakan dengan Sehun di dalam. Baekhyun ikut menyusul perginya Krystal dan Jieun.
"Eh... Kenapa mereka semua pergi?" Jiyeon terkekeh pelan, kemudian geleng-geleng kepala melihat tingkah tiga manusia yang kadang absurd itu.
"Kau masih disini?" Jiyeon seketika menoleh ketika suara Sehun memecahkan lamunannya.
"Ini baru mau pergi". Jiyeon segera berlalu dari depan ruangan Sehun. Sehun hanya tersenyum tipis menatap punggung Jiyeon yang sudah menjauh dari pandangan matanya.
Maafkan kalau ada salah kata ya.
Di tunggu Vommetnya