

.
.
.
.
.
.
.
Tiga Hari berlalu begitu saja, sejak Ibu tiri Jiyeon di bawa oleh polisi dan hari ini, polisi datang ke rumah Sehun untuk menemui Jiyeon, mereka sudah menginterogasi Ibu tiri Jiyeon selama dua hari penuh dan kemarin para polisi mendapatkan izin untuk menggeledah rumah keluarga Park, demi untuk mendapatkan bukti lebih banyak.
Sehun sudah pergi bekerja pagi tadi, karena memang meeting yang sempat di tunda kemarin harus segera di lanjutkan jika tak ingin kehilangan kesempatan mengerjakan proyek besar.
"Jadi, kedatangan kami kesini ingin memberikan surat ini pada Nona," Polisi itu memberikan selembar kertas pada Jiyeon, Jiyeon mengerutkan kening sebelum akhirnya ia menerima surat yang di berikan oleh polisi.
"Kami menemukan surat ini di dalam brangkas milik Tuan Park, sepertinya surat ini di tunjukkan untuk Nona. Tapi, nyonya Park menyembunyikannya," Jelas sang polisi.
Jiyeon membaca setiap kalimat yang tertera di dalam surat itu, ia sedikit tersentak kaget setelah selesai membaca surat wasiat milik sang ayah, "Kami rasa, sebenarnya Tuan Park sudah tahu jika selama ini obat-obatan yang ia konsumsi telah di tukar dengan obat lain, maka dari itu sebelum meninggal beliau mengganti Isi surat wasiat nya dan memberikan seluruh aset harta benda juga perusahaan pada Nona." Jiyeon menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang sebentar lagi akan keluar.
Ia tidak menyangka jika sang ayah tahu tentang kejahatan Ibu tiri-nya, tapi kenapa Ayah tidak mencoba melawan dan berhenti mengonsumsi obat-obatan itu? Jika Jiyeon tahu lebih awal, ayahnya pasti tak akan meninggal, ia pasti bisa menyelamatkan satu-satunya keluarga yang ia punya. Sekarang ia hanya bisa menyesali segalanya.
"Kami akan segera memproses hukuman untuk nyonya Park, Nona tenang saja, nyonya Park tak akan bisa lepas dari jeratan hukum," Ucap polisi itu sebelum pergi meninggalkan rumah Sehun.
Jiyeon hanya mengangguk, ia sudah lelah dengan semua ini dan berharap semoga ibu tirinya mendapatkan balasan yang pantas ia dapatkan, tak ingin menjadi orang pendendam tapi apa yang dilakukan sangatlah keterlaluan. Sekarang, ada satu hal lagi yang harus ia lakukan. Mengurus pamannya yang seenaknya merebut perusahaan hasil jerih payah sang ayah.
Jiyeon selama ini memang terlihat diam dan tidak melakukan apa pun, tapi sebenarnya ia telah menyelidiki secara diam-diam apa saja yang pamannya lakukan, lewat mata-mata yang sengaja ia tempatkan di perusahaan sang ayah, ia sampai terkejut mengetahui fakta bahwa sang paman telah mengelapkan dana perusahaan begitu banyak demi untuk gaya hidup yang mewah ibu tiri dan juga Nayeon. Sudah cukup, sudah saatnya sang paman sadar dan mendapat hukuman.
"Aku akan pergi sekarang..."
"Baiklah, aku akan menyusul setelah ini, berhati-hatilah."
"Hem, aku mengerti.."
Jiyeon memutuskan sabungan teleponnya dengan seseorang di seberang sana, ia masuk kedalam kamar, mengambil tas juga blazer hitam, setelah itu ia pergi keluar. Sudah ada sebuah mobil hitam yang menunggu Jiyeon, tentu Sehun tidak akan membiarkan Jiyeon pergi sendirian ke kantor ayahnya.
"Kita berangkat sekarang, Nona?" Ucap seorang pria di balik kemudi, salah satu anak buah Sehun yang di percaya untuk mengawal Jiyeon.
"Ya.." Jawab Jiyeon seadanya, ia memasang ekspresi datar kemudian mengalihkan pandangannya keluar jendela, mobil itu pun perlahan berjalan, meninggalkan halaman rumah Sehun yang sangat luas.

"Aku mohon Appa, hanya Appa saja yang bisa membantu eomma sekarang.." Adalah Nayeon yang tengah memohon pada sang ayah untuk membebaskan ibunya dari dalam penjara. Sudah dua hari ini ia merengek pada sang ayah untuk menolong ibunya, tapi hingga kini sang ayah tampak enggan untuk membantu.
"Itu tidak mungkin, Nayeon. Orang-orang akan curiga jika tiba-tiba aku datang ke kantor polisi lalu membebaskan ibumu," Paman Jiyeon ini juga sebenarnya ingin membantu, namun masalahnya ia tak ingin publik tahu hubungan mereka yang sebenarnya.
"Lalu harus bagaimana Appa? Eomma pasti ketakutan sekarang, aku mohon Appa tolong selamatkan eomma," Naeyon masih memohon bahkan air matanya tak berhenti mengalir, ia ketakutan bila mana harus ikut masuk kedalam penjara seperti sang ibu, ia tidak mau itu sampai terjadi.
Ketika keduanya tengah sibuk dengan pikirannya masing-masing, pintu ruangan itu terbuka dan seorang wanita masuk kedalam ruangan itu bersama tiga orang pria berbadan besar, yang dua adalah polisi dan satunya pengawal Jiyeon. Nayeon langsung menatap Jiyeon nyalang, semua masalah ini bersumber dari Jiyeon. Semua ini karena salah wanita sialan itu, pikir Nayeon.
"Mau apa kau kesini, sialan?!" Bentak Nayeon dengan kedua tangan yang sudah terkepal kuat di bawah sana, siap memukul Jiyeon kapan saja.
Jiyeon sama sekali tidak takut dengan tatapan marah Nayeon, ia memasang ekspresi wajah datar dengan dagu terangkat, "Ini bukan urusan mu, jadi aku tidak perlu memberitahumu," Ucap Jiyeon tak peduli pada Nayeon.
"A-ada apa ini, Jiyeon? Kenapa datang tidak memberitahu paman dulu?" Paman Jiyeon merasakan firasat buruk, ia terlihat gugup belum lagi dua orang di belakang Jiyeon kini menatapnya.
Jiyeon mendengus pelan, "Ini adalah kantor ayahku, kenapa aku harus memberitahu paman akan datang atau tidak, lagipula di dalam surat wasiat ini appaku telah memberikan seluruh aset dan perusahaan atas nama ku," Jiyeon tersenyum menyeringai.
Nayeon terbelalak kaget, tidak tahu jika surat itu kini berada di tangan Jiyeon. Paman Jiyeon dengan susah payah menelan air liurnya sendiri. Keringat dingin mulai keluar dari pori-pori tubuh.
"Duduklah Jiyeon, kita bicara baik-baik," Ucap sang paman.
"Ah, sayang sekali.. aku tidak punya banyak waktu paman," Jiyeon melipat tangannya di dada, "Lagi pula, bukan aku yang punya urusan dengan paman, tapi para polisi ini," Lanjut Jiyeon sambil bergeser sedikit, memberikan jalan pada polisi untuk maju ke depan.
"P-polisi? Kenapa dengan polisi ini, Jiyeon?" Paman Jiyeon gugup, tangannya sudah basah karena keringat. Nayeon kembali merasakan firasat buruk.
"Kami mendapatkan laporan bahwa anda telah mengelapkan uang perusahaan senilai lima ratus juta won, ini adalah surat penangkapan untuk anda," Polisi itu menunjukan sebuah surat penangkapan untuk paman Jiyeon.
Paman Jiyeon menggeleng, tak menyangka jika kejahatannya telah di ketahui, "Tidak! Kalian pasti salah orang, Jiyeon paman tidak mungkin melakukannya! Percayalah!" Paman Jiyeon ketakutan, bahkan kini ia berlutut tepat di bawah kaki Jiyeon, meminta Jiyeon untuk percaya. Lucu sekali.
Jiyeon tersenyum masam, "Paman, akui saja kejahatan paman. Paman sudah tidak bisa mengelak lagi, bukti sudah ada dan karyawan paman sendiri yang melaporkannya," Melihat wajah pamannya yang putus asa dan menderita seperti itu, entah kenapa Jiyeon merasa senang, ia merasa menang.
"Tidak Jiyeon! Paman mohon percayalah! Kita keluarga bukan?!"
"Keluarga?" Jiyeon tertawa sumbang, "Dimana paman saat wanita itu mengusir ku dari rumah? Dimana paman saat semua orang memojokkan ku dan menuduhku membunuh ayahku sendiri? Paman diaman?!" Jiyeon berteriak, dadanya kembali sesak, seolah menahan sesuatu yang sangat menyakiti kan.
"Maafkan paman Jiyeon, paman menyesal, paman bersalah.. Paman di hasut oleh wanita itu dan juga anaknya."
"Appa.." Nayeon tidak percaya jika ayahnya, ayah kandungannya akan melemparkan semua kesalahan pada ibu dan juga dirinya.
Jiyeon menatap pamannya jijik, orang yang benar-benar licik dan hanya ingin menyelamatkan dirinya sendiri, Jiyeon muak ia meminta polisi itu untuk segera membawa pamannya pergi karena jika terlalu lama, pamannya akan terus membual dan membuat Jiyeon mual.
"Lepaskan aku! Dasar sialan kau Jiyeon! Lepaskan!!" Teriak pamannya yang di seret keluar oleh polisi, semua karyawan melihat direktur utama perusahaan ini di seret keluar oleh polisi, banyak yang mulai berbisik dan bergunjing. Tapi ada juga yang merasa senang dan lega karena akhirnya direktur gila itu di tangkap.
Jiyeon menghela napas lega, akhirnya masalahnya telah selesai. Jiyeon berbalik, hendak pergi tapi tiba-tiba Nayeon memblok jalan Jiyeon, lelaki yang menjadi pengawal Jiyeon langsung sigap dan berdiri di depan Jiyeon, menghalau Nayeon.
Bruk!
Jiyeon tersentak kecil karena tiba-tiba Nayeon berlutut di hadapannya sambil menundukkan wajahnya. Oh, sepertinya ada sesuatu yang gadis ini inginkan.
"Aku mohon Jiyeon, keluarkan eomma ku dari penjara, kami janji tidak akan mengganggumu lagi jika kau mau melepaskan eomma ku," Nayeon berucap dengan suara yang terdengar putus asa, bahkan ia terpaksa melakukan ini demi untuk ibunya bisa bebas dari penjara.
"Kau tahu Nayeon? Sebenarnya kau juga harusnya masuk dalam penjara bersama ibumu, tapi aku masih berbaik hati dan punya cara lain untuk menghukum mu. Kau akan merasakan bagaimana hidup sebatang kara di dunia ini, tanpa ada siapapun yang akan melindungi mu, rasakan sendiri," Jiyeon memberikan kode pada pengawalnya untuk menyingkirkan Nayeon dari jalannya. Pengawal itu langsung sigap dan mendorong Nayeon agar menyingkir dari jalan Jiyeon.
"Tidak Jiyeon! Aku mohon bebaskan ibuku, aku mohon!" Nayeon tidak berhenti, ia masih berusaha mengejar Jiyeon dan memohon pada sang gadis.
Jujur saja, dalam lubuk hati Jiyeon yang terdalam, ia tidak tega melihat Nayeon seperti itu karena bagaimanapun juga Jiyeon pernah menyayangi Nayeon layaknya saudara sendiri. Ia memejamkan kedua mata, berupa-rupa tidak mendengar dan terus berjalan. Nayeon akan merasakan bagaimana pedihnya hidup sendirian tanpa satu orangpun yang melindunginya, itu hukuman yang pantas untuk Nayeon.
"Jiyeon, aku mohon... hikkss... hikss..."
Pintu lift itu tertutup dan Jiyeon masih meneguhkan hati agar tidak terpengaruh oleh tangisan Nayeon. Sudah cukup ia di tipu selama ini, Jiyeon tak akan jatuh ke-lubang yang sama.
Pengawal itu membukakan pintu mobil untuk Jiyeon setelah dengan susah payah melewati begitu banyak wartawan yang entah sejak kapan sudah memadati depan gedung perusahaan sang ayah, yah, para pencari berita itu pasti sangat bersemangat sekali, Jiyeon langsung masuk kedalam tanpa menjawab satupun pertanyaan sang wartawan. Ia bersandar pada punggung jog mobil, mobil ini perlahan-lahan berjalan meninggalkan halaman gedung perusahaan sang ayah.
Akhirnya semua masalah ini selesai juga, tinggal menunggu laporan dari kepolisian dan dua orang itu mendapatkan hukuman yang sepantasnya. Jiyeon memejamkan kedua mata, mengistirahatkan otak dan juga tubuhnya yang terasa lelah. Ia tidak peduli akan jadi apa atau bagaimana kelanjutan hidup Nayeon, biarkan saja takdir yang menunjukan jalannya.

Rupanya Jiyeon tertidur sebentar di dalam mobil, ia sampai tidak tahu ini ada dimana karena tempat ini bukan rumah melainkan sebuah jalanan yang sepi. Ia menoleh ke depan, pengawal itu tersenyum padanya.
"Anda sudah bangun, Nona." Ucapannya.
"Ini dimana? Kenapa kau membawaku kemari?" Jiyeon khawatir jika ia akan diculik lagi atau hal-hal buruk lainnya, tapi bukankah pengawal ini adalah pengawal yang secara khusus Sehun pilih untuk menjaganya? Jadi tidak mungkin pengawal ini mengkhianati Sehun dan menculik dirinya.
"Silahkan turun, Nona. Tuan menunggu di atas sana." Pengawal itu menunjukan sebuah jalan menanjak menuju atas gunung, ia tidak yakin dan lagi kenapa Sehun menunggu di atas sana? Kenapa tidak menunggu di sini saja? Jiyeon masih harus waspada.
Tahu jika nona mudanya merasa was-was, pengawal itu tersenyum kecil, "Tenang saja, Nona. Aku tidak punya niat jahat. Tuan tadi menunggu nona disini, tapi karena nona tertidur tuan tak ingin mengganggu tidur anda dan meminta saya untuk menyampaikan pesannya bila nona susah bangun. Aku masih sayang nyawa, nona." Ucap sang pengawal dan di akhiri dengan kekehhan kecil.
Jiyeon tersenyum kikuk, ia pun turun dari mobil menatap jalan menanjak di depannya, ia menarik napas dan menghembuskan nya pelan. Sehun itu sebenar apa yang di pikirkan sampai meminta Jiyeon naik ke atas bukit. Memangnya ada apa di atas sana? Benar-benar.
Jiyeon terus berjalan, meskipun ia sedikit lelah karena memang menaiki bukit bukanlah keahlian Jiyeon, ia lebih suka pantai dari pada gunung. Setelah perjalanan panjang dan melelahkan, akhirnya Jiyeon sampai juga di atas bukit, namun tidak ada siapapun di sana, hanya pagar pembatas kayu dan kayu yang di tumpuk menjadi satu seperti tempat duduk.
"Sehun-ah!" Panggil Jiyeon, tapi tak ada balasan sama sekali. "Yak! Oh Sehun!!" Teriak Jiyeon lagi, tapi tetap tidak ada yang menyahuti panggilannya.
"Ishh... apa dia sedang mengerjai ku?" Jiyeon bergumam, "Harusnya aku tahu, dia itu kan jahil sekali, sudah susah payah naik sampai ke atas sini dia malah tidak ada, menyebalkan." Jiyeon berjalan dengan menghentak-hentak kakinya seperti anak kecil, ia perlu istirahat sebentar sebelum kembali turun. Jiyeon duduk di tumpukan kayu itu sambil menatap lurus ke depan, ternyata pemandangan dari atas sini benar-benar indah, bahkan ia bisa melihat namsan tower dari sini. Tanpa sadar sebuah senyum tersungging di bibir manis Jiyeon.

"Indah bukan?"
Jiyeon ter-lonjak kaget karena tiba-tiba Sehun muncul di sampingnya dan tersenyum lebar.

Ia menoleh ke sana-kemari, entah dari mana pria ini muncul membuat Jiyeon kaget saja.
"Yak! Kau dari mana?"
"Aku tidak dari mana-mana, sejak tadi menunggumu di sana, kau ini tidur atau pingsan? Lama sekali,"
"Kau tahu lama, kenapa tidak bangunkan aku?"
"Bagaimana mau membangunkan mu? Kau tidur lelap sekali tadi,"
"Kan tinggal bangunkan saja,"
"Ah sudah sudah... kenapa jadi berdebat sih?"
"Kau yang mulai duluan Sehun."
Suasana kembali hening, hari mulai beranjak sore dengan matahari yang akan terbenam di sisi barat. Keduanya menikmati pemandangan yang indah di depan mata dengan angin yang perlahan-lahan menerpa tubuh keduanya.
Jiyeon menarik napas dan menghembuskan nya pelan, "Rencana balas dendam ku sebentar lagi akan selesai, terima kasih banyak Sehun, semua ini bisa terjadi karena dirimu," Jiyeon berucap tanpa menatap wajah Sehun, ia memilih melihat pemandangan di depannya. Sehun menoleh sekilas dan kembali fokus ke depan dengan telinga yang setia mendengarkan ucapan Jiyeon.
"Semua sudah selesai, itu artinya kita tidak perlu berpura-pura lagi menjadi pasangan suami istri, kita-"
"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?!" Sehun memotong ucapan Jiyeon cepat, ia tahu kemana arah pembicaraan ini dan Sehun tidak mau mendengarkannya.
Jiyeon menoleh pada Sehun yang kini menatapnya dengan tatapan mata marah, "Kau bisa menceraikan aku Sehun dan hiduplah dengan wanita yang kau cin-" Jiyeon terbelalak ketika bibir Sehun membungkam bibirnya. Lagi-lagi Sehun menciumnya tanpa izin.
Sehun melepaskan tautan bibir mereka, ia memegang bahu Jiyeon erat dan menatap tepat di manik mata Jiyeon yang berwarna sama dengan manik matanya, "Jadi kau mau meninggalkan aku begitu?"
"B-bukan begitu, mak-"
"Dengarkan aku Park Jiyeon!" Sehun menekan setiap kalimat yang keluar dari mulutnya, wajahnya tampak serius, "Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikan mu, meskipun misi mu sudah selesai kau tetap istriku! Dan kau sendiri juga pernah berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu kecuali aku yang mengusir mu pergi, jadi ingat ini dengan baik, kau dan aku tetap menjadi suami istri!" Tegas Sehun.
Jiyeon hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Sehun.
Setelahnya Jiyeon tersenyum dan mengangguk, "Baiklah Sehun, aku mengerti," Ia pikir semua akan berakhir bersama dengan terbalaskan nya dendam miliknya, tapi rupanya pria ini sendiri yang tak membiarkan Jiyeon pergi. Sesuatu yang hangat tengah menyelimuti hati Jiyeon, perasaannya menjadi lebih baik.
Tiba-tiba Sehun menarik Jiyeon kedalam pelukannya, ia mendekap Jiyeon erat, "Kau sudah setuju, jadi jangan pergi dan jangan bahas hal ini lagi, selamanya kau akan tetap menjadi Nyonya Oh sampai aku sendiri yang mengusir mu pergi." Jiyeon mengangguk dalam pelukan Sehun. Tangannya terangkat dan membalas pelukan Sehun.
Jiyeon masih belum memahami jika ada perubahan dalam perasaannya pada Sehun, ia masih berpikir bahwa hal yang ia lakukan ini semata-mata adalah bentuk balas budi yang harus ia lakukan pada Sehun.

Semoga kalian suka sama part kali ini ya dan semoga Feelnya sampe ke kalian♡️
See you next part🤗
LiannQueen♡️
Tetep jaga kesehatan ya teman-teman, semoga kita semua sehat terus..