President'S Priceless Wife

President'S Priceless Wife
Part 4




·


·


·


·


·


·


·


Ini sudah botol kelima yang Sehun habiskan, tapi rupanya dia masih enggan untuk berhenti minum, di raihnya lagi botol itu dan meneguknya hingga benar-benar habis tak tersisa satu tetes pun. Dia masih kuat dan sadar bahkan setelah menghabiskan begitu banyak minuman beralkohol tinggi itu. Sehun ingin mabuk, tak sadarkan diri dan melayang hari ini tapi sekeras apapun usahanya tetap saja kesadarannya tak hilang.


Bartender yang melayani Sehun sampai geleng-geleng kepala, sepertinya Sehun tengah memiliki banyak masalah hingga dia datang ke tempat seperti ini dengan wajah yang bisa di bilang sedih juga frustasi.


"Hei, kau bilang minuman ini bisa membuat ku mabuk, tapi kenapa aku tidak merasakan apapun? Apa kau coba menipuku?" Sehun berang, merasa di tipu oleh pelayan bar yang mengatakan bahwa minuman yang Sehun minum bisa membuatnya mabuk bahkan hanya satu botol saja, tapi lihatlah sudah lima botol dan Sehun masih sanggup berdiri tegak.


"Tuan, mungkin itu karena kau sangat kuat makanya kau tidak mabuk". Dia sudah bekerja di sini tahunan, semua minuman yang ia sodorkan pada pembeli tak pernah di ragukan, Sehun saja yang kuat hingga tidak bisa hilang kesadaran.


"Kalau begitu tambah lagi, keluarkan semua minuman terbaik yang kau punya, cepat!!"


Pelayan itu langsung melakukan apa yang Sehun suruh, dia keluarkan semua minuman terbaik juga racikan minuman yang di rasa sangat ampuh untuk bisa mabuk.


Suara dentuman musik yang begitu keras sama sekali tidak mengganggu indra pendengar Sehun, malah dia berharap musik itu bisa sangat keras dan membuat telinga Sehun tuli. Beberapa wanita di bar ini mencoba merayu Sehun, mendekati si pria dan meraba-raba namun karena Sehun sedang dalam mood yang buruk dia mengusir semua wanita itu dan tak mengizinkan mereka mendekatinya.


Sehun kembali meneguk minuman keras itu, mencoba menenangkan dirinya yang tengah kacau-balau.


Baekhyun yang sejak tadi mencari keberadaan Sehun, akhirnya berhasil menemukan si Pria. Baekhyun berjalan cepat menghampiri Sehun yang duduk sendirian sambil minum. Direbut nya minuman itu dari tangan Sehun ketika Sehun bersiap akan meminumnya lagi.


"Berhenti minum Oh Sehun, mau berapa botol lagi yang akan kau habiskan?" Omel Baekhyun yang kesal dengan sikap Sehun ini, selalu melupakan segalanya pada minuman.


"Berikan padaku! Jangan coba ikut campur, kau tidak akan mengerti!!"


"Apa kau pikir dengan minum maka semua masalah mu akan selesai? Apa kau pikir kakak mu akan membatalkan pernikahannya? Tidak, kau hanya akan merugikan dirimu sendiri Sehun" Baekhyun mencoba menasehati Sehun, dia tak mau Sehun sampai mati karena terus mengonsumsi barang yang tidak sehat, walaupun dia sendiri juga sering minum tapi tak seperti Sehun yang bahkan juga merokok.


Ya, setelah Krystal pergi siang tadi Sehun mendapatkan telpon dari keluarganya yang berada di London bahwa kakaknya atau lebih tepat kakak tirinya akan melangsungkan pernikahan dengan seorang wanita yang tak lain adalah kekasihnya sendiri, bak mendapatkan tamparan yang sangat keras dan tentu saja hati siapa yang tidak hancur mengetahui berita itu. Mereka memang menjalin hubungan secara rahasia dan hanya sedikit orang yang tahu bahwa dia dan wanita itu telah menjalin kasih selama lebih dari tiga tahun.


Tapi rupanya orang tuanya telah menjodohkan gadis itu dengan kakak tirinya yang akan menjadi pewaris grup keluarga. Sehun tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan, hatinya benar hancur dan terkoyak, teramat sakit sekali, hingga untuk bernafas saja sulit. Itulah asalnya berada di bar ini sekarang, menenangkan diri, itu yang coba Sehun lakukan.


Sehun menundukkan kepalanya, dia pikir wanitanya akan menolak perjodohan itu tapi ternyata tidak si wanita menerima perjodohan dan hari ini mereka menikah, bahkan wanita itu tak mengatakan apapun pada Sehun tentang masalah ini. Rupanya memang hubungan ini hanya Sehun saja yang menganggapnya penting dan serius. Hancur sudah harapan yang Sehun bangun, mimpi mempunyai rumah tangga yang harmonis dan bahagia juga telah tiada. Kini hanya tinggal kekecewaan dan rasa sakit yang Sehun rasakan.


Sehun bukan membenci keluarganya, dia juga tidak pernah mempermasalahkan jika yang menjadi pewaris adalah kakak tirinya, karena sejak awal Sehun tidak pernah tertarik dengan dunia bisnis tapi semua dia lakukan karena kakeknya yang menaruh harapan besar bahwa kelak Sehun bisa sukses dan meneruskan bisnis keluarga. Itulah kenapa Sehun berada di korea membangun kerajaan bisnisnya sendiri tanpa campur tangan keluarganya. Sehun benar-benar membangun semua hasil jeri payahnya dari nol. Ingin membuktikan bahwa dia juga memiliki darah keluarga Oh.


Sebenarnya, kakak tiri Sehun adalah anak yang lahir dari wanita yang dulu pernah di cintai ayahnya, tapi karena ayah Sehun harus menikah dengan ibu Sehun mereka mengakhiri kisah cinta mereka. Dan setelah ibu Sehun meninggal wanita itu di bawa masuk kedalam keluarga Oh, tidak dia bukan ibu tiri yang jahat atau menginginkan harta dari keluarga Oh, malahan dia sangat menyayangi Sehun seperti putranya sendiri dan kakak Sehun juga sangat baik, tidak ada persaingan di antara keduanya. Itu adalah segelintir cerita tentang Oh Sehun, namun masih banyak hal yang tidak kita ketahui tentang sosok Sehun yang sebenarnya.


Baekhyun berhasil membujuk Sehun, mereka kini tengah dalam perjalanan pulang. Sehun hanya diam memandang keluar jendela dengan tatapan mata penuh luka dan kesedihan. Ya, seberapa kuat seorang Oh Sehun pastilah dia punya titik kelemahan. Ayolah, Sehun pun juga hanya manusia bisa, bukan berhati baja.



Jieun berdiri hampir setengah jam di depan pintu kamar Jiyeon, sang gadis mengunci pintu dari dalam membuat Jieun kesulitan untuk membukanya. Sejak pagi tadi Jiyeon tidak makan apapun, saat siang juga tak keluar kamar Jieun pikir Jiyeon tidur. Tapi hingga sekarang pun tak ada tanda-tanda keluar dari dalam kamar, seolah kamar itu kosong tak berpenghuni.


"Jiyeon-ssi aku mohon buka pintunya, biarkan aku masuk". Jieun mengetuk pintu kayu itu dan memutar knop pintunya, tapi tetap tak ada respon dari dalam kamar.


"Jiyeon-ssi buka pintunya, aku hanya ingin mengantar makanan kau belum makan apapun sejak pagi kasihan perut mu, buka pintunya!" Jieun mulai kesal, entah apa yang ada di pikiran Sehun membawa wanita aneh macam Jiyeon untuk tinggal disini. Mengurus Jiyeon? Yang benar saja? Mengurus diri sendiri saja kadang Jieun kesulitan.


"Oh tuhan, apa yang harus aku lakukan? Jika aku abaikan gadis ini maka Sehun pasti akan membunuh ku"


Deru suara mobil Sehun terdengar di telinga Jieun, langsung saja Jieun bergegas turun. Mungkin saja Sehun bisa menolongnya membuka pintu kamar Jiyeon.


"Sehun!" Panggil Jieun kala dia sudah berada di depan mobil Sehun. Baekhyun keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu untuk Sehun.


"Eh? Ada apa dengan Sehun? Apa semua baik-baik saja?" Jieun menyadari ada sesuatu yang tidak benar disini, wajah Sehun terlihat pucat juga bau alkohol sangat menyengat.


"Tidak apa-apa, kau buatkan saja teh jahe untuk Sehun". Ucap Baekhyun yang kini menuntun Sehun masuk kedalam rumah.


"Ah, baiklah". Tak banyak bicara Jieun langsung berlari masuk kedalam tujuan utamanya adalah dapur. Dia sampai lupa tujuan utamanya sebelum ini, yaitu memberitahu Sehun tentang Jiyeon.


Jieun telah selesai membuatkan teh jahe hangat untuk Sehun dan mengantarkannya ke kamar si pria, Baekhyun masih ada di sana menemani Sehun. Jieun meletakkan minuman itu di samping ranjang Sehun.


"Apa yang terjadi? Kenapa Sehun terlihat pucat dan kacau?" Bisik Jieun pada Baekhyun yang berdiri di sampingnya.


"Bagaimana dengan gadis itu?" Suara Sehun menyadarkan dua orang yang tengah berbisik-bisik itu. Seharian dia tidak mendapatkan kabar apapun tentang Jiyeon dari Jieun ia pikir itu artinya mungkin Jiyeon baik-baik saja.


Karena Sehun bertanya Jieun jadi ingat bahwa gadis itu masih berada di dalam kamar dan mengunci pintu.


"Oh aku baru ingat! Sehun dia mengunci pintu kamarnya dan tidak mau membukanya padahal aku sudah berteriak dan menggedor pintunya"


"Apa?! Kenapa kau tidak bilang dari tadi?!" Sehun langsung berdiri, tak peduli jika sekarang kepalanya terasa pening.


"Sehun kau mau kemana? Kau harus istirahat". Baekhyun mengikuti di belakang bersama dengan Jieun. "Gadis itu pasti hanya ketiduran, sudahlah kenapa kau begitu peduli"


Sehun tak menggubris ucapan Baekhyun, dia menaiki satu persatu anak tangga dengan cepat. Sehun sampai di depan pintu kamar Jiyeon, untunglah dia mempunyai kunci cadangan jadi bisa di gunakan saat seperti ini.


Sehun segera membuka pintu kamar Jiyeon dan masuk kedalam di ikuti Jieun juga Baekhyun. Namun kamar itu kosong tidak ada siapapun di sana.


"Jiyeon! Dimana kau Jiyeon!" Teriak Sehun mencari ke seluruh ruangan, tapi memang tidak ada bahkan di balkon juga tidak ada.


"Kau yakin dia tidak keluar kamar?" Tanya Sehun pada Jieun yang kini ketakutan, takut akan kena hukuman karena melalaikan tugas.


"Aku yakin Sehun, dia tidak ada keluar kamar"


Sehun membuka lemari, siapa tahu dia bersembunyi di dalam lemari tapi tidak ada, baju-baju yang ia siapakah juga terlihat sama seolah tidak tersentuh.


"Sehun kamar mandi terkunci!" Teriak Baekhyun yang memeriksa kamar mandi. Sehun bergegas menghampiri Baekhyun.


Sehun mencoba membuka pintu kamar mandi tapi percuma pintu ini terkunci dari dalam dan dia tak punya kunci cadangan untuk ini.


"Sepertinya dia ada di dalam, aku mendengar suara kran air yang mengalir". Ucap Baekhyun.


"Tidak ada cara lain, minggir kalian"


Baekhyun dan Jieun mundur ke belakang. Sehun mengambil ancang-ancang, bersiap untuk mendobrak pintu kamar mandi. Sekali tidak berhasil, dua kali masih tidak ada hasil dan untuk ketiga kali akhirnya Sehun berhasil membuka pintu. Dia menyeruak masuk kedalam mencari keberadaan Jiyeon. Tujuan utamanya adalah bak mandi yang terisi air penuh hingga tumpah kemana-mana.


"Jiyeon!!" Teriak Sehun kala melihat Jiyeon merendamkan seluruh tubuhnya di dalam air, sepertinya dia mencoba untuk bunuh diri lagi.


"Telpon dokter Kim, suruh dia kesini!! Cepat!!" Sehun menarik tubuh Jiyeon dari dalam air, tubuhnya dingin, tangannya berkerut, wajahnya pucat dan bibirnya sudah membiru. Jieun menutup mulutnya tidak percaya. Sebenarnya ada apa dengan gadis itu kenapa dia nekat melakukan semua ini. Baekhyun sudah memanggil doket Kim untuk segera datang.


Sehun menggendong Jiyeon membaringkan gadis itu di atas ranjang. "Jieun ambilkan handuk juga pakaian kering untuknya!" Perintah Sehun, terlihat jelas kepanikan di raut wajah Sehun.


"B-baik!" Jieun yang juga panik langsung kelabakan mencari handuk juga pakaian kering.


Entah sudah berapa lama Jiyeon merendam tubuhnya dalam bak mandi, Sehun sudah memeriksa denyut nadinya dan untung saja masih terasa walau sangat lemah. Sehun mengelap tubuh Jiyeon dengan handuk yang Jieun berikan, kemudian dia meminta tolong Jieun untuk mengganti pakaian Jiyeon sedangkan dia dan Baekhyun keluar dari dalam kamar.


Satu masalah belum selesai sekarang ada masalah lain yang datang. Dokter Kim akhirnya datang ketika Jieun selesai mengganti baju Jiyeon. Langsung saja dokter itu memeriksakan kondisi tubuh Jiyeon.


Sehun memijit pelipisnya yang terasa nyeri, mereka bertiga duduk di sofa yang ada di dalam kamar Jiyeon. Jieun menundukkan kepala tak berani menatap Sehun. Dokter Kim telah selesai memeriksa Jiyeon dan menghampiri Sehun.


"Hyung, bagaimana? Dia masih hidup kan?" Tanya Sehun pada dokter itu.


"Tenang saja Sehun, dia masih hidup mungkin jika terlambat sedikit saja gadis itu tak akan tertolong"


Jieun merasa lega, untunglah si gadis tidak mati jadi dia tidak akan merasa terlalu bersalah. Sehun pun juga merasa lega.


"Aku sudah memberikannya obat, besok pasti dia akan sadar"


"Terima kasih Hyung"


"Ya, aku pergi dulu"


Dokter itu keluar dari kamar Jiyeon, Baekhyun mengantarkannya hingga depan rumah.


"Sehun, maafkan aku ini salah ku, harusnya aku tidak meninggalkan dia sendirian"


"Sudahlah, tidak apa-apa ini semua bukan salah mu. Kau istirahat saja biar aku yang menjaganya disini"


Jieun mengangguk kecil lalu keluar menyisakan Sehun dan Jiyeon saja. Untunglah Sehun tidak marah, Jieun benar-benar beruntung.


Sehun menghampiri ranjang Jiyeon, dia duduk di tepinya sambil menatap Jiyeon yang kini masih tak sadarkan diri.


"Sebenarnya apa yang membuatmu begitu ingin mengakhiri hidup mu?"