President'S Priceless Wife

President'S Priceless Wife
Part 12




.


.


.


.


.


Malam harinya Sehun benar-benar berangkat menaiki pesawat pribadi miliknya bersama dengan Baekhyun. Mungkin besok pagi baru akan sampai di Singapura. Ini bukan pertama kali dia berpergian jauh menggunakan pesawat pribadinya.


Baekhyun duduk di depan Sehun, ia mengeluarkan sebuah kertas berisi denah lokasi dimana Kai tengah menjadi sandera sekarang. Baekhyun sudah menandai semua titik tempat yang di rasa menjadi markas musuh dan dari semua itu hanya ada dua lokasi yang di jaga dengan ketat. Di antara dua tempat itu pasti salah satunya adalah tempat mereka menyekap Kai.


"Kerja bagus Baek, tak sia-sia aku menyerahkan tugas ini padamu." Puji Sehun sambil mengamati denah yang ada di atas mejanya.


"Tentu saja, apa kau pikir aku hanya tahu makan dan tidur saja. Aku ini juga sangat berguna." Sombong Baekhyun. Walau memang kasur dan makanan tak pernah lepas darinya tapi Baekhyun cukup jenius. Sama seperti Krystal, Baekhyun juga punya banyak koneksi dan tentu semua terpercaya. "Orang-orang mu dan persediaan senjata telah siap, hanya tinggal menunggu perintah dari mu saja Sehun."


"Hem.. Aku mengerti." Sehun bersandar pada punggung kursi. "Sebaiknya simpan tenaga mu Baek, ini tidak akan mudah." Sehun memejamkan matanya dan Baekhyun juga melakukan hal yang sama. Dia tahu Sehun pasti sudah memikirkan rencana ini dengan baik dan perkiraan Sehun tidak pernah salah. Maka dari itu Baekhyun percaya bahwa Sehun pasti bisa menyelamatkan Kai.



"Jadi Sehun sudah berangkat? Sialan! Kenapa dia tidak mengajak ku?!" Krystal marah karena Sehun berangkat tanpa memberitahu dirinya, padahal Krystal juga ingin ikut dalam misi ini.


"Sehun pasti sudah memikirkan semua dengan baik, kita tunggu saja sampai dia kembali." Jieun menasehati. Mungkin Sehun pikir akan berbahaya jika mengikut sertakan Krystal dalam misi ini. Tapi walau begitu Krystal tetap merasa kesal, dia juga ingin ikut membantu.


"Jieun benar, sebaiknya kita doakan semoga mereka kembali dengan selamat." Jiyeon yang sudah mengetahui situasi yang terjadi juga sebenarnya khawatir, banyak sekali yang Sehun sembunyikan dan hingga sekarang Jiyeon masih tidak tahu apapun tentang Sehun. Dia hanya tahu bahwa Sehun seorang CEO sebuah perusahaan juga pemegang saham terbesar. Rupanya dia masih memiliki banyak sisi lain.


"Baiklah, aku juga berharap mereka kembali dengan selamat." Akhirnya Krystal mengalah, mau marah terus juga percuma Sehun sudah pergi. Bisa saja dia menyusul tapi itu juga bisa berdampak buruk untuk rencana Sehun.


"Jiyeon, apa yang kau pikirkan?" Tanya Krystal menyadari raut wajah Jiyeon yang sedikit murung, seolah tengah memikirkan sesuatu yang berat. Krystal tersenyum jahil, ia mengartikan ekspresi Jiyeon itu sebagai tanda bahwa si gadis tengah khawatir pada Sehun. "Oh... Apa sekarang kau mulai menyukai Sehun? Apa kau khawatir terjadi sesuatu padanya?" Terka Krystal dengan nada menggodanya.


Jiyeon mengerutkan kening. Dia memang khawatir, tapi bukan khawatir yang seperti itu. Dan lagi saat ini Jiyeon tidak sedang memikirkan Sehun, dia sedang memikirkan sesuatu yang lain. "Kau ini bicara apa? Aku tidak sedang khawatir tentang Sehun."


"Lalu apa yang kau pikirkan sampai wajah mu terlihat begitu serius."


"Aku sedang berpikir tentang kematian Appaku, seperti ada sesuatu yang salah disini." Ya, Jiyeon tengah berpikir dan mengingat-ingat bahwa selama ini ayahnya terlihat baik-baik saja juga tidak punya penyakit yang mematikan hanya penyakit biasa. Lantas apa yang menyebabkan ayahnya meninggal? Jika memang sakit, Jiyeon pasti tahu dan selama ini Jiyeon tidak pernah telat memberikan obat juga vitamin untuk ayahnya. Itu dia! Mungkin di situ masalahnya.


"Apa maksud mu? Salah bagaimana?" Tanya Krystal juga penasaran dengan apa yang sedang Jiyeon pikirkan.


"Krystal mungkin selama ini appa ku telah di berikan racun." Krystal dan Jieun terkejut dengan pengakuan Jiyeon. "Aku ingat selalu memberikan appa ku vitamin, tapi anehnya kondisinya semakin hari kian melemah. Mereka pasti telah menukar vitamin itu." Jiyeon baru sadar sekarang bahwa ayahnya terlihat lemah setelah beberapa kali ia memberikan vitamin. Tidak salah lagi, pasti ada yang salah dengan vitamin yang Jiyeon berikan pada ayahnya.


"Ya Tuhan, jahat sekali mereka." Celetuk Jieun yang juga kesal dengan ibu tiri dan adik tiri Jiyeon.


"Jiyeon apa kau yakin? Bagaimana jika kau salah?" Krystal bukannya tidak percaya pada Jiyeon, tapi bisa saja kan dugaan Jiyeon salah dan malah menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.


"Kalau begitu kita harus memastikannya." Jiyeon menatap Krystal dan Jieun bergantian. Jiyeon ingat di mana letak obat-obatan juga vitamin ayahnya, jika dia bisa mengambil semua itu dan di lakukan uji lab, Jiyeon bisa tahu apakah memang di tukar atau tidak.


"Bagaimana caranya Jiyeon? Kau sudah di usir dari rumah mu dan aku yakin mereka tidak akan membiarkanmu masuk begitu saja kedalam rumah itu." Memang Jiyeon sudah di usir, tapi itu tetaplah rumah Jiyeon dan Jiyeon tahu betul bagaimana seluk-beluk rumahnya.


"Karena itu aku perlu bantuan kalian berdua." Krystal dan Jieun mengerutkan kening, sepertinya ini menarik untuk keduanya.


"Apa yang kau ingin kami lakukan? Kami pasti akan membantumu."


"Iya Jiyeon, aku juga!"


Jiyeon tersenyum, senang bisa mengenal dua orang seperti Krystal juga Jieun, yang dengan suka rela membantunya. Rencananya pasti akan berjalan dengan baik dan Sehun juga membebaskan Jiyeon melakukan apapun jadi tidak masalah jika dia melakukan rencana ini tanpa memberitahu Sehun terlebih dahulu. Jiyeon akan berhati-hati sama seperti apa yang Sehun katakan.


"Jadi, apa rencana mu?" Jiyeon tersenyum dan mulai membisikkan sesuatu pada Jieun juga Krystal.


"Baiklah, kita akan lakukan itu bersama." Jieun mengangguk setuju begitu juga dengan Jiyeon yang tersenyum senang.



Sehun berada di dalam sebuah ruangan, kini dia akan membahas rencana misi ini dengan anak buahnya yang berjumlah sekitar dua puluh orang. Sehun akan membagi menjadi dua tim. Tim pertama akan ikut Sehun dan yang kedua akan ikut Baekhyun. Jika terlalu banyak orang akan merepotkan, mereka bisa cepat ketahuan.


Tugas tim Baekhyun adalah mengamati di luar markas musuh jika ada hal yang mencurigakan atau membahayakan mereka harus memberitahu Sehun atau menghabisinya secara langsung dan tugas tim Sehun adalah masuk kedalam markas untuk mencari sandera. Kelihatannya memang mudah, tapi lawan mereka kali ini bukan mafia biasa. Mereka benar-benar hebat dan anak buahnya juga sangat terlatih. Sebenarnya beberapa kali Sehun mendapatkan tawaran untuk bergabung dengan kelompok ini, tapi Sehun menolak karena prinsip dan tujuan mereka tak seirama.


Dan alasan kenapa Sehun mengirim Kai dan beberapa anak buahnya untuk memata-matai tempat ini adalah mereka berencana untuk menghancurkan kelompok Sehun juga mereka telah mencuri barang-barang Sehun yang harusnya sudah di jual di pasar gelap. Mereka juga sudah mengkhianati kontrak yang tertulis di antara keduanya.


"Kalian mengerti apa yang harus kalian lakukan bukan?" Tanya Sehun setelah menjelaskan rencananya.


"Kami mengerti Bos!" Tegas para anak buah Sehun yang kebanyakan adalah berandalan, perampok dan mantan pasukan khusus.


"Bagus, simpan tenaga kalian untuk besok. Jika ada yang keberatan atau gemetar karena takut, mundur dari sekarang."


"Kami tidak takut Bos!"


"Bagus!"


Sehun mengakhiri pertemuan dengan anak buahnya. Dia keluar dari ruangan itu di ikuti Baekhyun. Mereka akan kembali ke hotel untuk istirahat juga mengumpulkan tenaga. Besok malam, dia dan anak buahnya akan beraksi. Tiba-tiba saja Sehun teringat Jiyeon. Entah apa yang sedang si gadis lakukan saat ini, semoga dia baik-baik saja selama Sehun pergi.


Sehun menghela napas pelan sambil menatap keluar jendela. "Sedang apa dia sekarang?" Gumam Sehun.


"Kau mengatakan sesuatu Sehun?" Tanya Baekhyun yang tadi seperti mendengar Sehun bergumam sesuatu.


"Tidak ada, fokus saja menyetir." Dingin Sehun. Baekhyun mencibir.


.


.


.


.


Jieun dan Krystal sudah bersiap dengan menggunakan samaran mereka. Jieun yang berdandan layaknya gadis cupu dan kutu buku ini akan berpura-pura sebagai asisten Krystal. Sedangkan Krystal sendiri dengan tampilan elegan, dibalut dengan dress mewah juga memakai rambut pasangan akan berperan sebagai desainer terkenal di Paris. Mereka terlihat berbeda, penyamaran yang sempurna sekali. Jiyeon yakin ibu tiri dan adik tirinya pasti tak akan mengenali mereka dengan penampilan seperti ini.


"Wahh... Kalian terlihat luar biasa! Aku sampai tidak bisa mengenali kalian." Ucap Jiyeon yang kini hanya memakai celana jeans biru, kaos putih yang di balut dengan jaket kulit berwarna hitam juga masker dan topi hitam. Membuat Jiyeon terlihat berbeda juga. "Dengan begini semua sudah siap." Ucap Jiyeon selanjutnya.


Mereka telah membahas rencana ini semalam, Jieun dan Krystal akan mengalihkan perhatian ibu dan adik tiri Jiyeon dengan berpura-pura menjadi perancang busana yang tertarik dengan penampilan adik tiri Jiyeon dan berniat membuat kontrak dengan Nayeon. Hal ini pasti akan membuat Nayeon senang karena Jiyeon tahu betul bahwa adik tirinya itu sangat menggilai dunia Fashion. Selama mereka membahas kontra dan hal-hal yang lain, Jiyeon akan masuk melalui jalan rahasia yang hanya dirinya sendiri yang tahu di dalam rumahnya. Karena obat-obatan itu berada di kamar sang ayah maka dia harus ekstra berhati-hati dan tidak boleh ketahuan oleh ibu tirinya.


Tentang CCTV yang berada di rumah Jiyeon, Krystal sudah meminta kenalannya untuk membuat CCTV itu tidak berfungsi selama satu hari ini, jadi mereka bebas melakukan apapun.


"Ayo kita berangkat!!" Seru Jieun semangat, sudah tidak sabar melihat wajah ibu dan adik tiri Jiyeon yang akan menangis ketika tahu telah di tipu. Jiyeon dan Krystal mengangguk dan mereka bertiga akhirnya pergi menuju kediaman Jiyeon yang sekarang menjadi sarang iblis.


Mereka bertiga sampai di depan rumah Jiyeon. Jiyeon sudah terlebih dulu turun di persimpangan jalan, masuk sebuah gang sempit di dekat rumahnya, meloncat tembok dan jatuh di halaman belakang rumahnya. Kemudian dia masuk kedalam sebuah gudang. Rupanya itu bukan gudang biasa, di dalam gudang itu ada sebuah pintu kecil yang terlihat usang yang menghubungkan gudang ini dengan kamar Jiyeon. Jalannya cukup panjang, sempit dan gelap, untung saja Jiyeon sudah mempersiapkan semuanya. Jiyeon menyalakan senter kecil dan berjalan dengan hati-hati.


Selama Jiyeon menjalankan aksinya. Krystal dan Jieun menekan bel pintu rumah Jiyeon yang rupanya sangat mewah, tak kalah dengan rumah milik Sehun. Tiga kali menekan bel akhirnya pintu itu terbuka. Pelayan rumah Jiyeon yang membuka pintu.


"Iya? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya pelayan itu.


"Perkenalkan, nama saya Laurent Gabriella dan ini asisten saya Monica Angelina, saya seorang desainer dari Prancis. Apakah Nyonya rumah ini ada?" Jieun ingin tertawa jika tidak mengingat mereka dalam misi sekarang. Dia tidak ingat ada nama desainer itu di Paris. Ah, masa bodoh yang penting misi ini sukses.


"Oh, iya silahkan masuk Nona." Pelayan itu mengizinkan Krystal dan Jieun masuk, dia mengiring keduanya menuju ruang tamu. "Tunggu sebentar, saya akan panggilan Nyonya rumah ini." Pelayan itu bergegas menuju kamar sang majikan guna memberitahu jika ada tamu yang datang.


"Yak, Krystal-ah... Sepertinya Jiyeon sangat kaya, pantas saja dia bersikap biasa saja saat berada di rumah Sehun." Bisik Jieun sambil matanya mengamati seluruh isi rumah Jiyeon.


"Diamlah Jieun, jangan sampai mereka curiga." Ucap Krystal yang juga berbisik dan menekan setiap kalimatnya.


Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya dan gadis muda datang, mereka langsung mengambil tempat duduk di depan Krystal juga Jieun. Terlihat sekali betapa angkuhnya ibu tiri Jiyeon itu kala duduk di sofa. Muak sekali Krystal melihatnya.


"Selamat siang Nyonya saya Laurent Gabriella dan ini asisten saya." Krystal memperkenalkan diri, tentu dia sudah ahli dalam urusan tipu menipu.


"Ada urusan apa kalian kemari? Sepertinya kami tidak mengundang kalian." Ucap ibu tiri Jiyeon dengan angkuhnya.


Krystal menahan diri untuk tidak memukul wajah sombong itu. "Begini, perusahaan kami yang berada di Paris sedang mencari model untuk peluncuran produk busana musim panas dan kebetulan saya melihat putri anda ini terlihat cocok menjadi model untuk busana kami." Jelas Krystal terlihat elegan dan berkelas, dia ini memang cocok sekali menjadi desainer sepertinya.


Nayeon yang mendengar itu tak percaya, dia memang beberapa kali menawarkan diri menjadi model busana tapi tak ada satupun perusahaan yang menerimanya. Dengan datangnya Krystal ke rumah ini tentu membuatnya sangat senang karena keinginannya terkabul.


"Benarkah begitu?!" Tanya Nayeon antusias.


"Ya tentu saja, bahkan kami khusus datang kesini untuk menawarkan kontrak dengan perusahaan kami." Jieun mengeluarkan selembar kertas dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja.


Nayeon sudah berlonjak kegirangan, sedangkan ibunya juga tak bisa menyembunyikan rasa senangnya karena sang putri yang di rekrut langsung oleh perusahaan Fashion sebagai model. Tentu kebangsaan tersendiri untuk dua orang itu.


Jiyeon sudah masuk kedalam kamar sang ayah, matanya menyapu setiap isi ruangan tak ada yang berbuah, kamar ini masih tetap sama dengan kamar ayahnya sebelum di tinggalkan. Jiyeon segera menepis perasaan yang berkecamuk di dalam hati, dia tidak boleh goyah dan malah terjebak dengan kenangan lama. Jiyeon mendekat ke sebuah laci yang berada di samping ranjang. Dia ingat meletakkan obat itu di sana kecuali ibu tirinya telah memindahkan obat-obatan itu. Benar saja, laci itu kosong. Sepertinya memang sudah di pindahan kan. Jiyeon berbalik, lemari besar dekat kamar mandi menjadi tujuan Jiyeon selanjutnya, di bukanya lemari itu satu persatu, hanya ada pakaian dan perhiasan saja. Jiyeon beralih ke lemari yang lain dan matanya melihat sebuah brangkas. Itu adalah brangkas milik ayahnya, mungkinkah obat-obatan itu ada di dalam sana.


"Sial!" Umpat Jiyeon, dia tidak punya banyak waktu dan entah apa kombinasi brangkas itu. Jiyeon berpikir keras, apa kira-kira kombinasi yang akan ayahnya gunakan untuk brangkas ini. Jiyeon mengigit kuku jarinya gugup.


"Baiklah, mari kita coba." Pertama, Jiyeon memasukan kombinasi dengan menggunakan tanggal pernikahan ayahnya namun kombinasi itu salah. Jiyeon mencoba lagi dengan menggunakan tanggal lahir sang ayah tapi tetap saja salah.


"Mungkinkah?" Dengan ragu Jiyeon menekan tombol kombinasi itu lagi menggunakan tanggal lahirnya dan ya, semudah itu. Brangkas berhasil di buka. "Appa.." Gumam Jiyeon, ayahnya sangat menyayangi nya dan apapun yang ayahnya punya selalu berkaitan dengan Jiyeon.


Jiyeon membuka brangkas itu dan melihat banyak uang, perhiasan dan surat-surat penting milik ayahnya dan juga benar dugaan Jiyeon obat-obatan itu ada di dalam sini. Jiyeon segera mengambil obat-obatan itu dan memasukkannya kedalam saku jaket. Jiyeon tertarik dengan sebuah dokumen dimana sekilas dia melihat ada namanya di sana.


"Dokumen apa ini?" Batin Jiyeon, tangannya terulur hendak mengambil dokumen namun suara langkah kaki di luar sana membuat Jiyeon mengurungkan niatnya itu. Dia segera menutup kembali brangkas juga lemari kemudian bersembunyi di balik pintu. Ketika pintu itu terbuka Jiyeon menahan napas, berharap tidak ketahuan. Rupanya ibu tirinya masuk mengambil kaca mata baca lalu keluar lagi. Jiyeon bisa bernafas lega sekarang, setelah di rasa aman Jiyeon kembali mengendap-endap keluar dari kamar sang ayah dan keluar lewat jalan yang sama. Tapi sebelum itu, Jiyeon juga membawa bingkai foto ayah juga ibunya.


"Aku suka dengan kontra ini, kira-kira kapan putriku akan mulai pemotretan?" Tanya ibu tiri Jiyeon antusias setelah membaca kontra palsu yang Krystal buat.


"Kami akan menghubungi kalian setelah persiapan selesai." Ucap Krystal memasukan kembali kontrak yang sudah di tanda tangan itu ke dalam tas.


"Ahh, eomma aku akan menjadi model!!" Girang Nayeon. Melihatnya begitu senang tanpa tahu bahwa ini tipuan membuat Krystal dan Jieun menahan tawa.


"Baiklah, karena semua sudah selesai, kami pamit dulu. Selamat siang Nyonya." Pamit Krystal dan bersiap untuk pergi.


"Iya, terima kasih Nona Laurent. Hati-hati di jalan."


Ibu dan anak itu mengantar kepergian Krystal dan Jieun hingga dua orang itu hilang di balik gerbang rumahnya.


"Wah.. Mobilnya saja sangat mewah eomma." Kagum Nayeon melihat mobil mewah milik Krystal.


"Kau bener sayang, kau juga pasti akan sukses. Eomma bangga padamu." Dua orang itu bersorak senang tanpa tahu bahwa mereka telah di tipu.


Di dalam mobil, Krystal dan Jieun tertawa keras, sudah tidak bisa lagi menahan tawa jika mengingat bagaimana ibu dan anak itu mudah sekali di tipu dengan kontrak palsu. Sungguh dia orang yang bodoh pikir keduanya.


"Kau lihat bukan? Mereka begitu mudah di bodohi." Ucap Krystal menahan tasnya yang bahkan sampai mengeluarkan air mata.


"Ya aku melihatnya, sungguh aku ingin tertawa sejak tadi." Jawab Jieun yang masih tertawa.


"Bodoh sekali."


Jiyeon masuk kedalam mobil setelah berhasil keluar, dia keheranan sendiri melihat Krystal dan Jieun yang tertawa terbahak-bahak. Entah apa yang lucu hingga mereka tertawa dengan begitu semangat.


"Apa yang membuat kalian tertawa seperti itu?" Tanya Jiyeon karena penasaran.


"Jika saja tadi kau ikut, kau pasti juga akan tertawa seperti kami Jiyeon. Ibu dan adik tiri mu benar-benar bodoh, mudah sekali di tipu." Ucap Krystal menjawab kebingungan Jiyeon.


"Benar sekali Jiyeon, aku di sana tadi hampir tertawa jika tidak ingat sedang dalam penyamaran." Tambah Jieun yang menyetujui ucapan Krystal.


"Oh begitu."


"Bagaimana? Kau berhasil mendapatkannya?" Krystal akhirnya mengalihkan topik pembicaraan setelah lelah tertawa.


"Hem, sudah ada di tangan ku. Tinggal memeriksanya saja." Jiyeon menunjukan obat-obatan yang berada di dalam saku jaketnya. Hampir saja dia ketahuan tadi.


"Baguslah, kita langsung ke tempat Dokter Kim saja." Krystal menyalakan mobilnya dan segera melaju menuju tempat dokter Kim, Dokter kepercayaan Sehun. Dia pasti bisa membantu menyelidiki obat-obatan ini.


Malam telah datang. Sehun selesai bersiap menggunakan pakaian serba hitam dan ada dua pistol di saku celananya untuk berjaga-jaga.


Malam ini dia akan melancarkan aksinya bersama Baekhyun dan anak buahnya.


"Semua sudah siap?" Tanya Sehun ketika sudah berada di dekat markas musuh, sebuah bangunan tua yang minim cahaya. Namun terlihat penjagaannya begitu ketat.


"Siap bos." Jawab anak buah Sehun serempak.


"Kita mulai bergerak, Baekhyun kau mengerti tugas mu kan?" Baekhyun mengangguk. Sehun mulai bergerak dengan beberapa anak buahnya masuk kedalam markas dengan mengendap-endap sedangkan Baekhyun dan yang lain menyebar ke sekeliling bangunan dan memastikan bahwa semua aman terkendali.


Sehun memberikan kode kepada tiga anak buahnya untuk menyebar dan dua yang lainnya mengikuti Sehun, menyisir seluruh isi gedung tua ini. Dia sendiri berjalan dengan hati-hati dan penuh kewaspadaan. Ketika bertemu dengan salah seorang penjaga Sehun sigap dengan membekap mulutnya kemudian menyikut belakang kepalanya hingga penjaga itu pingsan. Sehun meletakkan tubuh itu dengan hati-hati dan kembali berjalan menaiki anak tangga. Karena kondisi lampu yang minim Sehun jadi kesulitan melihat sekitar. Dia menyiapkan pistolnya yang telah terisi penuh.


Sehun meminta anak buahnya untuk mengecek apakah ruangan di depannya kosong atau tidak. Anak buah Sehun mengerti dan melakukan perintah Sehun, di rasa aman mereka masuk dengan menodongkan senjata namun tidak ada siapapun di dalam sana.


Ini aneh, pikir Sehun. Dia sudah berkeliling tapi tak juga menemukan tempat Kai di sekap belum lagi para musuh mudah sekali di kalahkan bahkan belum sempat melawan. Apa mungkin ini sebuah jebakan? Ketika Sehun sibuk berpikir tiba-tiba saja lampu menyala dengan terang menyorot langsung pada Sehun hingga membuatnya silau.


"Wah.. wah.. Lihatlah siapa yang datang untuk bertamu ke tempat ku ini." Ucap sebuah suara yang masih belum nampak wujudnya. Ketika sadar, rupanya Sehun sudah di kepung begitu banyak anak buah dari musuh.


"Sialan!" Umpat Sehun. Rupanya kedatangannya telah di ketahui oleh pihak musuh.


"Lama tidak bertemu tuan Oh Sehun." Ucap Suara yang keluar dari balik ruangan, di belakangnya ada dua anak buah yang berjalan sambil menyeret sebuah tubuh yang sudah tak berdaya dengan kondisi babak belur parah. Sehun terbelalak, itu adalah Kai. Sehun mengeratkan kedua giginya menahan amarah yang siap meledak. "Ohhh... Apakah Tuan Oh tertarik dengan budak ku yang baru? Sayang sekali mainan ini sudah rusak." Dengan tidak tahu dirinya, Pria itu menduduki tubuh Kai yang bahkan sudah tidak bisa melakukan apapun.


Sehun semakin marah melihat hal itu. "Lepaskan dia, dia bukan mainan mu!" Bentak Sehun tak tahan lagi.


"Melepaskannya? Dia seorang mata-mata, bagaimana bisa aku melepaskannya dengan mudah? Kita lihat, seberapa berharga orang ini bagi mu Tuan Oh." Pria itu memberikan kode kepada anak buahnya untuk menyerang Sehun dan anak buah Sehun.


Sehun beserta kedua anak buahnya tak sedikitpun memperlihatkan raut gamang kendati lawan berkali lipat. Para ikan teri yang menghalangi jalan dilumpuhkan dengan cepat, sebab tiap peluru di kedua pistol Sehun bersarang di area vital para musuh.


Mau tak mau Sehun harus menggunakan tangan kosong untuk sementara, termasuk memanfaatkan kelemahan fisik lawan; menendang sisi lutut pria berbadan besar demi hilangnya keseimbangan sebelum memberikan pukulan keras pada dagu.


Kemudian, memanfaatkan senjata lawan untuk menyimpan tenaga. Belum lagi lengahnya pertahanan lawan membuat Sehun mudah menjadikan tubuh seseorang sebagai tameng dari peluru beruntun. Tak sampai berhenti di sana, seakan tak ada henti musuh terus saja berdatangan. Beruntung Sehun bisa menghindar dari pukulan pria berkulit hitam dan membalas pukulan itu dengan menuju perut dan wajahnya hingga babak belur. Karena musuh terlalu banyak, anak buah Sehun mulai kewalahan begitu juga dengan dirinya sendiri yang mulai kehabisan tenaga juga peluru. Nafasnya putus-putus tapi juga tak mau menyerah.


Kendati jelas situasi tak memungkinkan, Sehun nyatanya beruntung para antek telah berhasil dilumpuhkan. Sayang, kemenangan mutlak belum bisa diraih. Di depan sana bos terakhir berdiri congkak dengan cerutu mengepul konstan; melihat Sehun berusaha sangat keras menjadi hiburan tersendiri. Sentimen dan pikiran tak akan mungkin sejalan. Itulah mengapa orang-orang seperti mereka dilarang keras menunjukkan perasaan. Sebuah kelemahan hanya akan berakhir dengan kehancuran. Kecerobohan Sehun membuat dirinya terjebak dalam jebakan lawan.


"Hebat sekali Tuan Oh bisa mengalahkan semua anak buah ku, tapi ini belum berakhir," Pria itu tersenyum miring, dia melepaskan jas miliknya dan memutar kepalanya hingga mengeluarkan bunyi seperti tulangnya akan patah. "hadapi aku dan mari kita lihat, siapa yang paling hebat!"


Sehun meludah, asinnya darah membuat mulut tak nyaman. Tenaganya benar-benar sudah terkuras. Ada keraguan dalam benak; apakah dia masih sanggup untuk melawan pria ini sedang anak buahnya juga tak mampu lagi. Jika ada Baekhyun dan yang lain pasti kemenangan sudah ditangan. Namun, Sehun tak boleh gentar, yakin pasti bantuan akan datang. Jikapun tidak, bukan masalah, toh selama hidupnya Sehun tak pernah bergantung pada siapapun.


Sementara itu, Kai yang masih memiliki sedikit kesadaran menatap Sehun khawatir.


"Aku tidak akan kalah!" ucap Sehun yang masih mampu berdiri tegak meski wajah dan tubuhnya terasa sakit.


"Benarkah begitu?"


Bugh.


Satu pukulan berhasil mengenai wajah Sehun hingga membuatnya jatuh tersungkur. Dengan keadaan fisik saat ini pasti akan sulit menghadapi pukulan cepat, namun fokus harus tetap terjaga; dengan cepat berguling untuk menghindari injakan sebelum kembali berdiri dan mengusap darah yang mengalir di sudut bibir. Bukan Oh Sehun jika tak bisa membalas. Tangan terbuka diarahkan pada telinga kiri dengan sekuat tenaga; membuat lawan kehilangan kontrol dan fokus penglihatan. Demi mengembalikan kondisi, sang lawan menggigit bibir dengan keras tapi ketika pulih Sehun sudah selangkah di depan, kedua telapak kaki langsung menerjang rahang.


Tentu saja, bos lawan semakin meradang hingga membuat Sehun kewalahan. Dengan pukulan dan benturan bertubi-tubi perlahan membuat otot-ototnya kebas.


"Aarrghhh..." Erang Sehun menahan sakit di tubuhnya.


"Apakah hanya begini saja kemampuan mu? Lemah!" Pria itu menendang tubuh Sehun hingga berguling-guling dan kembali menabrak tembok. "Ini adalah akibat karena kau bernai mengirim mata-mata ke tempat ku Oh Sehun."


"Aarrgghhh..." Pria itu menginjak tangan kanan Sehun hingga terdengar suara gemerutuk tulangnya. Sehun mengeram marah. Dengan sisa tenaga yang ia punya Sehun menendang tubuh pria itu hingga jatuh tersungkur ke lantai. Sehun berusaha berdiri tapi percuma tubuhnya tak kuat lagi.


Lawan berang, sampai akhirnya memutuskan sudah saatnya mengakhiri perlawanan. Dia mengeluarkan pistol dari balik baju dan menodongkan langsung tepat di kepala Sehun. "Aku akan mengakhirinya sekarang!!"


Dor!


Darah segar mengalir setelah peluru itu berhasil di tembakkan, namun sayang bukan Sehun yang tumbang melainkan pria yang tadinya ingin menebak Sehun lah yang jatuh.


"Aku datang tepat waktu bukan?" Baekhyun meniup ujung pistolnya dan tersenyum bangga. Ya, Baekhyun lah yang menebak pria itu tepat di jantungnya, hingga dia tak bisa bergerak. Alias tewas.


"Sialan! Kenapa lama sekali?!" Sehun berusaha untuk duduk, Baekhyun menghampiri dan membantu Sehun berdiri.


"Ya, di luar juga sangat kacau asal kau tahu saja, masih untung aku selamat dan bisa membantu mu." Baekhyun meminta yang lain untuk membantu teman-teman yang terkapar di lantai.


"Lupakan aku, kau lihat Kai, apakah dia masih hidup?"


"Omo!!" Baekhyun langsung melepaskan Sehun begitu saja, hal itu membuat Sehun kembali jatuh dan memekik kesakitan.


"Dasar Baekhyun sialan!" Umpat Sehun, tangan kanannya terasa sakit sekali, sudah di pastikan tulangnya patah.


Mereka keluar dari gedung tua itu. "Yak! Kenapa aku harus memapah kalian berdua?! Ini sangat berat!" Eluh Baekhyun yang kini memapah Sehun juga Kai. Ya dia sendiri yang terlihat paling sehat dan masih memiliki banyak tenaga di antara yang lain.


"Diamlah Baek! Jalan saja." Ucap Sehun yang berusaha tetap sadar. "Kai kau baik-baik saja?" Tanya Sehun.


"Hemmm... Aku baik-baik saja Sehun." Ucap Kai susah payah.


"Yak yak! Jika begini aku jadi ingat masa lalu... Kita pernah seperti ini bukan sebelumnya? Kalian masih ingat?" Ucap Baekhyun begitu antusias yang hanya di jawab gumaman Kai dan Sehun. Matahari mulai keluar dari persembunyiannya, rupanya hari sudah pagi dan misi mereka berhasil.