President'S Priceless Wife

President'S Priceless Wife
Part 3




·


·


·


·


·


◆️◆️◆️


Tiga hari di rawat, akhirnya Jiyeon di perbolehkan pulang karena memang tidak ada luka serius hanya luka-luka kecil, di rawat di rumah dengan obat jalan pasti juga akan sembuh. Tapi yang membuat pihak rumah sakit khawatir adalah kondisi psikis Jiyeon yang sulit di mengerti, kelihatannya baik-baik saja tapi sang gadis bisa berbuat nekat seperti sebelumnya. Tidak ada yang tidak mungkin. Sejak hari itu memang Jiyeon tak melakukan lagi aksi nekatnya untuk bunuh diri, tapi bisa saja dia melakukan hal gila itu lagi tanpa sepengetahuan mereka.


Hari ini setelah dia keluar dari rumah sakit, Baekhyun yang menjemputnya tanpa Sehun. Dalam perjalanan pulang di gadis hanya duduk diam dengan tatapan mata kosongnya. Baekhyun mencoba mengajaknya berbicara tapi tak mendapatkan respon dari sang lawan bicara, seolah dia mengendarai mobil itu sendirian.


Sesampainya di mansion Sehun yang mewah bak istana pun Jiyeon masih diam. Seolah tidak terkejut juga kagum dengan keindahan dan kemewahan mansion milik Sehun.



Baekhyun keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Jiyeon, Sehun berdiri di depan pintu rumahnya menyambut kedatangan Jiyeon. Jiyeon keluar dari dalam mobil, ekspresi wajahnya datar tak ada senyum sama sekali.


"Mari Nona". Baekhyun mempersilakan Jiyeon untuk berjalan lebih dulu menghampiri Sehun yang berdiri di depan pintu masuk.


"Mulai sekarang kau akan tinggal disini, aku telah menyiapkan semua keperluan mu" Ucap Sehun dengan nada bicaranya yang khas dan menyejukkan siapa saja yang mendengarnya. Tapi tidak bagi Jiyeon, gadis cantik itu hanya menatap sekilas lalu membuang muka. Tidak tertarik sama sekali. Jujur saja Sehun merasa kesal karena di abaikan oleh Jiyeon, tapi mengingat kondisi Jiyeon dia tak mau meledak di hadapan sang gadis. Dia berusaha meredam emosinya sendiri.


Sehun membawa Jiyeon masuk kedalam istananya, tak hanya tampilan luar yang mewah dalamnya pun sangat mewah dan penuh dengan barang-barang mahal. Ruang tamunya sendiri langsung menghadap kolam renang dengan jendela kaca besar yang indah.



Ruang tamunya saja semewah ini, bagaimana dengan dapur, ruang makan dan yang lainnya? Pasti lebih mewah lagi.


"Aku akan menunjukan kamar mu, kau bisa istirahat di sana"


Jiyeon memang tidak mengatakan apapun, tapi dia terus mengikuti langkah kaki Sehun.


Baekhyun? Tengah memasukan mobil kedalam garasi, mungkin setelah ini akan pergi ke dapur untuk makan. Ya, rumah ini cukup luas dan banyak kamar yang kosong, Sehun hanya menyewa beberapa pelayan dan tukang kebun jadilah dia mengajak teman-teman atau bisa dibilang orang kepercayaannya untuk tinggal disini. Termasuk Baekhyun.


Sehun berada di lantai dua rumah ini bersama dengan Jiyeon, di depannya ada sebuah pintu berwarna putih. Sehun mengeluarkan sebuah kunci dari dalam saku celananya lalu memasukan nya ke dalam lubang kunci setelah itu dia memutar kunci tersebut hingga berbunyi, kemudian Sehun memutar kenop pintu dan pintu itu terbuka.


Sehun masuk kedalam, dia menoleh karena Jiyeon tak mengikutinya masuk kedalam kamar itu.


"Kenapa hanya berdiri disitu? Ayo masuk"


Jiyeon akhirnya melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar. Kamarnya benar-benar luas, dengan nuansa putih dan ungu. Ranjangnya juga besar dan ada sofa juga di dekat jendela yang menuju ke balkon, juga ada televisi, lengkap sudah. Bener-bener indah sekali.



"Ini adalah kamar mu, kau bisa istirahat disini. Di dalam lemari itu ada beberapa potong pakaian yang bisa kau pakai". Jelas Sehun, tapi lagi-lagi tak ada respon dari Jiyeon.


"Kenapa? Kau tidak suka? Katakan sesuatu jangan hanya diam saja, apa kau pikir aku ini bicara dengan patung?!" Sehun mulai kehabisan kesabaran, dia sudah baik mau menampung Jiyeon disini tapi sang gadis seolah tak tau diri dan hanya diam saja.


Jiyeon menaikkan pandangannya, menatap Sehun dengan mata kucing yang memiliki ujung yang tajam. "Kenapa kau lakukan ini? Kenapa kau membawaku ke rumah mu? Kenapa kau mau repot menyediakan tempat untuk ku? Kenapa kau menolong ku?! KENAPA TIDAK BIARKAN AKU MATI SAJA?!" Jiyeon berteriak, kilatan amarah kembali terlihat di matanya yang berkaca-kaca-Hendak menangis.


"Kenapa? Sebenarnya kau ini siapa?" Akhirnya air mata itu tumpah juga, pandangan mata Jiyeon juga sudah turun. "Kita tidak saling kenal satu sama lain, lalu kenapa kau menolong ku? Apa tujuan mu sebenarnya?" Jiyeon bukan orang yang tidak tahu diri, dia hanya ingin memastikan apakah Sehun orang baik atau bukan, apakah dia bisa dipercaya atau tidak. Itu saja.


Sehun mengerti, mereka baru bertemu tidak ada hubungan atau ikatan apapun sebelumnya, wajar jika Jiyeon merasa semua ini aneh dan tidak benar hingga dia butuh kepastian.


"Aku pernah bilang bukan, aku belum punya jawaban kenapa mau repot-repot menolong mu, anggap saja ini takdir dimana tuhan masih belum ingin melihat kau mati"


Sehun memegang kedua bahu Jiyeon, memaksa Jiyeon untuk menatap dirinya. "Sebaiknya kau pun jangan berpikir untuk bunuh diri lagi, mungkin kau akan berguna untuk ku atau sebaliknya, siapa yang tahu? Ini adalah takdir, kau dan aku bisa bertemu"


"Apa kau mengerti?"


Tak menjawab, Sehun anggap Jiyeon mengerti.


"Wahh~". Suara itu mengalihkan perhatian Sehun juga Jiyeon. Mereka kompak menoleh ke arah pintu. Di sana seorang gadis cantik berdiri menatap Jiyeon juga Sehun. "Eh, apa aku mengganggu mu Sehun? Baekhyun bilang kau mencari ku makanya aku bergegas kemari"


Sehun melepaskan pegangan tangannya pada bahu Jiyeon. "Tidak, aku tidak sedang melakukan apapun, masuklah"


"Baik.."


Si gadis masuk kedalam, berdiri tepat di samping Jiyeon. Wajahnya benar-benar imut juga manis sekali.


"Ada perlu apa?"


"Kenalkan ini-" Sehun menatap Jiyeon, dia lupa jika sampai detik ini belum tahu siapa nama Jiyeon. Yang ia tahu gadis ini gadis itu, tidak pernah menyebutkan nama dan Jiyeon juga tidak memberitahu Sehun siapa namanya. "Siapa nama mu?" Akhirnya Sehun pun bertanya pada Jiyeon.


"Ji Yeon" Balas Jiyeon singkat padat dan jelas.


"Ya, dia Jiyeon dan Jiyeon ini Lee Jieun kau bisa memanggilnya Jieun, dia akan menemani mu dan jika kau perlu apapun Jieun akan membantu mu"


"Heh? Apa ini Sehun, kau tidak mengatakan ini sebelumnya?"


"Mau membantah?"


"T-tidak"


"Bagus"


Jieun menatap Jiyeon, dia pikir gadis ini lumayan cantik juga tanpa menggunakan polesan make up, mungkin akan lebih cantik jika menggunakan make up. Jieun ini suka sekali merias orang, dia memiliki sebuah salon yang sudah terkenal di mana-mana, tentu semua tak lepas dari bantuan Sehun.


"Aku masih ada urusan, Jieun hubungi aku jika ada apa-apa, kau mengerti?"


Sehun keluar dari kamar Jiyeon, meninggalkan dua orang itu. Setelah kepergian Sehun, Jiyeon berjalan menuju ranjang, ia duduk di pinggir ranjang dengan tatapan mata kosong. Jieun menghampiri nya, ingin lebih dekat dengan Jiyeon walaupun Sehun sudah bilang akan ada anggota baru di rumah ini, dia tidak menyangka bahwa yang datang adalah wanita cantik, entah dimana lagi Sehun menemukannya.


"Hai Jiyeon, aku Lee Jieun siap memenuhi semua kebutuhan mu". Ucap Jieun tersenyum cerah sambil menyodorkan tangannya, tapi tak ada sambutan dari Jiyeon. Merasa di abaikan Jieun kembali menarik tangannya.


"Ku dengar kau baru keluar dari rumah sakit, kau sakit apa?" Lagi, Jieun berusaha mengobrol santai tapi Jiyeon benar-benar tak menghiraukannya. Jieun yang malang.


"Sebenarnya ada apa dengan gadis ini? Kenapa diam saja?"


"Baiklah, sepertinya kau butuh istirahat, kalau begitu aku keluar dulu... jika butuh apapun kau bisa memanggil ku, kamar ku tepat di sebelah mu". Jieun tersenyum dan keluar dari dalam kamar Jiyeon tak lupa dia menutup pintu kamar Jiyeon.


"Huh, benar-benar gadis yang aneh". Ucap Jiyeon yang masih berdiri di depan pintu kamar Jiyeon.


Setelah tidak ada siapapun, barulah Jiyeon mengeluarkan suara, lebih tepatnya isak tangis yang coba ia tahan sejak tadi. Jiyeon membaringkan tubuhnya dan menangis dalam diam.


"Maafkan aku eomma appa, aku masih belum bisa menyusul kalian.. maafkan aku, orang itu tak membiarkan aku mati".



Sehun tengah dalam perjalanan menuju perusahaannya, ada beberapa masalah yang harus dia urus belum lagi pertemuannya kemarin tak membuahkan hasil yang bagus.


"Baekhyun, apa Kai sudah menghubungi mu?" Tanya Sehun di sela-sela kesibukannya membaca dokumen.


"Belum, sepertinya tidak mudah membujuk mereka untuk mau bekerja sama dengan kita"


"Laporkan padaku jika Kai sudah menghubungi mu"


"Iya, akan aku lakukan"


Baekhyun kembali fokus menyetir, sedangkan Sehun telah selesai membaca dokumen miliknya. Dia kembali teringat dengan nama gadis yang ada di rumahnya, seperti pernah dengar tapi dimana? Itulah yang ia pikirkan.


"Baek, apa kau kenal dengan seseorang bernama Jiyeon?"


"Jiyeon? Jiyeon yang mana? Ada banyak Jiyeon di kota ini Sehun"


"Benar juga.."


"Hubungi Krystal, aku punya pekerjaan untuknya, suruh dia datang ke kantor"


"Baik tuan Oh"


Baekhyun tidak tahu apa yang sedang Sehun pikirkan dan dia juga tak ingin bertanya lebih jauh, Baekhyun masih sayang dengan nyawanya. Sehun hanya diam, memandang keluar jendela.



Sehun sampai di kantornya, dia memasuki ruang pribadinya dimana kini seorang gadis cantik sudah duduk dengan gaya angkuhnya di sofa sambil mengunyah permen karet.


"Kau sudah disini? Baguslah"


"Ada perlu apa kau mencari ku? Aku ini sedang sangat sibuk"


"Sibuk apanya? Bukankah kerjaan mu hanya tidur dan shopping?"


"Yak! Aku ini sibuk, sibuk bernafas"


Sehun mendengus sebal mendengar jawaban bodoh Krystal si gadis bar-bar ini. "Ya ya, terserah kau saja" Sehun duduk di kursi kebesarannya.


"Jadi apa yang kau ingin aku lakukan? Membunuh orang? meracuni seseorang? Atau menagih hutang seseorang? Katakan" Krystal meniup permen karetnya hingga menjadi balon besar dan pecah belepotan kemana-mana. Dia membersihkannya dengan lidahnya. Terlihat sangat seksi.


"Aku ingin kau mengumpulkan informasi tentang seseorang"


"Siapa?"


"Namanya Jiyeon, aku akan kirimkan fotonya padamu. Cari tahu latar belakang juga siapa saja yang dekat dengannya, aku butuh informasi tentang gadis ini sebanyak mungkin"


"Wah, apa akhirnya kau setuju untuk menikah? Daebak!"


Sehun mengerutkan kening, tak mengerti kemana arah pembicaraan Krystal. "Apa maksud mu?"


"Bukankah kau meminta ku mencari tahu tentang latar belakang calon istri yang telah ibu mu siapkan, namanya juga sama Ji-ji.. ahh, aku lupa"


"Bodoh, namanya Jocelyn bukan Jiyeon"


"Oh, jadi beda orang?"


"Krystal, jangan banyak bicara dan lakukan saja apa yang aku suruh. Sekarang pergi dari sini"


"Tck... habis manis sepah di buang" Berbisik.


"Apa kau bilang?"


"Tidak ada, aku pergi sekarang"


Krystal merapikan jaket kulit hitamnya dan melangkah pergi dari ruangan Sehun.


Setelah kepergian Krystal, Sehun memutar kursinya menghadap ke jendela besar di dalam ruangan. Dia menghela napas dan memejamkan matanya sejenak. Mencoba mengusir penat yang ia rasa.