
.
.
.
.
.
Saat tengah malam Jiyeon terbangun, tenggorokannya terasa kering. Air yang ia siapkan di dalam kamar telah habis rupanya jadi terpaksa ia bangun untuk mengambil air di dapur. Jiyeon berjalan dengan setengah sadar, matanya masih mengantuk tapi dia juga haus.
Saat langkah kakinya berada di anak tangga terakhir, samar-samar Jiyeon mendengar suara Isak tangis. Dia tak ingin berpikir bahwa suara ini adalah hantu, tapi semakin ia mendengarnya semakin dia merasa takut. Karena kondisi rumah yang gelap, jadi Jiyeon tidak bisa melihat dengan jelas. Jiyeon berjalan dengan hati-hati mencari saklar lampu guna menyalakan lampu di ruang tamu.
Lampu utama akhirnya menyala, Jiyeon berjalan pelan pelan-pelan mencari tahu dimana asal suara Isak tangis itu.
"Krystal?" Jiyeon memastikan bahwa yang ia lihat bukanlah hantu wanita yang sedang menangis, namun Krystal yang duduk sendirian di bawah sofa ruang tamu dengan mata yang berair. Gadis tangguh ini tengah menangis seorang diri di tengah malam.
Mendengar namanya di panggil, Krystal menoleh dan dengan cepat mengusap air mata di wajahnya. Jiyeon yang tadinya berniat untuk membasahi tenggorokan yang terasa kering, sekarang dahaga itu menguar entah kemana.
"Jiyeon, maaf apa aku membangunkan mu?" Krystal hendak berdiri tapi ia urungkan karena tiba-tiba Jiyeon duduk di sampingnya. Jiyeon menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku tidak bangun karena mendengar suara tangisanmu, tadinya aku mau ke dapur tapi malah mendengar suara tangis mu." Jelas Jiyeon. "Ada apa Krystal? Kenapa kau menangis? Ini terlihat seperti buka dirimu saja." Lanjut Jiyeon yang tidak percaya bahwa orang yang ia anggap sangat tangguh dan penuh semangat seperti Krystal juga bisa menangis layaknya wanita yang putus cinta.
"Memang bagaimana kau melihatku?"
"Hem... Menurutku kau bukan orang yang lemah dan juga rasanya aku ingin seperti dirimu. Kuat, suka bilang suka benci bilang benci dan satu lagi tak ada yang bisa mengalahkan mu." Jiyeon berkata jujur, itu adalah kesan pertama yang ia lihat ketika bertemu dengan Krystal dan jujur jika boleh, andai saja Jiyeon bertemu lebih awal dengan Krystal mungkin takdir hidupnya akan sedikit berbeda.
Krystal terkekeh pelan. Ia sudah biasa mendengar kalimat itu dari orang lain dan Jiyeon bukan yang pertama. "Tidak ada yang sempurna Jiyeon, bahkan sesuatu yang terlihat sempurna pasti memiliki satu titik kekurangan dalam hidupnya. Begitu juga dengan ku dan dirimu." Krystal benar, Jiyeon sampai lupa bahwa di setiap kehidupan tidak ada yang namanya kesempurnaan tanpa kekurangan.
"Lalu kenapa kau menangis? Apa ada masalah? Tapi jika kau tidak mau cerita juga tidak apa-apa." Jiyeon mengerti, hubungan mereka belum begitu dekat hingga harus membagi masalah satu sama lain.
"Mau mendengar cerita ku? Ini bukan cerita yang singkat." Jiyeon berpikir sebentar, ini tengah malam dan dia sudah terlanjur bangun. Akan sedikit sulit untuk dirinya kembali tidur.
"Baiklah, ceritakan saja.. Aku akan mendengarkannya." Keputusan yang akhirnya Jiyeon ambil. Karena bagaimanapun juga Jiyeon cukup penasaran dengan orang-orang yang tinggal di rumah ini yang lebih membuat Jiyeon penasaran adalah Sehun.
"Di dunia ini banyak sekali orang yang tidak atau kurang beruntung dan mungkin aku termasuk di dalam daftar orang-orang itu. Ibu ku seorang penyanyi di sebuah Bar, dia hanya seorang penyanyi biasa tidak menjual diri." Jiyeon tahu kenapa Krystal mengatakan itu, karena pasti orang akan langsung berpikir bahwa seorang wanita yang bekerja di sebuah bar menjual diri. "Dia bekerja keras sendirian demi memenuhi kebutuhan kedua orang tuanya dan membayar hutang kakak laki-lakinya. Tidak ada yang mengerti penderitaan yang ibuku alami, mereka memerintah seolah ibuku adalah sebuah robot tidak ada belas kasih sama sekali." Krystal kembali sedih jika mengingat ibunya.
Jiyeon menyentuh bahu Krystal pelan. "Jika kau tidak sanggup, jangan di teruskan." Ucap Jiyeon mengerti bahwa ini sulit untuk Krystal. Krystal menggeleng dan melanjutkan ceritanya, biarkan hatinya sedikit lega membagi kisahnya ini.
"Lalu kejadian mengerikan itu terjadi, kejadian yang merenggut mahkota berharap ibuku juga membuatnya dibenci semua orang di lingkungan kami. Ibuku hanya berniat menolong seorang pria mabuk yang nyaris tertabrak mobil, dia ingin meninggalkan pria itu dan lekas pergi tapi pria itu terus meminta tolong untuk di atar pulang, karena tidak tahu alamat sang pria ibuku memanggil taxi dan meminta supri taxi mengantar ke sebuah hotel saja. Lalu ibuku pulang. Hari sudah sangat malam ketika ibuku pulang, uang yang tadinya ia gunakan untuk pulang telah di berikan pada supir taxi maka dari itu ibuku pulang dengan jalan kaki. Dia takut pulang sendirian tapi juga tak punya pilihan lain, kau tahu apa yang terjadi Jiyeon? Ibuku di lecehkan beberapa berandalan yang berkeliaran di sekitar jalan itu, tak ada yang menolongnya dan saat pulang melihat kondisi ibuku yang seperti itu ayahnya marah dan menamparnya mencerca juga menghina." Lagi air mata itu mengalir dari pelupuk mata Krystal.
"Dia diusir dari rumahnya sendiri, hidup dengan tidak punya tujuan. Rasanya mati adalah pilihan yang terbaik, tapi tidak ibuku memilih untuk tetap bertahan hidup dan bekerja keras. Setiap bulan ia mengirim uang pada ayah dan ibunya walau tidak pernah mendapatkan ucapan terima kasih, tapi ibuku bahagia melakukannya. Setelah beberapa bulan, ibuku baru tahu bahwa dia tengah mengandungku, dia bekerja semakin keras dan tidak hanya bekerja di bar melainkan tempat paruh waktu lainnya. Penderitaannya tidak sampai di situ saja. Setelah aku lahir, orang-orang mulai berbicara buruk tentang ibuku. Banyak yang mengatakan bahwa ibuku bukan wanita baik-baik dan banyak lagi. Lalu saat usia ku tujuh tahun, anak-anak di sana sering menghinaku tak jarang juga mereka melukaiku. Hingga dua orang anak laki-laki yang menolongku, mereka membelaku dan sejak itu juga melindungi ku."
"Siapa orang itu?" Jiyeon berpikir mungkinkah itu Sehun, tapi Krystal baru berusia tujuh tahun saat itu. Jadi tidak mungkin itu Sehun.
"Kim Jongin dan Kim Myungsoo, mereka adalah dua orang yang tuhan kirim untuk melindungi ku juga menjadi temanku. Mereka berdua juga memiliki kehidupan yang kurang beruntung seperti diriku. Ibuku jatuh sakit dan beberapa hari kemudian beliau meninggal, duniaku seolah berhenti ketika cahaya yang aku miliki lenyap. Rasanya aku ingin ikut ibuku saja, tapi Jongin dan Myungsoo berjanji akan menjagaku, saat itu usia ku menginjak 12 tahun. Kami memutuskan untuk pergi dari kota itu, tidak punya tujuan dan juga uang. Menjadi anak jalanan hingga kami dewasa. Banyak sekali hal yang aku alami hingga jadi sekarang ini. Hingga kami bertemu dengan Sehun, dialah yang mengambil kami dari jalanan yang kotor juga memberikan kami perkejaan." Jiyeon paham sekarang, di balik gadis tangguh ini menyimpan luka yang menyakitkan juga beban yang begitu berat.
"Lalu, dimana dia orang yang bersamamu?"
"Myungsoo.. Dia.. Dia mati saat menjalankan misi bersamaku." Krystal tak bisa menahan tangsi nya ketika mengingat bagaimana kejadian tragis itu terjadi. "Kami ketahuan ketika sedang menyelundupkan senjata, Myungsoo meminta ku untuk kabur, tapi aku terlalu keras kepala hingga akhirnya polisi mengejar kami dan sialnya timah panas yang harusnya mengenai ku di halau oleh Myungsoo. Di saat-saat terakhir dia tetap meminta ku untuk kabur dan semenjak itu aku tak pernah mendengar tentangnya, dan polisi memberikan pernyataan bahwa Myungsoo telah meninggal." Krystal menghapus air matanya. Jiyeon tak bisa menahan diri untuk tidak memeluk Krystal. Dia memeluk Krystal dari samping.
"Dan sekarang, Jongin juga sedang berada dalam bahaya. Jiyeon aku tidak ingin kehilangan lagi... Aku tidak mau Jongin juga mati." Tangis Krystal kembali terdengar, sulit memang membayangkan orang yang berharga untuk kita tengah dalam bahaya sekarang.
"Kau tenang saja Krystal, semua pasti akan baik-baik saja." Walau Jiyeon tidak tahu bahaya apa yang di maksud Krystal, tapi tetap dia harus menenangkan Krystal.
"Kau yakin semua akan baik-baik saja?"
"Hem, aku yakin.. kau berdoa saja yang terbaik. Sudah berhenti menangis, kau terlihat lemah jika begini."
"Yak!"
Jiyeon tertawa, sepertinya Krystal sudah mulai membaik. Sehun rupanya memperhatikan dua orang yang tengah duduk berpelukan di bawah sofa. Dia tadinya ingin kembali ke kamar setelah pekerjaannya selesai tapi rupanya dia malah melihat Jiyeon dan Krystal. Dia tersenyum kecil, setelah itu berlalu dari sana.
"Kenapa kau tiba-tiba setuju untuk mengantar ku? Padahal aku bisa saja pergi dengan Jieun." Jiyeon hanya melirik seseorang yang kini duduk manis di sampingnya dengan santai.
"Kenapa? Kau tidak suka aku menemanimu? Apa terlalu memalukan pergi dengan ku?"
"Bukannya kau sibuk hingga tak punya waktu untuk bersantai. Aneh saja tiba-tiba kau setuju menemaniku belanja bulanan." Jiyeon melipat tangannya di dada.
Pagi ini tiba-tiba saja Sehun menawarkan diri menemani Jiyeon yang berniat belanja bulanan karena persediaan makanan mereka benar-benar kosong, tak ada apapun. Dia tadinya ingin pergi bersama dengan Jieun karena Krystal terlihat lelah dan belum bangun, tapi Jieun malah beralasan malas keluar rumah. Akhirnya dia menyetujui pergi dengan Sehun.
Sehun tersenyum miring. Tiba-tiba dia mendekatkan tubuhnya pada Jiyeon hingga gadis itu terpojok ke sisi pintu mobil. Jiyeon mengerjakan matanya berkali-kali, terlalu kaget dengan apa yang Sehun lakukan.
"Yak! Kau mau apa?" Tanya Jiyeon sambil menahan dada Sehun.
"Jika istriku yang meminta, apa bisa aku menolak?" Goda Sehun sambil mengerlingkan matanya genit.
"Yak!" Jiyeon mendorong Sehun agar menjauh darinya. "Omong kosong apa yang kau bicarakan. Jangan coba merayuku Sehun!" Jiyeon memperingatkan dengan wajah kesalnya. Bisa-bisanya di saat seperti ini Sehun mengatakan hal semacam itu.
"Memang salah merayu istri sendiri?" Sehun merapikan kemejanya yang sedikit berantakan setelah di dorong Jiyeon.
"Aku hanya istrimu saat di luar, apa kau lupa dengan itu?"
"Mau di luar atau di dalam, tetap saja kau istriku."
"Sehun hentikan omong kosong mu sekarang juga, kalau tidak turunkan saja aku disini."
"Baiklah, baik."
Sehun akhirnya diam, tak mau membuat sang singa betina semakin kesal karena kejahilannya. Sedangkan Baekhyun yang menyetir di depan hanya bisa menahan diri. Ya, maklum dia jarang pergi berkencan karena kesibukannya mengurus ini dan itu.
Jiyeon dan Sehun sampai di pusat perbelanjaan. Sehun meminta Baekhyun untuk menunggu di mobil saja, atau kalau bosan bisa pergi ke cafe seberang jalan. Jiyeon mengambil troli dan mulai masuk ke deretan bahan-bahan makanan seperti sayur, daging, telur dan banyak lagi. Sehun hanya mengikuti di belakang Jiyeon.
Jiyeon mulai pemburuan nya, di masukannya sayuran segar kedalam troli tentu setelah ia yakin dengan hasil pengamatannya bahwa sayur itu masih segar.
"Mana bisa begitu, harus di lihat dulu apakah ini masih layak atau tidak."
"Itu akan memakan waktu yang lama jika kau melakukan semua itu pada semua bahan makanan disini."
"Kalau kau tidak betah, pergi saja. Aku bisa mengatasi ini sendiri."
Jiyeon membawa trolinya dan berjalan menjauh dari Sehun. Sehun berdecak sebal kemudian menyusul Jiyeon yang sudah berada di ujung sana. Sehun merebut troli itu dari Jiyeon.
"Sudah sana, pilih saja bahan makanan yang kau mau. Biar ini aku yang bawa."
Jiyeon benar-benar tidak mengerti, sebenarnya apa sih mau Sehun? Kenapa dia mau melakukan hal semacam ini. Ah sudahlah, di pikirkan akan semakin membuat Jiyeon pusing jadi dia biarkan saja apa yang mau Sehun lakukan dan fokus pada belanjaannya. Sehun mendorong troli dan mengikuti Jiyeon.

"Hei Sehun, kau suka daging ayam atau sapi?" Tanya Jiyeon saat dirinya sibuk memilih daging. Sehun menoleh pada Jiyeon dan mengerutkan kening.
"Kenapa?"
"Jawab saja, kau lebih suka yang mana?"
"Tck.. Sapi."
"Baiklah, kita beli yang ini."
Jiyeon memasukan beberapa kotak daging sapi kedalam troli. Dia kembali berjalan mengambil telur, dan beberapa buah. Sehun memperhatikan betapa seriusnya Jiyeon memilih bahan makanan. Dia tersenyum kecil.
"Auch..." Ucap Jiyeon ketika seorang anak kecil menabrak kakinya. Anak kecil itu terjatuh ke lantai. Jiyeon membantu anak itu berdiri. "Kau baik-baik saja?" Tanya Jiyeon memeriksa tubuh si anak.
"Aku baik-baik saja Bibi, maaf aku tidak sengaja." Ucap anak itu terlihat takut.
Jiyeon tersenyum dan mengusap kepala anak kecil itu. "Tidak apa-apa, lain kali jangan lari-lari di tempat seperti ini ya, bahaya." Nasehat Jiyeon. Anak kecil itu mengangguk kecil.
"Kevin! Kevin! Kevin!" Seorang ibu berteriak memanggil nama anaknya. Anak kecil itu menoleh dan berlari kecil menuju ibunya.
"Eommaa!!"
"Ya ampun, kau kemana saja? Kenapa Tiba-tiba menghilang? Jangan lari-lari lagi, kalau hilang bagaimana?" Ibunya khawatir sekali. Anak kecil itu terlihat menyesal.
"Maaf eomma."
Jiyeon mendekat diikuti Sehun di belakangnya.
"Maaf ya Nona, apakah putra ku mengganggu anda?"
Jiyeon menggeleng sambil tersenyum. "Tidak Nyonya, putra mu sangat manis." Sehun tersenyum tipis sambil melirik Jiyeon.
"Ah, terima kasih. Kalian juga pasangan yang serasi cepat atau lambat pasti kalian juga akan punya anak yang manis." Ibu itu memperhatikan Sehun juga Jiyeon yang nampak seperti pasangan yang baru menikah dan heboh di bicarakan di siaran televisi.
"Ha?" Jiyeon terkejut, kemudian menoleh pada Sehun.
"Tentu saja." Jawab Sehun dan menarik pinggang Jiyeon agar mendekat padanya. Ibu itu hanya tersenyum malu-malu melihat pasangan muda yang masih di mabuk cinta itu. Kemudian dia pamit pergi bersama putranya.
Jiyeon menampik tangan Sehun yang masih berada di pinggangnya. "Dasar tukang akting." Jiyeon berjalan lebih dulu meninggalkan Sehun.
"Dia sendiri juga tukang akting." Sehun geleng-geleng kepala lalu menyusul Jiyeon dengan mendorong troli.
Mereka selesai berbelanja dan Sehun membawakan semua barang belanjaan Jiyeon. Ya tuhan ingin sekali dia marah, bagaimana tidak? Seorang CEO yang terhormat dan di takuti harus membawa barang belanjaan sebanyak ini sampai di parkiran. Jiyeon sendiri tak mampu menahan tawanya melihat Sehun yang sudah seperti babunya.
Baekhyun yang bersandar di mobil juga tak mampu menahan tawa ketika melihat Sehun datang bersama dengan Jiyeon. Sungguh pemandangan yang sangat langka sekali.
"Yak! Apa yang kau lihat?! Cepat bantu aku!" Tak mau mendengar teriakan Sehun untuk kedua kalinya Baekhyun langsung menghampiri Sehun dan membantu pria itu membawa belanjaan.
Semua belanjaan sudah masuk kedalam bagasi Jiyeon juga sudah masuk dan duduk manis di dalam mobil.
"Sehun kita ke kantor dulu atau antar Jiyeon pulang dulu?"
"Pulang dulu baru ke kantor."
"Baiklah.."
Baekhyun menyalakan mesin mobil dan melaju meninggalkan halaman parkir pusat perbelanjaan. Suasana kembali hening, tak ada yang memulai pembicaraan. Tidak, Sehun tidak sedang marah atau kesal karena masalah belanjaan tadi tapi dia sedang berpikir.
"Aku akan pergi beberapa hari.." Ucap Sehun berhasil mengalihkan perhatian Jiyeon.
"Kemana?"
"Ada hal yang harus aku urus, jika cepat selesai mungkin tiga hari sudah pulang tapi bisa juga seminggu." Jiyeon tak menjawab, bukan dia tidak rela di tinggal Sehun, itu sama sekali tak terpikir di benak Jiyeon. Hanya saja pekerjaan apa yang Sehun lakukan. "Selama aku pergi, kau bebas melakukan apapun aku tak ingin kau merasa menjadi tahanan di rumahku. Tapi ingat, tetap harus hati-hati dan jangan gegabah. Pikirkan semua baik-baik."
"Baiklah Sehun, aku mengerti."
Keheningan itu kembali melanda hingga mereka sampai di rumah. Selesai menurunkan semua barang, Baekhyun dan Sehun langsung pergi ke kantor.
"Kau sudah siapkan semuanya bukan?"
"Ya, anak buah mu juga sudah siap semua."
"Bagus, nanti malam kita berangkat."
"Baik Sehun.."
To be Continue...
Huwaaa... maaf ya karena Up nya lama, tapi abis ini insyaallah rajin lagi.. wkwkwk
Semoga kalian suka sama part kali ini yaw
Di tunggu vommetnya💜
Follow juga Ig q: lianqueen_ 😂