
.
.
.
.
.
"Benar-benar tidak tahu malu!"
"Dasar pembunuh!"
"Mati saja kalian! Dasar sialan!"
Semua umpatan dan makian itu di tunjukan untuk ibu tiri dan paman Jiyeon yang kini akan di pindahkan ke kantor polisi pusat untuk di tahan dan di tindak lanjuti lagi terkait kasus yang menyeret nama mereka berdua. Ibu tiri Jiyeon bahkan tak bernai mengangkat kepalanya, hanya jalan dengan menunduk serta masker yang menutupi setengah wajahnya.
Ia merasa malu karena kini namanya benar-benar telah tercoreng, publik sudah mengetahui segala kebusukan yang ia lakukan selama bertahun-tahun dan tidak ada lagi tempatnya untuk bersembunyi, tidak ada lagi orang yang bisa menolongnya keluar dari penjara.
Nayeon berdiri tak jauh dari kerumunan dengan pakaian tertutup lengkap dengan masker wajah, jika orang-orang ini tahu dia di sana, pastilah habis di keroyok masa, ia menatap ibunya sedih tak mengira jika semuanya akan berakhir seperti ini. Kebahagiaan sesaat yang ia rasakan, kini benar-benar hancur tak tersisa. Bahkan ibu dan ayahnya harus membayar mahal untuk semua itu.
"Eommaa... Appaa.." Lirihnya tak mampu menutupi rasa sedih di hatinya, tak ada siapapun lagi di sisinya yang akan menolong dan menguatkan, ia bahkan di usir dari rumah keluarga Park. Sekarang mau tinggal dimana, ia tidak tahu tak ada tempat yang akan dituju.
Apa yang kau tanam, itulah yang akan kau tuai. Menyesali perbuatan yang sudah terjadi sudah tidak ada gunanya lagi, kata maaf pun sudah tak memiliki arti apapun. Jiyeon benar-benar menutup mata dan telinga, mengabaikan setiap permintaan maaf dan penyesalan Nayeon. Jika saja, jika saja ia bisa memutar waktu, Nayeon ingin memperbaiki segalanya tapi semua itu hanyalah agan saja.
Dengan langkah kaki yang terasa berat, Nayeon perlahan-lahan meninggalkan area kantor polisi berjalan tanpa tujuan dan tangis yang tak bisa di bendung.
Jiyeon menatap dua buah gundukan tanah yang di tumbuhi rumput-rumput hijau rapi, ia tersenyum sambil meletakkan dua buah bunga krisan berwarna merah dan putih di tiap-tiap gundukan tanah tersebut.
"Appa, eomma minahe, maaf karena aku tidak bisa sering mengunjungi kalian... eomma dan appa baik-baik saja kan? Jiyi juga baik-baik saja, bahkan Jiyi sangat rindu dengan kalian," Sekuat apapun Jiyeon, bila sudah berada di depan makam kedua orang tuanya pastilah air mata yang coba ia tahan meluncur begitu saja, ia selalu gagal menahan air matanya agar tidak keluar.
Sehun hanya memperhatikan apa yang kini tengah Jiyeon lakukan, ia memberikan ruang pada Jiyeon untuk menceritakan segala keluh kesah pada kedua orangtuanya dengan begitu barulah ia bisa merasa lega dan kembali menata hidup. Karena Sehun pernah di posisi itu.
"Jiyi akan melakukan yang terbaik, jiyi janji akan membuat eomma dan appa banga karena memiliki anak seperti Jiyi, jiyi sayang kalian.." Jiyeon mengusap air matanya yang terus membasahi wajah. Ia kembali melukis senyum cerah di bibir cantiknya. "Eomma dan Appa tidak perlu khawatir, sekarang Jiyi tidak sendirian ada begitu banyak orang yang menyayangi Jiyi, jadi kalian tenang saja."
Merasa puas dan beban di hatinya sedikit berkurang, Jiyeon beranjak dari sana melangkah dengan perlahan menuju sosok yang dengan setia selalu menemani dan membantu di kala ia tak memiliki jalan lain, sosok ini yang akan menuntunnya membuka pintu yang lain. Jiyeon tidak tahu lagi harus bagaimana berterima kasih pada Sehun karena ucapan terima kasih saja tidak akan pernah cukup untuk membayar semuanya.
"Sudah selesai?" Sehun bertanya ketika Jiyeon telah berdiri di jarak yang cukup dekat dengannya, dan pertanyaan Sehun hanya di jawab anggukan kecil oleh sang gadis.
Sehun masuk kedalam mobil, begitu juga dengan Jiyeon.
"Kau mau pergi kemana setelah ini?" Tanya Sehun ketika mobilnya sudah meninggalkan area pemakaman.
Jiyeon menoleh sembari tersenyum pada Sehun, "Kau ini sudah seperti supir pribadi ku saja, sejak kita berangkat kau selalu bertanya akan kemana setelah ini," Ucap Jiyeon yang di akhiri dengan kekehan kecil.
"Yak! Harusnya kau membayar ku karena seharian ini menjadi supir pribadi mu, asal kau tahu saja bayaran ku tidaklah murah," Jiyeon semakin tertawa keras mendengar ucapan Sehun, ia pikir Sehun akan marah atau mengatakan sesuatu yang lain, tapi rupanya pria ini juga punya selera humor yang bagus.
"Memang berapa bayaran mu? Sombong sekali," Jiyeon menatap Sehun remeh, sedangkan Sehun tersenyum miring.
"Aku yakin, ketika aku menyebutkan jumlahnya kau tidak akan sanggup membayarnya,"
Jiyeon mendengus, "Dasar sombong.." Cibir Jiyeon lalu mengalihkan atensinya pada jalan di luar kaca jendela mobil. Sehun tersenyum, sambil sesekali melirik Jiyeon lewat ekor matanya. Apapun yang terjadi, Sehun tak akan melepaskan Jiyeon.
...
"Uwaa.. Selamat ya Jiyeon, akhirnya kau bisa membalaskan dendam pada ibu tiri dan juga pamanmu itu," Jieun bersorak senang, dua minggu berasa di Paris dan pulang-pulang mendapatkan berita bahwa orang yang telah mengusir dan menyakiti Jiyeon masuk kedalam penjara membuatnya tak bisa menutupi rasa gembiranya, bahkan ia memeluk Jiyeon dan berputar-putar beberapa kali.
Sebenarnya yang mempunyai dendam itu Jiyeon atau Jieun? Rasanya Jiyeon tak sebahagia itu ketika berhasil memasukan ibu tirinya kedalam penjara. Hanya lega.
Baekhyun tak mau ambil pusing, ia memilih menyingkir dan masuk kedalam kamar yang merupakan surga bagi Baekhyun. Berada di Paris bersama dengan Jieun membuatnya tidak bisa bernapas lega barang sebentar saja karena ada saja hal-hal aneh bin ajaib yang Jieun lakukan, ia lelah dan bersyukur karena rantai penderitaannya telah terputus.
"Harusnya kau memberitahuku lebih awal, jadi aku bisa menyiapkan pesta yang besar untuk merayakan ini," Jieun sudah melepaskan pelukannya pada Jiyeon dan kini keduanya tengah duduk bersama di sofa ruang tengah.
"Tidak perlu, ini hanya hal kecil tidak perlu sampai membuat pesat besar-besaran,"
"Oh ya, lalu sekarang bagaimana nasib perusahaan ayahmu?"
"Dewan direksi sedang melakukan rapat untuk menunjuk CEO baru,"
"Siapa? Siapa CEO barunya?"
"Entahlah,"
"Kenapa tidak kau saja yang menjadi CEO di perusahaan ayahmu?"
Jiyeon tadinya juga ingin menawarkan diri menjadi CEO di perusahaan ayahnya, tapi kemudian ia mengurungkan niatnya itu karena kemampuannya masih begitu rendah dan memegang sebuah perusahaan, sepertinya dia masih butuh banyak belajar, jadi untuk sekarang biarkan CEO sementara saja yang mengurus perusahaan sampai Jiyeon siap. Nantinya Jiyeon juga akan ikut memilih siapa kira-kira orang yang di rasa layak dan mampu menjadi CEO di perusahaan ayahnya. Ia tak mau sampai salah pilih dan kembali membahayakan perusahaan.
"Aku punya alasan sendiri untuk itu, lagipula dewan direksi dan para pemegang saham yang akan memutuskan masalah ini," Jawab Jiyeon dan tersenyum pada Jieun.
Jieun ingat sesuatu, ia membelikan sebuah oleh-oleh untuk Jiyeon. Gadis mungil itu tiba-tiba saja berdiri, berlari kecil menuju koper yang masih tergeletak di depan pintu masuk. Jiyeon kadang tidak mengerti, apa sih yang Jieun makan hingga ia bisa bersemangat seperti itu?
Setelah mengobrak-abrik isi di dalam koper dan menemukan barang yang di cari, Jieun kembali pada Jiyeon.
Jiyeon menerima barang yang masih di bungkus dengan apik itu sambil memberikan tatapan bertanya-tanya, "Apa ini?" Tanya Jiyeon, tangannya sudah siap membuka bungkusan namun langsung di cegah oleh Jieun.
"Jangan di buka dulu, nanti malam saja kau bukanya, oke?" Jiyeon membuat lipatan-lipatan kecil di dahinya, merasa aneh dengan sikap Jieun. "Eih, jangan menatapku begitu.. ini adalah barang limited edition yang susah payah aku dapatkan dan hanya di boleh di buka saat malam hari saja, begitu,"
"Kau yakin isinya bukan hal yang aneh-aneh?" Jiyeon menyipitkan kedua mata, menatap Jieun intens penuh curiga.
"Tentu saja, memangnya kau pikir aku akan memberikan hal yang aneh pada teman baikku? Tidak kan?" Jieun berucap dengan santai, memang apa yang jiyeon pikirkan, Jieun tak mungkin memberikan bom kan?
Jiyeon masih memberikan tatapan curiga pada Jieun, sedang yang di tatap hanya tersenyum polos seolah dia tidak melakukan hal aneh.
"Awas saja jika isinya nanti tidak jelas," Ancam Jiyeon.
"Tenang saja, kau akan suka dengan isinya nanti.. lihat saja," Jieun menaik turunkan alisnya sambil tersenyum lebar.
Setelah makan malam dan membicarakan tentang Krystal dan Kai yang akan kembali lebih lama lagi di banding Jieun dan Baekhyun, Jiyeon mengganti bajunya dengan piyama sedangkan Sehun masuk kedalam kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci muka, besok ia ada meeting pagi makanya bersiap tidur lebih awal.
Sebelum tidur, Jiyeon ingat jika tadi sore Jieun memberikan sesuatu padanya. Karena penasaran akhirnya Jiyeon bangkit, berjalan menuju lemari dan mengambil bingkisan yang Jieun berikan.
"Apa sih isinya?" Bisik Jiyeon dan mulai membuka bungkusnya, masih ada sebuah kotak sebelum melihat isi sesungguhnya. Jiyeon membuka kotak persegi ukuran sedang itu dan mengerutkan kening, "Apa ini?" Bisiknya lagi dan mengambil sesuatu di dalam kotak itu.
Mulut Jiyeon terbuka lebar dengan mata yang melotot hampir keluar, tak menyangka hadiah yang di berikan Jieun begitu diluar perkiraan.
"Aish, Lee Jieun!" Geram Jiyeon. Bagaimana tidak marah jika Jieun memberikan hadiah semacam ini padanya. Sebuah lingerie berwarna ungu kemerah-merahan. Benar-benar gila!
"Ishh, dasar bodoh Jieun bodoh, awas saja dia ya," Jiyeon hendak keluar dengan membawa serta lingerie-nya tapi suara Sehun menghentikan langkah kaki Jiyeon.
"Kau mau kemana Jiyeon?" Buru-buru Jiyeon menyembunyikan kotak itu di balik tubuhnya dan bersikap seolah semua baik-baik saja, bisa mati ia jika Sehun melihat benda ini, yang ada Sehun akan berpikir macam-macam dan mengolok-olok dirinya.
"Aku mau ke kamar Jieun sebentar,"
Dahi Sehun berkerut, "Mau apa kau ke sana dan apa yang kau bawa dibalik tubuh mu itu?" Sehun menunjuk menggunakan dagunya.
"B-bukan apa-apa, hanya sampah dan mau sekalian aku buang," Jiyeon tersenyum lebar, semakin membuat Sehun heran, tingkahnya tak seperti bisa.
"Sampah apa? Coba aku lihat dulu,"
"Jangan!" Jiyeon menyetop Sehun dengan isyarat tangannya, dia tidak akan membiarkan Sehun melihat benda gila ini. Semakin Jiyeon menolak, Sehun semakin penasaran ia perlahan-lahan mendekati Jiyeon dan Jiyeon mundur dengan teratur.
"Coba aku lihat dulu, siapa tahu ada punya ku yang ikut terbuang,"
"Tidak ada, ini hanya sampah saja tidak ada barang mu,"
Jiyeon tetap kekeh dan tak membiarkan Sehun tahu, akhirnya terjadilah aksi kejar-kejaran antara dua orang itu, Jiyeon naik ke atas ranjang, melompat ke kursi dan Sehun masih belum menyerah, ia yakin ada sesuatu yang Jiyeon sembunyikan dan dia harus tahu.
Huupp!
Akhirnya Sehun berhasil menangkap kardus sedang yang Jiyeon sembunyikan, Jiyeon berdecak kesal. Kenapa juga ia tidak langsung berlari keluar saja tadi, sekarang ia hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua tangan kala Sehun mulai membuka dan melihat isi di dalam kardus.
Gelak tawa terdengar nyaring memenuhi seluruh isi ruangan kamar ini, tentu saja itu adalah tawa mengejek yang berasal dari Sehun.
"Inikah yang coba kau sembunyikan dariku?" Tanya Sehun setelah berhasil mengontrol suara tawanya.
"Jangan salah paham, itu bukan milik ku, Jieun yang memberikannya," Jiyeon benar-benar malu, bahkan kini wajahnya pasti sudah memerah seperti kepiting rebus.
"Oh... Benarkah?" Sehun tersenyum menyeringai dan perlahan-lahan mendekati Jiyeon, "Kau yakin Jieun yang memberikannya? Bukan kau sendiri yang membelinya?"
"Kau gila ya?! U-untuk apa aku membeli barang seperti itu? Dasar aneh!" Jiyeon mendorong tubuh Sehun, ia langsung melompat ke atas ranjang dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Oh sial! Kenapa dia begitu mengemaskan!"
Sehun mengikuti Jiyeon naik ke atas ranjang, dengan tanpa permisi Sehun memeluk tubuh Jiyeon dari luar selimut.
"Yak! Lepaskan aku!" Teriak Jiyeon dari dalam selimut, tapi percuma saja karena tenaga Sehun jauh lebih kuat.
"Bukankah ini yang kau mau, heum? Segala pura-pura bilang itu bukan punya mu," goda Sehun.
"Itu memang bukan punya ku Sehun. Ishhh... Terserah saja! Pokoknya itu bukan punya ku!" Jiyeon kesal, besok Jieun akan mendapatkan balasan karena sudah mengerjai Jiyeon dan membuat Sehun salah paham hingga mempunyai bahan untuk menggoda Jiyeon semalam penuh.
Sedang dua orang itu saling berpelukan dan menggoda satu sama lain. Di tempat lain, seorang pria baru saja keluar dari bandara, ia melepas kaca mata hitam dan masker yang menghiasi wajah tampannya, pria itu menghirup udara malam kota Seoul dengan penuh kenikmatan kemudian menghembuskan nya pelan.
"Park Jiyeon, aku kembali..."
To be Continue...
Yuhu.... semoga kalian suka sama part kali ini❤️
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca yes!
LiannQueen♡️