President'S Priceless Wife

President'S Priceless Wife
Part 9




.


.


.


.


.


Seharian ini Jiyeon habiskan untuk bersantai dan menonton TV. Benar-benar membosankan sekali, tidak ada hal lain yang ia lakukan mengingat Krystal tiba-tiba mendapatkan sebuah misi dari Sehun, entah misi apa yang ia maksud Jiyeon tidak bertanya detailnya. Sedangkan Jieun, karena sudah absen hampir seminggu lebih dari salon miliknya maka hari ini dia putuskan untuk pergi dan mengecek salonnya, ia bilang takut jika pegawainya mencuri uang hasil salon. Tadinya Jiyeon ingin latihan sendiri tapi tiba-tiba saja penyakit malas datang, membuatnya mengurungkan niatnya itu dan berakhir dengan duduk manis sambil menonton TV di dalam kamarnya.


Rumah begitu sepi. Tentu saja, karena hanya ada Jiyeon saja di rumah ini. Semua orang pergi mengurus kesibukannya masing-masing. Jiyeon melirik ponsel yang tergeletak di sampingnya, jika saja dia punya teman untuk chating mungkin dia tak akan sebosan ini. Di ponselnya, hanya ada nomor Sehun, Krystal dan Jieun saja. Baekhyun menolak ketika Jiyeon meminta nomernya semalam, dia takut di marahi Sehun. Itu yang dia katakan.


Jiyeon memindah chanel TV, sejak tadi yang ia lihat hanya berita tentang dirinya dan Sehun yang masih terus di bicarakan. Entah apa yang menarik dari berita pernikahan seorang pengusaha sukses dan tampan seperti Sehun. Kenapa mereka begitu berlomba-lomba untuk menayangkan beritanya. Ya, mungkin karena Sehun tampan dan telah lama menjadi bahan perbincangan masyarakat umum. Di usianya yang masih terbilang muda sudah berhasil mendirikan perusahaan dan lagi tanpa bantuan orang tuanya. Belum lagi dia telah berhasil bekerja sama dengan lebih dari 30 perusahaan besar di seluruh dunia dan menjadi pemegang saham terbesar. Poin plus tersendiri untuknya.


"Ishh... Kenapa aku jadi memikirkan dia?" Jiyeon menggelengkan kepalanya pelan, merasa blank sesaat hingga memuji Sehun.


Tangan Jiyeon yang tadinya sibuk menekan tombol remote mendadak berhenti ketika sebuah stasiun TV menayangkan gosip terbaru. Bukan gosipnya yang membuat Jiyeon berhenti menekan tombol tapi sosok yang menjadi bahan gosip itu yang mengalihkan fokus Jiyeon.


"... Hari ini, keluarga Yoo dan Keluarga Son mengumumkan tentang pertunangan putra dan putri mereka. Yaitu Yoo Seungho dengan Son Naeun. Rupanya keduanya telah menjalin hubungan sejak lima bulan yang lalu dan tidak mau berlama-lama pacaran, mereka memutuskan untuk memasuki jenjang hubungan yang lebih serius. Kedua keluarga telah setuju dan merasa senang dengan kabar ini, acara pertunangan akan di gelar di hotel Emerald minggu depan. Kita doakan yang terbaik untuk—"


Pip!


Layar televisi itu seketika padam kala Jiyeon menekan tombol off. Tiba-tiba dadanya sesak, sangat sakit hingga Jiyeon meremas baju bagian depannya. Meskipun sekarang Jiyeon tak memiliki hubungan apapun dengan Seungho, namun pria itu pernah menjadi sosok yang sangat Jiyeon cintai, bahkan Jiyeon pernah membayangkan akan memiliki kehidupan rumah tangga yang sangat indah bersama Seungho hingga mereka menua bersama. Namun harapan itu harus pupus bahkan hancur ketika Jiyeon mengingat kembali bagaimana sahabat dan kekasihnya itu begitu tega bermain di belakang Jiyeon. Mereka mengkhianati Jiyeon. Hingga Jiyeon menjadi seperti ini.


Entah sejak kapan, air mata sialan itu membasahi wajah Jiyeon. Padahal dia sudah bertekad menjadi kuat tak akan lemah dan cengeng. Tapi apa? Dia tetap saja menangisi hal kecil semacam ini.


"Kau menangis?"


Jiyeon terkejut ketika indra pendengarannya menangkap  suara yang tak asing lagi baginya. Jiyeon segera mengusap air matanya dan menoleh ke arah pintu masuk dimana kini Sehun berdiri di ambang pintu kamarnya.


"Tidak, aku tidak menangis.. Hanya ada debu yang masuk saja tadi jadi perih." Kilah Jiyeon dan menetralkan ekspresi wajahnya. Sehun tidak bodoh, dia jelas tahu bahwa Jiyeon baru saja menangis setelah menonton berita tentang lelaki brengsek itu. Ayolah, Sehun sudah berdiri di sana sejak Jiyeon mulai menonton acara gosip itu. Tadinya ia ingin bersuara dan menyapa tapi ia urungkan niatnya ketika melihat siapa yang menjadi bahan berita.


"Begitu... Baiklah." Sehun akhirnya mengiyakan saja apa yang menjadi alasan Jiyeon. Mereka tidak sedekat itu untuk saling peduli dengan satu sama lain.


"Ada apa kau kemari?"


"Hanya ingin melihat mu saja, rumah sangat sepi ku pikir kau pergi."


"Mau pergi kemana? Kau kan tahu aku tidak memiliki tujuan."


"Benar juga."


Dan pembicaraan itu berhenti di sana, entah karena memang mereka canggung karena jarang mengobrol bersama atau memang karena mereka irit bicara. Suasana jadi sangat aneh ketika keduanya hanya diam di tempat masing-masing.


"Bersiaplah, aku tunggu di bawah."


"Ha? Mau kemana?"


"Sudah jangan banyak tanya, lakukan saja apa yang aku katakan. Cepatlah! Jangan buat aku menunggu terlalu lama." Setelah mengatakan itu Sehun berlalu dari ambang pintu Jiyeon. Jiyeon mengerutkan kening, kenapa harus bersiap? Memangnya Sehun mau membawa dia kemana?


Baiklah karena banyak sekali pertanyaan dan tak satupun menemukan jawaban akhirnya Jiyeon bangkit berjalan menghampiri lemari, membukanya dan mengambil satu set baju atas dan bawahan. Jiyeon masuk kedalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.


Sehun duduk di sofa ruang tamu, dia sebenarnya tidak tahu mau kemana tadi hanya asal bicara karena suasana yang berubah canggung dan aneh. Tapi biarlah, Jiyeon mungkin juga merasa bosan jika terus berada di dalam rumah dan juga saat ini yang di ketahui publik adalah Sehun sudah menikah, akan aneh jika mereka tak menampakkan diri pergi bersama. Anggap saja ini pemanis sandiwara pernikahan mereka, supaya orang di luar sana percaya dengan pernikahan ini.


Sehun mendengar sebuah langkah kaki menuruni anak tangga, dia sudah bisa pastikan bahwa itu Jiyeon karena memang di rumah ini hanya ada mereka berdua. Baekhyun sudah masuk dalam kadang dan pastilah dia bermain game atau rebahan tidak jelas seperti biasanya.


Sehun menoleh ketika suara langkah kaki semakin dekat, dia terdiam beberapa saat ketika melihat penampilan Jiyeon yang terlihat berbeda dari bisanya lebih berkelas juga sangat ya, cantik. Padahal hanya menggunakan atasan putih dengan bawahan rok hitam dan rambut yang di biarkan tergerai serta make Up tipis. Entah Sehun yang tidak sadar atau kurang perhatian pada Jiyeon, hingga ia tak menyadari bahwa sebenarnya gadis itu sangat cantik. Yang membuat Sehun merasa senang karena tak sengaja netra nya menangkap sebuah benda berkilau di jari manis Jiyeon. Sehun tersenyum tipis.


...


"Aku sudah siap, kita akan kemana?"


Sehun berdiri, membenarkan letak jasnya. "Ketempat yang tidak akan membuat mu bosan." Sehun melangkah lebih dulu dan Jiyeon mengikuti di belakangnya. Dia juga tak sengaja melihat jari Sehun yang menggunakan cincin berwarna perak dan lebih sederhana ketimbang miliknya.


Di dalam mobil, tak ada pembicaraan sama sekali dua orang itu sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sehun fokus menyetir dan kadang sesekali melirik Jiyeon sedangkan Jiyeon menatap keluar jendela. Tak ada yang berinisiatif memulai pembicaraan.


***


"Ini kah tempat yang kau bilang tak akan membuat ku bosan?" Jiyeon menatap sekeliling sebelum akhirnya menoleh pada Sehun yang berdiri tempat di sampingnya. Mereka kini tengah berada di pusat perbelanjaan dan banyak sekali orang berlalu lalang. Jiyeon pikir Sehun akan mengajaknya kemana, tahunya malah ke tempat seperti ini.


"Kenapa? Kau tidak suka? Bukankah biasanya wanita akan merasa senang jika di ajak ke tempat seperti ini? Menghabiskan uang."


"Jangan sama kan aku dengan wanita-wanita mu Sehun."


"Hei, aku tidak suka mengoleksi wanita asal kau tahu saja."


"Oh ya? Lalu bagaimana kau tahu jika wanita suka berbelanja?" Jiyeon menyilangkan tangannya di dada sambil menatap Sehun dengan pandangan mengintimidasinya.


"Tentu saja dari Jieun dan Krystal, apa kau lupa jika dua orang itu suka sekali menghabiskan uang ku?" Kini ganti Sehun yang menatap Jiyeon penuh kemenangan. Ya, Jiyeon baru ingat jika ada dua orang itu di dalam rumahnya.


"Tck, aku memang bukan pria baik-baik tapi aku juga tidak suka bermain perempuan. Kau tahu kenapa? Karena ibuku seorang perempuan, jika aku mempermainkan perempuan sama saja aku mempermainkan ibuku." Jiyeon terdiam, mencerna setiap ucapan Sehun yang baru saja ia katakan. Bertanya dalam hati apakah Sehun adalah orang yang bisa di percaya?


"Ya, kau memang tidak bermain perempuan tapi kau mempermainkan sebuah pernikahan."


"Hei, aku melakukan ini juga untuk membantu mu!"


"Ah sudahlah... Apa kita akan bertengkar di tempat seperti ini? Bisa di pastikan besok akan ada berita tentang kau yang bertengkar dengan istrimu di mall."


Sehun mengalah, Jiyeon benar. Jika mereka terus berdebat dan ada wartawan yang melihat bisa gawat. Rencana mereka akan berantakan.


"Ayo jalan, sudah terlanjur kesini jadi sekalian berkeliling." Sehun menarik tangan Jiyeon membawanya berkeliling. Jiyeon malas, tapi dia juga tidak bisa menolak. Jadilah dia menemani Sehun pergi untuk membeli jas dan beberapa kemeja.


"Ku rasa lebih cocok yang biru." Ucap Jiyeon setelah berhasil menentukan pilihannya.


"Baiklah, tolong yang ini juga." Sehun memberikan kemeja biru itu pada pelayan toko. Kemudian dia berjalan menghampiri Jiyeon. "Kau tidak ingin membeli sesuatu?" Sehun bertanya karena sepertinya Jiyeon sama sekali tidak tertarik dengan toko-toko yang ada di mall ini.


"Tidak, baju dan perlengkapan yang kau berikan masih banyak dan belum ku gunakan." Ucap Jiyeon dan sok sibuk memilih jas. Dia melihat satu jas berwarna navy yang di rasa akan cocok sekali jika Sehun yang memakainya. "Sehun, coba yang ini."


"Hem? apa?" Sehun menoleh dan kaget ketika Jiyeon menyodorkan sebuah jas kepadanya. "Kau ingin aku mencoba ini?" Gadis itu mengangguk sebagai jawaban. Sehun mengambil jas itu dan berjalan menuju ruang ganti, Jiyeon pikir Sehun akan menolak ternyata malah pergi ke ruang ganti.


Jiyeon kembali sibuk memilih setelan jas kerja dan beberapa dasi yang bermotif lucu, sepertinya akan menyenangkan jika Sehun memaki dasi bermotif jerapah itu. Ketika melihat-lihat tak sengaja bahu Jiyeon menyenggol bahu seseorang yang juga melihat-lihat dasi.


"Ah, maaf, aku tidak sengaja.." Kata Jiyeon cepat dan membungkuk karena tak enak hati menyenggol bahu orang.


"Oh, lihatlah siapa ini?"


Jiyeon kenal dengan suara ini, dia mengangkat kepalanya guna melihat siapa sebenarnya orang yang tak sengaja ia senggol bahunya. Benar dugaan Jiyeon, orang itu adalah orang yang tak ingin Jiyeon temui untuk saat ini. Son Naeun.


"Park Jiyeon kau masih hidup? Ku pikir kau sudah mati karena frustasi di putusan Seungho." Sombong Naeun sambil menyilangkan tangannya di dada. Ia menatap Jiyeon dengan tatapan yang seolah merendahkan.


"Apa kau pikir aku akan mati karena hal sepele seperti itu? Hah. Lucu sekali, kau terlalu banyak berpikir Naeun." Jiyeon tak akan mau kalah, dia sudah menyiapkan mental untuk bertemu orang-orang yang tidak terduga seperti ini. Jiyeon harus buktikan bahwa dia tidak bisa di tindas terus menerus.


Kaget, tentu saja. Nada dan cara bicara Jiyeon terlihat berbeda bahkan kini dia berani menatap Naeun dengan tatapan sinis belum lagi yang membuat Naeun penasaran adalah penampilan Jiyeon. Baju yang Jiyeon pakai adalah baju edisi terbatas dari desainer ternama. Entah bagaimana Jiyeon bisa memakai baju semahal itu.


"Oh, jadi kau tidak merasa sakit hati? Asal kau tahu saja kami akan segera menikah."


"Selamat, wanita ****** dan pria brengsek. Kalian pasangan yang serasi." Jiyeon tersenyum mengejek, dia pikir Jiyeon akan cemburu tidak sama sekali yang ada Jiyeon ingin mencabik-cabik wajah menyebalkan Naeun yang ada di hadapannya.


"Park Jiyeon! Kau! Bernai sekali kau mengatakan hal itu!!" Naeun mulai tersulut emosi, semua pengunjung toko mulai tertarik dengan keributan dua wanita muda itu.


"Apa masalahnya? Bukankah yang aku katakan ini fakta? Kau menggoda si brengsek itu dengan tubuh mu, kalian bahkan sudah tidur bersama, apa bedanya dengan ****** di luar sana?" Jiyeon memelankan suaranya, lebih tepatnya dia sengaja berbisik tepat di hadapan Naeun. Jiyeon tersenyum karena berhasil memancing amarah Naeun.


Naeun mengeram marah, dia tidak terima dengan hinaan yang Jiyeon lontarkan. "Park Jiyeon! Akan ku bunuh kau!!" Naeun hendak menyerang Jiyeon namun dengan sigap Sehun menarik tangan Jiyeon dan mendekap gadis itu kedalam pelukannya. Timing yang pas sekali. Jiyeon mendongak, kaget dengan kemunculan Sehun yang mendadak tanpa peringatan sebelumnya.


"Sayang ada apa ini?" Tanya Sehun pada Jiyeon yang masih berada di dekapan Sehun. Semua orang tengah memperhatikan mereka. "Apa wanita ini mengganggu mu?"


Naeun terdiam, dia bukan orang bodoh hingga tidak tahu siapa yang berada di hadapannya ini. Orang nomor satu yang sering di eluh-eluhkan karena kesuksesannya yang begitu hebat di usia muda. Yang membuatnya terkejut adalah, dia memanggil Jiyeon dengan sebutan sayang, dalam hati bertanya apa hubungan dua orang ini? Naeun belakang jarang update berita karena terlalu sibuk dengan Seungho, itulah kenapa dia tidak tahu jika Jiyeon telah menikah dengan Sehun.


"Sehun aku tidak tahu kenapa, tiba-tiba saja wanita ini marah dan ingin memukul ku. Padahal kamu tidak saling kenal." Adu Jiyeon dengan wajah memelas seolah dia adalah korban. Semua orang berbisik, menatap Naeun dengan tatapan menyalahkan.


"T-tidak! Semua itu tidak benar! Aku-aku tidak begitu! Dialah yang memulainya!" Naeun mencoba membela diri, tapi orang-orang terlanjur percaya dengan kata-kata Jiyeon, apa lagi mereka melihat sendiri bahwa Naeun hendak memukul Jiyeon. "Berhenti berpura-pura Jiyeon! Kaulah yang memulainya!!"


"Nona, anda ini kenapa? Aku sudah meminta maaf, lalu kenapa Nona masih ingin memukul ku? Sehun aku ingin pulang, aku tidak ingin disini." Jiyeon masih dengan aktingnya berpura-pura sesedih mungkin dan terlihat seperti korban.


"Iya sayang, kita akan pulang." Ucap Sehun mengikuti sandiwara sang gadis. Dia mengusap-usap punggung Jiyeon lembut.


"Naeun ada apa ini?" Seorang pria paruh baya datang menghampiri sang putri setelah mendengar keributan. Dia terkejut karena rupanya ada Oh Sehun juga disini bersama istrinya pula. "Tuan Oh anda juga ada disini?" Pria paruh baya itu berucap dengan gugup.


"Tuan Son apakah dia putri mu? Katakan padanya untuk bersikap sopan kepada orang lain, dia hampir saja mencelakai istri ku." Sehun berucap dengan nada begitu dingin, tatapan matanya juga sangat tajam hingga rasanya menusuk permukaan kulit tuan Son.


"I-istri?" Naeun menatap Jiyeon juga Sehun, syok dengan pengakuan Sehun yang mengatakan bahwa Jiyeon adalah istrinya. Kapan mereka menikah? Dan bagaimana bisa? Sungguh Naeun benar-benar terkejut.


"Maafkan putriku tuan Oh, dia masih muda dan tidak mengerti, tolong maafkan dia. Lain kali tak akan terjadi lagi."


"Ku harap begitu." Sehun melangkah pergi, masih dengan Jiyeon yang berada di dekapan nya.


Selepas kepergian Sehun, tuan Son memarahi Naeun dan meminta putrinya itu untuk lebih berhati-hati. Dia tidak mau sampai perjanjian bisnis dengan perusahaan Sehun di batalkan karena masalah ini. Sedangkan Naeun sendiri masih tidak percaya bahwa Jiyeon sekarang adalah istri dari Oh Sehun.


***


Hari sudah semakin gelap, kini keduanya tengah berada di dalam mobil untuk pulang.


"Apa kau merasa puas?" Tanya Sehun di sela-sela fokus mengemudi.


"Masih belum, tadi itu belum ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang telah dia lakukan padaku." Jiyeon belum puas, dia memang berhasil memojokkan Naeun dan membuat situasi seolah Naeun adalah pelaku kejahatan. Jiyeon senang karena bisa membuat Naeun merasa malu.


"Ya, sepertinya kucing kecil kita telah berubah menjadi harimau betina yang ganas." Celetuk Sehun sambil sesekali menoleh pada Jiyeon.


"Aku akan membuatnya malu, sangat malu hingga dia tak akan bernai untuk mengangkat kepalanya lagi."


"Tapi kau tetap harus berhati-hati Jiyeon."


"Hem, aku mengerti."


Suasana kembali di landa keheningan. Jiyeon memainkan jari-jari tangannya, seolah ingin mengatakan sesuatu tapi ragu. Sehun tak memperhatikan, hanya fokus pada jalanan saja.


"Emm.. Sehun."


"Hem?"


"Itu... Terima kasih karena tadi sudah melindungi ku juga membantu ku."


Akhirnya Jiyeon mengatakannya juga, dia sudah berhutang banyak sekali pada Sehun dan entah bagaimana dia akan mengembalikan hutang itu. Setidaknya dia harus berterima kasih kepada Sehun karena telah membantunya tadi.


Sehun tersenyum tipis. "Hem.. Aku melakukannya dengan baik bukan?"


Jiyeon memalingkan wajah dan tersenyum kecil. "Ya, kau yang terbaik. Sudah layak mendapat penghargaan seni peran."



Maaf kalau ada salah kata, semoga menghibur🤗


Di tunggu vommetnya💜