
.
.
.
.
.
.
Jiyeon menatap sengit Jieun yang duduk di seberangnya, ia masih kesal dengan hadiah yang Jieun berikan. Karena hadiah sialan itu, semalaman penuh Sehun menggodanya bahkan pagi ini ketika mereka bangun tidur Sehun masih saja mengungkit tentang lingerie itu. Membuat wajah Jiyeon memerah karena malu saja.
Jieun pura-pura tidak sadar jika Jiyeon memperhatikan, ia asik memasukan sandwich kedalam mulutnya dengan ekspresi wajah polos seolah tidak melakukan kesalahan apapun. Ia senang sekali bisa memberikan hadiah seperti pada Jiyeon, dia memberikan hadiah itu dengan harapan Jiyeon dan Sehun bisa segera memberikan ponakan yang lucu dan menggemaskan. Bukankah niatnya sangat baik?
"Jiyeon kau akan pergi kekantor ayahmu bukan, hari ini?" Suara Sehun memecah keheningan di meja makan. Jiyeon langsung menoleh pada Sehun.
"Oh, iya.. dewan direksi sudah menunjuk CEO sementara untuk perusahaan, aku ingin melihat dulu sebelum menyetujui rekomendasi dewan direksi,"
"CEO sementara? Kenapa tidak kau saja yang menjadi CEO? Wah~ jika itu terjadi, kalian adalah pasangan yang menakjubkan!" Celetuk Baekhyun sambil menatap Jiyeon dan Sehun bergantian. Ia membayangkan betapa dua orang ini akan menjadi Trending topik di seluruh pemberitaan. Dan tentu perusahaan keduanya akan semakin maju pesat mengalahkan perusahaan yang lain jika bekerja sama.
"Aku sudah memintanya untuk menjadi CEO juga, tapi dia menolak." Jawab Sehun, setelah pamannya di tangkap beberapa waktu yang lalu, Sehun sudah mencoba meminta Jiyeon untuk menjadi CEO tapi Jiyeon menolak dengan alasan masih butuh banyak belajar dan mengurus sebuah perusahaan bukanlah keinginannya, ia pun mencoba memahami keinginan Jiyeon.
"Kenapa? Bukankah akan bagus jika kau sendiri yang menjadi CEO?" Baekhyun kadang tidak mengerti dengan pemikiran wanita, kenapa mereka selalu suka dengan hal-hal yang rumit.
"Memang, tapi aku masih belum tertarik lagi pula kemampuan ku masih sangat lemah untuk mengurus sebuah perusahaan," Baekhyun hanya manggut-manggut, mencoba memahami ucapan Jiyeon, kemudian ia kembali memasukan makanan kedalam mulutnya.
"Aku akan mengantarmu," Ucap Sehun ketika telah selesai memakan sarapannya. Dia masih punya sedikit waktu untuk mengantar Jiyeon ke kantor ayahnya sebelum meeting.
"Tidak perlu, biar Tao saja yang mengantarku.." Jiyeon sudah merepotkan Sehun kemarin dengan memintanya menemani ke pemakaman padahal dia tahu bahwa Sehun bukan orang yang longgar, pekerjaan di kantornya menanti. Jadi lebih baik ia pergi bersama dengan Tao saja. Huang Zitao adalah anak buah Sehun yang beberapa waktu lalu juga mengantar Jiyeon ke perusahaan Ayah saat penangkapan sang paman.
Meskipun Tao berwajah dingin dan menakutkan serta tak banyak bicara, tapi Jiyeon tahu bahwa pria itu cukup baik dan bisa di andalkan, jadi tidak masalah untuk percaya dengannya. Dia juga orang kepercayaan Sehun.
"Kau yakin?" Jiyeon menganggukkan kepalanya sebagai jawab, "Baiklah kalau begitu, jika ada apa-apa langsung hubungi aku, kau mengerti?" Lagi Jiyeon mengangguk, belakangan Sehun semakin perhatian dan terlalu khawatir, entahlah mungkin itu hanya perasaan Jiyeon saja.
Sehun dan Baekhyun pergi meninggalkan rumah setelah selesai sarapan, dan sekarang hanya tinggal Jieun dan juga Jiyeon saja. Jiyeon langsung menarik telinga Jieun membuat gadis mungil itu mengaduh kesakitan.
"Aw, aw... sakit Jiyeon, sakit.." Eluhnya dan memukul-mukul tangan Jiyeon agar melepaskan tangan yang menarik telinganya.
"Bagus ya? Sepertinya kau itu senang sekali menjahili ku!" Jiyeon melepaskan tangannya, kemudian berkacak pinggang, matanya menatap Jiyeon dengan tatapan yang errr... menakutkan. Jika ini di film anime, mungkin mata Jiyeon akan memiliki efek seperti ada apinya. Jieun tersenyum lebar, memperlihatkan giginya yang mirip kelinci.
"Gara-gara hadiah aneh mu itu, Sehun menggodaku habis-habisan. Lee Jieun kau ini," Jiyeon gemas sekali, ingin rasanya mencubit pipi Jieun dan menguyel-uyelnya.
"Maksudku kan baik Jiyeon memberikan hadiah itu,"
"Baik dari mananya? Yang ada aku malu, Sehun pikir aku yang sengaja membelinya.. Isshhh..." Jiyeon memutar bola matanya malas, ia benar-benar kesal sekali dengan gadis mungil di hadapannya ini. Jieun langsung memeluk Jiyeon, merayunya agar tidak marah lagi.
"Maaf maaf... lain kali aku tidak akan memberikan hadiah semacam itu lagi, jangan marah, eoh?" Jieun mengedip-ngedip kam matanya, berlaga sok polos agar Jiyeon tidak marah lagi.
"Ah.. sudahlah..." Jiyeon melepaskan pelukan Jieun, "Aku harus pergi sekarang, pokoknya jangan lakukan itu lagi, mengerti?" Jieun mengangguk-angguk kepalanya seperti anak anjing. Jiyeon geleng-geleng kepala, kemudian berjalan menuju kamarnya, ia masih harus ke kantor ayahnya guna melihat sang CEO baru.
Jieun melihat Jiyeon sudah pergi, kemudian ia menghela napas, "Sepertinya debut keponakan ku yang lucu dan mengemaskan akan di tunda cukup lama, aku harus memikirkan cara yang lain," Jieun bersemangat dan segera berlalu dari sana, ia mau ke salon miliknya dulu karena beberapa hari libur.
...
Jiyeon sampai di depan gedung perusahaan sang ayah, Tao membukakan pintu untuk Jiyeon dan gadis itu keluar dari dalam mobil dengan gaya angkuhnya. Semua pegawai yang berjejer di depan gedung memberikan salam hormat pada Jiyeon.
"Apa saya perlu menemani anda, Nona?" Tanya Tao setelah menutup pintu mobil untuk Jiyeon.
"Tunggu saja di mobil, aku tidak akan lama.." Jawab Jiyeon, Tao mengangguk mengerti dan menjalankan perintah sang majikan tanpa membantah.
Salah seorang karyawan laki-laki paruh baya menghampiri Jiyeon, "Selamat pagi Nona Park, senang bisa melihat anda lagi," Ucap sang pria paruh baya, Jiyeon kenal orang ini dia adalah sekretaris sang ayah yang sempat di pecat oleh sang paman, Jiyeon tersenyum dan membungkuk sedikit, mengerikan salam.
"Saya juga senang bisa melihat paman lagi,"
Pria paruh baya itu tersenyum, tak menyangka akan mendapatkan kesempatan untuk bekerja di perusahaan ini lagi, dan semua karena Jiyeon, "Mari, saya akan menunjukan jalan ke ruang pertemuan."
"Terima kasih paman."
Jiyeon mengikuti langkah kaki sang pria paruh baya masuk kedalam gedung. Ia masuk ke sebuah lift khusus VIP perusahaan ini. Jiyeon sendiri yang meminta ayahnya membuat lift ini saat masih muda dulu, ia terinspirasi dari perusahaan lain yang ia kunjungi bersama dengan sang ayah. Mengingat ayahnya membuat Jiyeon kembali sedih.
"Tuan Park pasti bangga dengan anda, Nona," Ucap sang pria paruh baya membuyarkan lamunan Jiyeon.
Jiyeon menghela napas, "Aku akan merasa senang bila memang benar begitu, paman." Perusahaan ini penuh kenangan bersama dengan ayahnya, Jiyeon kadang iseng datang ke perusahaan hanya untuk mengganggu sang ayah yang sedang bekerja. Tak jarang mereka makan siang bersama, ia merindukan ayah dan ibunya.
Karena terlalu asik melamun Jiyeon sampai tak sadar jika pintu lift sudah terbuka dan telah sampai di lantai yang ia tuju, pria paruh baya itu menyadarkan Jiyeon dari lamunan dan Jiyeon segera keluar dari dalam lift. Ia berhenti di sebuah pintu kayu berwarna coklat, di dalam sana ada dewan direksi dan juga CEO sementara yang akan menggantikannya sampai ia siap.
Pria paruh baya itu membukakan pintu ruangan untuk Jiyeon, ketika pintu terbuka lebar Jiyeon masuk kedalam, "Selamat pagi semuanya, maaf saya terlambat.." Ucap Jiyeon dan membungkuk hormat pada semua orang yang ada di sana.
Pria itu berdiri, merapikan jasnya sebelum membalikkan badan. Jiyeon masih di sana menunggu pria itu berbalik, ia tampak masih muda. Pria itu berbalik, mengangkat kepala sambil memberikan seulas senyum pada Jiyeon, "Selamat pagi Nona Park Jiyeon.." Ucapnya ramah. Untuk beberapa saat Jiyeon seperti tidak asing dengan sosok itu hingga pria itu kembali membuka suara, "Perkenalkan, saya adalah Park Chanyeol CEO baru yang di tunjuk oleh dewan direksi," lanjutnya masih dengan senyum yang menawan.
"Park Chanyeol?" Jiyeon bergumam, alisnya saling bertautan sedangkan otak sibuk berpikir seolah nama itu tak asing di pendengarnya.
"Sudah lama tidak bertemu, Yeonnie.." Jiyeon menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan sebelah tangan, di dunia ini hanya ada dua orang saja yang tahu nama itu, kedua orang tuanya dan satu lagi teman sepermainannya saat masih kecil. Chanyeol senang melihat reaksi terkejut Jiyeon, ia yakin Jiyeon tidak akan lupa dengan nama panggilan saat kecil itu.
"Astaga.. Chanyeol, Yeol-ahhh!" Teriak Jiyeon girang, tak mengira bahwa ia bisa bertemu lagi dengan Chanyeol teman masa kecil sekaligus tetangganya. Semua orang tampak bingung dan kemudian mengerti jika dua orang ini sudah saling kenal.
"Sepertinya Nona Park sudah kenal baik dengan tuan Park, jadi tidak ada masalah bukan mengenai CEO pengganti sementara?" Tanya pria yang duduk di ujung sana.
"Iya tuan, saya sangat setuju.." Jawab Jiyeon tanpa basa-basi.
Disinilah mereka sekarang, di atas atap gedung perusahaan ayah Jiyeon
yang telah di ubah menjadi taman, keduanya duduk bersebelahan sambil meminum sekaleng soda yang di beli sebelum kemari.
"Bagaimana kabar mu? Maaf, aku tidak tahu jika paman sudah tidak ada dan begitu banyak masalah yang kau hadapi," Ucap Chanyeol mengawali pembicaraan mereka di pagi menjelang siang ini. Ia baru tahu semua berita tentang masalah perusahaan juga ayah Jiyeon yang sudah meninggal setelah tiba disini. Seharusnya ia juga mengikuti pemberitaan gosip dan bukan melihat tumpukan kertas saja.
Jiyeon terkekeh pelan kemudian menyenggol bahu Chanyeol, "Aku baik-baik saja, semua sudah berlalu tidak perlu merasa bersalah begitu... Kau sendiri, bagaimana kabar mu juga paman, bibi dan Yoora eonni? Ahh, aku merindukan mereka, apa mereka juga datang kesini?" Jiyeon memberikan banyak pertanyaan membuat Chanyeol gemas.
"Ishh... Kau ini tidak berubah, masih saja cerewet," Chanyeol mengacak rambut panjang Jiyeon gemas.
Jiyeon memberikan tatapan kesalnya karena Chanyeol merusak rambutnya yang tadi tertata rapi, "Yak! Jangan sentuh rambut ku.." Chanyeol hanya terkekeh mendengar protes dari Jiyeon. Rupanya ia benar-benar merindukan gadis ini, apalagi sekarang Jiyeon tampak semakin cantik dan matang. Ingin rasanya ia memeluk Jiyeon, tapi Chanyeol masih waras untuk tidak melakukan hal itu.
"Appa dan Eomma juga Yoora Noona tidak ikut, aku sendiri yang datang kesini setelah mendapatkan tawaran untuk menjadi CEO sementara di perusahaan appa mu," Jawab Chanyeol, Jiyeon manggut-manggut.
"Sayang sekali, padahal aku juga ingin bertemu dengan mereka," Jiyeon cemberut dan itu sukses mengundang tawa seorang Park Chanyeol.
"Lain kali aku akan membawamu menemui mereka." Ucap Chanyeol mencoba menghibur Jiyeon.
"Kenapa tidak mereka saja yang kesini, lagi pula aku tidak bisa pergi jika tidak mendapatkan izin dan aku yakin dia akan ngotot untuk ikut juga." Saat ini Jiyeon tengah memikirkan Sehun, tidak akan mudah mendapatkan izin dari pria itu.
Chanyeol mengernyit, "Dia? Dia siapa maksud mu?"
"Ah iya, kau pasti tidak tahu, yang aku maksud adalah Oh Sehun... emm... su-suami ku," Jiyeon tersenyum lebar setelah berhasil mengatakan kalimat terkahir nya, dia masih belum terbiasa mengatakan jika Sehun adalah suaminya, meskipun pernikahan ini hanya sandiwara tapi di mata hukum dan publik mereka tetap pasangan suami dan istri. Jadi mau tidak mau Jiyeon harus mengakui itu.
Chanyeol tersentak kaget dengan kalimat terakhir yang Jiyeon ucapkan. Ia masih mencoba mencerna ucapan Jiyeon dan berharap bahwa pendengarannya bermasalah, "Kau bilang apa? Suami?" Chanyeol mencoba memastikan. Oh tuhan ia berharap Jiyeon hanya salah bicara.
Jiyeon mengangguk, "Iya, suamiku.. Oh Sehun, dia adalah orang yang membantuku selama ini dan berkat dia aku bisa berdiri sampai di titik ini, semua karena Oh Sehun," Jiyeon hanya mengatakan fakta, tapi ia tidak sadar jika air muka Chanyeol berubah, rona bahagia tadi telah berganti dengan wajah muram.
Ucapan Jiyeon seperti tamparan keras untuk Chanyeol, dadanya terasa sesak dan sakit secara bersamaan, seperti di remas dan ditarik keluar dengan paksa. Lidahnya terasa kelu hanya untuk mengucapkan sepatah kata. Tuhan sepertinya sedang bermain-main dengannya dengan membuat orang yang ia cintai bersama dengan orang lain, Chanyeol benar-benar merasa buruk sekarang.
"Chanyeol, kau baik-baik saja? Kenapa wajahmu pucat begitu?" Jiyeon akhirnya menyadari perubahan ekspresi wajah Chanyeol, hanya saja ia tidak tahu apa yang terjadi dengan si pria.
Hancur sudah harapan Chanyeol, sekarang ia mulai berpikir dan menyesal kenapa baru datang sekarang, harusnya ia datang lebih awal, "Aku baik-baik saja.. Yak! Kenapa kau tidak memberitahuku jika sudah menikah? Kau ini," Chanyeol berusaha terlihat baik-baik saja meskipun tidak dengan hatinya yang kini terasa berdenyut nyeri.
"Maaf, semuanya terjadi begitu saja... lagi pula kau juga tidak pernah mengirim pesan atau menghubungi ku, bagaimana bisa aku memberitahu mu?,"
Chanyeol tersenyum masam, "Benar juga.."
"Kau benar-benar bodoh, Park Chanyeol.."
"Aku turut bahagia dengan pernikahan mu, lain kali kau harus mengenalkan suami mu padaku," Sekali lagi, Chanyeol mencoba menguatkan hati dan menerima kenyataan bahwa wanita yang amat ia cintai ini telah dimiliki orang lain, Chanyeol benar-benar menyesal karena baru datang sekarang. Jika saja, jika saja ia bisa memutar waktu dan datang sedikit lebih awal mungkin Jiyeon akan menjadi miliknya.
"Iya, aku akan mengenalkan mu dengannya nanti.." Entah Jiyeon terlalu polos atau benar-benar tidak peka, dia bahkan tidak bisa melihat betapa kecewa wajah di hadapannya kini.
"Terima kasih sudah kembali, Chan... Aku harap kau bisa menjadi CEO yang baik dan bisa di andalkan." Ucap Jiyeon ketika keheningan sempat menyelimuti tempat ini.
"Ya, aku tidak akan mengecewakan mu.." Chanyeol mengusap rambut Jiyeon dan tersenyum, meski senyumnya tak selebar tadi.
Jika saja disini tidak ada Jiyeon, Chanyeol pasti sudah berteriak kencang dan menangis—Mungkin. Sayangnya ia harus terlihat kuat agar Jiyeon tak curiga. Sekarang ia hanya bisa menatap wajah cantik di depannya, mengagumi tanpa bisa memiliki. Takdir benar-benar lucu sekali, seolah dunia tengah mempermainkannya. Ia kembali hanya untuk mengatakan bahwa ia mencintai Jiyeon dan ingin menikah dengannya, tapi siapa sangka apa yang ingin ia sampaikan harus ia simpan dan pendam sendiri karena wanita yang ia cintai telah menjadi milik orang lain.
"Jiyeon-ah.. aku mencintaimu.."
To be continue...
Hehehe... akhirnya bang Chan muncul ughaaaaa.. eaaa... siapa yang nungguin bang Chan muncul?.. kekeke
Semoga suka sama part kali ini dan semoga feelnya juga sampai yaa ke kalian...
Ini udah mulai masuk ke kisah cinta ya, huhuhu.... bentar lagi mantan pacar Thehun juga muncul kok😬
See you next part!
LiannQueen♡️