

.
.
.
Jiyeon perlahan membuka kedua matanya yang tertutup setelah kesadarannya kembali, iris matanya mencoba menyapu seluruh isi ruangan yang tak asing lagi baginya walau baru beberapa jam tinggal di kamar ini. Hembusan napas resah meluncur begitu saja dari bibir kecilnya. Lagi-lagi dia berhasil di selamatkan dan rencananya untuk mengakhiri hidup berhasil di gagalkan. Kenapa orang itu tidak membiarkan saja Jiyeon mati seperti apa yang Jiyeon inginkan? Kenapa mau susah payah menyelamatkan Jiyeon? Jiyeon benar-benar tidak mengerti, apa tujuannya sebenarnya? Jiyeon menatap langit-langit kamar ini, pikiran dan tubuhnya tengah berada di tempat yang berbeda sekarang.
"Kau sudah bangun". Suara itu, Jiyeon kenal sekali dengan suara yang beberapa hari terakhir menghiasi indra pendengarannya. Suara seseorang yang baru saja dia pikirkan. Suara siapa lagi jika bukan Sehun. Jiyeon menoleh ke samping kanan, di lihatnya Sehun berjalan mendekat membawa sebuah nampan berisi makanan juga susu. Apakah dia pikir Jiyeon anak kecil? Kenapa juga repot-repot membawakan makanan kesini.
Sehun meletakkan nampan itu di meja, ia beralih menatap Jiyeon yang rupanya masih memperhatikan dirinya sejak ia bersuara. "Makanlah sarapan mu, sejak kemarin kau belum makan apapun setelah itu minum obat". Ucap Sehun mengingatkan, dia ingin sekali marah dan memaki Jiyeon, tapi mengingat kondisi si gadis Sehun mengurungkan niatnya, Dokter mengatakan bahwa Jiyeon mengalami trauma, entah trauma seperti apa yang terjadi pada gadis ini juga menyarankan agar Sehun menjaga ucapan dan tindakannya jadi percuma saja marah pada Jiyeon untuk saat ini, tak akan merubah apapun dan yang ada Jiyeon akan meledak kemudian melakukan hal yang tidak ingin Sehun bayangkan.
"Setelah makan dan minum obat, bersihkan diri mu juga ganti pakaian. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan berikan dengan melakukan hal bodoh, mengakhiri hidupmu tidak akan menyelesaikan apapun". Sehun mencoba menasehati Jiyeon agar nanti si gadis tak lagi melakukan hal bodoh, akan sangat merepotkan berurusan dengan orang yang berulang kali mencoba mengakhiri hidupnya sendiri. Jiyeon tak mengatakan apapun, enggan bersuara juga membalas ucapan Sehun. Hanya terus diam memperhatikan Sehun. Hanya Jiyeon sendiri yang tahu apa isi di dalam hati juga otaknya. Sehun juga tak keberatan, terserah Jiyeon mau mendengarkan ucapannya atau tidak.
"Aku akan pergi sekarang, jangan melakukan hal bodoh seperti kemari, ingat?" Sehun berbalik, Jiyeon masih tak berbicara sepatah kata pun tak keluar dari mulut kecilnya, hanya memandang punggung Sehun yang menghilang ketika pintu kamarnya tertutup. Anehnya setelah Sehun pergi sebuah air mata dengan tidak tahu dirinya meluncur begitu saja dari pelupuk mata Jiyeon. Entah itu bentuk penyesalan atau sedih akan suatu hal.
Setelah dari kamar Jiyeon, Sehun turun kebawah memeriksa apakah mobil telah siap dia hendak pergi ke suatu tempat menyelesaikan sebuah masalah kecil yang di buat oleh orang yang tak bertanggung Jawab. Namun ketika sampai di bawah dia malah melihat Baekhyun yang tengah bertengkar dengan Jieun layaknya anak kecil. Ya, ini adalah hal bisa yang sering Sehun lihat, jadi dia tidak terkejut.
"Ini milik ku pabo bagaimana bisa kau memakannya? Aku menyimpannya untuk ku makan sambil menonton film, sialan!!" Jieun berang, cemilan yang ia simpan baik-baik dalam kulkas malah berakhir di perut Baekhyun, hanya tinggal bungkusnya saja yang tersisa membuat Jieun semakin marah, apalagi cemilan itu adalah edisi terbatas yang hanya tinggal lima biji saja di toko. Sangking kesalnya dia menarik rambut rapi Baekhyun, menariknya dengan sangat keras.
Baekhyun tak mau kalah, dia juga ikut menarik rambut panjang Jieun dengan keras. Terjadilah aksi tarik menarik rambut seperti anak SMA yang sedang bertengkar. "Aku kan sudah minta maaf, nanti juga akan aku ganti". Baekhyun berkilah, berharap dengan ini Jieun melepaskan dirinya. Sungguh dia tidak sengaja memakan cemilan itu, dia pikir itu adalah sisa belanja bulanan Krystal yang tak habis di makan, makanya dia dengan berani memakan cemilan itu. Tahu-tahunya setelah habis sang empunya muncul dan marah-marah.
"Bagaimana kau akan menggantinya? Ini edisi terbatas, hanya ada lima di toko dan kau memakannya bodoh!" Dengan susah payah dia berhasil mendapatkan cemilan itu, berebut dengan banyak orang malah Baekhyun yang menikmati hasil jerih payahnya. Ingin rasanya Jieun menangis.
"Issshh... Akan aku beli dengan tokonya nanti, sekarang lepaskan rambut ku! Ini sakit!"
"Tidak akan! Kau dulu yang lepaskan!"
Tidak ada yang mau mengalah, baik Baekhyun dan Jieun saling menarik rambut satu sama lain dengan keras, seolah rambut itu siap keluar dari akarnya. Mereka ini memang kerap kali bertengkar masalah sepele, berebut hal yang tidak penting, menjahili satu sama lain, benar-benar seperti anak kecil. Bahkan pernah satu ketika saat Baekhyun mandi keramas Jieun memadamkan listrik hingga air kran tidak menyala dan membuat mata Baekhyun perih terkena sampo dan Baekhyun besoknya membalas dengan memasukan cabe yang banyak di makanan Jieun hingga si gadis bolak-balik ke kamar mandi untuk buang air besar.
Sehun melangkah mendekat, telinganya sudah tak tahan mendengar ocehan dua manusia yang selalu bertengkar bak kucing dan tikus. Dua orang yang masih juga tak ada yang mau mengalah. Sehun menarik telinga Jieun juga Baekhyun bersamaan. Membuat mereka berdua kaget.
"Aduhhh... aduhh..."
"Aw... aw.. aw.."
Dua orang itu mengaduh kesakitan dan segera melepaskan tangan mereka yang tadinya saling tarik menarik rambut. Baekhyun dan Jieun melirik Sehun, karena langkah Sehun yang tenang mereka sampai tidak sadar jika Sehun sudah ada di belakang mereka sejak tadi.
"Sehun sakit, lepaskan". Jieun memohon, Sehun akhirnya melepaskan tangannya dari telinga dua orang itu.
"Apa sudah cukup bermainnya? Kalian pikir, berapa umur kalian? Seperti anak kecil saja". Sehun menatap Jieun dan Baekhyun bergantian, mereka menundukkan kepala tak bernai menatap Sehun yang di pastikan tatapan Sehun saat ini sangat menakutkan.
"Maaf Sehun.." Ucap dua orang itu bersamaan.
"Ini karena si bodoh itu memakan cemilan ku, aku jadi kesal". Jieun melakukan pembelaan agar tak di salahkan.
"Yak! Aku kan sudah minta maaf, kenapa kau masih menyalahkan ku? Nanti juga akan aku ganti"
"Sudah cukup!!" Baekhyun dan Jieun langsung membungkam mulut mereka sendiri, semakin mereka bukan mulut maka Sehun akan semakin marah.
"Aku tidak mau mendengar kalian bertengkar lagi, jika kalian bertengkar keluar saja dari rumah ku. Jieun sekarang kau jaga gadis itu, awasi dia dan pastikan dia memakan sarapannya. Kau mengerti?" Jieun mangut-mangut tanda ia mengerti perintah Sehun.
"Dan kau, ikut aku!"
Sehun melangkah meninggalkan ruang makan, Baekhyun mengikuti di belakangnya tanpa membantah. Jieun sendiri merasa lega karena akhirnya Sehun pergi dan tidak memarahinya lagi. Buru-buru dia naik ke atas, ada seorang gadis yang harus ia awasi sekarang.

Brak!
Suara kursi yang hancur setelah di lempar ke dinding dengan kasar. Seseorang yang bersembunyi di bawah meja ketakutan, tak menyangka jika tempat persembunyian akan di ketahui dengan begitu mudah bahkan sebelum ia menikmati kebebasannya. Pria itu merangkak keluar dari bawah meja, dia segera bersujud di bawah kaki seorang pria yang kini dengan gayanya yang angkuh duduk di sebuah sofa, iris matanya menatap jijik pada si pria yang bersujud di bawah kakinya meminta pengampun. Senyum sinis tak luput menghiasi wajah tampannya.
"To-tolong ampuni saya tuan Oh, saya bersalah saya bersalah... tolong ampuni saya". Ucapnya dengan suara bergetar ketakutan. Dia sudah tidak bisa kabur lagi, tempat persembunyian telah di kepung dari berbagai sisi hingga tak ada lagi celah untuknya bisa lari. Syukur-syukur masih bisa mendapatkan pengampun dari Sehun, itu lebih dari cukup. Walaupun harus menjatuhkan harga dirinya sejatuh-jatuhnya.
"Ampun? Kau meminta pengampun dari ku setelah bernai menggelapkan uang perusahaan, bersenang-senang dengan uang yang kau curi? Oh, berapa banyak kerugian yang aku peroleh karena dirimu? Masih kah aku harus mengampuni mu?"
Sehun mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya, dia menodongkan benda itu tepat di atas kepala si pria. Sehun tersenyum remeh, dia mematik pistolnya. Membuat suara yang begitu nyaring hingga seseorang yang bersujud di kakinya terkejut berpikir bahwa nyawanya telah berpisah dengan jasadnya. Namun rupanya pistol Sehun tak mengeluarkan apapun hanya suara nyaring saja.
"Aku akan melakukan apapun Tuan, aku mohon jangan bunuh aku". Lagi, dia memohon belas kasih seorang Sehun. Tapi sayangnya Sehun bukan orang yang berbelas kasih bagi orang-orang seperti mereka.
Sehun memasukan sebuah peluru kedalam pistolnya, kembali ia menodongkan pistol itu ke arah si pria. Tanpa ragu. Seolah tidak peduli jika peluru itu menancap di kepala si pria dan merenggut nyawanya. Sehun tersenyum sinis dan detik berikutnya dia menarik pelatuk pistolnya.
Dooorrr!
Peluru itu berhasil meluncur, menembus kepala si pria, membuat lubang tepat di dahinya serta mengeluarkan darah kental berwarna merah. Dengan begini selesai sudah. Dia tak akan lagi membuat masalah di masa depan dan merugikan orang lain. Sehun bukan orang yang suka membunuh atau mempermainkan nyawa orang, tapi merekalah yang mengusik ketenangan Sehun hingga Sehun harus melakukan hal semacam ini untuk memberikan mereka pelajaran.
"Bakar tempat ini... Juga mayatnya". Perintah Sehun pada dua orang yang berdiri di belakangnya. Mereka ini adalah orang-orang Sehun yang amat setia dan tunduk pada perintah Sehun.
Sehun berdiri, ia memberikan pistol itu pada anak buahnya dan mereka memberikan sebuah sapu tangan pada Sehun untuk membersihkan debu dan kotoran yang menempel di tangan Sehun. Sehun memakai kaca mata hitam dan keluar dari tempat yang bisa di sebut gudang. Di luar sana Baekhyun sudah menunggu, di bukanya pintu mobil hingga Sehun bisa segera masuk kedalam mobil ketika sudah dekat.
Mobil itu berjalan bersamaan dengan terbakarnya tempat itu. Sehun meliriknya sekilas lalu pura-pura tidak lihat dan tidak tahu. Ini adalah sisi lain yang tidak di ketahui orang lain selain mereka yang Sehun percayai, bahkan keluarganya sendiri pun tidak tahu tentang sosok Sehun, yang dingin juga kejam. Tak ada belas kasih untuk orang-orang yang mengusik dirinya. Jadi jangan coba-coba mengusik atau bermain-main dengan Sehun jika kau masih sayang dengan nyawamu sendiri.
"Krystal bilang, dia sudah mendapatkan apa yang kau inginkan". Ucap Baekhyun ketika mereka berhenti di lampu merah.
"Tak ku sangka, dalam waktu kurang dari sehari dia bisa mendapatkan apa yang aku inginkan. Good girl". Sehun tersenyum tipis sambil melihat keluar jendela. "Kita langsung ke kantor"
"Baik"
Baekhyun menjalankan mobilnya ketika lampu lalu lintas telah berganti warna menjadi hijau.

Krystal dengan pakaian serba hitam dan jaket kulitnya memasuki ruangan Sehun, di tangannya sudah ada sebuah map berwarna coklat. Tentu saja itu adalah semua informasi yang ia dapatkan dengan tidak mudah. Krystal tidak suka membuat orang menunggu, makannya dia dengan sebaik mungkin memanfaatkan waktu juga koneksinya untuk mencari semua informasi ini. Sehun sudah menunggu, Krystal meletakkan map itu tepat di depan Sehun lagi-lagi dengan gaya sangarnya. Benar-benar wanita yang tak memiliki rasa takut sama sekali.
"Ini informasi yang kau inginkan, kau sudah mendapatkannya, sekarang mana imbalan untuk ku?" Tentu saja Krystal tak mau merugi, dia mengeluarkan begitu banyak usaha dan kerja keras untuk semua ini, tentu harus ada harga mahal untuknya.
Sehun tak perlu kaget, dia sudah tahu watak dari Krystal yang memang selalu memikirkan untung rugi ketika melakukan pekerjaan bahkan jika itu dengan sahabatnya sendiri. Gadis ini pandai memanfaatkan keadaan dan dia juga pandai dalam menyamar serta menipu orang.
"Apa yang kau inginkan?"
"Mobil Lamborghini keluaran terbaru"
"Baiklah, kau bisa mendapatkannya"
"Asaaaaa... Kau memang yang terbaik Sehun!!"
Krystal tersenyum lebar sambil menunjukan jari jempolnya pada Sehun. Tak mau buang-buang waktu dia segera keluar, mobil Lamborghini keluaran terbaru sudah menunggu untuk ia tumpangi. Bukan masalah, mobil semacam itu bisa Sehun beli bahkan tidak hanya satu sepuluh pun sanggup Sehun beli.
Sehun berbicara pada seseorang lewat telepon setelah Krystal pergi. Dia meminta Baekhyun untuk menemani Krystal membeli mobil, itulah yang dia lakukan. Selepas menghubungi Baekhyun Sehun mulai membuka map coklat yang Krystal berikan tadi, dia mulai membaca data seorang Jiyeon dengan teliti tanpa terlewat satupun.
"Jadi, dia Park Jiyeon putri pemilik Hansang Grup?" Sehun tersenyum tipis dan kembali membaca laporan yang Krystal dapat. Di sana juga ada beberapa foto Jiyeon sejak kecil hingga berusia 20 Tahun. "Ah.. Aku ingat sekarang, Tuan Park telah tiada beberapa hari yang lalu dan setahu ku perusahaan itu sekarang telah di ambil alih oleh istri keduanya. Ini kah alasan kenapa dia ingin mengakhiri hidupnya?" Sehun mencoba menerka-nerka apa yang menjadi alasan Jiyeon ingin mengakhiri hidup. Sehun membaca lembar berikutnya, ada sebuah foto Jiyeon dengan seorang pria, di balik foto itu ada sebuah keterangan yang mengatakan bahwa itu adalah foto Jiyeon bersama dengan kekasihnya.
"Yoo Seungho? Sepertinya aku pernah mendengar nama ini, dia punya kekasih lantas kenapa ingin bunuh diri? Mereka terlihat saling mencintai". Sehun sedikit membulatkan matanya ketika melihat tulisan yang lain yang mengatakan bahwa kekasihnya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. "Wahh... pria brengsek rupanya". Sehun memasukan kembali semua informasi tentang Jiyeon, dia akan menemui Jiyeon dan bertanya langsung pada gadis itu. Sekarang dia sedikit paham permasalahan hidup Jiyeon.

Jieun kini mengupas apel di kamar Jiyeon, mereka menonton Tv-tidak sebenarnya hanya Jieun yang menonton sejak tadi sedangkan Jiyeon tetap diam sambil memejamkan mata. Yang penting bagi Jieun adalah Jiyeon tak mencoba bunuh diri, jadi dia bisa tenang menonton TV.
Jiyeon tidak benar-benar tidur, dia hanya memejamkan mata tapi telinga masih bisa mendengar suara-suara. Jieun sibuk menonton acara gosip yang ia sukai, yah dia ini suka sekali menonton acara gosip apalagi gosip tentang idol-idol atau aktor kesukaannya.
".... Hari ini kita akan membahas tentang berita yang baru-baru ini hangat di perbincangan oleh masyarakat, berita tentang kasus di balik kematian sang CEO Hansang grup yang telah kita tahu bahwa Park Jungsu meninggal dengan mendadak dan keluarga menolak melakukan otopsi..."
Jiyeon langsung membuka kedua mata, menatap layar TV dengan serius. Itu, pembawa acara berita itu baru saja menyebutkan nama ayahnya.
"... Putri tertuanya yaitu Park Jiyeon juga tiba-tiba menghilang setelah acara pemakaman sang ayah, menurut kabar yang kami dapat di duga putrinya kabur bersama sang kekasih dengan membawa seluruh aset milik sang ayah, bisa di bilang bahwa dialah dalang di balik kematian sang ayah yang misterius... bala bala..."
Jiyeon menggelengkan kepalanya, berita itu bohong dia tidak melakukan semua itu. "Tidak... tidak... tidak... bukan aku, bukan aku yang membunuh Appa. TIDAAAKKKKKKK!!"
Jieun yang duduk di bawah terkejut mendengar teriakan Jiyeon. Jiyeon mengamuk, dia hilang kendali dan menghancurkan semua barang yang ada di dalam kamar. "AKU BUKAN PEMBUNUH!! KALIAN BOHONG! BERITA ITU BOHONG!!"
Prankkk!
Vas bunga besar di atas meja hancur berkeping-keping, Jiyeon mengila dan Jieun benar-benar terkejut dengan situasi yang tak terduga ini. Tak menyangka bahwa Jiyeon akan mengamuk seperti ini. Dia mendekati Jiyeon tapi karena takut, dia berlari keluar mencari seseorang yang bisa menolongnya.
Kebetulan, Sehun baru sampai di rumah, dia membuka pintu dan mendengar kekacauan di lantai dua juga melihat Jieun yang ketakutan turun kebawah. "Sehun-aahhh!! Tolong! Sehunnn!! Gadis itu, dia menggila!" Teriak Jieun dan berlari menghampiri Sehun.
"Ada apa? Bicara yang jelas!" Tanya Sehun ketika Jieun sudah berada di hadapannya.
"Sehun, kau harus menghentikannya, jika tidak dia akan mengakhiri hidupnya lagi. Cepat!!"
Sehun mengerti, dia langsung berlari menaiki anak tangga dengan cepat. Dia melihat seisi kamar Jiyeon hancur berantakan dan gadis itu menangis serta berteriak histeris.
"AKU BUKAN PEMBUNUH!! AKU BUKAN PEMBUNUHHHH!! MEREKA BOHONG! MEREKA YANG MEMBUNUH BUKAN AKU!!" Jiyeon menggeleng-gelengkan kepalanya, menatap Sehun dengan pandangan penuh luka, wajahnya terlihat menyedihkan dan putus asa, seolah tak ada lagi harapan untuk hidup. "Aku bukan pembunuh, mereka memfitnah ku... Mereka yang telah membunuh Appaku". Ucap Jiyeon semakin melemah di akhir kalimatnya.
Sehun mendekat, dia memegang kedua bahu Jiyeon. "Sadarlah Jiyeon! Sadar!" Sehun mengguncang tubuh Jiyeon berusaha membuat Jiyeon tenang dan menyadarkannya lagi. Jiyeon menatap Sehun, kedua iris mata mereka bertemu.
"Aku bukan pembunuh, mereka mereka... mereka yang membunuh Appa ku"
"Iya aku tahu! Kau bukan pembunuh, aku percaya padamu Jiyeon kau tidak melakukan hal itu. Sekarang kendalikan dirimu, sadarlah!!"
Tubuh Jiyeon sudah tak setegang tadi, isakan tanginya juga tak sekeras sebelumnya, ucapan Sehun berhasil membuat Jiyeon luluh dan kini dia lemas, untungnya Sehun menahan kedua bahu Jiyeon hingga dia tidak jatuh. "Tenaglah, tenang... Aku tahu kau bukan pembunuh, kau tidak mungkin membunuh ayah mu, aku percaya padamu". Jujur saja, Jiyeon merasa senang setidaknya ada satu orang yang percaya padanya dan itu membuat Jiyeon terharu.
Melihat wajah Jiyeon yang terlihat menderita dan penuh luka, Sehun tak tahan untuk tidak menarik gadis itu dalam dekapannya yang hangat, Sehun mengusap rambut panjang Jiyeon yang berantakan. Mereka yang telah memanfaatkan keadaan dan menjadikan Jiyeon sebagai kambing hitam harus mendapatkan balasan atas apa yang mereka lakukan. Sehun tak akan tinggal diam dan berpangku tangan melihat mereka tertawa bahagia di atas penderitaan seorang gadis malang seperti Jiyeon. Sehun pasti akan membantu Jiyeon membalas semua rasa sakit yang gadis ini dapat.