President'S Priceless Wife

President'S Priceless Wife
Part 14




.


.


.


.


.


Jam menunjukan pukul dua dini hari, baik Jiyeon ataupun Sehun sudah tertidur lelap sejak beberapa jam yang lalu. Namun, tiba-tiba di tengah tidurnya yang nyenyak Jiyeon mendengar suara Sehun yang mengigau. Semakin lama suara itu semakin terdengar keras dan mengusik tidur lelap sang gadis. Mau tak mau Jiyeon membuka mata dan berbalik melihat keadaan Sehun. Mata si pria terpejam, namun mulutnya terus mengigau kan sesuatu.


"Eommaaa... Eommaa... Eommaa.." Ucapan Sehun yang lamat-lamat Jiyeon dengar.


Jiyeon beringsut bangun dari posisi tidurnya. "Sehun... Sehun.." Panggil Jiyeon mencoba menyadarkan Sehun. Namun rupanya panggilan Jiyeon tak cukup untuk membuat Sehun bangun, justru semakin membuat Sehun terus menyebut kata ibu.


Peluh keringat dingin membasahi hampir seluruh wajah Sehun dan terdapat lipatan-lipatan kecil di dahinya yang menandakan bahwa dirinya tengah bermimpi buruk. Dalam kondisi tak sadar, tangannya yang sehat menggenggam erat ujung selimut. Gelisah. Jiyeon tidak tahu apa yang sedang Sehun impikan hingga mampu membuatnya jadi seperti ini.


"Sehun.. Oh Sehun.." Jiyeon menggoyang tubuh Sehun pelan. Karena tetap tak mendapat respon Jiyeon mencoba memeriksa suhu tubuh Sehun dan benar saja, si pria tengah dilanda demam. "Oh ya Tuhan, panas sekali." Gumam Jiyeon setelah memeriksa suhu tubuh Sehun.


Jiyeon menyibakkan selimut tebal yang menutupi setengah tubuhnya. Dia berlari kecil menuju pintu keluar kamar Sehun. Karena semua penghuni rumah sudah tidur dan tak mungkin Jiyeon membangunkan mereka di saat seperti ini, jadi Jiyeon harus melakukannya sendiri. Di ambilnya kotak P3K, lalu berlari kecil menuju dapur mengambil baskom dan mengisinya dengan air, setelah itu kembali ke dalam kamar Sehun.


Jiyeon meletakkan semua barang yang tadi ia ambil di atas meja dekat ranjang Sehun. Jiyeon menoleh ke sana kemari seperti orang kebingungan. Jiyeon membuka lemari baju milik Sehun, mencari sepotong kain atau handuk kecil untuk mengompres dahi Sehun. Setelah berhasil menemukan sepotong handuk kecil, Jiyeon menutup pintu lemari dan berlari kecil menghampiri Sehun.


Jiyeon duduk di ranjang dekat tubuh Sehun. Dimasukkannya handuk kecil itu kedalam air dingin, di peras dengan pelan kemudian di liat dan di letakkan pada dahi Sehun. Jiyeon juga mengelap keringat yang membasahi wajah Sehun dengan hati-hati mengingat wajahnya yang terluka. Jiyeon menguap, di liriknya jam yang ada di dinding kamar Sehun menunjukan pukul dua lebih tiga puluh menit. Jiyeon kembali mengambil handuk, memerasnya dan meletakkan di dahi Sehun. Begitu terus hingga enam kali berturut-turut.


Sehun sudah berhenti mengigau sejak beberapa menit yang lalu. Jiyeon mengambil termometer dari dalam kotak P3K guna memeriksa apakah suhu badan Sehun menurun. Si gadis menghela napas lega ketika termometer menunjukan bahwa suhu badan Sehun sudah mulai turun.


"Syukurlah, sudah tidak sepanas tadi." Gumam Jiyeon.


Jiyeon meletakkan handuk kecil itu ke dalam baskom. Besok pasti Sehun sudah tidak demam lagi. Jiyeon mulai mengantuk tapi melihat luka di wajah Sehun dia gemas sendiri. Dalam hati bertanya-tanya, siapa yang mengobati luka Sehun dengan begitu asal bahkan plester hanya ada di dahi saja.


Jiyeon mengeluarkan obat merah, kapas dan alkohol dari dalam kotak P3K. Dia masih bisa menahan rasa kantuknya sampai selesai mengobati luka Sehun. Dengan hati-hati Jiyeon melepaskan plester di dahi Sehun yang pasti rasanya akan sangat perih jika Sehun saat ini sadar. Jiyeon saja sampai membuat ekspresi aneh ketika plester itu setengah terlepas. Selesai melepas plester, ternyata luka di dahi Sehun cukup dalam. Jiyeon mengoleskan obat merah ke sekitar lukanya kemudian mengambil kain kasa yang sudah di liat menjadi persegi empat, dibalut di atas luka Sehun. Agar menempel Jiyeon memberikan dua plester di sana. Selesai dengan dahi Sehun. Jiyeon beralih pada luka yang lainnya.


Cetek!


Suara kotak P3K yang di tutup oleh Jiyeon. Akhirnya selesai juga mengobati luka Sehun dan jam sudah menunjukan angka tiga. Saatnya Jiyeon tidur karena matanya begitu berat.


Jiyeon berdiri, bersiap untuk kembali ke sisi lain ranjang Sehun karena jika besok Sehun bangun dan melihat dirinya tidur di sofa pastilah Sehun akan sangat marah dan kembali mengancamnya dengan membawa-bawa Hansang. Namun baru beberapa langkah saja tangan Jiyeon seperti di tarik, membuat tubuh Jiyeon berputar tak seimbang dan rubuh tepat di atas dada bidang Sehun.


"Aw.." Ringis Jiyeon, mendongak menatap Sehun yang masih terpejam. "Tidak sadar pun masih bisa melakukan ini?" Gumam Jiyeon tak percaya dan segera bangun dari atas tubuh Sehun. Tapi tangannya masih di genggam erat oleh Sehun. Gadis itu mendesis pelan dan berusaha melepaskan tangannya yang di genggam Sehun.


"Oh ayolah, masa iya aku kalah dengan orang yang tak sadar?" Gerutu Jiyeon yang kesal karena genggam tangan Sehun sangat erat.


"Jangan... Jangan pergi... Jangan.." Lagi-lagi Sehun mengigau. Apakah ini kebiasaan Sehun atau memang baru kali ini saja dia mengigau? Jiyeon mulai berpikir.


"Eh, dia menangis?" Gumam Jiyeon sedikit syok melihat air mata Sehun yang mengalir.


"Dia menangis saat tidur? Sehun sebenarnya kau sedang bermimpi apa?" Perasaan Jiyeon mulai diselimuti rasa kasihan juga penasaran. Ini pertama kalinya dia melihat sisi Sehun yang lemah dan tak berdaya.


Jiyeon mengusap air mata Sehun. "Tidak apa-apa, aku disini Sehun.. Tidurlah dengan tenang." Jiyeon juga mengusap-usap rambut hitam Sehun dengan penuh kelembutan, rupanya hal itu berhasil membuat Sehun kembali tenang dan perlahan nafasnya naik turun dengan teratur.


"Apakah aku harus seperti ini sampai besok pagi?" Tanya Jiyeon pada dirinya sendiri. Dia baru tidur beberapa jam dan sekarang Sehun menggenggam tangannya membuat Jiyeon tak bisa pergi.


"Oh Sehun, kenapa saat tidur pun kau sangat merepotkan?" Jiyeon menatap wajah Sehun, matanya semakin berat saja bahkan dia sudah berulang kali menguap menahan kantuknya.


Apa boleh buat, akhirnya Jiyeon memutuskan untuk tidur di samping Sehun dengan posisi miring menghadap si pria. Untungnya masih ada sisa tempat walaupun sedikit di samping Sehun ini. Asal tidak bergerak pasti tidak akan jatuh. Ya, itulah yang Jiyeon pikirkan.


Dalam hitungan menit gadis itu sudah mengarungi alam mimpi karena memang sudah tidak bisa menahan rasa kantuknya.


Gelapnya malam telah di gantikan dengan terangnya sinar mentari pagi. Sehun menggeliat kecil sebelum perlahan membuka kedua matanya.


Namun siapa sangka, ketika kedua mata itu sempurna terbuka yang pertama kali Sehun lihat adalah sosok wanita cantik yang tidur dengan memeluk dirinya dan tangan yang lain saling menggenggam.


Di tatapnya wajah polos Jiyeon yang sedang tertidur, hingga tak terasa senyum kecil terlukis di bibir Sehun. Ia juga menyadari sesuatu di atas mejanya, sebuah baskom berisi air dengan  handuk kecil juga kotak P3K.


"Apakah gadis ini merawat ku semalam?"


Jika melihat posisi Jiyeon yang telah berpindah, maka tak perlu di tanya Sehun sudah mendapatkan jawabannya. Entah mungkin karena Jiyeon tidur di sampingnya, Sehun merasa tidurnya begitu nyenyak dan tak terbangun seperti biasanya. Perlu di ketahui bahwa selama ini Sehun kesulitan untuk tidur dengan nyenyak, dia pasti akan terbangun saat tengah malam dan jika sudah begitu dia akan kesulitan untuk kembali tidur. Hal ini sudah terjadi sejak ibunya meninggal, tapi kemarin malam dia begitu saja tidur dan merasakan sosok ibunya ada bersama dirinya.


"Apakah semua ini karena dia? Mungkinkah?"


Sehun tak ingin berpikir terlalu banyak, bisa saja dia lelah dan bermimpi semalam makanya tidurnya nyenyak.


Jiyeon bergerak kecil dan perlahan matanya terbuka. Dia masih belum sadar jika kini Sehun tengah menatap dirinya. Hingga—


"Oh lihatlah, siapa yang kemarin malam menolak untuk tidur di ranjang? Sekarang malah memeluk ku."


Mata Jiyeon langsung terbuka lebar, menyadari bahwa jarak antara wajahnya dengan wajah Sehun sangat dekat. Buru-buru si gadis bangun dari posisi tidurnya dan berdiri di samping ranjang Sehun.


"I-ini tidak seperti yang kau pikirkan, semalam kau memegangi tangan ku dan membuat ku tidak bisa pergi. J-jadi aku terpaksa tidur di samping mu dan soal memeluk.. ku-ku rasa... itu karena aku tidak sadar, jangan salah paham." Jiyeon mencoba menjelaskan dengan wajah panik dan kebingungan. Dia benar-benar tidak bermaksud untuk memeluk Sehun, hanya saja Jiyeon terbiasa tidur dengan memeluk sesuatu jadilah dia berpikir bahwa Sehun adalah bantal guling nya.


Sehun tersenyum tipis. Jiyeon benar-benar konyol pikirnya. "Kenapa kau gugup begitu Jiyeon? Bukankah hal wajar jika suami istri tidur dengan saling berpelukan?" Sehun menyeringai.


Blush!


Pipi Jiyeon terasa panas, sudah bisa di pastikan bahwa pipinya kini merah padam karena malu mendengar ucapan Sehun yang santai itu.


"Suami istri apanya? Jangan mengada-ada!" Protes Jiyeon.


"Hei, kau lupa atau bodoh? Kita kan sudah menikah secara sah, bahkan kau juga menandatangani surat nikahnya. Lalu apa masalahnya jika kita tidur bersama?" Sehun semakin gencar menggoda Jiyeon, apalagi melihat ekspresi wajah Jiyeon yang sudah seperti tomat. Merah padam.


"Berhenti omong kosong Sehun, jangan bahas ini lagi." Jiyeon berbalik dan segera keluar dari dalam kamar Sehun. Jika terus berada di sana makan Sehun tidak akan berhenti menggoda dirinya.


"Tck, Sehun itu.." Gumam Jiyeon sambil berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.


"Ah sudahlah, nanti dia juga akan kembali lagi." Ucap Sehun yang kembali rebahan.


Jiyeon sudah selesai mandi dan berganti baju. Ia keluar dari dalam kamar, turun kebawah hendak membuatkan sarapan untuk semua orang. Namun ternyata Jieun sudah berada di dapur bersama dengan Baekhyun. Keduanya sibuk membuat sesuatu.


"Yak! Bodoh!" Jieun memukul belakang kepala Baekhyun karena memasukan begitu banyak garam kedalam sup, padahal setengah sendok saja sudah cukup. "Kau ingin meracuni semua orang, huh? Kenapa banyak sekali garamnya?" Omel Jieun.


Baekhyun mengusap-usap belakang kepala yang tadi di pukul Jieun. "Aku kan tidak tahu, kau bilang suruh tambahkan garam, ya aku tambahkan." Baekhyun membela diri.


"Tapi tidak sebanyak itu juga Baekhyun." Jieun memijit pelipisnya yang berdenyut-denyut. Sudah senang ada yang mau membantu membuat sup, tapi kalau tahu Baekhyun hanya akan mengacau pasti Jieun tidak akan mau menerima bantuan Baekhyun.


"Ya maaf, aku kan tidak tahu takarannya." Baekhyun tahu salah dan sudah seharusnya minta maaf. Dia hanya berniat membantu saja karena pasti semua orang sedang sangat lelah sekarang.


"Sudahlah, biar aku saja yang mengurusnya kau duduk saja di sana." Jieun mengambil alih. Baekhyun bergeser menjauh.


Jiyeon melihat semuanya, dan sepertinya dua orang itu bisa saja menghancurkan seluruh isi dapur jika terus bertengkar.


"Oh.. Jiyeon." Panggil Baekhyun ketika menyadari sosok Jiyeon yang berdiri di ambang pintu dapur.


"Kalian sedang membuat apa?"


"Tadinya aku mau membuat sup, tapi sepertinya ini tidak akan bisa di makan, rasanya benar-benar asin."


"Kalau begitu tambahkan air dan isiannya saja, pasti rasa asinnya berkurang."


"Eh, benar juga.."


Jieun melakukan apa yang Jiyeon katakan. Dia memotong wortel memasukannya kedalam panci.


"Kau butuh sesuatu Jiyeon?" Tanya Baekhyun karena sejak tadi Jiyeon hanya berdiri saja di sana.


"Tidak, tadinya aku mau membuat sarapan tapi karena sudah ada kalian ya sudah."


"Apa Sehun sudah bangun?"


"Hem, dia sudah bangun."


Baekhyun pergi untuk melihat keadaan Sehun sedangkan Jiyeon menggantikan posisinya untuk membantu Jieun membuat sup.


Jiyeon mengetuk pintu kamar Sehun sebelum ia masuk. Dia melihat Baekhyun yang tengah membantu Sehun memakai kemeja.


"Aishhh... Begini saja tidak bisa."


"Kau tidak lihat tangan ku terluka?"


"Iya iya, sudah ya. Aku keluar, sudah ada Jiyeon juga."


"Hem."


Baekhyun berdiri, beranjak dari kamar Sehun. Jiyeon mendekat dan meletakkan sup di atas meja Sehun.


"Ini sup untuk mu, makanlah selagi hangat." Setelah mengatakan itu, Jiyeon keluar dari kamar Sehun. Sehun pun juga tidak memanggilnya lagi. Mungkin dia sudah tidak membutuhkan bantuan Jiyeon di dalam sana.


Hari sudah siang dan tidak ada tanda-tanda Jiyeon kembali ke dalam kamarnya, entah dimana gadis itu sekarang. Sehun berulang kali melihat pintu berharap ada seseorang yang masuk kedalam kamarnya.


Cklek!


Akhirnya pintu kamar Sehun terbuka, ada seseorang yang masuk tapi itu bukan Jiyeon melainkan Jieun yang membawakan air minum untuk Sehun.


"Hai Sehun, bagaimana keadaan mu? Sudah baikan?" Tanya Jieun sambil meletakkan air itu di atas meja.


"Hem, sudah lebih baik."


"Baguslah kalau begitu."


Jieun mengambil mangkuk kosong, dia hendak keluar tapi Sehun menghentikan langkahnya.


"Hem.. Jieun." Panggil Sehun ragu.


"Iya, ada apa Sehun? Apa kau butuh sesuatu?" Jieun berhenti dan menoleh pada Sehun.


Sehun menggeleng. "Bukan, bukan itu. Dimana Jiyeon?"


"Ah, kau mencari Jiyeon? Dia pergi bersama Krystal tadi katanya mau mencari kado untuk pernikahan putri keluarga Son."


Sehun mengerutkan kening, berpikir sejenak. Putri keluarga Son? Hanya ada satu putri keluarga Son yang Sehun tahu dan dia adalah orang yang sama yang menjadi musuh Jiyeon. Mungkinkah Son yang itu? Lalu untuk apa Jiyeon repot-repot mencari kado untuk penghianat seperti orang itu.


"Dia bilang pergi kemana?"


"Entahlah Sehun, Jiyeon tidak memberi tahu akan pergi kemana."


"Ya sudah kalau begitu, kau boleh pergi."


Jieun mengendikan bahunya tak peduli dan keluar dari dalam kamar Sehun. Selepas kepergian Jieun, Sehun mulai bertanya-tanya apa yang sedang Jiyeon rencanakan? Kado apa yang akan Jiyeon berikan untuk penghianat seperti Son Naeun? Kenapa dia tidak memberitahu Sehun tentang hal ini?


"Sebenarnya apa rencana mu Jiyeon?" Gumam Sehun dengan segala pemikiran yang berkecamuk di dalam benaknya. Dia khawatir Jiyeon akan salah perhitungan dan malah membuat dirinya dalam masalah.



Hallo, ku kembali teman-teman..


Semoga kalian suka sama part kali ini yauw♡️


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca🐾


See you( ˘ ³˘)