
.
.
.
.
.
Suho kini tengah memeriksa kondisi Sehun, karena berlari keluar dengan tergesa-gesa tanpa mempedulikan kondisi tubuhnya membuat luka di dada Sehun kembali terbuka, untunglah Sehun punya tubuh yang kuat dan mungkin juga tahan banting hingga luka semacam ini tak membuatnya mati atau tak sadarkan diri untuk waktu yang lama. Suho hanya memasang kembali infus Sehun dan menutup lukanya supaya cepat mengering.
"Jangan lakukan hal aneh-aneh lagi, Sehun." Ucap Suho memperingatkan, meskipun tubuh Sehun kuat tapi tetap saja lukanya termasuk luka parah dan tidak boleh bergerak sembarangan sebelum benar-benar pulih. Untunglah Kai datang bersama beberapa perawat dan membawanya kembali masuk kedalam rumah sakit.
"Hem..." Jawab Sehun seadanya. Sebelum ini, ia meminta Suho untuk meminta izin memindahkan ranjang Jiyeon agar berada satu ruangan dengannya dan Jiyeon kini ini tengah di tangani oleh dokter lain, tak lama lagi pasti ia akan segera dipindahkan ke ruangan ini setelah pemeriksaannya selesai.
Baekhyun berdiri dengan kepala tertunduk di sudut ruangan, sedangkan Kai tengah berdiri di samping ranjang Sehun sambil melipat tangannya di dada, sesekali memperhatikan Baekhyun. Selesai menutup luka Sehun, Suho pamit untuk pergi dan memberitahu Kai untuk memanggilnya jika Sehun kembali melakukan hal bodoh atau kondisinya memburuk, Kai mengangguk mengerti.
Sekarang hanya ada tiga pria itu saja di dalam ruangan ini, Kai membantu Sehun untuk duduk ketika pria itu tiba-tiba bergerak, mata hazel Sehun langsung menatap Baekhyun tajam, sedang yang di tatap hanya mampu menunduk merasa bersalah. Atmosfer di ruangan ini tiba-tiba berubah mencekam seolah tengah menonton film horor, tidak ada yang buka suara.
Sehun mendengar segalanya, ia tahu saat Jiyeon datang ke ruangannya dan berbicara dengan Baekhyun, Sehun hanya belum membuka mata saja, namun ia sudah sadar saat itu. Jujur saja ia merasa marah pada Baekhyun, entah kenapa Baekhyun bersikap seperti itu pada Jiyeon bahkan ia berani mengusir Jiyeon saat dirinya tak sadarkan diri. Baiklah, ia mengerti jika Baekhyun menghawatirkan dirinya, mereka sudah bersama selama bertahun-tahun, Sehun sangat tahu bahwa Baekhyun bergantung padanya. Bagi Baekhyun, Sehun sudah seperti keluarga yang tak pernah ia miliki sebelumnya. Ya, Baekhyun tidak tahu siapa ayah ataupun ibunya, apa dia punya keluarga? Atau sanak saudara? Baekhyun tidak tahu itu, sejak kecil tinggal di panti asuhan, menjadi bahan ejekan juga kadang di buli oleh teman-teman seusianya saat duduk di bangku sekolah, Baekhyun walaupun terlihat energik dan ceria, dia memiliki masa lalu yang kelam, juga sangat menyedihkan yang tak ingin ia ceritakan pada siapapun.
Sehun seperti setitik cahaya yang tuhan berikan padanya, ia mengambil Baekhyun dari jalanan yang kotor, menjadikan Baekhyun manusia yang berguna dan dihargai, hingga ia bisa berdiri dengan kedua kakinya lagi. Itulah alasan kenapa Baekhyun tak ingin kehilangan Sehun, tak ingin Sehun terluka, karena jika Sehun menghilang maka pijakan Baekhyun juga akan menghilang, cahaya hidupnya juga akan meredup seperti dulu.
"Apa kau tahu dimana letak kesalahan mu, Baek?" Sehun memulai pembicaraannya dengan nada setenang mungkin pada Baekhyun yang berdiri di sudut ruangan. Begitu banyak kalimat yang coba ia rangkai dalam benak, namun hanya kalimat itu yang berhasil keluar dari mulut Sehun.
Baekhyun mengangkat kepalanya dan mengangguk kecil, "Iya Sehun, aku tahu, tak seharusnya aku bicara kasar pada Jiyeon dan mengusirnya, aku hanya sedang marah sampai tidak bisa mengendalikan emosi ku," Baekhyun mengakui kesalahannya, itu sudah seharusnya ia lakukan jika tak ingin membuat Sehun semakin marah.
"Jadi kau tahu apa yang harus kau lakukan?"
Lagi Baekhyun mengangguk, "Aku akan meminta maaf pada Jiyeon, aku janji hal seperti ini tidak akan terjadi lagi," Ia bersungguh-sungguh mengucapkan kalimat penyesalan itu, beginilah cara Sehun mendidik Baekhyun, tidak harus di marahi dan di maki-maki, cukup di sadarkan dimana letak kesalahan dan apa yang harus dilakukan.
"Bagus jika kau sadar akan kesalahan mu, jangan coba-coba bernai untuk mengusir Jiyeon lagi Baek, hanya aku yang boleh menentukan siapa yang akan tinggal dan siapa yang pergi. Kau mengerti?" Baekhyun mengangguk kecil sebagai jawaban atas perkataan Sehun. Kai yang sejak tadi menjadi penonton hanya diam memperhatikan dua orang itu saja. Ia tidak mau ikut campur urusan Baekhyun juga Sehun.
Beberapa lama kemudian pintu ruangan Sehun dibuka lebar-lebar, sebuah ranjang di dorong masuk kedalam ruangan Sehun di ikuti dengan Jiyeon yang duduk di kursi roda dengan seorang suster mendorong di belakang. Baekhyun mendekat, memblok jalan Jiyeon, lalu pria kecil itu berlutut tepat di depan Jiyeon, hal ini tentu membuat Jiyeon terkejut, "B-Baekhyun.." Lirih Jiyeon tergagap.
"Maafkan aku Jiyeon, lain kali aku tidak akan melakukan itu lagi padamu, sekali lagi maafkan aku," Baekhyun masih berlutut dengan kepala menunduk di depan Jiyeon, sungguh Jiyeon tidak menyangka bahwa Baekhyun akan melakukan hal seperti ini, terlebih ada perawat juga di sini.
Jiyeon tidak marah sama sekali pada Baekhyun karena ia sendiri sadar bahwa ia bersalah, semua yang Baekhyun ucapkan benar adanya dan Jiyeon cukup tahu diri, "Aku sudah memaafkan mu, Baek," Ucap Jiyeon dengan nada yang tenang, ia melirik Sehun juga Kai yang kini memperhatikan mereka, "Berdirilah Baek, tidak ada yang salah dengan ucapan mu, setiap orang pasti punya alasan kenapa bersikap begitu, aku bisa pahami itu."
Baekhyun mendongak, untunglah Jiyeon tidak menyalahkan dirinya dan balas memaki. Ia berjanji pada dirinya sendiri akan bersikap lebih baik pada Jiyeon, ia akan mulai berteman dengan wanita ini.
Baekhyun berdiri, membiarkan perawat itu kembali mendorong kursi roda Jiyeon. Jiyeon turun dari kursi roda dan di bantu berbaring di ranjang, selesai meletakkan kantung infus Jiyeon, perawat itu pergi keluar. Sekarang Sehun bisa leluasa mengawasi Jiyeon tanpa khawatir kalau si wanita akan pergi atau menghilang dari pandangan matanya. Kai berdehem kecil, ruangan itu berisi empat orang tapi rasanya seperti kosong karena tak ada yang memulai pembicaraan, benar-benar canggung.
"Ee... Sehun-ah, aku dan Baekhyun akan pergi keluar sebentar," Kai mulai melangkah pergi menghampiri Baekhyun, di rangkul nya si pria pendek kemudian di tarik keluar dari ruangan Sehun. Ia memberikan ruang yang luas untuk Jiyeon juga Sehun mengobrol berdua.
Keheningan menyelimuti ruangan itu, baik Sehun ataupun Jiyeon tak ada yang memulai pembicaraan, mereka sibuk bergelut dengan pikiran masing-masing. Jika saja Sehun tidak mencegahnya, mungkin Jiyeon benar-benar akan pergi dan menolak untuk kembali, ia akan berusaha sekeras mungkin menghilang dari pandangan mata Oh Sehun. Tapi, rupanya hal itu hanya menjadi angan saja saat ini, kenyataannya ia kembali lagi ke sisi Sehun.
Sedangkan Sehun sendiri, ia akan mencari Jiyeon hingga ke ujung dunia sekalipun jika memang itu perlu. Jangan lupa, tak ada yang bisa bersembunyi dari Sehun bahkan tikus kecil pun akan bisa Sehun temukan. Ia masih ingin Jiyeon berada di sisinya, entah sampai kapan tapi Sehun akan tetap mempertahankan wanita itu. Tidak ada yang tahu seberapa dalam hati manusia, apapun bisa terjadi tanpa di prediksi sebelumnya, hal yang kita anggap tak mungkin bisa menjadi mungkin seiring dengan berjalannya waktu.
Sehun maupun Jiyeon mungkin belum sadar, tapi keduanya telah terikat satu sama lain. Hubungan yang diawali dengan sandiwara ini, apakah selamanya akan menjadi sandiwara saja? Kadang, awal dan akhir sebuah cerita bisa berbeda. Mungkin saja, cerita Sehun termasuk di dalamnya.
Hari sudah cukup larut malam, Baekhyun ataupun Kai tak kembali sejak siang tadi dan hanya perawat yang mengantarkan makanan saja yang datang, sesekali memeriksa dua orang ini. Masih belum ada pembicaraan antara keduanya, baik Jiyeon dan Sehun sama-sama merebahkan diri dan menatap langit-langit ruangan yang berwarna putih dengan lampu terang di tengah-tengah. Selama berjam-jam.
Sehun tidak bisa tidur, setiap kali memejamkan mata 5 menit kemudian matanya akan kembali terbuka. Jika begini terus lama-lama Sehun akan minta di bius saja agar bisa tidur. Ia memiringkan tubuhnya ke kiri kemudian beralih ke kanan, matanya menangkap sosok Jiyeon yang berbaring dengan kedua mata terpejam, pipinya di balut kain kasa juga lengan kirinya yang terkena tembakan. Jika saja, jika saja Sehun tidak membawa Jiyeon masuk ke dalam kehidupannya, mungkin wanita itu tidak akan mengalami hal semacam ini.
"Hei lollipop, apa kau tidur?" Tanya Sehun pelan tapi masih bisa di dengar oleh Jiyeon.
Perlahan kedua mata Jiyeon terbuka, ia belum tidur hanya memejamkan kedua matanya saja. Ia menoleh ke samping kiri, menatap Sehun dengan mata hazel nya, "Ada apa Sehun? Kau butuh sesuatu?" Tanya Jiyeon, berasumsi bahwa Sehun memanggilnya karena ingin minta tolong atau membutuhkan sesuatu.
Sehun menggeleng, masih menatap Jiyeon hingga beberapa menit berlangsung, Jiyeon mengerutkan kening seolah tidak paham dengan apa yang sedang Sehun pikirkan, "Jiyeon, maafkan aku..." Jiyeon semakin tidak mengerti dengan Sehun, kenapa tiba-tiba pria ini meminta maaf? Kesalahan apa yang ia buat hingga harus meminta maaf pada Jiyeon? Jiyeon tidak berpikir bahwa Sehun salah, atau ada sesuatu yang harus ia maafkan dari si pria.
"Minta maaf untuk apa, Sehun? Kau kan tidak salah."
"Jiyeon, perlu kau tahu, mungkin hal semacam ini tidak akan terjadi sekali saja, aku memiliki banyak musuh di luar sana yang menginginkan kematian ku. Aku bukan pria yang baik Jiyeon, dunia ku hitam juga kejam dan jika kau berada di sisiku itu artinya kau akan terus berada dalam bahaya. Tapi aku juga masih belum ingin melepaskan mu,egois memang,namun aku masih ingin kau berada di sisiku walau aku tahu resikonya." Sehun berucap tanpa memutuskan tatapan matanya pada Jiyeon, ada kesedihan yang terlihat walau tak nampak dengan jelas.
Jiyeon tahu, tinggal bersama dengan Sehun membuat Jiyeon sedikit paham tentang kehidupan si pria yang memang berbeda dengan orang lain, Sehun dengan wajah tanpa ekspresinya itu menyembunyikan sesuatu yang orang lain tidak ketahui, kadang Jiyeon juga melihat sisi lain Sehun juga kesedihan yang terlihat di balik mata hazel nya. Jiyeon menghela napas, ia yang memilih jalan ini dan Sehun adalah orang yang memberikan kesempatan untuk Jiyeon tetap hidup, apapun resikonya Jiyeon akan hadapi itu.
"Aku tidak akan pergi Sehun, hanya ketika kau menyuruh ku pergi makan aku akan pergi saat itu juga." Itu adalah keputusan akhir yang Jiyeon buat, ia akan melanjutkan sandiwara perikanan ini sampai balas dendamnya berakhir dan juga sampai Sehun memintanya untuk pergi. "Apapun bahayanya, aku yakin kau pasti akan datang menyelamatkan ku seperti kemarin, jadi apa yang harus aku khawatirkan?"
Sehun tersenyum samar, mendengar jawaban Jiyeon membuatnya merasa lega. Salah satu alasan kenapa selama ini ia menutupi hubungannya dengan sang mantan kekasih adalah karena musuh-musuhnya pasti akan mencelakai mantan kekasihnya itu, sekarang Sehun tidak peduli, mantan kekasihnya adalah bagian dari masa lalu dan rasa sakit yang akan Sehun lupakan dan tidak perlu di ungkit lagi, karena sekarang ada wanita lain yang harus Sehun lindungi dengan nyawanya, wanita yang ia libatkan dalam kehidupannya yang rumit dan penuh bahaya.
"Kau sudah mengatakannya Jiyeon dan ucapan mu tidak bisa di tarik kembali, kau harus tetap berada di sisiku hingga aku meminta mu untuk pergi," Jiyeon mengangguk, anggap saja ini adalah salah satu cara Jiyeon membayar hutang yang begitu banyak pada Sehun. Pembicaraan itu berakhir, Jiyeon hendak kembali menyelam ke alam mimpi, namun sepertinya itu tak akan mudah, mengingat seseorang di seberang sana kesulitan untuk tidur.
"Hem... Jiyeon."
"Apa Sehun? Kau butuh sesuatu?
"Ranjang ku terasa tidak nyaman, bantalnya juga keras sekali. Hem.. Bisakah aku tidur di ranjang mu?"
Jiyeon diam sejenak, memperhatikan ranjangnya dan ranjang Sehun, dilihat dari sisi manapun ranjang Sehun jauh lebih baik dari pada miliknya, bantalnya juga terlihat lebih empuk. Dimana bagian tidak nyamannya?
"Jadi kau ingin bertukar tempat tidur? Baiklah, aku tidak keberatan." Jiyeon beringsut bangun, namun Sehun malah mendengus sebal, bukan bertukar tempat tidur yang ia maksud melainkan ia ingin tidur di satu ranjang yang sama dengan Jiyeon, kenapa wanita ini tidak mengerti maksud Sehun.
Jiyeon sudah berdiri di samping ranjang Sehun, tapi si pria masih belum beranjak juga. "Ayo bangun, kau bilang ingin bertukar tempat." Percuma saja bicara dengan Jiyeon, sebenarnya bukan salah Jiyeon tapi Sehun saja yang tidak pandai mengutarakan maksud dan tujuannya, akhirnya ia menarik tangan Jiyeon membuat si wanita limbung dan jatuh di atas tubuhnya. Sehun memeluk Jiyeon erat, si wanita meronta minta di lepaskan. "Yak! Sehun, lepaskan!"
"Aku tidak bilang ingin bertukar tempat tidur Jiyeon, aku bilang ingin tidur di ranjang mu bersama dengan mu juga. Sudah diam dan tidur saja seperti ini."
Sehun melonggarkan pelukannya dan menatap Jiyeon, "Gantung di sana," Ucap Sehun menunjuk sebuah tongkat besi di sisi lain, ada dua tongkat besi di ranjang Sehun. Jiyeon mau tidak mau menuruti perintah Sehun, ia menggantung kantong infusnya, Sehun bergeser sedikit, memberikan ruang untuk Jiyeon.
"Sehun, jika ada perawat masuk bagaimana? Mereka pasti akan memarahi kita."
"Tidak akan!" Menarik Jiyeon untuk tidur di sampingnya, "Siapa yang bernai memarahi ku? Apa mereka sudah bosan hidup? Tidur saja tidak akan ada yang memarahi mu," Sehun mendekap Jiyeon dan memejamkan matanya, posisi Jiyeon kini membelakangi Sehun, mengingat tangan kirinya yang masih terluka.
Jika Sehun tertidur pulas di belakang Jiyeon, maka sekarang Jiyeon lah yang tidak bisa tidur, Sehun mendekapnya begitu erat hingga membuat Jiyeon kesulitan untuk bergerak. Perasaan ini berbeda ketika mereka tidur bersama di ranjang yang luas, jaraknya dengan Sehun begitu dekat sekarang dan jujur saja jantung Jiyeon berdetak dengan tidak beraturan. Ia menggigit bibir bawahnya, kemudian berusaha untuk memejamkan mata dan tidur. Mengabaikan semua perasaan yang mulai menyelimuti hatinya.
Jiyeon dan Sehun masih terlelap, menikmati mimpi indah mereka tanpa peduli jika gelapnya malam telah berganti dengan cerahnya sinar matahari. Keduanya benar-benar terlihat nyaman dengan Sehun yang masih setia memeluk pinggang Jiyeon mesra dan Jiyeon masih pada posisi membelakangi Sehun, mungkin ketika bangun ia akan merasakan tubuhnya terasa sakit karena posisi tidurnya yang tidak berubah sama sekali.
Kai kembali setelah menemani Baekhyun berkeliling dan berakhir minum sampai pagi, ia mengantarnya pulang jam 2 dini hari, tidur sebentar dan kembali ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan Sehun dan juga Jiyeon. Namun, ketika ia sempurna membuka pintu ruangan Sehun, hal pertama yang ia lihat adalah pemandangan yang indah antara Sehun dan Jiyeon. Buru-buru Kai menutup pintu ruangan Sehun kembali, pria berkulit eksotis itu tersenyum kecil, senang melihat kedekatan Sehun juga Jiyeon.
Ia hendak pergi untuk mengisi perutnya yang mendadak lapar, tapi matanya tak sengaja menangkap sosok wanita yang sangat ia kenal berjalan cepat ke arahnya, wajahnya nampak khawatir juga matanya terlihat merah seperti orang yang habis menangis lama. Tidak, Kai harus mencegah wanita ini masuk kedalam karena jika sampai ia masuk, maka pemandangan tadi akan hancur.
"Dimana Sehun?" Tanyanya setelah berdiri di hadapan Kai. Entah siapa yang memberitahunya jika Sehun berada di rumah sakit ini, menyebalkan sekali. "Aku tanya! Dimana Sehun?! Apa dia ada di dalam?!" Gadis yang tak lain adalah Jisoo itu berusaha mendorong tubuh Kai agar menyingkir, ia harus masuk sekarang dan melihat kondisi Sehun.
"Tidak ada! Sehun tidak ada disini, kau salah tempat!" Kai tetap berdiri tegak, tak membiarkan Jisoo masuk.
"Kau bohong, Sehun pasti ada di dalam! Minggir! Aku mau bertemu dengan Sehun!" Jisoo masih bersikeras ingin bertemu dengan Sehun, ia sangat yakin bahwa Sehun ada di dalam karena
Kai begitu tidak ingin ia masuk kedalam ruangan ini. "Sehun! Sehun!" Jisoo mulai berteriak dan memanggil-manggil nama Sehun.
"Jangan teriak, ini rumah sakit!"
"Terserah! Aku mau bertemu dengan Sehun!"
Suara Jisoo dan Kai sangat berisik, mereka terus berdebat hingga mengganggu tidur Sehun juga Jiyeon, dua orang itu mulai membuka mata dan sedikit menggeliat demi untuk meregangkan otot-otot tubuh yang terasa sakit, Jiyeon beringsut bangun masih belum sadar sepenuhnya. Perdebatan Kai dan Jisoo masih belum berakhir, hingga akhirnya Jisoo menginjak kaki Kai dan menendang ************ Nya. Kai hanya bisa mengaduh kesakitan, tak punya pilihan lain selain membiarkan Jisoo masuk kedalam.
"Sehun-ah!" Teriak Jisoo dan langsung berlari menghampiri Sehun, tak mempedulikan Jiyeon yang masih ada di sana, duduk di pinggir ranjang Sehun. "Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa sampai seperti ini." Jisoo dengan wajah sendu nya hendak memegang Sehun, namun langsung di tepis oleh si pria. Jisoo sedikit kesal karena hal itu.
"Siapa yang mengizinkanmu masuk kesini?" Dingin Sehun, ia tahu pasti Jisoo menempatkan mata-mata untuk mengawasinya hingga bisa tahu bahwa Sehun ada disini. Wanita ini kenapa begitu terobsesi padanya.
"Sehun, aku datang kesini setelah tahu bahwa kau terluka, aku benar-benar khawatir," Lagi, Jisoo memasang ekspresi wajah seolah ia khawatir pada Sehun, tapi tentu hal ini tidak akan berpengaruh apapun pada si pria.
"Keluar!" Satu kalimat itu sudah cukup untuk mewakili perasaan Sehun, bahwa ia tidak ingin melihat Jisoo ada disini. Jiyeon menoleh dan melihat wajah terluka Jisoo, jujur saja ia tidak tega melihat wanita itu yang selalu diabaikan oleh Sehun.
"Aku tidak mau! Aku mau disini, aku akan merawat mu."
Sehun tertawa mengejek, ia bergerak bangun, memposisikan diri untuk duduk, "Tolong bangunlah dari mimpi mu Jisoo, apa kau tidak lihat jika istriku ada disini? Aku tidak membutuhkan siapapun karena istriku bisa merawat ku dengan baik," Sehun meraih tangan Jiyeon dan menggenggamnya erat, seolah menunjukan pada Jisoo bahwa ia tidak butuh perhatian wanita itu.
Jisoo menatap Jiyeon penuh kebencian, sekali lagi ia membandingkan dirinya dengan Jiyeon dan bagaimana pun ia melihat, ia jauh lebih unggul, lantas kenapa Sehun memilih wanita sialan itu ketimbang dirinya. "Sehun, aku mencintaimu lebih dari apapun di dunia ini, wanita itu pasti hanya ingin merampas hartamu saja, ia tidak tulus mencintaimu!!"
"Tahu apa kau tentang istriku? Dia jauh lebih baik darimu, cintanya tidak perlu di ragukan lagi." Jiyeon tersenyum tipis, Sehun sangat pandai berbicara juga bersandiwara, jika tidak ingat ini hanya pura-pura, mungkin Jiyeon sudah melayang karena ucapan Sehun ini. Baiklah, Jiyeon akan membantunya mengusir wanita ini karena Sehun sepertinya benar-benar tidak suka jika wanita ini ada disini.
"Nona Kim, apakah anda tidak malu terus mengangguk rumah tangga orang lain? Sehun sudah menikah dan punya seorang istri, sebaiknya anda cukup sadar diri dan pergi dari sini sekarang juga." Ucap Jiyeon dengan senyum kecilnya, melihat itu Jisoo semakin marah.
"Aku yakin kau hanya menipuku, kalian pasti pura-pura saja, iyakan?!"
"Nona Kim, apa yang membuat mu berpikir begitu? Kami sudah menikah dan tinggal di rumah yang sama dan tidur pun di ruangan yang sama,"
"Itu tidak membuktikan apapun!"
Jiyeon memutar bola matanya malas, percuma saja bicara dengan Jisoo, gadis ini sangat keras kepala dan tidak percaya dengan apa yang Jiyeon katakan. Entah harus bagaimana lagi ia mengatasi wanita menyebalkan ini.
"Kau mau bukti? Baik, akan aku buktikan! Jangan menyesal." Ucap Sehun, detik berikutnya Sehun menarik tangan Jiyeon dan mencium permukaan bibir Jiyeon lembut. Hal ini sukses membuat Jisoo terbelalak kaget dan menutup mulutnya tak percaya.
Jiyeon sendiri juga terkejut dengan apa yang Sehun lakukan, ini sama sekali tidak terpikir di kepala Jiyeon dan semuanya terjadi dengan mendadak tanpa Jiyeon melakukan persiapan sebelumnya. Sehun memejamkan matanya dan menikmati rasa bibir Jiyeon yang benar-benar memiliki sensasi yang berbeda, sangat lembut dan kenyal. Ia baru pertama kali mencium bibir yang seperti ini.
Jiyeon tidak tahu apa yang harus di lakukan, akhirnya dia hanya diam, memejamkan mata dan membiarkan Sehun memimpin permainan, jujur ini adalah ciuman pertama Jiyeon, selama ia berhubungan dengan Seungho tak sekalipun Jiyeon izinkan Seungho menciumnya, karena bagi Jiyeon semua akan ia berikan ketika sudah menikah.
Jisoo menangis dan berlari keluar dari ruangan Sehun, sekali lagi Sehun telah menghancurkan hatinya berkeping-keping, entah sudah berapa kali Sehun menyakiti hatinya, Jisoo bahkan sampai tak bisa menghitungnya lagi. Salahnya karena mencintai Sehun yang jelas-jelas menolak dirinya sejak awal.
Jiyeon memukul-mukul dada Sehun saat ia merasa kehabisan oksigen, Sehun melepaskan tautan bibir mereka, wajah Jiyeon memerah
karena malu sedangkan Sehun tersenyum senang. Ia benar-benar mendapatkan barang yang bagus sekali.
"Yak! Kenapa kau mencium ku tanpa izin?!" Marah Jiyeon yang sudah berdiri, menjauh dari Sehun.
"Hem... Habis dia tidak mau pergi juga, aku tidak punya pilihan lain selain melakukan itu."
"Haishhh..." Jiyeon berdesisi, ia benar-benar malu. Di ambilnya kantung infus dengan kasar dan berbalik, kembali ke ranjangnya dan membelakangi Sehun.
"Hei lollipop, apakah itu ciuman pertama mu?"
Jiyeon semakin kesal dengan ucapan Sehun yang terdengar seperti ejekan untuknya, ia kembali bangun dan melempar Sehun dengan bantal miliknya. "Diam lah bodoh!" Teriak Jiyeon kembali membelakangi Sehun. Sehun terkekeh melihat reaksi Jiyeon, ia semakin ingin menggoda wanita itu.
"Tenang saja, lain kali aku akan mengajari mu cara berciuman dengan baik dan benar."
"Yak! Oh Sehun!!"
Gelak tawa Sehun terdengar begitu nyaring, untuk pertama kalinya seorang Oh Sehun tertawa begitu keras dan semua itu karena wanita cantik bernama Park Jiyeon. Sudah lama tawa itu menghilang dari dalam diri Sehun dan sekarang, sepertinya ia akan menemukan kembali alasan tawa itu kembali.
Semoga kalian suka sama part kali ini yaw♡️