
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jiyeon terlihat bingung, ketika ia keluar dari kamar dan mendapati penghuni rumah—Selain dirinya dan Sehun—nampak rapi dan masing-masing membawa tas besar bahkan Jieun membawa koper. Ada apa ini? Kemana mereka akan pergi? Oh, apakah Sehun mengusir mereka? Tapi jika memang di usir kenapa wajah mereka tak menunjukan ekspresi atau kesan sedih karena di usir dan lagi kesalahan apa yang mereka perbuat hingga Sehun mengusir mereka? Ah, pasti bukan karena hal itu.
Jiyeon mendekat, guna mengusir rasa penasarannya, ia akan bertanya langsung pada mereka dengan begitu ia akan mendapatkan jawaban atas asumsi-asumsi yang ber-klebatan dalam otak kecilnya, "Kalian mau pergi kemana? Kenapa membawa begitu banyak barang?" Tanya Jiyeon dengan ekspresi wajah polos. Jieun yang kebetulan berdiri di dekat Jiyeon, memberikan seulas senyum pada si gadis sebelum menjawab.
"Aku akan pergi menghadiri acara Fashion di Paris Jiyeon, Baekhyun akan menemaniku kebetulan dia ada pekerjaan di sana," Jelas Jieun.
"Lalu kalian?" Jiyeon berganti pada pasangan Kai dan Krystal yang juga sepertinya akan pergi jauh.
"Kami ada misi baru dari Sehun, Jiyeon." Jawab Krystal sedangkan Kai sibuk membenarkan resleting jaketnya yang tersangkut.
"Kapan kalian kembali?"
"Entahlah, satu atau dua minggu mungkin,"
Jiyeon manggut-manggut, mereka semua akan pergi dan rumah ini pasti akan terasa sepi mengingat hanya ada dirinya dan juga Sehun saja. Jiyeon menghela napas, kenapa mereka kebetulan pergi di saat yang sama, seperti sudah di rencanakan saja.
Sehun keluar dari dalam kamar, masih dengan menggunakan pakaian santai, jangan lupa hari ini ia khusus tidak pergi bekerja karena ada janji dengan si gadis yang kini nampak sibuk berpikir dengan wajah lesunya.
"Kalian sudah siap?" Tanya Sehun sedikit membuat Jiyeon terkejut, ia langsung menoleh ke belakang dan benar saja, kini Sehun berdiri tepat di belakangnya.
"Ya, kami sudah siap," Jawab Kai, ia yang lebih dulu pergi bersama dengan Krystal setelah sang gadis berpamitan dengan Jiyeon dan Jieun. Sebenarnya tidak ada misi apapun, mereka berdua hanya mendapatkan sebuah bonus tiket liburan sepuasnya keliling dunia dan dilarang pulang sebelum dua atau tiga minggu. Kemudian Jieun dan Baekhyun juga pergi, sejujurnya Baekhyun enggan untuk pergi tapi ini adalah perintah dari Sehun, mau tidak mau ia harus pergi juga.
Semuanya sudah pergi menuju ketempat tujuan masing-masing, sekarang hanya ada Sehun dan juga Jiyeon. Sejak ajakan kencan Sehun semalam, Jiyeon sama sekali belum bicara pada Sehun bahkan ia berdalih ingin segera tidur karena mengantuk dan mengabaikan Sehun ketika ingin mengajaknya mengobrol. Tapi, apapun yang telah Sehun putusan tidak akan mudah berubah, hari ini ia akan tetap mengajak Jiyeon pergi.
"Apa kau akan terus berdiri di situ?" Jiyeon tersentak, ia terlalu fokus dengan pikirannya sampai lupa jika di belakangnya ada Sehun yang mengamati sejak semua orang pergi satu persatu. Jiyeon menoleh, mencoba menunjukan ekspresi wajah biasa.
"Aku akan pergi mencuci baju, oh cucian ku banyak sekali," Jiyeon berucap sambil melangkah pergi, namun baru dua langkah Sehun menahan kerah bajunya, kebetulan ia memakai baju berkerah membuatnya berhenti seketika.
"Seingat ku, kemarin kau baru saja selesai mencuci baju bahkan merapikannya kedalam lemari setelah kering, memang baju yang mana lagi yang akan kau cuci?" Sehun menyeringai, Jiyeon pikir Sehun ini siapa? Memangnya bisa di tipu dengan hal-hal seperti ini. Bodoh sekali.
Jiyeon berdecak pelan, ia lupa jika kemarin sudah habis mencuci, oh alasan apa lagi yang harus ia berikan supaya bisa berada di jarak yang cukup jauh dengan Sehun. Otaknya benar-benar tidak bisa berpikir dengan baik, yang ada sekarang hanya pikirannya yang memikirkan ucapan Sehun semalam. Kencan? Yang benar saja!
"Sudahlah," Sehun melepaskan kerah baju Jiyeon, "Aku lapar, buatkan sarapan," lanjutnya kemudian berbalik berjalan menuju ruang tengah.
Jiyeon menoleh, menatap Sehun yang kini sudah duduk manis menyalakan layar TV dan mengeluarkan sebuah smartphone dari dalam saku celananya, "Kau ingin makan apa?" Tanya Jiyeon sedikit berteriak mengingat jaraknya dan Sehun cukup jauh.
"Apapun yang kau buat pasti aku makan," Jawab Sehun tanpa mengalihkan fokusnya pada smartphone di tangan, ia sedang sibuk memeriksa email yang masuk.
Jiyeon melangkah menuju dapur, ia membuka kulkas dan melihat bahan makanan yang ia beli beberapa hari yang lalu masih banyak, tentu saja, orang-orang di rumah ini hanya akan makan jika ada yang memasak jika tidak mereka memilih memesan makanan dari luar. Oh, apa yang harus Jiyeon masak sekarang? Dan kenapa juga Sehun tiba-tiba ingin di buatkan sarapan, merepotkan saja.
Jiyeon mengambil bungkus berisi rumput laut, wortel, sayuran, dan sosis. Untung saja Jieun menanak nasi sebelum pergi jadi ia bisa membuat Sushi. Ya, baiklah ia akan membuat yang sederhana saja.
Sesekali Sehun melihat Jiyeon yang nampak sibuk di dapur, ia tersenyum, ingin sekali ia menghampiri Jiyeon dan memeluk gadis itu dari belakang, namun Sehun langsung saja menepis pikiran bodohnya itu. Jiyeon bisa saja langsung mengamuk jika ia melakukannya. Membayangkannya saja membuat Sehun terkekeh pelan.
Kai dan Krystal masih menunggu di bandara, keberangkatan mereka di tunda karena masalah teknis. Krystal berdiri sedangkan Kai duduk di kursi tunggu, namun ada saja tingkah konyol yang Pria berusia 27 tahun itu lakukan. Ia mengangkat kaki kanannya dan menindih kaki yang lain, kemudian bersandar dengan posisi miring pada punggung kursi sambil sibuk menatap layar smartphone, Krystal menatapnya aneh.
"Yak! Kai, duduklah yang benar!" Omel Krystal karena semua orang kini menatap mereka sambil tersenyum geli. Kai menatap Krystal lalu segera memposisikan diri untuk duduk dengan benar. Karena lelah, akhirnya Krystal memilih ikut mengambil tempat duduk disebelah Kai.
"Hei Kai, menurutmu kenapa Sehun tiba-tiba memberikan kita bonus liburan?" Tanya Krystal, sepanjang jalan-ah tidak semalam setelah Sehun memberikan tiket liburan ia sudah memikirkannya, tapi masih tidak mengerti kenapa. Kai tersenyum, tentu ia sangat tahu alasan kenapa Sehun meminta mereka semua pergi, apalagi jika bukan untuk berduaan saja dengan Jiyeon.
"Kau benar-benar tidak tahu?" Tanya Kai memastikan apakah Krystal benar-benar tidak tahu. Krystal menggeleng pelan. Wajar saja, karena ia tidak berada di rumah sakit dan menyaksikan drama mengharukan Jiyeon dan Sehun, itulah kenapa dia masih tidak paham dengan situasi keduanya, "Kurasa, Sehun menyukai Jiyeon," Ucap Kai menoleh pada Krystal dan tersenyum.
Krystal menjentikkan jarinya, benar juga kenapa ia tidak berpikir sampai sana. "Ah! Iya, sudah kuduga! Dasar Sehun itu, kenapa tidak bilang saja sih? Dasar!" Krystal tertawa, dugaannya selama ini benar, Sehun tidak hanya sekedar menolong Jiyeon dari jalanan, ia pasti punya perasaan lebih pada gadis itu. Pernikahan sandiwara ini pasti hanya kedok saja supaya Jiyeon tetap berada di sisinya.
"Bilangnya tidak suka, hanya menolong, tahu-tahu sekarang malah ingin berduaan saja dengan Jiyeon, dasar Sehun itu terlalu sok jual mahal."
"Begitulah, bahkan ia tidak ingin Jiyeon pergi saat itu."
"Kapan?"
"Saat mereka di rumah sakit."
"Yak! Kenapa kau tidak bilang, bodoh," Krystal memukul lengan Kai, kesal.
"Sehun kemari lah, aku sudah selesai membuat sarapan!" Teriak Jiyeon dari meja makan, Sehun langsung berdiri dan menghampiri Jiyeon.
Sehun melihat Sushi di atas piring terlihat lezat.
Ini adalah salah satu makan yang ia suka entah bagaimana Jiyeon tahu jika ia sangat suka makanan ini, "Bagaimana kau tahu jika aku suka makan sushi?" Tanya Sehun sambil menarik satu kursi dan duduk di sana.
"Eh? Ini makanan kesukaan mu? Aku malah tidak tahu, tadi hanya asal memasak saja," Jawab Jiyeon jujur, karena dia benar tidak tahu apapun tentang Sehun, apa yang pria ini sukai apa yang tidak di sukai, Jiyeon tidak tahu itu.
"Baiklah, aku akan makan sekarang." Sehun mengambil satu Sushi dan memasukannya kedalam mulut, Jiyeon nampak was-was, takut jika Sehun tidak menyukai masakannya. Sehun masih asik mengunyah dan merasakan Sushi di dalam mulutnya.
"Bagaimana? Apakah enak?" Karena tak kunjung mendapatkan respon dari Sehun, akhirnya Jiyeon memberanikan diri untuk bertanya.
"Eumm... Ini tidak hanya enak, tapi sangat enak!" Sehun memberikan jempolnya pada Jiyeon dan tersenyum lebar hingga kedua matanya membentuk bulan sabit, jantung Jiyeon hampir saja copot sebelum mendengar bahwa Sehun menyukai masakannya, bahkan ia memuji makanan Jiyeon sangat enak.
Jiyeon tersenyum kecil, "Kau tidak hanya ingin membuatku senang kan, Sehun?" Tanya Jiyeon memastikan.
"Aku berkata jujur, Jiyeon. Jika ini tidak enak, aku pasti sudah memuntahkannya," Balas Sehun yang kini menikmati kegiatannya memasukan Sushi kedalam mulut. Ya, benar juga, mengingat watak Sehun yang dingin dan juga tak segan-segan pasti ia sudah membuang makanan itu jika memang tidak enak. Jiyeon kembali tersenyum dan memasukan Sushi kedalam mulutnya.
Selesai acara sarapan yang singkat itu, Sehun kembali mengutarakan rencananya hari ini dan tentu rencananya itu adalah pergi berkencan dengan Jiyeon. Ketika Sehun menyinggung masalah itu, pipi Jiyeon nampak merona, ia berusaha menolak tapi Sehun tidak menerima penolakan, mau tidak mau Jiyeon harus ikut bersama dengannya hari ini.
Jiyeon hanya diam, mengikuti kemana Sehun akan membawanya, tapi sampai sekarang belum juga sampai di tempat tujuan, entah kemana Sehun akan membawanya, ia merasa Sehun hanya berputar-putar saja sejak tadi. Jiyeon menghela napas pelan, menolehkan kepalanya menatap keluar jendela.
Pada awalnya Sehun ingin mengajak Jiyeon ke taman bermain, tapi ia urungkan niatnya karena pasti sangat ramai dan penuh dengan anak-anak kecil, ia putar balik kembali memutar otak, memikirkan destinasi wisata yang bisa ia kunjungi, tapi sialnya tak ada satupun yang terpikir mengingat Sehun adalah seorang pebisnis dan bos mafia, ia tidak pernah yang namanya berkencan dan harus seperti apa yang namanya kencan itu. Bodoh sekali, orang yang tidak punya pengalaman tiba-tiba mengajak orang berkencan, dasar Sehun.
"Hei Sehun, Sebenarnya kau ingin membawaku kemana? Hampir satu jam dan kita hanya berputar-putar saja," Karena gemas, akhirnya Jiyeon buka suara. Sehun meliriknya sekilas dan kembali fokus pada jalanan.
"Nanti kau juga akan tahu." Akhirnya Sehun menemukan tempat yang akan ia datangi, dan pastinya Jiyeon akan menyukai tempat itu.
Setelah berputar-putar, akhirnya mereka sampai juga di danau Tangeum yang terletak di bendungan Chungju. Sehun memarkirkan mobilnya dan Jiyeon segera turun begitu juga dengan Sehun. Ia ingat saat kecil, orang tuanya pernah sekali mengajak Sehun kemari dan yah, kenapa tidak terpikir sejak tadi. Danau ini semakin terlihat lebih baik dengan fasilitas yang bertambah juga.
Keduanya berjalan beriringan, melintasi jalan dengan pemandangan yang memanjakan mata, danau dan juga perbukitan yang indah juga nampak asri, Jiyeon sangat suka dengan alam bebas, bahkan ia tanpa sadar tersenyum mengagumi keindahan alam. Sehun diam-diam mencuri pandang dan ikut tersenyum, senang karena Jiyeon tersenyum.
Sehun menatap lurus ke depan, kenangan masa kecilnya kembali berkelebat di depan mata, betapa ia dulu sangat bahagia dengan kedua orang tua yang menyayanginya. Masih jelas diingatan Sehun, kala ibunya tertawa begitu keras sambil memeluknya erat, melindunginya dari sang ayah begitu usil. Jujur, Sehun sangat merindukan masa itu, masa yang tidak bisa ia ulang kembali dan hanya menjadi kenangan saja bagi Sehun. Jika saja ibunya masih hidup, mungkin takdir hidup Sehun akan berbeda dan mungkin saja ia tak akan bertemu dengan Jiyeon.
"Sehun, kau baik-baik saja?" Tanya Jiyeon, ia sejak tadi memperhatikan raut wajah Sehun yang nampak muram, seperti ada sesuatu yang menganggu si pria.
Sehun menoleh dan memberikan seulas senyum pada Jiyeon, "Ya, aku baik-baik saja, ayo kita ke sana." Sehun tanpa sadar menggandeng tangan Jiyeon, membawa sang gadis melihat-lihat tempat yang dulu pernah menjadi saksi betapa bahagia keluarga kecilnya.
"Hei Jiyeon," Panggil Sehun, Jiyeon menoleh dengan pandangan bertanya, "Bagaimana jika kita bertanding?" kedua alis Jiyeon saling bertautan, menatap Sehun bingung.
"bertanding apa?"
"Siapa yang sampai ke patung yang ada di atas sana, bisa meminta apapun pada yang kalah, bagaimana?" Tawar Sehun, tidak asik jika hanya berjalan-jalan saja seperti ini. Jiyeon nampak berpikir, ini bisa menjadi kesempatan untuknya kembali ke kamarnya sendiri, baiklah tidak ada salahnya mengikuti permainan Sehun, lagipula ia seorang yang ahli dalam berlari, pasti akan menang. Jiyeon sangat optimis.
"Baiklah, aku setuju," Ucap Jiyeon akhirnya.
Sehun melepaskan tautan tangannya dengan Jiyeon, ia mengambil ancang-ancang begitu juga dengan Jiyeon. "satu... dua... tiga!!" Dua orang itu langsung berlari setelah hitungan ketiga, Jiyeon begitu berambisi untuk menang dan tentu saja Sehun tidak akan mau kalah, ia menambah kecepatan dan meninggalkan Jiyeon di belakang sana.
Sehun berdiri dengan bangga bersandar pada patung, menatap Jiyeon yang kelelahan dengan napas yang naik turun tak beraturan menyusul dirinya. Sudah bisa dipastikan bahwa Sehun lah yang memenangkan pertandingan ini. Jiyeon menatap Sehun kesal, harusnya ia yang menang, bukannya Sehun. Jiyeon berdecak kesal.
"Lihatlah! Aku yang menang dan kau harus menuruti apapun yang aku mau," Ucap Sehun sambil menyilang kan tangannya di dada.
"Aku mau tanding ulang!" Jiyeon tidak menerima kekalahannya, ia pasti bisa menggubah keadaan jika bertanding ulang.
"Sudahlah Jiyeon, terima saja ke kalahkan mu,"
"Tidak mau! Kau tadi pasti curang Sehun, ayo kita tanding lagi," Jiyeon tetep kekeh ingin tanding ulang.
"Ini hanya alasanmu saja, Jiyeon. Sudahlah, mau tanding ulang pun kau tetap saja kalah," Tentu saja Sehun tidak mau tanding ulang, oh ayolah lari ke sana sampai sini itu cukup melelahkan, bodoh saja jika melakukannya lagi.
Jiyeon memajukan bibirnya, wajahnya benar-benar menunjukan jika ia tengah kesal sekali, entah apa yang akan Sehun minta darinya, yang pasti hal itu tidak akan menguntungkan Jiyeon sama sekali, sudah bisa di prediksi.
"Dasar Menyebalkan!" Jiyeon menginjak kaki Sehun keras dan berbalik pergi. Sehun mengaduh kesakitan, ia tidak bisa menghindar karena Jiyeon menginjak kakinya secara tiba-tiba.
"Yak! Park Jiyeon, beraninya kau menginjak kaki ku!" Teriak Sehun, mendengar teriakan Sehun itu Jiyeon langsung mengambil ancang-ancang berlari secepat mungkin, ia tertawa dan meledek Sehun di belakangnya.
"Awas kau ya!" Sehun mengejar Jiyeon, ia akan membalas perbuatan Jiyeon pada dirinya.
Terjadilah aksi kejar-kejaran antara Sehun dan juga Jiyeon, "Tangkap aku jika kau bisa, wlekk.." Jiyeon menjulurkan lidahnya, meledek Sehun yang masih berusaha menangkapnya, kaki kanannya masih berdenyut akibat di injak Jiyeon.
"Kau pasti akan aku tangkap Jiyeon."
Mereka berdua berlari seperti pasangan remaja yang tengah dimabuk cinta, Sehun berhasil menangkap Jiyeon, ia menggelitik perut Jiyeon membuat sang gadis tertawa karena geli, Sehun tidak mempedulikan permohonan ampun dari Jiyeon, ia tetap menggelitik Jiyeon. Tanpa sadar, kegiatan yang mereka lakukan di potret oleh paparazzi yang kebetulan ada di sana, pastilah wajah keduanya akan menghiasi sebuah artikel berita setelah ini. Rupanya tak hanya paparazzi, namun ada sepasang mata yang menatap kedua pasangan berbahagia itu dengan tatapan sedih dan marah, ia menggenggam erat ujung roknya dan segera pergi dari sana.
"Kau hanya milik ku, Sehun! Dan aku akan memastikan itu sendiri!"
Yuhu... Semoga suka sama part kali ini❤️