President'S Priceless Wife

President'S Priceless Wife
Part 27





.


.


.


.


.


.


.


Senyum nampak mengembang di wajah cantik Jisoo karena pagi ini tiba-tiba Sehun menghubungi dan mengatakan ingin bertemu, tentu ia senang sekali mendengar hal ini dan langsung bersiap bahkan datang lebih awal ke tempat mereka janjian untuk bertemu. Jisoo mempersiapkan diri sebaik mungkin, ia tampil secantik mungkin hanya untuk bertemu dengan Sehun, ia yakin Sehun menyesal meninggalkannya semalam, makanya ia mengajak bertemu sekarang.


Jisoo semakin tersenyum lebar ketika melihat Sehun yang berjalan dengan gagah ke arahnya, ia melambaikan tangannya, memberikan tanda bahwa ia ada di sana, meskipun tak mendapatkan respon yang berarti dari Sehun. Jisoo tidak tahu jika tepat di belakang Sehun ada sosok lain yang ketika hampir dekat dengan meja Jisoo, sang pemeran utama keluar dari balik tubuh Sehun.


PLAK!


Satu tamparan keras berhasil mendarat di wajah mulus Jisoo bahkan sebelum Jisoo bisa menghindar. Sehun sempat terbelalak kaget ketika melihat Jiyeon menampar Jisoo dengan kuat. Ia tidak tahu bahwa hal ini akan terjadi, yang ia tahu, pagi ini tiba-tiba Jiyeon meminta untuk bertemu dengan Jisoo, entah apa yang ingin dibicarakan dan Sehun hanya bisa menuruti kemauan si gadis, karena tak mau membuat Jiyeon semakin marah dengannya, ia melihat wajah Jiyeon pagi ini yang masih nampak murung dan berbicara sedikit ketus dengannya.


Rupanya tidak hanya menampar wajah Jisoo, Jiyeon mengambil segelas air yang ada di atas meja kemudian menyiramnya tempat di depan wajah Jisoo hingga membuat sebagian tubuh Jisoo basah. Tatapan mata Jiyeon begitu tajam seolah mengintimidasi, sedangkan Jisoo mengeram marah tidak terima dengan apa yang Jiyeon lakukan pada dirinya.


"Yak! Kau! Apa yang kau lakukan?! Dasar wanita sialan!!" Marah Jisoo, bangkit dan menatap Jiyeon sengit.


Jiyeon menyeringai, "Aku wanita sialan? Bukankah seharusnya kata-kata itu untuk mu, Nona Kim?" Jiyeon melipat kedua tangan di dada, ekspresi wajah menunjukan bahwa ia sangat marah dan siap menerkam Jisoo kapan saja.


"Apa kau tidak punya malu, nona Kim?! Jelas-jelas kau sudah tahu bahwa Sehun sudah menikah! Dan kau masih saja menggodanya!! Dimana harga dirimu?!" Jiyeon menekan setiap kalimat yang keluar dari mulutnya, sudah saatnya membuat Jisoo sadar dan pergi jauh dari kehidupan rumah tangganya dengan Sehun. Ia tidak peduli jika kini menjadi pusat perhatian atau mendapatkan kritikan buruk akibat ulahnya ini, yang terpenting wanita seperti Jisoo mendapatkan pelajaran karena perbuatan menjijikkan nya.


"Kaulah yang merebut Sehun dari ku!! Kau yang menggodanya!!" Jisoo tak mau kalah, ia benar-benar dipermalukan oleh Jiyeon, percuma saja berpenampilan cantik jika akhirnya di guyur air.


"Aku tidak pernah menggoda Sehun, kami saling mencintai! Apa kau buta hingga tidak bisa melihatnya? Lagipula sejak awal Sehun tidak pernah menyukaimu! Kau harusnya sadar diri!"


Sehun tidak pernah membayangkan bahwa Jiyeon akan berubah menjadi singa betina yang menyeramkan ketika marah, ia bahkan tidak bisa membedakan apakah ini akting atau memang dari hati Jiyeon yang terdalam, meskipun begitu Sehun menyukainya. Ia ingin melihatnya sampai selesai, siapa yang akan menang. Jisoo atau Jiyeon?


"Nona Kim, aku mohon berhentilah mengganggu rumah tangga kami, apa kau tidak bisa mencari pria lain selain suami ku? Bahkan kau melakukan cara kotor agar bisa bersama dengan Sehun! Nona Kim tolong sadarlah, sampai kapanpun kau dan Sehun tidak akan pernah bisa bersama!"


"Selama ini aku diam, bukan berarti kau bisa melakukan apapun yang kau mau! Aku menghormatimu sama seperti Sehun yang menghormatimu karena kebaikan hati Ayah mu! Tolong jauhi suami ku! Dan jangan ganggu rumah tangga kami lagi, jangan membuat diri anda semakin terlihat memalukan karena hal ini!"


Pada akhirnya Jisoo tidak bisa mengatakan apapun, ia hanya menatap Jiyeon sengit dengan tangan yang terkepal di bawah sana. Malu! Ia sangat malu di perlakukan seperti ini di depan umum oleh Jiyeon, selama ini tidak ada yang pernah mempermalukan dirinya selain Sehun dan sekarang Jiyeon juga telah mempermalukan dirinya, ia nampak seperti wanita perusak rumah tangga orang lain. Matanya memanas, menahan air mata yang sebentar lagi akan mengalir, semua orang memperhatikan mereka.


"Aku harap kau mengerti dengan apa yang aku ucapkan ini dan tidak ada kejadian rendahan seperti kemarin! Aku juga berharap kau menjauhi suamiku karena bagaimanapun juga Sehun sudah menikah dengan ku dan kau tidak akan bisa bersama dengannya!" Jiyeon memperingatkan dengan suara penuh penekanan, ia tidak takut sedikitpun dengan tatapan tajam yang Jisoo berikan, ia sudah bertekad untuk mengusir Jisoo sejauh mungkin dari kehidupan rumah tangganya dengan Sehun. Meskipun sebenarnya ia tidak tahu alasan apa yang membuatnya melakukan hal ini, tapi yang jelas Jiyeon tidak mau lagi Jisoo berada di tengah-tengah hubungannya dengan Sehun.


Sehun melangkah mendekati Jiyeon, ia melingkarkan tangannya pada pinggang Jiyeon, menunjukkan pada Jisoo bahwa tidak akan ada yang bisa memisahkan mereka berdua apapun yang terjadi, "Istriku benar Jisoo, tolong berhenti melakukan hal yang sia-sia, karena apapun yang kau lakukan kita tidak akan pernah bersama, jadi bangunlah dari mimpi mu dan jalani hidupmu dengan baik," Tambah Sehun, sudah lelah berbicara dingin dan kasar pada Jisoo.


Jisoo merasa terpojok sekarang. Kenapa? Kenapa semua ini terjadi pada dirinya? Kenapa Sehun begitu jahat dan tidak mau memberikan sedikit saja ruang di hatinya untuk dirinya? Jisoo benar-benar telah kalah oleh Park Jiyeon. Sejak awal dia memang sudah kalah, saat Sehun menolaknya secara terang-terangan. Selama ini Jisoo hanya menutup mata dan telinga, tak peduli dengan apapun karena di otak dan hatinya hanya ada Sehun, sekarang sudah ada wanita lain yang Sehun cintai. Haruskah ia berhenti?


"Kau—Kau jahat Sehun!" Akhirnya hanya kalimat itu saja yang berhasil lolos dari bibir Jisoo, ia tak bisa lagi mengatakan apapun karena tatapan semua orang yang mengarah padanya, pasti setelah ini ia akan menjadi buah bibir semua orang dan ayahnya akan sangat marah pada dirinya karena telah bertindak bodoh.


"Ya,kau bisa menyebutku seperti apa yang kau inginkan, karena aku tidak peduli dengan hal itu," Jawab Sehun tak peduli.


Jisoo tertunduk lemas dan jatuh ke lantai, ia menangis keras meratapi kekalahannya, ia benar-benar kehilangan Sehun dan setelah ini ia tidak akan bisa bertemu lagi dengan Sehun. Jisoo hanya bisa menangis, menangisi kebodohannya karena terlalu mencintai Sehun.



Tubuh Jiyeon terlihat bergetar, bahkan kakinya tidak bisa berpijak dengan benar hingga harus duduk di sebuah bangku pinggir jalan sembari menunggu Sehun yang pergi membeli minuman untuknya.


"Oh Tuhan! Apa aku benar-benar melakukannya tadi? Wahh..." Jiyeon tidak percaya, ia menampar dan menyiram Jisoo dengan air, seolah-olah itu tadi adalah orang lain, bukan dirinya.


Setelah keluar dari restoran dengan gaya angkuhnya, Jiyeon langsung lemas bahkan Sehun sampai harus menahan tawa karena melihat perbedaan sikap Jiyeon saat di dalam restoran dan sesudahnya. Ia benar-benar berusaha keras agar terlihat kuat dan tak tertandingi hanya demi untuk menjauhkan Jisoo dari Sehun. Untunglah ia berhasil sampai selesai tanpa melakukan kesalahan, jika ia sampai terlihat lemah atau nada suaranya bergetar, pasti Jisoo akan membalik keadaan.


"Ini, minumlah dulu.." Sehun datang, ia langsung memberikan sebuah botol minuman air mineral pada Jiyeon. Jiyeon menerima botol itu dan meminumnya hingga habis setengah botol, Sehun tersenyum dan tiba-tiba tangannya terulur untuk mengusap kepala Jiyeon, membuat sang empunya sedikit tersentak. Jiyeon sudah bekerja keras hari ini dan tentu ia pantas mendapatkan pujian dari Sehun.


"Kerja bagus Jiyeon, kau melakukannya dengan baik hari ini," Seulas senyum menghiasi wajah tampan Sehun dan itu berhasil memberikan sengatan kecil pada hati Jiyeon hingga membuat pipinya bersemu merah.


"Yak! Jangan menyentuh rambut ku, nanti berantakan!" Jiyeon langsung saja menyingkirkan tangan Sehun dari atas kepalanya, ia pun memalingkan wajahnya ke-lain tempat, pokoknya jangan sampai terlihat oleh Sehun.


"Terima kasih.." Ucap Sehun tiba-tiba, Jiyeon langsung saja menoleh padanya yang kini nampak memasang ekspresi wajah serius, alis Jiyeon saling bertautan, untuk apa Sehun mengucapkan terima kasih? Jiyeon tidak merasa melakukannya sesuatu yang berarti. "Kau percaya padaku dan membantuku menjauhkan Jisoo dari kehidupan ku, setelah ini ia pasti tidak akan mengganggu ku lagi."


"Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan, Sehun."


Sehun menoleh pada Jiyeon, perlahan-lahan mendekat pada sang gadis dan mengikis jarak di antara keduanya, Jiyeon langsung siaga takut jika Sehun melakukan sesuatu yang aneh-aneh.


"Yak! Kau mau apa, eoh?"


"Jadi, apa kau cemburu pada Jisoo? Kau cemburu karena dia terus menempel padaku, makanya kau melakukan hal ini? Aku rasa tadi kau tidak sedang berpura-pura, itu terlihat seperti dari lubuk hatimu yang paling dalam. Ohhh... Apa jangan-jangan kau menyukai ku?" Sehun memberikan senyum jahil dan menggodanya pada Jiyeon.


Jiyeon mengernyit, ia lantas mendorong tubuh Sehun agar menjauh, masalahnya mereka berada di tempat umum, malu di lihat banyak orang. "Kau ini bicara apa sih? Aku melakukannya karena memang itu yang harus aku lakukan, jika tidak Jisoo akan terus mengganggumu. Menang kau mau terus di ganggu olehnya?" Jiyeon berdiri, membenarkan letak blazer nya dan mengalihkan pasangan matanya keseluruh tempat.


Jiyeon salah tingkah dan Sehun entah kenapa senang melihatnya, "Oh, jadi begitu? Bukan karena kau cemburu?"


"Tentu saja tidak, apa sih yang kau pikirkan."


"Hei Jiyeon, bagaimana jika aku menyukai mu?"


"Apa?!"


Jiyeon menatap Sehun dengan mata membulat sempurna, ia terkejut dengan ucapan Sehun yang tiba-tiba itu dan lagi kenapa jantungnya berpacu dengan irama yang cepat membuat Jiyeon semakin tidak karuan. Pipinya pasti sudah memerah seperti kepiting rebus.


Sehun tertawa keras, ekspresi wajah Jiyeon benar-benar lucu dan ia tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa, "Yak, aku bercanda, kenapa ekspresi mu serius begitu?" Sehun sampai memegangi perutnya karena rasa sakit akibat tertawa keras.


Jiyeon membuang muka, harusnya ia tahu bahwa Sehun ini suka sekali mengerjai dirinya, kenapa juga ia bisa terkejut seperti ini, "Yak!" Jiyeon memukul lengan Sehun karena kesal, "Bodoh! Dasar menyebalkan! Berhenti mengerjai ku Sehun!" Jiyeon berdecak kesal lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Sehun.


"Hei, Jiyeon tunggu! Jangan marah, eoh," Panggil Sehun dan menyusul langkah kaki Jiyeon yang sudah berjalan jauh di depannya, Jiyeon tidak peduli dan terus berjalan, ia kesal sekali. Sehun terus meminta maaf tapi Jiyeon pura-pura tidak dengar, mengabaikan Sehun.


Dua manusia itu terlihat seperti pasangan sesungguhnya, mungkin Sehun memang mengatakan jika itu bercanda, tapi di dalam hatinya? Siapa yang tahu? Bisa saja ia mengatakan hal yang sebenarnya. Semoga setelah ini tidak ada yang mengganggu dua pasangan ini, akan kah begitu?


Masalah yang sebenarnya baru saja akan di mulai...



Semoga kalian suka sama part kali ini, maapin klo pendek yaaa, hehehe❤️


LiannQueen♡️