President'S Priceless Wife

President'S Priceless Wife
Part 10




.


.


.


.


.


"Hei Jiyeon, kemarin kau pergi kemana dengan Sehun? Aku lihat kalian pulang bersama semalam." Jieun sudah seperti wartawan saja, sejak pagi setelah melihat Jiyeon langsung saja di cerca dengan berbagai pertanyaan tentang kemana dia pergi dengan Sehun dan apa yang mereka lakukan. "Apa kalian pergi berkencan? Ayolah Jiyeon Jawab pertanyaan ku." Rengek Jieun karena sejak tadi tak ada satupun pertanyaannya yang di jawab oleh Jiyeon. Gadis itu mengembangkan pipinya karena kesal.


Jiyeon meletakkan pisau yang ia gunakan untuk memotong sayuran, saat ini mereka tengah ada di dapur untuk menyiapkan makan siang. Krystal belum kembali dari misi yang Sehun berikan, jadi Jiyeon hanya memasak sayuran biasa saja dan hanya cukup untuk dua orang. Dia bukannya tak mau menjawab pertanyaan Jieun hanya saja Jiyeon merasa pertanyaan Jieun tidaklah penting.


"Kami hanya pergi ke mall, aku menemaninya membeli jas dan beberapa kemeja. Itu saja." Jawab Jiyeon lalu kembali memotong sayur.


"Yakin hanya itu? Tck, tidak seru sekali. Sudah pergi bersama malah tidak melakukan apapun."


"Memangnya apa yang harus kami lakukan? Jangan terlalu banyak berpikir Jieun, aku dan Sehun hanya partner bisnis."


"Hei, siapa yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan? Mungkin sekarang kau dan Sehun hanya partner bisnis, tapi esok atau suatu saat nanti siapa yang tahu? Mungkin kalian akan saling jatuh cinta dan pernikahan yang tadinya hanya pura-pura bisa menjadi nyata. Aku akan jadi orang pertama yang senang dengan kabar ini. Ahhh, membayangkan saja aku sudah senang." Jiyeon memutar bola matanya jengah mendengar ocehan Jieun yang tiada henti.


Imajinasi Jieun terlalu tinggi, Jiyeon saja tidak berpikir sampai ke sana, dia hanya akan disisi Sehun hingga balas dendamnya terbalaskan. Setelah itu mereka tidak akan memiliki hubungan apapun, mungkin saja mereka akan bercerai dan hidup dengan jalan masing-masing.


"Berhenti berimajinasi Lee Jieun dan goreng saja ayam itu dengan baik." Jiyeon pergi mencuci sayuran yang telah ia potong. Jieun mencibir.



Sehun masuk kedalam ruangannya dan Baekhyun mengikuti di belakang. Sejak rapat di mulai hingga sekarang, ponsel Sehun bergetar sudah lebih dari lima puluh kali dan tak satupun dari panggilan itu yang ia jawab. Baekhyun sendiri tidak berani menjawab karena pasti Sehun akan marah jika dia lancang menjawab telepon itu.


"Sehun dia masih terus menelpon." Ucap Baekhyun menunjukan ponsel Sehun yang layarnya menyala menunjukan nama si penelepon. Sehun meliriknya sekilas lalu menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi dengan nyaman. Tidak peduli dengan panggilan itu.


"Sehun jangan hanya diam, setidaknya angkat teleponnya siapa tahu ini penting." Baekhyun merasa sedikit kasihan dengan sang penelpon yang seolah tidak berhenti menghubungi Sehun. Padahal sudah diabaikan berkali-kali. Lagi telpon itu kembali bergetar padahal baru saja berhenti memanggil. "Lihatlah, dia kembali menelepon. Angkatlah Sehun, kasihan dia."


"Baek apa kau tidak bisa diam? Aku sedang ingin istirahat sekarang, jadi jangan berisik." Sehun kesal mendengar ocehan Baekhyun sejak tadi. Dia tahu siapa yang menelpon dan karena dia tahu makanya dia tak ingin mengangkatnya. Tidak ada lagi yang ingin dia bicarakan dengan wanita itu, semua sudah cukup jelas dan Sehun tak ingin berurusan lagi dengannya.


"Tapi Sehun, dia tidak akan berhenti jika kau tidak mengangkat teleponnya."


Sehun memejamkan mata menghela napas panjang. Kemudian dia membuka matanya dan menatap manik mata Baekhyun tajam. Dia lelah dan ingin istirahat sebentar saja karena setelah ini masih ada hal lain yang harus ia lakukan. Sedangkan Baekhyun terus berkicau membuatnya semakin kesal.


"Berikan ponselku." Baekhyun memberikan ponsel itu pada Sehun, ia pikir Sehun akan mengangkat telepon dari wanita itu tapi nyatanya semua tidak seperti apa yang Baekhyun pikirkan. Baekhyun bahkan sampai memejamkan matanya karena kaget, dan ketika ia membuka mata benda persegi itu sudah terbelah menjadi dua dengan layar pecah dan bagian-bagiannya terpisah. Ya, Sehun membanting ponsel itu dengan begitu keras dan tak berperasaan.


"Begini baru benar." Ucap Sehun menyeringai. Tak merasa sedih melihat ponselnya telah berakhir mengenaskan. "Bersihkan ini Baek, beli ponsel baru dan pastikan orang sana tidak mengetahui nomerku yang baru." Perintah Sehun. Baekhyun menurut dan mulai memunguti bagian-bagian ponsel yang telah terpisah.


"Sehun." Panggil Baekhyun. Sehun bergumam menjawab panggilan Baekhyun. "Aku ingat sesuatu." Sehun membuka mata, dahinya berkerut.


"Apa? Jika tidak penting jangan dibicarakan."


"Eh.. Ini sangat penting Sehun." Baekhyun berdiri setelah acara memungut ponsel Sehun selesai. "Besok ada pertemuan bulanan pemegang saham di Hansang, ini kesempatan yang bagus untuk membawa Jiyeon ke sana." Walau kadang berisik dan tidak bisa diam, tapi Baekhyun juga sangat pandai dalam urusan seperti ini.


"Rapat bulanan? Itu artinya semua pemegang saham hadir?" Sehun jarang bahkan hampir tak pernah ikut acara rapat pertemuan di Hansang, mungkin karena itu juga Jiyeon tidak tahu mengenai Sehun. Sehun tersenyum miring. Ini adalah kesempatan bagus untuk Jiyeon bisa masuk ke perusahaan milik ayahnya, lagi pula sekarang dia memiliki setengah dari saham Sehun dan 15 persen saham dari ayahnya.


"Baiklah, kau siapkan semuanya besok kita akan pergi ke Hansang, kita akan memberikan kejutan untuk orang-orang yang ada di sana." Baekhyun mengerti. Di rasa tidak ada lagi yang perlu di bicarakan dengan Sehun, Baekhyun pamit untuk pergi, perutnya lapar dan ingin ke kantin untuk makan siang.


Baekhyun baru saja akan membuka pintu namun rupanya orang di luar lebih tidak sabaran dan membuka pintu dengan kasar hingga kepala Baekhyun berbenturan dengan pintu dan jatuh kebelakang. Ibarat kata, Baekhyun sudah jatuh tertimpa tangga pula.


"OH SEHUN!!" Orang yang baru masuk tadi berteriak memanggil nama Sehun, dia tidak peduli dengan Baekhyun yang masih mengaduh kesakitan di bawah sana akibat ulahnya yang masuk kedalam ruangan Sehun dengan tiba-tiba.


"Kenapa kau kesini? Siapa yang mengizinkan mu masuk?" Dingin Sehun pada sosok wanita cantik di depannya. Wanita itu terlihat mengeram marah, dia baru kembali dari liburannya di Jeju dan saat kembali malah mendapat kabar bahwa sang pujaan hati telah menikah dengan orang lain. Hati siapa yang tidak panas, sudah lama ia mengejar Sehun tapi selalu di abaikan oleh si pria dan tiba-tiba ada gadis lain yang kini dengan mudahnya menjadi istri Sehun.


"Katakan padaku bahwa ini semua tidak benar Sehun! Kau tidak mungkin menikah dengan wanita itu!! Katakan padaku Sehun, katakan!!" Dia bahkan memukul meja Sehun dengan keras karena emosi yang sudah memuncak.


"Memangnya kenapa jika aku sudah menikah? Kau tidak punya hak untuk melarang ku menikah Jisoo." Sehun berbicara dengan santai, sudah hafal watak wanita di hadapannya.


"Kau mana boleh menikah Sehun!! Kau hanya boleh menikah dengan ku hanya aku!!"


"Kim Jisoo apa kau sudah gila?! Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menikah dengan mu!! Berhentilah bermimpi." Sehun mulai meninggikan suaranya, hari ini sudah cukup melelahkan, kenapa orang-orang ini tidak membiarkan Sehun istirahat barang sebentar saja.


"Ya! Aku sudah gila! Aku gila karena mu Sehun! Ceraikan dia Sehun, kau hanya boleh menikah dengan ku!!" Jisoo ini sangat terobsesi dengan Sehun sejak satu tahun yang lalu saat pertama kali ia bertemu dengan Sehun. Ya, ada sebuah acara tahunan dan kebetulan Sehun hadir sebagai salah satu tamu undangan disanalah awal mula pertemuan mereka. Sehun kala itu membantu Jisoo yang tidak sengaja menumpahkan minuman ke bajunya sendiri, dia memberikan jasnya untuk menutupi tubuh atas Jisoo. Sejak saat itu Jisoo tergila-gila pada Sehun dan berusaha mendekati si pria.


"Baekhyun apa yang kau lihat? Bawa wanita ini pergi!!" Perintah Sehun pada Baekhyun. Baekhyun langsung sadar dan menarik Jisoo keluar dari ruangan Sehun. Jisoo meronta tak mau keluar dari ruangan Sehun.


"Lepaskan aku!! Aku masih belum selesai bicara Sehun!! Lepaskan aku!!" Tapi percuma saja, Baekhyun lebih kuat dan telah berhasil mengeluarkan Jisoo dari ruangan Sehun. Sehun mendengus kesal, dia harus membuat Jisoo jera dan tidak mengganggunya lagi.


***


Sore hari, Sehun kembali ke rumah. Saat baru masuk kedalam indera penciumannya mencium bau harum masakan yang sangat lezat. Baekhyun menyusul Sehun masuk setelah memarkir kan mobil.


"Wahh... Bau harum apa ini? Enak sekali, aku jadi lapar." Celetuk Baekhyun dan langsung berlari kecil menuju meja makan. Sehun juga ikut menuju meja makan.


"Wahhh...." Mata Baekhyun berbinar melihat begitu banyak masakan di atas meja dan semua terlihat lezat. Jiyeon dan Jieun muncul dari dapur membawa mangkuk sup dan beberapa piring. "Ada acara apa ini? Kenapa kalian masak begitu banyak?"


"Tidak ada." Jawab Jiyeon dan meletakkan mangkuk sup di atas meja.


"Ha? Lalu kenapa masak sebanyak ini?"


"Sayuran dan bahan makanan di dalam kulkas sudah pada layu dan hampir kadaluarsa jadi aku masak saja semuanya." Jelas Jiyeon menjawab pertanyaan dua orang yang berdiri di dekat meja makan. "Sebaiknya kalian bersihkan tubuh kalian dan ganti baju, baru kesini untuk makan."


"Wah Jiyeon.. Kau sudah seperti istri Sehun saja." Celetuk Baekhyun yang di hadiahi pukul di belakang kepalanya oleh Sehun.


"Dia kan memang istrinya Sehun." Tambah Jieun dengan wajah watadosnya.


"Berisik." Sehun berbalik, melangkah pergi meninggalkan ruang makan. Jieun dan Baekhyun saling melemparkan padangan.


"Apa lihat-lihat?" Marah Jieun.


"Ih... Siapa juga yang lihatin situ?" Baekhyun mencibir lalu pergi dari ruang makan. Jieun menatap punggung Baekhyun kesal. Entah mau sampai kapan mereka bertengkar seperti anak kecil. Jiyeon sampai geleng-geleng kepala, padahal hanya saling pandang saja bisa jadi masalah.


Sehun sudah selesai mandi dan berganti pakaian, dia hanya memakai kaos abu-abu dan celana hitam panjang. Sedang Baekhyun memakai kaos putih dan celana pendek berwarna coklat. Mereka tengah menikmati makan malam yang sangat lezat.


"Hei Jiyeon ternyata kau pandai memasak, ini sangat enak. Lihat, Sehun saja sampai tidak berkata-kata." Oceh Baekhyun yang langsung mendapat tatapan tajam Sehun. "Eee.. aku baru ingat jika Sehun memang tidak pernah bicara saat makan. Hehehe." Baekhyun pura-pura tidak melihat Sehun dan melanjutkan makannya.


Baekhyun benar, makanan buatan Jiyeon sangat lezat dan Sehun akui itu. Dia jarang makan di rumah, mungkin hanya sesekali jika memang dia ingin makan. Sup iga Jiyeon mengingatkan Sehun pada masakan ibunya. Terakhir Sehun makan masakan ibunya saat dia berusia 12 tahun, setelah itu ibunya meninggal dan ayahnya membawanya ke London. Saat usianya 17 tahun dia kembali ke korea seorang diri setelah mendapatkan izin dari kakek dan ayahnya.


Jiyeon tak sengaja melihat ke arah Sehun. Ada sesuatu yang aneh, Sehun hanya diam menatap mangkuk sup di depannya dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.


"Ada apa Sehun? Apa supnya tidak enak?" Tanya Jiyeon menyadarkan Sehun dari lamunannya. Dia berdehem kecil dan meletakkan sendok di atas meja.


"Tidak, sup ini enak. Terima kasih untuk makanannya." Sehun mendorong kursi kebelakang lalu bangkit dan beranjak pergi dari ruang makan. Jiyeon tahu ada yang Sehun sembunyikan dibalik gestur tubuhnya.


"Selama aku disini dan memaskaan makanan untuk Sehun, tidak pernah dia berterima kasih. Ini benar-benar keajaiban. Masakan mu pasti sangat enak." Ucap Jieun yang takjub. Jiyeon tak bersuara, ucapan terima kasih Sehun bisa juga menjadi sindiran untuk masakan Jiyeon.


Jieun dan Jiyeon telah selesai membersihkan sisa makanan dan piring kotor, Baekhyun memakan semuanya hingga habis tak tersisa. Entah terbuat dari apa perut Baekhyun itu. Jiyeon sampai terheran-heran.


"Jiyeon aku kembali ke kamar dulu ya, baju ku basah."


"Iya tidak apa-apa, lagi pula juga sudah selesai."


Jieun bergegas menuju kamarnya di lantai dua. Jiyeon menyempatkan diri untuk meneguk segelas air sebelum kembali ke kamar, tiba-tiba saja tenggorokannya terasa kering dan haus. Saat Jiyeon kembali, dia melihat Sehun berdiri di pinggir kolam sambil memasukan tangannya kedalam saku celana. Karena penasaran akhirnya Jiyeon memberanikan diri untuk menghampiri Sehun.


"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Jiyeon yang sudah berdiri di samping Sehun. Sehun sedikit terkejut karena kedatangan Jiyeon yang tiba-tiba, mungkin karena dia melamun sampai tidak mendengar suara langkah kaki Jiyeon.


Sehun berdehem kecil. "Mencari udara segar, seharian berada di dalam ruangan membuat ku jenuh." Ucap Sehun. Matanya kini menatap langit hitam yang bertabur bintang di atas sana. Malam ini langit tak berawan jadi bintang terlihat begitu jelas.


"Ah, rupanya kau juga bisa bosan." Jiyeon menunduk sebentar, menggoyang-goyangkan kakinya lalu meletakkan keuda tangan di belakang tubuh.


"Menurut mu? Aku juga hanya manusia biasa, bisa bosan dan lelah."


"Ya ya, aku tahu kau memang hanya manusia bisa."


"Sudah pikirkan cara bagaimana kau akan membalas ibu dan adik tiri mu?" Jiyeon menggeleng. Selama ini dia hanya melakukan begitu banyak kebaikan, menjadi orang jahat bukanlah gayanya, makanya dia masih bingung bagaimana membalas dendam.


"Tenang saja, aku sudah tahu apa yang harus di lakukan. Siapkan saja mental mu, besok kita akan ke kantor Ayah mu."


"Apa yang akan kita lakukan di sana?"


"Besok ada pertemuan bulanan para pemegang saham. Ini kesempatanmu untuk masuk kedalam perusahaan Ayah mu lagi." Sehun melipat kedua tangannya di depan dada.


"Jadi begitu.. baiklah Sehun, aku akan menggunakan kesempatan ini dengan baik."


"Baguslah kalau kau sudah mengerti." Jiyeon mengangguk sebagai jawaban.


"Hei Sehun.."


"Hem?" Sehun menoleh pada si gadis yang kini menundukkan kepalanya, seolah ada sesuatu yang ingin ia sampaikan, namun terlihat begitu ragu. "Ada apa?"


"Aku... aku telah berhutang banyak padamu, terima kasih sudah menolongku bahkan kau mau repot-repot membantu ku. Walau hingga sekarang aku masih penasaran, apa alasan mu melakukannya." Jiyeon menaikkan pandangannya dan menoleh pada Sehun yang rupanya menatap dirinya.


Sehun mengacak rambut Jiyeon. "Jangan terlalu banyak berpikir, sana pergilah tidur." Sehun melangkah masuk kedalam. Lagi-lagi dia mengalihkan pembicaraan. Ya, baiklah pelan-pelan mungkin Jiyeon akan mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.


***


"Uwaaaahhhh... Kau sangat cantik Jiyeon, baju itu memang sangat cocok untuk mu." Heboh Jieun ketika melihat Jiyeon keluar dari dalam kamar mandi setelah mengganti baju. Jiyeon terlihat seperti wanita berkelas dan pebisnis hebat dengan baju berwarna putih dan bawahan hitam di padukan dengan mantel berwarna merah.



"Kau terlalu berlebihan Jieun." Ucap Jiyeon sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.


"Mereka yang melihatmu pasti akan terpesona." Lagi Jieun memuji kecantikan Jiyeon. Jiyeon hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan Jieun.


"Sudah ah, ayo turun.."


"Hem.."


Jiyeon dan Jieun keluar dari dalam kamar, mereka berdua turun ke bawah. Sehun dan Baekhyun menunggu di ruang tamu. Baekhyun yang menyadari kedatangan Jiyeon membuka mulutnya lebar dan itu berhasil mendapat tatapan aneh dari Sehun.


"Kau ini kenapa?" Tanya Sehun melihat Baekhyun yang aneh lebih aneh dari biasanya.


"Lihatlah ke belakang mu." Baekhyun menunjuk dengan dagunya. Sehun menurut dan menoleh kebelakang, Jiyeon tepat berdiri di belakangnya. "Bukankah dia sangat cantik?" Bisik Baekhyun di telinga Sehun.


"Tidak, biasa saja. Sudah ayo pergi kita bisa terlambat nanti." Sehun pergi lebih dulu keluar dari dalam rumah.


"Aish... Dia itu sok jual mahal, Jiyeon secantik ini dia bilang biasa saja. Sudah buta mungkin." Baekhyun menggerutu sambil berjalan keluar. Jiyeon tidak berharap Sehun akan memujinya atau mengatakan sesuatu yang baik. Karena hal itu memang mustahil.


***


Mereka sampai di perusahaan Hansang. Jiyeon mendadak gugup tapi dia pasti bisa melewati ini. Sebelum keluar, Jiyeon menarik nafas dan menghembuskan nya pelan lewat mulut. Setelah tenang, barulah Jiyeon keluar dari dalam mobil.


"Kau siap?" Tanya Sehun yang sudah keluar lebih dulu di banding Jiyeon. Jiyeon mengangguk kecil sebagai jawaban.


"Sehun tunggu." Panggil Baekhyun ketika dua orang itu hendak melangkah masuk ke dalam perusahaan.


"Ada apa?"


"Ada telpon penting dari perusahaan Zero." Baekhyun menyerahkan ponsel itu pada Sehun. Sehun menerima ponsel itu.


"Jiyeon masuklah kedalam lebih dulu, kau tahu dimana ruang pertemuannya bukan? Baekhyun akan menyusul setelah memarkir mobil begitu juga dengan ku. Tidak apa-apa kan?"


"Baiklah Sehun."


Sehun menjauh dari Jiyeon dan mengangkat panggilan itu. Jiyeon menatap gedung tinggi di depannya. Dia akan masuk sekarang dan memberikan kejutan pada sang paman, Jiyeon pasti akan merebut perusahaannya kembali. Jiyeon melangkahkan kakinya masuk kedalam gedung, semua orang yang melewatinya menatap Jiyeon dan berbisik. Jiyeon tidak peduli dan terus saja berjalan.


Jiyeon tepat di depan pintu ruang pertemuan. Menarik nafas dan menghembuskan nya pelan. Tangannya terulur dan membuka pintu ruang pertemuan itu.


"Maaf, saya terlambat." Ucap Jiyeon dengan nada yang santai. Semua orang yang berada di ruang rapat mengalihkan pandangannya pada Jiyeon. Bahkan pamannya sedikit terkejut dengan kedatangan Jiyeon.


"Jiyeon apa yang kau lakukan disini? Kau tidak lihat kami sedang rapat" Tanya paman Jiyeon yang duduk di kursi biasa ayahnya duduki dulu. "Sekertaris Choi tolong antar Nona Jiyeon keluar."


"Paman, aku juga punya hak untuk ikut dalam rapat, aku juga memiliki saham di perusahaan ini." Jiyeon tidak boleh sampai keluar dari ruangan ini. Dia setidaknya harus mengulur waktu hingga Sehun datang. Saat ini saham ayahnya masih di tangan pamannya, Jiyeon tidak boleh gegabah.


"Apa yang sebenarnya anak ini inginkan?" Batin paman Jiyeon.


"Hei nak, kembalilah ke rumah, rapat ini sangat penting tolong jangan mengacau disini." Salah seorang dari mereka yang ikut rapat merasa terganggu dengan kedatangan Jiyeon.


"Paman Kim aku juga punya hak dan aku tidak sedang mengacau." Jiyeon mulai merasa terpojok. "Apa kalian semua lupa? Paman terima kasih karena telah bekerja keras untuk menjadi direkrut pengganti Ayah ku, tapi tentu kalian ingat bahwa sebelumnya perusahaan ini di bangun dengan kerja keras Ayah ku. Jadi tidak salah bukan jika aku menghadiri rapat ini?"


"Karena ayahnya yang membangun perusahaan dia jadi begitu sombong." Semua orang tertawa. Jiyeon mulai geram.


"Jiyeon jangan kekanak-kanakan, kau hanya akan mempermalukan dirimu sendiri, kembalilah ke rumah. Tempat ini tidak cocok untuk mu." Kembali paman Jiyeon meminta Jiyeon agar pergi dari sana.


"Siapa bilang tempat ini tidak cocok untuknya?"


"Suara ini? Sehun?!" Jiyeon menoleh kearah pintu dan bersamaan dengan itu Sehun masuk kedalam ruang rapat.


"T-tuan Oh?" Semua yang ada di ruang rapat berdiri, bahkan paman Jiyeon juga terkejut. Pasalnya Sehun tidak pernah menghadiri acara pertemuan ini dan tiba-tiba dia datang bersama Jiyeon. Sungguh dia tidak menyangka sama sekali.


"Jiyeon sekarang memiliki setengah saham milik ku, jadi dia berhak ada disini. Yang mengusirnya berarti mengusir ku juga." Semua orang tidak bernai membantah, mereka tahu seperti apa Sehun dan jika mencari masalah sama dengan bunuh diri.


"Maaf tuan Oh, saya tidak tahu jika Jiyeon datang bersama dengan anda. Silahkan, kita akan mulai rapatnya." Jiyeon tersenyum sombong, pamannya tidak bisa melakukan apapun sekarang, Sehun benar-benar hebat pikir Jiyeon.



"Kau lihat ekspresi paman mu, aku tidak habis pikir, bagaimana bisa dia di pilih sebagai direktur pengganti Ayah mu." Jiyeon tertawa kecil jika mengingat bagaimana wajah pamannya pucat dan tidak bisa berkutik selama rapat berlangsung.


"Hanya orang bodoh yang akan memilih orang bodoh." Ucap Jiyeon, dia cukup senang melihat wajah pucat pamannya. Ini belum ada apa-apanya tunggu saja sampai Jiyeon mengambil alih perusahaan ayahnya lagi. "Dengan begini aku akan mudah masuk kedalam perusahaan."


"Hem... lakukan apapun yang ingin kau lakukan, tapi ingat jangan gegabah dan membuat kesalahan, harus selalu berhati-hati." Nasehat Sehun. Jiyeon mengangguk sebagai jawaban. Baekhyun diam-diam tersenyum tipis melihat interaksi dua orang di belakangnya itu.


"Oh ya Sehun, Krystal sudah kembali dia menunggu mu di rumah sekarang."


"Baiklah, kita langsung kembali ke rumah saja."


Baekhyun langsung menginjak pedal gasnya. Mobil ini langsung meluncur membelah jalan menuju kediaman Sehun.


"Jieun, dimana Krystal?" Tanya Sehun setelah memasuki kediamannya.


"Dia ada di ruang kerja mu, sudah menunggu sejak tadi." Sehun mengerti, tanpa banyak bicara lagi dia langsung melangkah menuju ruang kerjanya. Jiyeon masuk kedalam dan Sehun sudah tidak ada, ya mereka tidak masuk bersama Sehun lebih dulu masuk.


"Jieun, ada apa?" Tanya Jiyeon melihat ekspresi wajah Jieun yang terlihat khawatir.


"Tidak apa-apa Jiyeon, kau sudah kembali bagaimana pertemuannya? Ayo aku bantu kau berganti pakaian dan membersihkan make up." Jiyeon tidak mengerti, tapi sepertinya ada sesuatu yang Jieun sembunyikan. Jieun menuntun Jiyeon menaiki anak tangga dan mengoceh banyak hal.


"Bagaimana Krystal? Apa yang kau dapat?" Tanya Sehun langsung pada intinya, dia sudah tidak sabar mendengar informasi Krystal.


"Sehun... mereka sudah tahu jika kau mengirim mata-mata, penyamaran Kai terbongkar dan sekarang mereka menahannya."


Misi Krystal ada mencari tahu keberadaan Kai, sudah satu bulan lebih Sehun mengirim Kai tapi tidak ada kabar apapun dari pria itu, dia sudah curiga jika Kai tertangkap tapi tidak menyangka akan secepat ini. Mereka lumayan hebat juga pikir Sehun.


"Sehun kau harus lakukan sesuatu, mereka akan membunuh Kai jika kau tidak menyelamatkannya." Meskipun Kai kadang menyebalkan dan suka menggoda dirinya tapi mereka tetap saja teman dalam kelompok ini dan sudah bersama lebih dari enam tahun. Krystal tak ingin kehilangan lagi.


"Tenanglah Krystal, aku pasti akan menolong Kai. Dia juga sahabat sekaligus orang yang aku percaya, tak mungkin aku membiarkannya begitu saja." Sehun tengah memutar otak mencari solusi untuk masalah ini. Bagaimanapun juga dia harus menyelamatkan Kai.



Maaf kalau ada salah kata


semoga kalian terhibur dengan cerita ini..


Di tunggu vommetnya💜