
.
.
.
.
.
.
Jiyeon masih terlelap dengan damai, padahal matahari sudah mulai meninggi, tapi itu sama sekali tak mengusik tidurnya. Ia bergerak sedikit, dahinya membentuk beberapa lipatan-lipatan kecil merasa ada sesuatu yang salah. Jiyeon merasa ada sebuah benda yang cukup berat menindih area pinggangnya. Si gadis berusaha membuka mata yang masih berat, samar-samar Jiyeon melihat ada seseorang yang tertidur di sampingnya. Apa dia sedang bermimpi? Bukankah semalam ia tidur sendirian, lalu siapa yang tidur di sisi ranjang yang lain sambil memeluknya itu.
Jiyeon mengerjap-ngerjap beberapa kali hingga akhirnya kesadaran Jiyeon kembali, mata gadis itu melotot kaget, mulutnya terbuka lebar dan detik berikutnya ia berteriak.
"KYAAAAAAA!!" Teriak Jiyeon dan segera bangkit dari ranjangnya. Sehun yang rupanya tertidur di samping Jiyeon terbangun karena suara teriakan Jiyeon. Ia membuka mata dan melihat Jiyeon menatap dirinya marah campur terkejut.
"Kenapa teriak-teriak? Ini masih pagi Jiyeon, yang lain akan terbangun nanti." Sehun mengucek kedua matanya dan beringsut bangun dari posisi tidurnya. Jiyeon menatap Sehun marah, bagaimana bisa ia berucap begitu santai seolah tidak melakukan kesalahan apapun.
"Sedang apa kau di kamarku Sehun? Dan kenapa kau tidur disini?" Jiyeon berkacak pinggang, tatapan matanya seolah menghakimi Sehun yang seenak jidatnya masuk kedalam kamar Jiyeon, bahkan tidur bersebelahan. Sehun tersenyum dan menyisir rambutnya dengan jari-jari tangan, memperlihatkan betapa ia sangat tampan bahkan saat bangun tidur. Tapi tentu, itu tidak berpengaruh apapun pada Jiyeon.
Jadi semalam Sehun sudah berusaha untuk tidur, bahkan ia sampai berkeliling rumah demi untuk membuatnya lelah dan mengantuk, namun semua usahanya sia-sia dia tetap tidak bisa tidur, hanya berguling-guling ke sana kemari terbungkus selimut di atas ranjang. Hingga akhirnya ia berniat memanggil Jiyeon untuk menemaninya, setidaknya sampai ia terlelap. Ketika sampai di kamar gadis itu, Sehun melihat Jiyeon sudah tertidur, ingin membangunkan tapi ia tidak tega. Ya, Sehun juga hanya manusia biasa yang punya hati dan perasaan. Karena Jiyeon sudah tidur jadi Sehun putuskan untuk ikut tidur saja di samping Jiyeon dan ajaibnya dia langsung terlelap dengan nyenyak, tanpa banyak drama.
"Karena ini rumahku, jadi terserah aku mau tidur dimana saja." Jiyeon membuka mulutnya, wah. Jawaban Sehun benar-benar membuat Jiyeon kesal. Ya, ini memang rumah Sehun tapi bukan berarti dia bisa melakukan semua hal seenaknya. Jiyeon juga butuh privasi untuk dirinya.
"Tapi ini kamarku Sehun! Kau tidak bisa seenaknya begitu!"
Sehun menghela napas, kenapa masalah begini saja di besar-besarkan, lagipula Sehun juga tidak melakukan apapun, dia hanya tidur, ingat! Hanya tidur disini dan bukan mengambil kesempatan saat Jiyeon tidur. Dan satu hal lagi, mereka sudah menikah jadi sah-sah saja jika tidur dalam satu kamar yang sama.
"Sudahlah Jiyeon, aku hanya tidur saja tidak melakukan apapun. Semalam aku tidak bisa tidur dan mencari mu ternyata kau sudah tidur, tanpa sadar aku ikut tertidur disini." Sehun menyibakkan selimut yang menutupi pinggang hingga kakinya, ia berdiri di sisi ranjang Jiyeon yang lain. "Kita sudah menikah, jadi bukan hal aneh jika tidur bersama. Malahan aku ingin mulai malam ini kita tidur di dalam satu kamar yang sama saja." Ucap Sehun setelah berpikir semalaman. Hanya Jiyeon yang bisa membantunya tidur tanpa terganggu. Jadi ia putuskan untuk tinggal di kamar yang sama.
"Kau pikir aku mau?" Ucap Jiyeon yang tidak setuju dengan keputusan Sehun. Meskipun mereka sudah menikah bukan berarti harus tinggal dalam satu kamar yang sama. Pernikahan inipun palsu jadi untuk apa tinggal sekamar.
"Memangnya kau punya pilihan?" Sehun melipat tangannya di dada, matanya menatap Jiyeon seolah mengatakan bahwa dia adalah orang yang memiliki kendali atas dirinya. "Aku Tuan di rumah ini jadi semua harus mengikuti aturan yang aku buat, termasuk dirimu." Sehun menunjuk Jiyeon, dia tidak suka di bantah dan sekali memutuskan sesuatu maka hal itu akan terjadi, suka tidak suka, mau tidak mau Jiyeon harus mengikuti aturan Sehun.
Jiyeon tidak bisa berkutik, jika ia menolak pasti Sehun akan kembali mengancam dengan hal yang aneh-aneh. "Baiklah Sehun, terserah kau saja! Aku bilang tidak pun kau akan tetap memaksa ku!" Jiyeon berbalik, ia mendengus sebal dan masuk kedalam kamar mandi bahkan Jiyeon membanting pintu kamar mandi dengan begitu keras, seolah menunjukan bahwa ia tengah dalam suasana hati yang buruk.
Sehun menjilat bibirnya—Sexy, kemudian tersenyum kecil. Ia tahu jika Jiyeon marah, toh itu memang tujuannya. Entah kenapa ia senang sekali melihat ekspresi kesal Jiyeon, seolah hiburan tersendiri untuk Sehun. Ia keluar dari kamar Jiyeon dan bersaman dengan itu Jieun juga keluar dari kamarnya. Tentu Jieun mengernyit heran, kenapa Sehun keluar dari kamar Jiyeon? Lalu ia tersenyum dan menyusul langkah Sehun yang kini menuruni anak tangga.
"Yak! Sehun-ah!" Panggil Jieun dan berhasil menyusul langkah Sehun. Sehun hanya menoleh pelan sebentar pada Jieun kemudian kembali menunduk memperhatikan langkah kakinya. "Aigo... Apakah hubungan kalian sudah sejauh itu? Wah-wah, bagaimana aku bisa tidak tahu hal ini." Jieun menyenggol bahu Sehun—Menggoda.
Sehun memasang ekspresi wajah bingung, entah apa yang Jieun maksud. Sehun tidak mengerti. "Apa maksud mu Lee Jieun? Hubungan apa?" Sehun memasukan tangan kirinya kedalam saku celana, kenapa anak tangga di rumah ini begitu banyak hingga membuat dirinya tak sampai di lantai dasar.
"Ah... Jangan malu-malu begitu Sehun, kau bisa ceritakan semua padaku, aku janji tidak akan memberitahu yang lain." Sehun berhenti, berbalik menatap Jieun yang tengah tersenyum aneh pada dirinya, seolah telah menangkap basah Sehun melakukan tindak kriminal.
"Yak! Lee Jieun! Kau ini bicara apa sih? Yang terjadi tidak seperti apa yang ada di dalam otakmu. Jangan terlalu banyak nonton film barat." Sehun geleng-geleng kepala kemudian berlalu meninggalkan Jieun yang terbengong.
"Yak! Oh Sehun! Siapa yang menonton film barat?! Dasar bodoh!" Jieun bersengut, meniup poni depannya dan turun kebawah dengan menghentak-hentak kakinya kesal.
Sehun, Jiyeon dan yang lainnya tengah menikmati sarapan sebelum memulai aktivitas masing-masing. Jieun masih kesal dengan Sehun, ia makan dengan menatap Sehun sinis. Jiyeon juga, ia makan dengan kasar dan menusuk roti isi seolah menusuk perut musuh. Krystal menatap dua gadis itu heran. Entah apa yang merasuki keduanya hingga tampak menyeramkan. Ia menghendikan kedua bahunya dan fokus memakan makanannya.
"Jiji manis, makan yang banyak ya biar tubuhmu semakin berisi dan sexy." Lagi-lagi Kai asik menggoda Jiyeon. Krystal langsung saja menginjak kakinya setelah menyadari tatapan dingin Sehun. "Krys sayang, kenapa kau menginjak kaki ku? Kan sakit." Krystal memasukkan sepotong roti kedalam mulut Kai guna menyumpalnya agar tidak membeo.
"Sudah, makan saja jangan banyak bicara." Ucap Krystal sebal. Jiyeon terkekeh pelan melihat interaksi antara Krystal dan Kai yang ia rasa sangat lucu.
"Hari apa yang akan kau lakukan?" Suara Sehun yang bertanya pada Jiyeon. Hari ini ia harus pergi ke Busan, ada meeting dengan klien di sana dan kemungkinan akan pulang saat hari sudah malam. Ia akan membahas tentang hotel baru yang akan ia bangun di sana dekat dengan pantai.
"Krystal mengajak ku pergi berbelanja, kenapa?" Sehun manggut-manggut. Ia pikir akan mengajak Jiyeon ke Busan sekalian melihat-lihat, siapa tahu saja si gadis butuh hiburan tapi jika sudah pergi bersama Krystal maka ya sudah tidak masalah. Mereka bisa pergi lain kali.
"Oh begitu.." Ucap Sehun dan kembali melahap roti isi yang tinggal sepotong kecil. Jiyeon menatapnya sambil mengernyit heran entahlah ia benar-benar tidak paham dengan jalan pikirkan Sehun.
Selesai sarapan, Sehun segera berangkat bersama Baekhyun. Ia harus ke kantor dulu mengambil beberapa berkas dan berangkat ke Busan. Jieun hari ini ingin perawatan saja, di luar panas tidak baik untuk kulit putihnya yang sudah susah payah ia jaga. Sedangkan Kai akan kembali tidur atau jika tidak bermain game sampai mendapatkan misi yang lain dari Sehun. Krystal dan Jiyeon langsung pergi. Krystal mengincar sebuah jaket denim dan ia harus segera membelinya, jika tidak akan habis dibeli orang.
..
Krystal dan Jiyeon kembali berkeliling pusat perbelanjaan, dua gadis itu nampak cantik di tengah banyak orang yang berjalan-jalan di sana. Aura keduanya terpancar mengalahkan aura yang lain. Selama ini banyak sekali yang ingin menjadikan Krystal sebagai kekasih, tapi gadis bar-bar berwajah sangar itu tak menggubrisnya. Ia masih nyaman dengan kesendiriannya dan bahkan seperti tak punya niatan untuk menjalin sebuah hubungan dengan serius.
Dia sampai di toko pakaian yang menjual jaket incarannya, Krystal langsung masuk kedalam dengan menggandeng tangan Jiyeon. Tujuannya adalah jaket denim yang di panjang di kaca toko. Pelayan datang dan bertanya pada Krystal, apakah ada yang bisa di bantu. Tak mau basa-basi Krystal langsung mengatakan jika ia ingin membeli jaket denim itu, pelayan toko mengerti dan mengambil jaket itu untuk di bungkus.
"Jiyeon, kau tidak ingin beli sesuatu?" Tanya Krystal, mumpung mereka masih ada disini, siapa tahu ada yang ingin Jiyeon beli atau tertarik dengan sesuatu. Jiyeon menggeleng.
"Tidak, aku tidak mau beli apapun tapi sekarang perut ku kembali lapar." Gadis bermata kucing itu nyengir lebar, berkeliling sebentar saja dan tenaganya langsung berkurang, perutnya sudah berteriak minta diisi. Krystal terkekeh, ia mengatakan setelah ini langsung mencari makan.
Krystal membayar jaket itu dan keluar dari toko bersama dengan Jiyeon. Keduanya nampak tertawa bahagia menikmati obrolan ringan seputar keseharian dan kebiasaan aneh mereka. Rupanya, sejak Jiyeon keluar dari toko tadi ada sepasang mata yang mengawasinya bahkan kini ia mengikuti langkah kaki Jiyeon dengan jarak sekitar sepuluh langkah.
Ketika Jiyeon hendak masuk kedalam restoran yang ada di pusat perbelanjaan, pergelangan tangannya di cekal membuat Jiyeon dan Krystal menoleh. Ekspresi wajah Jiyeon berbuah mengeras, ia menepis tangan seseorang yang menahannya itu kasar.
"Kau! Mau apa kau mengikuti ku?!" Sinis Jiyeon, ia tak menyangka akan bertemu dengan pria ini disini, bahkan ia lancang sekali memegang tangan Jiyeon.
"Jiyeon aku ingin bicara dengan mu." Jiyeon merotasikan matanya jengah. Dia tidak merasa ada hal yang harus di bicarakan dengan pria yang berdiri di hadapannya ini, melihatnya saja Jiyeon muak.
"Pergilah, aku tidak ingin berbicara dengan mu!" Jiyeon berbalik hendak masuk tapi sekali lagi pria itu menahan tangan Jiyeon. Krystal langsung menarik tangan pria itu dan memelintirnya kebelakang. Pria seperti ini tidak bisa diajak bicara baik-baik, harus dengan cara kasar baru mengerti.
Seungho mengibas-ngibaskan tangannya yang baru saja dipelintir oleh Krystal, jika ada gadis itu dia tidak bisa berbicara dengan Jiyeon. Seungho harus melakukan sesuatu. Ia berbalik pergi, mengeluarkan telpon pintarnya menghubungi seseorang.
Jiyeon dan Krystal keluar dari gedung perbelanjaan, mereka menuju parkiran untuk mengambil mobil. Namun siapa sangka ada beberapa orang berbadan besar dengan alat pukul, ia meminta Krystal dan Jiyeon keluar dari dalam mobil. Krystal berdecak kesal, ia mengambil besi yang berada dibawah jog belakangnya. Dua gadis itu turun dari dalam mobil.
"Mau apa kalian?" Tanya Krystal tak gentar walau lawannya begitu banyak dan memiliki fisik lebih besar di banding Krystal.
"Serahkan gadis itu dan aku tidak akan menyakiti kalian."
Ah, sepertinya Krystal tahu siapa dalang di balik tindakan pengecut ini. Siapa lagi jika bukan Yoo Seungho, pria brengsek yang tidak tahu malu. Gadis itu mengeram marah.
"Lupakan saja! Aku tidak akan menyerahkannya!"
Pria berbadan besar itu mulai maju menyerang, ia melayangkan tongkat bisbol ke arah Krystal dan dengan sigap Krystal menangkis tongkat itu kemudian memukul perut si pria dengan besi yang ia bawa. Jiyeon yang sudah terlatih ikut membantu Krystal, meskipun ia tidak sehebat Krystal tapi Jiyeon masih sanggup menghadapi tikus-tikus pengganggu seperti mereka. Jiyeon memukul wajah sang pria lalu menarik kerah bajunya, kemudian ia menendang perutnya hingga jatuh tersungkur. Jiyeon kehilangan fokus membuatnya terkena pukulan tepat di pelipis. Ia membalas pukulan itu lebih beringas.
Mereka berdua kewalahan, lawan yang jatuh kembali bangkit. Sungguh sangat melelahkan dan tidak ada habisnya. Napas Krystal sudah naik turun tidak teratur begitu juga dengan Jiyeon, sudut bibirnya berdarah terkena pukulan.
Pria-pria itu seolah tak memberikan sedikit waktu untuk Krystal dan Jiyeon istirahat. Mereka membabi buta dan membalas setiap pukulan-pukulan yang kedua wanita itu berikan. Karena tenaga mereka sudah terkuras, Krystal jatuh tersungkur dan Jiyeon berhasil mereka tangkap.
"Jiyeon!!" Teriak Krystal yang masih berusaha untuk bangkit, tapi ia mendapat pukulan di tengkuknya membuat ia jatuh kembali. Jiyeon meronta-ronta, ia ingin membantu Krystal tapi orang-orang ini terlalu kuat dan menyeretnya dengan kasar masuk kedalam mobil. Orang-orang itu pergi meninggalkan Krystal yang tergeletak di lantai.
Setelah mobil para pria berbadan besar itu pergi. Krystal berusaha bangkit dengan sisa tenaga yang ia punya, kesadarannya mulai menipis. Gadis itu mengambil ponsel di dalam mobil dan segera menghubungi Sehun.
...
"Lepaskan aku! Lepaskan aku! Ku bilang lepaskan!" Jiyeon terus berontak ketika pria-pria itu membawanya kesebuah gedung apartemen yang sangat ia kenal, ini adalah apartemen milik Seungho. Jiyeon tidak menyangka bahwa pria brengsek itu akan menggunakan cara seperti ini demi untuk bertemu.
Mereka memasukan Jiyeon kedalam apartemen Seungho. Jiyeon terduduk ketika kedua orang itu menghempaskan tubuh Jiyeon kasar. Di depannya ada seseorang yang berdiri membelakanginya, tak perlu di tanya Jiyeon sudah tahu siapa pria itu. Otak dari semua kejadian ini. Jiyeon berusaha berdiri, Seungho berbalik dan meminta anak buahnya untuk keluar.
"Apa kabar sayang, lama tidak bertemu." Ucap Seungho terdengar menjijikkan di telinga Jiyeon. Jiyeon memalingkan wajahnya ketika tangan Seungho hendak membelainya. "Aw... jika saja kau menurut dan tidak keras kepala, mungkin wajah mu yang cantik ini tidak akan terluka." Seungho geleng-geleng kepala dan sok sedih menatap wajah Jiyeon yang sedikit terluka.
"Apa mau mu?! Kenapa kau melakukan ini?!" Jiyeon ingin segera pergi dari sini, perasaannya tidak enak.
"Kau terlihat semakin cantik sejak terakhir kali kita bertemu, apa kau tidak rindu padaku Jiyeon?" Seungho mulai berputar-putar mengitari tubuh Jiyeon, benar-benar perbedaan yang ketara sekali, padahal baru beberapa bulan saja mereka tidak bertemu dan Jiyeon semakin cantik.
"Cih..." Jiyeon berdecih. Sekali brengsek tetap saja brengsek. "Aku tidak punya waktu untuk meladeni mu." Jiyeon berbalik hendak pergi, tapi Seungho menarik tangan Jiyeon dan memeluk tubuh si gadis dari belakang. Jiyeon meronta-ronta minta di lepas dan ketika berhasil melepaskan diri, ia melayangkan sebuah tamparan keras pada wajah Seungho.
"Kau menjijikan Seungho!" Ucap Jiyeon dengan mata yang penuh amarah. Ia tidak tahu bagaimana bisa dulu jatuh cinta pada pria yang ternyata sangat hina seperti Seungho. Seungho memegangi pipinya yang terasa perih karena tamparan Jiyeon, tapi ia menyukainya. "Aku menyesal pernah mengenal mu dan aku sangat bersyukur karena kita berpisah!!" Jiyeon kembali berbalik, berlari menuju pintu keluar, tapi Seungho tidak membiarkan begitu saja.
Seungho kembali menarik tangan Jiyeon, menyeret si gadis masuk kembali dan melemparnya pada sofa yang berada di ruang tengah apartemen Seungho. Seungho menyeringai. "Dulu aku tak bisa menikmati bagaimana rasa tubuhmu, sekarang mari kita coba." Seungho melepas jas hitamnya, Jiyeon menendang tepat pada kejantanan Seungho ketika ia lengah dan ia kembali berlari keluar saat Seungho mengaduh kesakitan. Sialnya, anak buah Seungho masih berada di luar.
"Tangkap gadis itu dan bawa masuk!!" Teriak Seungho di tengah rasa nyeri yang melanda. Jiyeon kembali di seret masuk kedalam ruangan itu, tangan dan kakinya di ikat supaya tidak berbuat macam-macam lagi.
Oh sungguh, Jiyeon takut sekarang. Ia berteriak dan meronta-ronta, tapi tak ada yang merasa kasihan atau mau berbaik hati menolong Jiyeon. Air mata itu mengalir deras dari pelupuk mata Jiyeon, melihat Jiyeon yang ketakutan seperti itu membuat Seungho semakin bergairah, pikirannya sudah tak bisa ia kendalikan. Membayangkan betapa nikmatnya tubuh Jiyeon.
"Tidak! Tidak! Aku mohon jangan lakukan ini! Jangan!" Jiyeon menggeleng kuat dengan terus bergerak tak beraturan. Dalam hati berdoa meminta pertolongan pada Tuhan. Seungho tidak mempedulikan cicitan Jiyeon. Ia meraba kaki jenjang Jiyeon lembut, membuat sang empunya bergidik ngeri. Jiyeon tidak mau ini, ia tidak mau! Siapapun tolong Jiyeon! Tolong hentikan pria brengsek ini sekarang juga.
"Nikmati saja sayang.." Ucap Seungho yang sudah di penuhi dengan nafsu. Seungho merobek baju atas Jiyeon hingga mempertontonkan buah dada Jiyeon yang masih berbalut bra berwarna putih. Membuat Seungho semakin menggila.
"Jangan! Jangan!" Jiyeon memukul-mukul pundak Seungho dengan tangannya yang terikat. Isak tangisnya terdengar menyayat hati, tangan Seungho mulai membelai wajah Jiyeon dan turun pada lehernya. "Jangan lakukan itu! Tolong! Tolong! OH SEHUNNNNN!!" Teriak Jiyeon dengan menyebut nama Sehun karena hanya nama itu yang terlintas dalam benaknya.
BRAAAKK!!
Suara pintu yang di buka dengan kasar, pria itu menyeruak masuk kedalam apartemen Seungho, terlihat jelas kilatan amarah di matanya yang tajam, ia kemudian menarik kerah baju belakang Seungho menjauhkannya dari tubuh Jiyeon.
"Brengsek!!" Satu pukulan berhasil ia layangkan pada wajah ******** itu, tak hanya sekali namun berkali-kali Sehun memukul wajah Seungho—Membabi buta.
Jiyeon segera bangun dan melihat Sehun yang menghajar Seungho tanpa ampun, tubuhnya bergetar ketakutan namun ia berterima kasih pada Tuhan karena telah menyelamatkan dirinya dengan perantara Sehun.
"BERANI SEKALI KAU MENYENTUHNYA!!" Lagi, Sehun memukul wajah Seungho yang bahkan sudah lebam dan mengeluarkan banyak darah. Baekhyun segera masuk dan menghentikan aksi membabi buta Sehun.
"Hentikan Sehun! Kau bisa membuatnya tewas! Hentikan!" Ucap Baekhyun menahan lengan kekar Sehun yang hendak kembali melayangkan pukulan pada Seungho.
"Lepaskan aku! Biar aku membunuh pria brengsek ini!!"
"Tidak Sehun! Lupakan dia dan lihatlah Jiyeon!"
Sehun langsung tersadar dan menoleh pada sofa dimana Jiyeon berada, gadis itu tampak ketakutan dengan air mata yang membasahi wajahnya. Sehun menghempaskan tubuh Seungho yang sudah tak sadarkan diri ke lantai.
"Kau urus dia!" Ucap Sehun pada Baekhyun. Sehun melangkah mendekati Jiyeon, ia melepaskan mantel tebal yang ia pakai guna menutupi tubuh Jiyeon yang setengah telanjang. Sehun merengkuh tubuh gemetar Jiyeon dan mendekapnya erat. "Semua baik-baik saja Jiyeon, aku disini." Ucap Sehun, kemudian membawa Jiyeon keluar dari apartemen terkutuk itu dengan menggendong tubuh Jiyeon.
Jiyeon ketakutan, tapi ia merasa lega karena Sehun bersama dengan dirinya apa lagi pria ini mendekapnya dengan begitu erat hingga membuat rasa takut Jiyeon berkurang perlahan-lahan. Isak tangisnya juga sudah berhenti sejak keluar dari apartemen.
Sehun tadinya sudah berangkat menuju Busan, tapi setelah mendapatkan panggilan dari Krystal dan mengatakan bahwa Jiyeon di bawa paksa oleh anak buah Seungho Sehun langsung naik pitam meminta Baekhyun untuk putar balik, bahkan ia sampai bertukar posisi dengan Baekhyun. Ia mengendarai mobil seperti pembalap. Sehun khawatir terjadi hal buruk pada Jiyeon. Sehun benar-benar marah ketika melihat apa yang Seungho lakukan pada Jiyeon ketika ia sampai, matanya mengelap dan menghajar Seungho tanpa ampun. Sehun tidak akan membiarkan Seungho hidup, itu janjinya.
Sehun membawa Jiyeon pulang, ia tidak peduli dengan meeting atau apapun itu. Dia bisa menjadwal ulang pertemuan dengan orang-orang di Busan setelah memastikan bahwa Jiyeon dalam keadaan aman dan baik-baik saja.
Uwuwu.... Semoga kalian suka sama part kali ini. Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca yes!
Terima kasih♡️