
.
.
.
.
.
.
1 Minggu Kemudian__
Kondisi fisik Sehun sudah kembali pulih juga luka-luka di wajah dan tubuhnya sedikit demi sedikit mulai sembuh. Ya, Sehun mengeluarkan cukup banyak uang demi untuk membuat wajah tampannya kembali seperti semula tanpa sedikitpun luka, jangan lupa bahwa dia adalah Oh Sehun yang bisa melakukan apapun yang ia inginkan juga punya harga diri tinggi dan dipuja-puja oleh banyak orang.
Selama satu minggu ini pun Jiyeon tak pernah absen menemani Sehun tidur saat malam hari, meskipun harus di paksa dan di ancam dulu baru Jiyeon mau untuk menemaninya tidur. Gadis itu cukup keras kepala juga sama seperti dirinya. Belakang, Sehun sudah jarang mengigau atau bermimpi buruk. Ia tidur dengan pulas hingga pagi datang, namun setiap ia bangun pasti sisi ranjang sebelahnya sudah kosong. Jiyeon selalu bangun lebih awal ketimbang dirinya dan anehnya Sehun tidak pernah merasakan apapun ketika Jiyeon beranjak dari sisi ranjangnya.
Sehun juga sudah mulai bekerja di kantor, sudah seminggu lebih dia absen dan meninggalkan berbagai macam dokumen yang terbengkalai, meskipun begitu dia masih harus meminta bantuan Baekhyun. Tangan kanannya belum pulih benar dan masih harus di periksa minggu ini.
Jiyeon sendiri juga sibuk dengan urusannya, masih menjalankan rencana yang hanya dia Krystal dan Jieun yang tahu tentang rencana Jiyeon ini. Dia jarang berada di rumah dan pulang pun ketika hari sudah gelap. Sehun selalu bertanya ia pergi kemana dan jawaban Jiyeon selalu sama 'kau akan tahu nanti' dan jika Jiyeon sudah bilang begitu maka Sehun tak akan bertanya lebih jauh lagi. Dia percaya Jiyeon bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.
Hari ini pun Jiyeon kembali pergi bersama dengan Krystal. Dia memakai pakaian serba hitam dan sebuah masker guna menutupi wajah cantiknya. Krystal pun juga melakukan hal yang sama, Jieun tidak ikut karena di rasa ini berbahaya dan bisa saja mereka tertangkap kalau sampai ketahuan. Tapi rupanya Jiyeon memberikan tugas yang lain untuk Jieun, tugas yang lebih mudah.
Hari ini, mereka akan memanen hasil yang telah di taman selama seminggu ini. Jiyeon naik kedalam mobil Krystal lengkap dengan peralatan tukang ledeng. Krystal langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota Seoul yang ramai.
Dua gadis itu sampai di sebuah gedung apartemen yang terdiri lebih dari 30 lantai. Keduanya mengambil peralatan yang ada di kursi belakang, setelahnya turun dari dalam mobil. Perjalan dengan santai supaya orang lain tak curiga dan menganggap mereka ******* atau sejenisnya. Krystal dan Jiyeon masuk kedalam sebuah lift. Jiyeon menekan angka 17 karena di sanalah dia akan memanen hasil tanamannya.
"Kau siap Krys?" Tanya Jiyeon ketika mereka berdua sudah berdiri di depan salah satu pintu apartemen gedung ini. Krystal tersenyum dan mengangguk mantap, dia akan siap kapanpun itu. Tidak perlu di tanya lagi.
Krystal menekan bel di samping pintu, tak berapa lama pintu apartemen itu terbuka menampilkan sosok wanita berwajah angkuh yang bersiap untuk pergi. Hari ini adalah jadwalnya untuk ke salon untuk keramas, perawatan wajah, kuku dan masih banyak lagi. Dua hari lagi adalah hari pernikahannya dan dia tak mau sampai terlihat jelek dihari yang membahagiakan itu.
"Selamat siang Nona, kami tukang ledeng yang anda panggil pagi ini." Ucap Krystal ramah. Si wanita melihat dua orang itu dari atas hingga bawah, Jiyeon sedikit gugup apakah penyamarannya terbongkar dengan begitu mudah?
"Ah syukurlah kalian sudah datang. Kebetulan aku mau pergi, jadi kalian bisa membenarkan kran air yang bocor di kamar mandi ku." Naeun tidak peduli apakah tukang ledeng itu perempuan atau laki-laki yang penting kran air di kamar mandinya tak bocor lagi hingga membuat sisi kamarnya banjir.
"Baik Nona akan kami kerjakan." Jiyeon dan Krystal langsung masuk kedalam apartemen Naeun.
Naeun memperhatikan kedua orang itu sebentar sebelum akhirnya dia menghendikan bahu tidak peduli. Gadis itu bergegas pergi karena ibu mertuanya sudah menunggu di salon.
Selepas kepergian Naeun. Krystal meminta anak buahnya yang bekerja di sini mematikan kamera pengawas di dalam apartemen Naeun. Semua kamera pengawas itu telah padam. Jiyeon bernafas lega, ia pikir Naeun mengenali dirinya. Untung saja gadis itu cukup bodoh hingga tidak sadar siapa yang berdiri di hadapannya.
"Kau kenapa Ji?" Tanya Krystal melihat Jiyeon menghembuskan napasnya.
"Ku pikir akan ketahuan tadi." Ucap Jiyeon melepas masker yang ada di wajahnya.
"Untungnya tidak kan? Sudahlah kita harus mulai bekerja." Jiyeon mengangguk, langsung saja mereka mengambil sebuah kamera tersembunyi di balik tumpukan buku-buku di kamar Naeun juga kamera yang lain, yang berada di setiap sudut kamar dengan posisi yang berbeda.
Bahkan kamera sebanyak ini pun Naeun masih tidak sadar. Bodoh sekali bukan. Jiyeon dan Krystal jugalah yang beberapa waktu lalu memasang kamera ini, bertepatan dengan Naeun yang ada temu janji dengan temannya. Saat itu Krystal juga meminta anak buahnya untuk mematikan kamera pengawas di dalam apartemen Naeun hingga mereka bisa masuk ke dalam dengan leluasa apalagi selama ini Naeun tidak pernah mengganti password apartemen, jadi Jiyeon tentu tahu kata sandinya.
"Kita periksa disini?" Tanya Jiyeon, dia sebenarnya takut jika apa yang ia harapkan tidak sesuai dengan hasil yang di dapat.
"Tidak, kita keluar dulu baru periksa hasilnya." Terlalu berbahaya jika mereka memeriksa di dalam sini. Bisa saja Naeun kembali tanpa sepengetahuan mereka.
"Lalu kran airnya bagaimana?"
"Nanti orang yang benar-benar membenarkan kran air akan datang."
Jiyeon mengangguk mengerti. Ia memasukan semua kamera itu kedalam tas dan membereskan kamar Naeun supaya si gadis tak curiga. Setelah ini mereka masih harus memeriksa isi di dalam kamera dan melakukan pekerjaan yang lain.
Sehun merasa bosan, seharian hanya duduk membaca dokumen yang masih ada setumpuk di sisi mejanya. Ia lelah, matanya juga lelah. Padahal ia pikir tak akan sebanyak ini, baru di tinggal seminggu saja sudah begini bagaimana jika sebulan? Oh, Sehun tak akan bisa membayangkannya.
Pintu ruangannya di ketuk pelan dari luar dan beberapa menit kemudian seseorang masuk kedalam. Ternyata Baekhyun lah yang datang dengan membawa segelas teh yang Sehun minta.
"Ini teh mu." Baekhyun meletakkan teh itu di atas meja Sehun. Dia melihat masih begitu banyak dokumen yang harus Sehun baca dan tanda tangani. Lembur satu hari pun tak akan selesai. "Masih belum selesai juga?"
"Kau pikir aku robot? Mataku sakit bodoh, tangan ku juga." Sehun menyesap teh yang Baekhyun bawakan untuknya.
"Biar aku bantu." Baekhyun duduk di kursi depan Sehun, ia mengambil salah satu dokumen itu dan membaca isinya. Sedangkan Sehun bersandar pada punggung kursi lalu memejamkan matanya sebentar.
"Hei Sehun.." Panggil Baekhyun tanpa mengalihkan perhatiannya pada lembaran kertas putih itu.
"Hem.." Jawab Sehun tanpa membuka kedua matanya. Dia lelah.
"Kemarin dia menelpon ku, menanyakan tentang mu. Sebenarnya aku tidak mau mengangkat telponnya, tapi aku kasihan dengannya." Sehun tahu betul siapa yang di maksud 'dia' oleh Baekhyun. "Suaranya terdengar bergetar menahan tangis. Apa kau benar-benar tidak mau menghubunginya? Sekali saja, mungkin ada sesuatu yang ingin dia sampaikan padamu." Baekhyun tahu Sehun sangat mencintai wanita yang kini telah berubah status sebagai kakak iparnya dan saat ini Sehun hanya sedang marah hingga tak mau berbicara dengan wanita itu.
Sehun membuka mata, menatap langit-langit ruangannya yang bernuansa coklat pekat. Sehun sudah tidak memikirkannya lagi, dia benci dikhianati dan sampai kapanpun dia tidak akan memaafkan orang yang telah mengkhianati dirinya. Bahkan jika orang itu adalah orang yang paling ia cintai.
"Kau berisik Baek.." Akhirnya hanya kalimat itu yang keluar dari bibir Sehun. Ia tidak mau mengungkit lagi masalah mantan kekasihnya itu, bagi Sehun mantan kekasihnya sudah mati dan tidak ada lagi cinta untuknya.
Baiklah, mungkin Sehun masih marah. Besok lagi ia akan mencoba bertanya pada Sehun saat kondisi si pria sudah membaik. Dia yakin, Sehun masih sangat mencintai mantan kekasihnya itu. Dan pasti ada alasan kenapa sang mantan kekasih menerima pernikahan dengan kakak Sehun.
Jiyeon bersorak senang, tak sia-sia ia meletakkan kamera tersembunyi di dalam apartemen Naeun. Ia mendapatkan apa yang ia inginkan. Dua gadis itu ber-highfive karena rencana mereka berjalan dengan lancar. Setelah ini masih ada tugas yang lain. Jiyeon akan menyerahkan tugas ini pada Krystal karena dia lebih ahli dan jika Jiyeon ikut hanya akan membuat Krystal kerepotan.
"Kau langsung pulang?" Tanya Krystal setelah pembicaraan panjang mereka tentang rencana berikutnya.
"Heum..."
"Baiklah, hati-hati di jalan oke.. aku tidak bisa mengantar mu."
Jiyeon mengangguk, setelah itu Krystal pergi. Mungkin dia akan duduk di cafe ini untuk beberapa menit lagi. Rasanya seperti sudah lama sekali Jiyeon tidak duduk dan menikmati suasana seperti ini. Dulu setelah pulang dari kampus ia akan pergi ke cafe dengan teman-temannya, hanya sekedar mengobrol dan bercerita tentang hari mereka yang panjang tapi menyenangkan lalu setelah itu pulang. Ia rindu masa-masa itu. Andai saja, andai saja Jiyeon bisa memutar waktu, andai saja dia di berikan kesempatan untuk kembali ke masa lalu. Maka Jiyeon akan memperbaiki segalanya, ia bisa mencegah segala malapetaka yang datang menghancurkan keluarga bahagianya. Tapi angan tetap lah angan dan yang terjadi sudah terjadi. Di sesali pun tak akan merubah apapun.
"Memikirkan ku honey?" Jiyeon tersentak kaget ketika sebuah suara menyapa indra pendengarannya. Sontak saja gadis itu menoleh dan mendapati Sehun yang kini duduk manis di kursi sebelahnya.
"Kau? Sejak kapan kau ada disini?" Jiyeon terlalu sibuk dengan lamunan juga kenangan-kenangan indahnya di masa lalu hingga tak sadar bahwa seseorang telah duduk di sebelahnya.
"Kenapa? Kau terkejut?" Sehun menyeringai.
Setelah merasa lelah dan cukup dengan dokumen-dokumen sialan itu, Sehun memutuskan untuk pulang tak peduli jika dokumen itu harus segera di urus. Sehun hanya ingin pulang dan beristirahat di ranjangnya yang empuk. Namun siapa sangka, ketika berhenti di lampu merah matanya menangkap sosok wanita yang amat ia kenal tengah duduk seorang diri dengan wajah serius seolah memikirkan masalah negara. Langsung saja Sehun meminta Baekhyun untuk putar balik guna menghampiri Jiyeon.
"Sedang apa kau disini? Bukankah kau harusnya masih ada di kantor?"
"Kau sendiri sedang apa disini? Bukankah tadi kau bilang akan pergi dengan Krystal? Lalu dimana dia?"
Jiyeon merotasi kan bola matanya jengah, decak kan kecil juga keluar dari mulut kecilnya. Berbicara dengan Sehun bener-bener harus ekstra sabar.
"Krystal sudah pergi tadinya aku mau pulang, tapi masih betah disini."
"kenapa masih betah disini? Memang kau pernah kencan disini dengan kekasih mu"
"Bukan begitu, dulu aku sering pergi dengan teman-teman ku setelah pulang kuliah. Itu saja, bukan kencan."
"Oh.."
Kenapa juga dia harus menjelaskan tentang ini pada Sehun. Harusnya Jiyeon diam saja.
"Kalau begitu kita pulang bersama saja." Sehun berdiri dan menarik lengan Jiyeon agar mengikuti dirinya.
"Jangan ditarik begitu, aku bisa jalan sendiri Sehun." Sehun tidak peduli dan masih menarik Jiyeon hingga sampai di dekat mobil. Sehun membukakan pintu untuk Jiyeon, gadis itu langsung masuk kedalam.
Setelah keduanya sudah masuk kedalam, Baekhyun langsung menyalakan mesin mobil setelah itu mobil mulai bergerak meninggalkan area parkir depan cafe.
"Kau memanggil ku? Yak! Apa-apaan dengan semua panggilan itu. Tadi honey sekarang lolly pop." Jiyeon menggeleng pelan, tak mengerti dengan jalan pikirkan Sehun.
"Bukankah itu manis? Harusnya kau senang karena aku memberikan panggilan sayang untuk mu."
"Sudah berapa kali aku bilang Sehun, jangan samakan aku dengan wanita-wanita mu."
"Dan sudah berapa kali aku bilang Jiyeon, aku tidak hobi mengoleksi wanita dan sekarang hanya kau saja wanita yang benar-benar dekat dengan ku."
Blush!
Pipi Jiyeon tiba-tiba saja memanas, ucapan Sehun tadi berhasil membuat Jiyeon terdiam. Entah bagaimana, ada sesuatu yang menggelitik hati kecilnya.
"Ya ya... Terserah kau saja Sehun." Jiyeon tak mau ambil pusing, dia langsung memalingkan wajah pada jendela di sampingnya.
"Aku tidak bohong Jiyeon."
"Memang aku ada bilang kau bohong?"
"Wajahmu mengatakan segalanya."
"Hiss... sok tahu."
Perdebatan dua orang itu akhirnya berhenti dan keduanya sama-sama diam.
Di tengah perjalanan, Baekhyun mendapatkan sebuah panggilan. Dia terkejut tapi tetap tenang. Sehun menyadari perubahan pada wajah Baekhyun. Ia mulai berpikir apakah ada sesuatu yang salah.
"Siapa yang menelpon Baek?" Tanya Sehun penasaran.
"Sehun, pengurus rumah Jisoo bilang bahwa sekarang Jisoo sedang melakukan aksi mogok makan dan dia juga mengatakan bahwa akan mengakhiri hidupnya jika kau tidak datang." Jelas Baekhyun setelah menutup panggilan singkat itu.
"Hisshhh... Wanita itu." Umpat Sehun. Jiyeon meliriknya sekilas lalu kemudian mengangkat bahunya tak peduli.
"Dia bilang tidak suka mengoleksi wanita, lalu siapa Jisoo? Dasar pembohong."
"Putar balik. Kita ke tempat Jisoo Baek."
"Baik Sehun."
Baekhyun melakukan apa yang Sehun perintahkan, dia memutar kemudinya dan menjalankan mobil menuju rumah Jisoo. Jiyeon tak berkomentar apapun, jika dia buka suara yang ada perdebatan kecil yang tadi sirna akan kembali menguap. Ia hanya diam dan menurut saja kemana Sehun akan membawa dirinya.
Akhirnya mereka sampai juga di depan sebuah rumah mewah. Seorang satpam dengan sigap membukakan gerbang setelah tahu siapa yang datang. Baekhyun langsung masuk kedalam setelah gerbang terbuka lebar.
Sehun keluar dari dalam mobil, Jiyeon sebenarnya malas sekali keluar tapi Sehun memintanya ikut serta dan kalian tentu tahu bahwa perintah Sehun adalah mutlak dan tidak bisa di bantah. Jadilah Jiyeon ikut keluar dan masuk kedalam rumah seorang yang bernama Jisoo.
Para pelayan di rumah ini langsung menyambut kedatangan Sehun, mereka tidak tahu lagi harus menghubungi siapa karena Nona mudanya menggila dan mengancam akan mengakhiri hidupnya jika Sehun tidak datang.
"Dimana dia?" Tanya Sehun tanpa basa-basi.
"Di balkon Tuan, Nona mengancam akan melompat jika anda tidak datang." Pelayan itu sungguh takut, jika terjadi sesuatu pada nona mudanya pastilah ia yang akan terkena imbasnya.
Sehun dengan langkah kaki lebarnya menaiki anak tangga, Jiyeon dan Baekhyun mengikuti di belakang. Sebenarnya siapa Jisoo? Apakah dia salah satu dari wanita Sehun? Atau mungkin keluarga Sehun? Oh, banyak sekali pernyataan dalam benak Jiyeon tapi tak ada satupun yang dapat ia pikirkan. Sudahlah, dia akan tahu jawabannya nanti.
"Jangan mendekat!! Aku akan lompat jika kalian mendekat!!"
"Sehun! Aku mau Sehun!"
Samar-samar Sehun mendengar suara Jisoo ketika hampir sampai di balkon. Jiyeon pun juga mendengar suara histeris itu. Dan ketika mereka sampai, Jisoo sudah mengambil ancang-ancang akan loncat. Saat itu Jiyeon mengangguk mengerti, ternyata ini yang namanya Jisoo.
"Berhentilah bersikap seperti anak kecil Jisoo dan turun dari sana!" Sehun sedikit menaikkan nada suaranya, wajahnya dingin tanpa ekspresi.
"Tidak mau!! Katakan dulu kau akan menikah dengan ku, baru aku akan turun!!" Jisoo masih begitu berambisi untuk mendapatkan Sehun, ia tidak akan melepaskan Sehun begitu saja. Cintanya terlalu besar untuk lelaki itu. "Aku hanya ingin berada disisi mu Sehun, tidak apa jika kau tidak mencintai ku, tapi biarkan aku berada di sisi mu! Jika bahkan berada disisi mu saja tidak bisa, maka akan lebih baik jika aku mati!!"
Sehun masih dengan ekspresi datarnya. Dia pikir Sehun bodoh, diancam sedikit akan luluh? Itu bukan Sehun. Sehun mendengus. "Baiklah, lompat lah jika kau mau. Tidak ada yang melarang mu dan aku juga tidak rugi." Ucap Sehun santai sambil tersenyum sinis. Dia sangat yakin bahwa Jisoo hanya menggertak saja.
Jiyeon menatap Sehun tidak percaya, bagaimana bisa dia malah membiarkan gadis itu melompat.
"Aku mencintaimu Sehun, ku mohon padamu biarkan aku di sisimu."
Sehun menggeleng kecil. "Jisoo sadarlah, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menikah dengan mu, kau tahu kenapa? Karena aku sudah menikah." Sehun menarik Jiyeon yang berdiri di belakangnya kemudian memeluk pinggang Jiyeon posesif. "Dan dialah istriku." Ucap Sehun bangga.
Ucapan Sehun itu membuat Jisoo semakin geram, dia tidak terima Sehun menikah dengan orang lain. Dia tidak mau menerima kenyataan bahwa Sehun tidak pernah sekalipun mencintai dirinya. Apa kurangnya Jisoo hingga Sehun lebih memilih wanita itu di banding dirinya? Apa yang wanita itu punya sedangkan Jisoo tidak! Jisoo tidak terima ini.
"Tidak Sehun! Akulah yang harusnya menjadi istri mu, bukan dia!!" Jisoo berteriak semakin histeris. Tapi untunglah dia sudah turun dari pagar besi itu.
Jiyeon kasihan melihatnya, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Semua orang tahu bahwa kini dirinya adalah istri Sehun.
"Nona Jisoo, apa yang anda lakukan ini hanyalah sia-sia saja. Anda hanya akan menyakiti diri anda sendiri. Kadang kita mencintai seseorang, tapi orang itu belum tentu juga mencintai kita. Bagi orang yang tidak mencintai mu, dia malah akan merasa lega jika kau mati." Jiyeon mencoba menasehati Jisoo. Tapi percuma saja, ucapan Jiyeon seperti tak ada gunanya.
"Diam kau! Dasar wanita penggoda!! Akan aku bunuh kau!!" Jisoo berdiri dan hendak menyerang Jiyeon, tapi Sehun dengan sigap menghalangi serangan Jisoo. Para pelayan Jisoo langsung memegangi Jisoo di bantu oleh Baekhyun, mereka menjauhkan Jisoo dari Jiyeon. "Lepaskan aku! Akan aku bunuh wanita itu!! Lepaskan!" Jisoo terus berontak dan berteriak-teriak.
"Kau baik-baik saja?" Sehun meneliti tubuh Jiyeon, mungkin saja tadi Jisoo berhasil menyerang dirinya. Jiyeon menggeleng pelan. Melihat itu Jisoo semakin geram, ia tidak suka Sehun memberikan perhatiannya pada wanita lain. Jisoo menangis dan luruh kebawah seketika.
"Kita pergi sekarang." Sehun merangkul Jiyeon dan membawa sang istri pergi dari sana. Jisoo melihat Sehun pergi dengan tatapan terluka. Benar-benar sudah tidak ada harapan sama sekali, Sehun bahkan tak menoleh padanya. Hati Jisoo benar-benar hancur.
"Sehun..." Lirih Jisoo sebelum kesadarannya hilang.
"Kau bilang tidak suka mengoleksi wanita, lalu siapa itu tadi?" Jiyeon menyilang kan tangannya, menatap Sehun seolah mengejek pria itu.
"Dia hanya seorang yang terobsesi dengan ku, kau tentu tahu bukan bahwa tidak ada yang bisa menolak pesona ku yang luar biasa ini." Sehun tersenyum bangga, memang benar Sehun tidak suka mengoleksi wanita tapi semua wanita yang datang padanya dan menawarkan diri. Sehun benci dengan hal itu.
"Dasar narsis." Gumam Jiyeon sambil menggelengkan kepala pelan.
Akhirnya mereka sampai juga di rumah. Jiyeon langsung turun dari mobil, tubuhnya terasa lengket karena pakaian serba hitam yang ia pakai. Rasanya Jiyeon ingin segera mandi, berendam mungkin bukan ide yang buruk.
Sehun juga masuk kedalam rumah, dia melepaskan jas kerjanya dan melonggarkan dasi yang terasa mencekik. Sehun masuk kedalam kamar dan melempar jas kerja itu asal. Ia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang king sizenya.
Jiyeon selesai mandi, berendam selama hampir satu jam membuat tubuh Jiyeon kembali fresh. Gadis itu memakai celana panjang berwarna hitam dengan kaos abu-bau polos. Rambut coklat panjangnya ia biarkan tergerai indah.
Jiyeon keluar dari dalam kamar dan betapa kagetnya dia ketika membuka pintu, wajah yang asing menyambutnya. Dia menyipitkan mata dan menatap Jiyeon intens dari ujung kaki hingga ujung rambut. Jiyeon tentu saja risih dengan apa yang di lakukan orang ini.
"Wahh... Ternyata kau cantik juga, Sehun memang tidak salah pilih." Ucapnya setelah mengagumi kecantikan dan tubuh sexy Jiyeon.
"Maaf kau ini siapa? Menyingkir dari jalan ku." Jiyeon mendorong pria itu anggar menjauh dari jalannya, tapi baru beberapa langkah pria itu kembali menutup akses jalan Jiyeon.
"Eh.. jangan buru-buru begitu, aku belum selesai dengan mu cantik." Pria itu mengerlingkan sebelah matanya. Jiyeon memutar bola matanya, malas menghadapi pria aneh di depannya ini.
"Jangan ganggu aku, pergilah!" Jiyeon bergeser tapi pria itu juga ikut bergeser, Jiyeon berdecak kesal. Apa sih mau si pria ini.
"Perkenalkan aku Kim Jongin, kau bisa memanggil ku Kai." Pria itu mengulurkan tangannya. Ah, Jiyeon ingat sekarang, dia adalah lelaki yang beberapa waktu lalu datang bersama Sehun dengan wajah babak belur dan juga pria yang mampu membuat Krystal menangis di tengah malam.
"Yak! Kai! Jangan ganggu dia jika kau masih ingin hidup!!" Teriak Baekhyun dari bawah.
"Baiklah manis, sampai bertemu lagi." Kai berbalik pergi meninggalkan Jiyeon. Oh astaga, apalagi sekarang. Kenapa pria-pria di rumah ini tidak ada satupun yang waras.
Yuhuuu... Semoga kalian suka sama part kali ini.
Jangan lupa like, komen and share♡️
See you♡️