President'S Priceless Wife

President'S Priceless Wife
Part 2




.


.


.


.


.


.


.


Seorang dokter keluar dari sebuah ruangan yang di atasnya ada plang bertuliskan IGD, dia berjalan mendekati seorang pria yang berdiri, bersandar pada dinding rumah sakit sambil melipat tangannya di dada, wajahnya datar terkesan dingin dan menakutkan bagi siapa saja yang melihatnya untuk pertama kali. Di sebelahnya juga ada seorang lelaki, namun wajahnya lebih bersahabat. Dokter itu membungkuk, memberikan hormat pada si pria dengan wajah dingin.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya si Pria tak ingin berbasa-basi.


"Tidak ada luka serius, di rawat beberapa hari saja pasti sembuh". Jelas sang dokter.


"Bagus, rawat dia dengan baik dan beritahu aku jika dia sudah sadar"


"Baik Tuan"


Pria itu melangkah pergi meninggalkan ruangan tunggu rumah sakit, diikuti oleh pria lain di belakangnya.


Dua orang itu kini tengah dalam perjalanan menuju ke suatu tempat, walaupun hari sudah sangat larut malam tapi tak membuat mereka berdua beristirahat atau tidur seperti kebanyakan orang lainnya. Hujan pun sudah lama berhenti, hanya tinggal sisa-sisa airnya saja yang tertinggal.


"Yak, kenapa kau menolongnya? Kenapa tidak biarkan saja? Kita kan tidak ada urusan dengan gadis itu, bukan kita juga yang menabraknya". Ucap Pria yang kini mengemudikan mobil di depan.


Lelaki yang duduk di kursi belakang sambil memejamkan mata itu, perlahan membuka mata dan menatap pria lewat kaca spion depan. "Mengemudi saja yang benar jangan banyak bicara". Ucapnya seolah tak ingin menggubris ucapan si pria.


"Hei hei, aku serius, sepertinya gadis itu sengaja ingin bunuh diri, kenapa tidak biarkan saja dia mati seperti apa yang dia inginkan?"


"Baekhyun-ah, kau ini berisik sekali"


"Sehun, jangan bilang kau menyukai gadis itu makanya kau menolongnya"


"Baekhyun jika kau bicara lagi, akan aku buat kau tidak bisa bicara untuk selamanya. Kau mengerti?"


Laki-laki yang di panggil Baekhyun itu langsung menutup mulut rapat-rapat, dia masih ingin bicara dan Sehun tidak pernah main-main dengan ucapannya, bisa-bisa dia bisu untuk selamanya jika bicara lagi.


Sehun, Pria dengan wajah dingin itu kembali memejamkan matanya. Sebentar lagi mereka akan sampai di tempat pertemuan.


*


*


*


*


Pagi hari telah datang, sinar matahari cukup cerah pagi ini. Jiyeon, gadis itu perlahan membuka matanya bau obat menyengat indra penciuman ketika kesadaran telah berhasil di dapatkan. Dia mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan serba putih ini. Dalam hati bertanya-tanya dimana dia sekarang? Apakah di surga? Tapi kenapa tak ada siapapun?


Jiyeon menoleh ke samping, jendela besar dengan gorden berwarna putih terbang di tiup angin. Di luar sana mata hari sedang sangat cerah.


"Jadi aku masih hidup?" Batin Jiyeon.


Seorang perawat masuk kedalam ruangan Jiyeon, dia heboh ketika akhirnya Jiyeon sadar. Segeralah dia keluar dan mencari keberadaan dokter untuk memeriksa kondisi Jiyeon.


Entah apa yang Jiyeon pikirkan, tatapan matanya kosong juga wajahnya tak menunjukkan ekspresi apapun.



Sehun baru saja kembali dari pertemuan, dia mengantuk dan ingin istirahat sebentar saja sebelum kembali beraktivitas. Namun rupanya tak semudah yang ia bayangkan. Ruangannya di buka dengan kasar oleh Baekhyun, hal itu berhasil membuat Sehun terlonjak kaget.


Baekhyun tak peduli dengan ucapan Sehun, ada kabar yang harus ia sampaikan dan lebih penting dari pada nyawanya-Mungkin.


"Dari pada mengirim ku ke neraka, sebaiknya kau dengarkan dulu apa yang ingin aku bicarakan padamu"


"Sebaiknya kau punya alasan yang bagus, jika tidak peluru ini akan berakhir di kepalamu. Cepat katakan!"


Baekhyun sudah tidak kaget lagi dengan ancaman Sehun, pria itu bukanlah orang yang suka asal bicara atau hanya bermulut besar. Dia lebih menakutkan dan lebih kejam dari pada seekor Singa. Jadi jangan coba macam-macam dengannya.


"Rumah sakit baru saja menghubungi ku, mereka bilang gadis yang semalam kau tolong mencoba untuk bunuh diri". Ucap Baekhyun dengan sekali tarikan nafas.


Air muka Sehun langsung berubah. "Mereka sudah mencoba menghentikannya tapi percuma, gadis itu kekeh ingin bunuh diri"


Sehun langsung berdiri, tanpa banyak bicara dia langsung keluar dari ruangan. Baekhyun mengerti tanpa Sehun harus bicara, dia pun mengikuti langkah lebar Sehun.



"Nona aku mohon turun dari sana, itu berbahaya". Ucap salah seorang perawat yang kini khawatir melihat Jiyeon berdiri di pinggir pagar, salah langkah saja dia akan jatuh dan kemungkinan terburuknya adalah kematian. "Nona, jangan lakukan ini? Hidup anda sangat berharga, aku mohon turunlah". Perawat itu tak henti-hentinya membujuk Jiyeon agar gadis itu mau turun dan melupakan niatnya untuk bunuh diri.


Jiyeon seolah tuli, suara teriakan di bawah sana tak membuatnya menghentikan aksi nekatnya ini. Air matanya terus mengalir dan pandangan matanya kosong menatap kebawah sana. Dia benar-benar tak punya lagi semangat untuk hidup. Kedua orang tua yang ia sayangi telah tiada, kekasihnya bahkan mengkhianatinya, semua yang ia punya telah di rampas, lalu untuk apa lagi dia hidup? Tidak ada gunanya. Bertahun-tahun dia menjadi orang baik, tak pernah menyakiti siapapun, tapi kenapa takdirnya seperti ini? Kenapa dia di sakiti begitu banyak? Jiyeon tak ingin hidup lagi.


"Nona, jika kau punya masalah sebaiknya selesaikan dengan baik.. Tidak perlu mengakhiri hidup anda seperti ini". Perawat itu mulai mendekat perlahan-lahan. "Nona, tidak ada yang tidak punya masalah... Ayolah Nona jangan bertindak bodoh dengan mengakhiri hidup anda yang berharga".


"Kalian tidak mengerti? Kalian semua tidak akan mengerti?!!" Teriak Jiyeon dengan suara bergetar, tangisnya pecah seketika.


"JANGAN MENDEKAT!!"


Perawat itu berhenti, dia tak mau sampai Nona itu melakukan hal bodoh. Pintu atap itu terbuka dengan kasar, Sehun berjalan dengan angkuhnya mendekati posisi Jiyeon.


"Hentikan hal bodoh ini". Kalimat pertama yang keluar dari mulut Sehun ketika berhadapan dengan Jiyeon. Jiyeon menatap si pria, heran juga bingung.


"Jangan ikut campur, kau hanya orang asing! Pergi dari sini!!"


"Apa kau pikir dengan kau bunuh diri maka semua masalah mu akan selesai? Jangan bodoh"


"Setidaknya aku tidak harus hidup di dunia yang kejam ini, aku bisa bertemu dengan orang tua ku!!"


"Berhenti bersikap seolah kau anak kecil! Cepat turun dari sana!!"


"Siapa kau berani memerintah ku?!! Semua ini tidak ada hubungannya dengan mu!! Pergi saja dan urus urusan mu sendiri!"


"Ya, baiklah.. Jika kau ingin mati, mati saja.. toh jika kau mati maka semua akan berhenti di situ, orang yang membuat mu seperti ini tidak akan rugi, bahkan mungkin mereka akan semakin menertawakan mu".


Jiyeon tersenyum, dia tidak peduli lagi. Bahkan jika mereka benar-benar ingin tertawa maka biar tertawa, Jiyeon masih bisa melihatnya dari atas sana.


"Biarkan saja, aku tidak peduli". Ucap Jiyeon kemudian memejamkan, perlahan dia melepaskan genggaman tangannya pada pagar besi itu.


"Appa eomma, kali ini aku pasti akan bertemu dengan kalian..."


Sehun terbelalak melihat gadis itu benar-benar nekat bunuh diri, dia dengan secepat kilat berlari menghampiri pagar besi itu. Dan Hap-


Untunglah dia masih sempat meraih tangan Jiyeon. Jiyeon membuka matanya, Sehun susah payah menahan Jiyeon agar tidak jatuh.


"Lepaskan aku! Apa yang kau lakukan?!" Jiyeon berontak, dia berusaha melepaskan tangan Sehun yang memegangi lengannya.


"T-tidak akan!!" Kekeh Sehun berusaha menarik Jiyeon naik. "Jangan buat aku menyesal karena telah menyelamatkan mu sebelum ini, nona". Ucap Sehun dan tersenyum kecil.


Jiyeon berhenti bergerak, "jadi, dia yang telah menyelamatkan ku sebelum ini? Kenapa? Kenapa dia lakukan itu?".


"Kenapa?! Kenapa kau menolong ku? Kenapa tidak biarkan aku mati saja?! Hiks... Hiks..." Jiyeon kembali menangis, perasaannya sedikit kacau, entah dia menangis karena senang masih ada orang yang peduli padanya atau menangis sedih karena harus di selamatkan.


"Untuk sekarang aku tidak bisa memberitahu mu, sebaiknya kau berhenti berpikir untuk mengakhiri hidup mu dan cepat naik!!" Sehun tidak kuat lagi, tangannya terasa sakit menahan Jiyeon dengan waktu yang lumayan lama.


Jiyeon masih mematung di tempatnya, menatap Sehun yang berjuang menyelamatkan dirinya. Dalam benaknya banyak sekali pertanyaan, kenapa? Kenapa pria ini menolongnya? Siapa dia? Sebenarnya takdir macam apa yang Tuhan siapkan untuknya?


Detik-detik terakhir, Baekhyun datang membawa seluruh pengawal Sehun. Mereka semua menarik tubuh Sehun juga Jiyeon hingga ke atas. Jiyeon duduk lemas di lantai atap yang penuh debu dengan tatapan mata kosong dan bingung.