President'S Priceless Wife

President'S Priceless Wife
Part 6




.


.


.


Sehun mengobati luka di tangan Jiyeon akibat pecahan vas bunga juga guci besar yang menjadi hiasan di dalam kamarnya. Si gadis sudah berhenti menangis, dia nampak lebih tenang ketimbang sebelum Sehun datang tadi. Kini dua orang itu berada di ruang tamu, mengingat kondisi kamar Jiyeon yang hancur berantakan tak berbentuk karena luapan kemarahannya sendiri, tak mungkin membiarkan Jiyeon tetap berada di kamar itu. Besok Sehun akan suruh orang untuk membersihkan kamar Jiyeon dan membuang semua barang-barang yang tidak perlu.


Ketika Sehun mengobati tangannya tak ada reaksi apapun dari Jiyeon wajahnya datar, seolah luka di tangannya tak sakit sama sekali. Jieun datang membawa segelas air untuk Jiyeon, dia meletakkan gelas itu di atas meja dan kini mengambil tempat duduk di samping Jiyeon. Dia hanya diam mengamati Sehun juga Jiyeon.


"Ini pasti perbuatan mereka, mereka sengaja menjebak ku"


Sehun mendongak sedang Jieun menoleh ke samping. Ini pertama kalinya Jiyeon bicara setelah beberapa hari hanya diam juga setelah berteriak kalap beberapa menit yang lalu.


Air matanya kembali mengalir, dadanya serasa di remas. Sakit sekali. Tak tahu lagi seperti apa watak ibu tiri juga adik tirinya, kenapa begitu tega menjadikan Jiyeon kambing hitam dan menyalahkan Jiyeon atas apa yang tidak Jiyeon lakukan. Mereka tidak hanya mengusir Jiyeon juga mengambil seluruh harta kekayaan yang harusnya menjadi milik Jiyeon, tapi mereka juga memfitnah Jiyeon. Apa salah Jiyeon? Kenapa mereka begitu jahat? Padahal selama ini Jiyeon selalu baik pada mereka dan berusaha menjadi putri serta kakak yang baik. Tak pernah sekali pun Jiyeon memperlakukan mereka dengan buruk.


"Apa yang akan kau lakukan?" Sehun berdiri, kegiatan mengobati luka Jiyeon telah selesai. "Kau ingin membunuh mereka?" Mudah saja bagi Sehun untuk membunuh tikus-tikus tak tahu diri yang meresahkan orang lain, tanpa dirinya harus bersusah payah.


"Kematian terlalu mudah untuk mereka, aku ingin mereka bersujud di hadapan ku meminta pengampun juga memohon untuk hidup mereka. Mereka harus membayar apa yang telah mereka lakukan padaku. Aku ingin mereka hidup layaknya di neraka". Tatapan mata Jiyeon tak seperti sebelumnya, penuh kebencian juga kemarahan. Iblis dalam diri Jiyeon telah bangkit bersamaan dengan rasa sakit yang telah ia terima dari orang-orang yang dulu ia percaya dan kasihi. Jiyeon akan membalas semua rasa sakit yang ia rasakan, mengambil apa yang harusnya menjadi miliknya.


Sehun tersenyum, dia menyentuh bahu Jiyeon. Sehun senang akhirnya dia bisa melihat semangat juang gadis ini yang bangkit dari keterpurukan. Setelah ini dia tidak akan lagi berpikir untuk bunuh diri.


"Kau tidak perlu khawatir, aku akan membantu mu membalaskan rasa sakit yang kau terima hingga mereka berpikir kematian jauh lebih baik dari pada terus hidup di dunia ini". Jiyeon menatap Sehun dengan tatapan mata yang sulit di artikan, dia masih penasaran kenapa seorang seperti Sehun, orang asing yang bahkan tak memiliki hubungan apapun dengan dirinya mau membantu? Bukan dia tidak percaya pada Sehun, hanya saja Jiyeon kini belajar dari pengalaman dan dia akan lebih berhati-hati lagi untuk mempercayai seseorang saat ini.


"Tenang saja, Sehun tidak pernah ingkar janji, dia pasti akan membantu mu". Jieun seolah tahu apa isi kepala Jiyeon, yang pastinya bingung dengan keadaan yang serba mendadak ini. Dan kenapa Sehun mau membantunya.


"Kenapa kau mau membantu ku? Kita dua orang yang tak saling mengenal, kenapa kau mau-maunya menolong orang asing seperti ku?" Sehun tersenyum, pertanyaan ini lagi yang Jiyeon tanyakan.


"Yah, bagaimana mengatakannya? Anggap saja aku ini malaikat penolong mu atau apapun yang kau inginkan. Sederhana kan?" Sebenarnya Jiyeon tidak puas dengan jawaban Sehun, dia masih ingin bertanya lebih dalam lagi tapi mungkin dia tidak akan mendapatkan jawaban atas pertanyaannya. Baiklah, akhirnya dia pun mulai berpikir bahwa ini adalah jalannya, takdir yang mempertemukan dirinya dengan Sehun, orang yang akan membantunya membalas dendam pada orang-orang yang menyakiti dirinya. Begitu lebih baik. Seiring berjalannya waktu pasti Jiyeon akan mendapatkan jawaban tentang pertanyaannya.


"Malam ini tidurlah di kamar Jieun, besok biar pelayan yang membersihkan kamar mu supaya bisa kau tempati lagi".


"Dan mengenai masalah rumor tentang kematian ayah mu, kita bicarakan besok"


Jiyeon hanya mangut-mangut, Jieun membantu Jiyeon berdiri dan menuntunnya menuju kamar pribadi miliknya yang berada tepat di sebelah kamar Jiyeon di lantai dua. Sehun masih di sana menatap punggung dua orang yang kini menaiki anak tangga satu persatu. Tangannya terkepal kuat di bawah sana, dia harus memikirkan sesuatu untuk membantu Jiyeon, sebuah rencana yang cukup kuat untuk memukul balik lawan. Sehun mengeluarkan smartphone dari balik saku celananya, tangannya sibuk menggeser layar persegi itu.


"Halo.. Besok datanglah ke rumah, ada pekerjaan untuk mu"


"Berapa yang akan ku dapat? Kau tahu bukan aku tidak suka berkerja secara cuma-cuma"


"Katakan saja apa yang kau inginkan, maka kau akan mendapatkannya"


"Asaa... Baiklah aku akan datang besok"


Sehun mengakhiri panggilan jarak jauhnya, Baekhyun masih belum kembali karena tadi Sehun pergi begitu saja meninggalkan Baekhyun juga sebuah rapat penting dengan kliennya. Mungkin sekarang Baekhyun sedang menangani rapat itu, tenang saja Baekhyun bisa di andalkan. Sebaiknya dia juga istirahat, beberapa hari ini tidak tidur dengan baik juga terlalu banyak yang ia pikirkan.


"Istirahatlah, supaya besok tubuh mu bisa kembali sehat dan bisa memikirkan rencana apa yang akan kau buat untuk membalas dendam pada orang-orang itu". Jieun menata sprei dan mengambil selimut tambahan di dalam lemari, kamar Jieun benar-benar menggemaskan dengan nuansa pink dan pernak-pernik yang lucu. Ya, Jieun ini sangat feminim sekali, dia sendiri yang mendesain kamarnya.


Jiyeon telah mengganti pakaiannya dengan piyama milik Jieun. Pertema kali bertemu dengan Jieun Jiyeon tidak memberikan kesan yang baik. Ingin sekali rasanya dia memperbaiki hubungannya dengan Jieun supaya tidak canggung seperti saat ini, benar-benar tidak nyaman. Jieun naik ke atas ranjang dan bersiap untuk tidur, mereka berdua hanya diam sambil menatap langit-langit kamar. Jiyeon menggigit bibir bawahnya, ragu akankah memulai pembicaraan atau tidak.


"Itu... Jieun-ssi.." Mendengar namanya di panggil Jieun segera menoleh, mungkin Jiyeon butuh sesuatu atau kurang nyaman berada di kamarnya.


"Ya, ada apa?"


Jiyeon beringsut bangun dari posisi tidurnya, duduk bersandar pada punggung ranjang Jieun. Jieun pun melakukan hal yang sama. "Ada apa? Apa kau merasa tidak nyaman atau butuh sesuatu?"


Jiyeon menggeleng kecil. "Maafkan sikap ku saat kita pertama kali bertemu, aku bersikap tidak peduli dan mengabaikan mu. Maaf". Jieun mengerjap-ngerjap matanya beberapa kali, Jiyeon ini sebenarnya gadis yang baik mungkin karena beberapa alasan dia jadi bersikap demikian pada Jieun saat pertama kali bertemu, Jieun mengerti dan Jieun pun pernah berada di posisi yang sama seperti Jiyeon.


"Ah tentang itu... Sudahlah lupakan saja, kau pasti punya alasan kenapa bersikap seperti itu, aku mengerti". Jieun tersenyum lebar, bukan masalah besar jika saat pertama bertemu memiliki persepsi berbeda tentang orang lain. Setiap orang pasti merasakannya.


"Aku Park Jiyeon, kau bisa memanggil ku Jiyeon". Jiyeon mengulurkan tangannya, tanda dia memulai sebuah hubungan. Jieun tersenyum dan menyambut uluran tangan Jiyeon.


"Aku Lee Jieun, kau bisa memanggil ku Jieun"


Sekarang Jiyeon tak punya lagi keinginan untuk mati, dia hanya memiliki satu tujuan dalam hidupnya yaitu mengungkap fakta dan dalang dibalik kematian sang ayah juga membalas dendam pada orang-orang yang menyakiti dirinya. Jiyeon tak akan mati sebelum ambisinya tercapai dan mungkin memang hanya Sehun yang bisa membantu dan Jiyeon andalkan.


"Jangan khawatir, Sehun pasti akan membantu mu sama seperti dia membantu ku dulu". Jiyeon mengerutkan kening, apa yang Jieun maksud? Apakah dia juga pernah mengalami hal yang sama dengan Jiyeon? Mengerti dengan padangan bertanya Jiyeon, Jieun pun mulai bercerita awal mula dia bisa bertemu dengan Sehun. "Aku pertama kali bertemu dengan Sehun saat acara pelelangan, Ayah ku menjual ku untuk membayar semua hutangnya, setiap hari hidup ku seperti di neraka ibuku memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri karena tidak betah hidup bersama ayah yang memiliki temperamen yang buruk, pemabuk juga suka berjudi, setiap kalah judi dia akan mengamuk dan menjadikan aku atau ibuku sebagai pelampiasan amarahnya. Ironis bukan? Padahal aku ini putri kandungannya". Jieun tiba-tiba saja merasa sedih jika mengingat bagaimana kehidupannya sebelum ini, bagaimana dia berteriak histeris dan ketakutan saat melihat ibunya gantung diri di depan matanya sendiri dan sosok ayah yang tidak peduli pada dirinya atau ibunya.


"Jieun-ssi, apa tidak apa-apa kau menceritakan ini padaku? Maksud ku ini adalah sebuah hal pribadimu". Jiyeon bukan tak ingin mendengar cerita Jieun, dia hanya merasa hubungan mereka belum terlalu dekat hingga harus bercerita hal sensitif semacam ini.


"Baiklah, aku akan mendengarkannya"


Jieun tersenyum, dia melanjutkan ceritanya yang terhenti tadi. "Karena di kejar hutang akibat kalah judi akhirnya ayah ku menjual ku pada sebuah acara pelelangan, mereka menawar harga yang tinggi untuk ku, mereka begitu bersemangat untuk mendapatkan ku. Saat itu aku ketakutan, rasanya ingin mati saja dari pada harus hidup menjadi budak sex para lelaki hidung belang. Untungnya Sehun datang dan membeli ku dengan harga yang sangat tinggi. Awalnya ku pikir dia sama seperti laki-laki hidung belang yang ingin membeli ku demi untuk memuaskan nafsu mereka, tapi tidak Sehun membawa ku ke rumah ini, memberikan ku tempat yang layak juga memperlakukan ku seperti manusia. Rupanya aku bukan satu-satunya orang yang Sehun tolong, ada tiga orang lainnya di rumah ini, mereka juga orang-orang yang kurang beruntung dan memiliki kehidupan yang tidak adil sama seperti ku. Sehun juga membantu ku membalas dendam pada ayah ku, dia membunuhnya dan jujur aku tidak merasa sedih, karena orang sepertinya memang pantas mendapatkan itu"


Mendengar cerita Jieun, Jiyeon mengerti sekarang bahwa semua orang di rumah ini yang belum ia ketahui memiliki banyak hal buruk di masa lalu dan semua tidak ada apa-apanya ketimbang masalah Jiyeon. Sehun, Pria itu masih menyimpan pertanyaan yang besar di benak Jiyeon. Seperti apa sebenarnya sosoknya, kenapa terlihat begitu misterius dan mau menolong orang-orang ini?


"Sekarang istirahatlah, besok akan aku ceritakan pada mu tentang siapa saja yang tinggal di rumah ini selain aku dan Baekhyun". Jieun menguap, sepertinya dia sudah mengantuk. Jiyeon juga memposisikan diri untuk berbaring, Jieun memadamkan lampu kamarnya dan menyalakan lampu tidur dengan cahaya minim. Jiyeon masih belum tidur, dia menatap langit-langit kamar dan sibuk dengan pemikirannya sendiri.


***


"Ada apa meminta ku datang sepagi ini? Aku baru tidur selama tiga jam dan masih mengantuk Sehun". Krystal berulang kali menguap lebar, matanya terasa berat ingin segera di pejamkan tapi karena Sehun memintanya datang maka dia harus mengurungkan niatnya untuk memeluk bantal guling kesayangannya.


"Bukankah kemarin aku sudah bilang, ada pekerjaan untuk mu". Ya, orang yang Sehun hubungi semalam adalah Krystal. Gadis ini sudah jarang pulang ke rumah Sehun mengingat dia sudah memiliki apartemen pribadi yang mewah. Tentu dia membeli apartemen itu dengan uang hasil kerja bersama dengan Sehun selama ini.


"Memangnya pekerjaan apa yang harus aku lakukan?"


"Pekerjaannya cukup mudah, aku ingin kau melatih seseorang"


"Melatih? Kau ingin aku melatih siapa?"


Tidak menjawab, Sehun menoleh kebelakang. Kebetulan Jiyeon dan Jieun turun kebawah. Jieun senang akhirnya melihat Krystal lagi yang sudah lama menghilang dari pandangan.


"Omo!! Krystalllll-aaaahhhh!" Jieun langsung berlari secepat kilat menghampiri Krystal. Di peluknya Krystal setelah berada di jarak yang cukup dekat dan malangnya Krystal tak dapat menghindar dari pelukan Jieun, yang di peluk bukannya senang malah merasa geli. Ini juga alasan Krystal tak suka tinggal lama-lama di rumah Sehun banyak orang yang tidak waras.


"Yak! Yak! Lepaskan aku, Lee Jieun kau sudah bosan hidup ya? Lepaskan!" Krystal meronta-ronta dan akhirnya berhasil lepas dari pelukan Jieun.


Sedari tadi Jiyeon hanya berdiri di dekat tangga, mengamati dan memperhatikan Krystal dari ujung rambut hingga ujung kaki. Gadis yang cantik pikir Jiyeon, juga memiliki wajah yang terlihat sangar. Mungkin itu salah satu orang yang pernah Sehun tolong seperti yang Jieun katakan.


"Akhirnya kau kembali juga, sudah lama tidak bertemu aku merindukan mu"


"Tapi aku tidak... Sana jauh jauh dari ku, aku sedang berbisnis sekarang"


"Jieun ajak Jiyeon sarapan" Sehun menginterupsi, jika tidak maka Jieun akan banyak bicara dan dia tak akan bisa membicarakan sesuatu dengan Krystal. Jieun dengan wajah masamnya kembali ke sisi Jiyeon, dia mengiring Jiyeon ke ruang makan untuk sarapan.


"Oi Oh Sehun". Panggil Krystal setelah Jiyeon dan Jieun pergi. "Dia kah Jiyeon yang kemarin, yang kau ingin aku mencari informasi tentangnya?" Tanya Krystal setelah tadi sekilas melihat Jiyeon juga tak sengaja mendengar Sehun memanggil nama si gadis.


"Hem.. itu dia, dan dia juga yang akan kau latih"


"Oi oi.. Kau ingin aku mengajarinya apa? Menjadi penipu? Menjadi pembunuh handal? Menjadi penembak jitu? Atau cara untuk memuaskan mu?" Krystal menyeringai. Gadis tadi terlihat polos dan sepertinya bukan berasal dari dunia yang sama seperti Krystal.


"Aku sendiri yang akan mengajarinya cara untuk memuaskan ku. Kau cukup latih dia menjadi gadis yang kuat dan tangguh, latih fisiknya, ajari cara menebak juga bela diri. Hanya itu saja tugas mu" Sehun lelah berdiri, dia memposisikan diri untuk duduk di sofa empuknya.


"Baiklah, itu perkara yang mudah aku pasti akan mengajarinya. Tenang saja. Tapi, aku punya sebuah pertanyaan untuk mu Sehun"


"Apa?"


"Pertama, kau menolongnya ketika hampir mati setelah tertabrak mobil. Kedua, kau meminta ku mencari informasi tentang gadis itu, ketiga, kau meminta ku untuk mengajarinya menjadi wanita arogan dan aku dengar kau juga akan membantunya untuk balas dendam pada orang-orang yang membuatnya ingin mengakhiri hidupnya. Apa ini Sehun? Apa kau tanpa sepengetahuan kami mempunyai perasaan khusus pada gadis itu? Apa kalian pernah bertemu sebelumnya? Atau jangan-jangan kau sudah jatuh cinta padanya?" Krystal memberondong Sehun dengan banyak pertanyaan. Dia benar-benar penasaran, karena Sehun belum pernah sepeduli ini pada seorang gadis. Ya, kecuali kekasihnya.


Jika kalian bertanya dari mana Krystal tahu semua itu, Oh ayolah informan Krystal sangat banyak dia ratunya gosip dan segala informasi.


"Tidak ada alasan khusus, aku hanya berpikir gadis itu juga bisa aku manfaatkan. Hanya itu"


Dahi Krystal membentuk lipatan-lipatan kecil. "Maksud mu?Apa kau berencana menjadikan gadis itu tameng untuk orang tua mu berhenti menjodoh-jodohkan mu dengan putri rekan bisnis mereka? Dan siapa yang hingga kini masih gencar mengejar mu itu, ah lagi-lagi aku lupa namanya". Krystal ini memang tahu betul watak Sehun yang sebenarnya sama seperti dirinya, tak suka merugi jadi pasti ada sesuatu di balik kebaikan hati Sehun.


"Bukankah ini menguntungkan kedua belah pihak? Aku membantunya balas dendam dan dia membantuku menjauhkan para wanita-wanita yang ingin menikah dengan ku. Sederhana bukan?" Tepat sasaran. Krystal memang sangat memahami Sehun. Ya, mereka sudah mengenal satu sama lain cukup lama jadi bukan hal sulit mengetahui isi otak masing-masing.


"Yayaya, baiklah terserah kau saja. Yang penting jangan lupa bayaran untuk ku"


"Lakukan dulu saja tugas mu baru akan aku berikan apapun yang kau minta"


"Baiklah". Krystal berdiri dari duduknya. "Aku akan menghampiri gadis itu dan berkenalan, sepertinya dia cocok juga menjadi teman untuk ku". Krystal tak lagi banyak bicara dia langsung menyusul Jiyeon dan Jieun yang berada di ruang makan.


Sehun melirik jam tangannya, Baekhyun masih tertidur pulas di kamar mengingat pukul dua dini hari baru pulang dan beristirahat. Baiklah hari ini Sehun akan membiarkan Baekhyun untuk istirahat, kemarin dia sudah berkerja keras, anggap saja ini hadiah dari Sehun.



Di tunggu Vommetnya💜