President'S Priceless Wife

President'S Priceless Wife
Part 01




.


.


.


.


[ [Present] ]



"Appa, jangan tinggalkan aku... Appa, kenapa? Kenapa kau pergi meninggalkan aku? Kenapa?" Suara isak tangis memenuhi rumah duka keluarga Park dan gadis yang sejak tadi menangis memandangi foto mendiang ayahnya itu adalah putri kadung Tuan Park. Park Jiyeon.


Hari ini, Tuan Park meninggal kan dunia ini beserta isinya untuk selama-lamanya, langit mendung dan tangis sedih bercampur menjadi satu di dalam rumah duka ini. Gadis cantik dengan pakaian serba hitam menangis di depan foto mendiang ayahnya, dia tidak pernah membayangkan bawa ayahnya akan pergi meninggalkan dia begitu cepat, hatinya sakit, sedih dan hancur. Semua ini bagaikan mimpi buruk untuknya.


Sedang di sudut ruangan terlihat seorang wanita paruh baya dan wanita seusia dengannya berdiri menatap dirinya acuh, berpura-pura menangis dan bersimpati kecil. Dua orang itu adalah ibu dan adik tirinya yang sejak awal sudah tidak menyukai dirinya dan hanya mengincar perusahaan serta uang ayahnya saja.


Dan mungkin saja, kematian ayahnya yang tiba-tiba ini adalah rencana jahat dari dua manusia itu. Benar-benar kejam sekali.


"Tck, benar-benar buang waktu saja". Ujar wanita paruh baya itu sambil menatap Jiyeon rendah.


"Benar eomma, aku bosan disini... Pulang saja yuk". Rengek gadis yang berdiri di sampingnya manja.


Ibunya itu tersenyum dan kemudian mengangguk kecil, mereka pun perlahan-lahan berjalan menjauh dan keluar dari rumah duka itu, meninggalkan Jiyeon di sana yang tengah bersedih akibat kepergian ayahnya.



"Eomma, k-kenapa? Kenapa semua bajuku di keluarkan?" Jiyeon menatap baju-baju nya yang berserakan di luar rumah, dia baru saja pulang dari rumah duka dan terkejut sesampainya di rumah malah melihat semua pakaian miliknya berada di luar rumah dengan tas koper besar.


Wanita paruh baya yang berdiri di ambang pintu itu berkacak pinggang dan menatap Jiyeon sinis. "Dasar bodoh, apa kau masih tidak mengerti juga?!" Suaranya begitu keras membentak Jiyeon, tidak ada lagi ibu yang lembut dan penuh kasih sayang, semua seolah hilang dan tatapan mata itu penuh kebencian. Jiyeon sampai tidak mengenali siapa wanita ini.


"Park Jiyeon! Dengarkan aku!! Mulai sekarang kau bukan lagi putri dari keluarga Park".


"Apa?! Kenapa begitu eomma, kenapa? Apa salah ku?". Jiyeon menatap ibunya dengan pandangan nanar, dia baru saja kehilangan ayahnya dan apa lagi sekarang? Kenapa ibunya berubah menjadi jahat kepadanya.


"Salah mu? Sebenarnya kau tidak bersalah, hanya saja aku dan putri ku muak melihat wajah mu. Kau pergilah dari rumah ini, kemana pun aku tidak peduli!!" Tegas wanita itu tak berbelas kasih sama sekali pada Jiyeon.


Jiyeon terkejut dengan semua ini, kenapa dia harus pergi? Apa salahnya? Bukankah selama ini hubungan mereka sangat baik? Lalu kenapa tiba-tiba Jiyeon di usir pergi dari sini?


"Eomma jangan lakukan itu? Aku mohon, aku akan tinggal dimana jika eomma mengusir ku? Apa baru saja meninggal eomma". Jiyeon memohon sambil memegangi tangan ibunya meminta agar tidak di usir, tapi ibu tirinya itu menepis kasar tangan Jiyeon hingga gadis itu terjatuh di lantai.


"Memangnya aku peduli!!" Wanita itu mencengkram kedua pipi Jiyeon sedang gadis itu meringis kesakitan. "Selama ini aku benar-benar muak dengan mu dan lagi, aku tidak tahan harus bersikap baik seolah aku ini ibu yang baik untuk mu, cih... menjengkelkan sekali" wanita itu kembali menghempaskan wajah Jiyeon dengan kasar. Kemudian tersenyum miring menampilkan sosok aslinya yang jahat dan kejam.


"Eommaa..." Lirih Jiyeon tak percaya.


"Aku tidak peduli kau mau tinggal dimana, jangan pernah lagi tunjukan wajah mu itu di hadapan ku, aku benar-benar muak dengan mu". Wanita itu berbalik dan menutup pintunya keras, hingga membuat Jiyeon tersentak kaget.


Gadis itu hanya bisa menangis dan meratapi nasib malangnya yang kini harus kemana lagi, dia tidak punya tujuan atau tempat lain untuk di tinggali. Padahal ayahnya baru saja meninggal, kenapa ibu tiri yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri begitu kejam padanya? Apakah memang sejak awal ini sudah di rencanakan?


Betapa bodohnya Jiyeon tertipu dengan kebaikan hati dari ibu dan saudara tirinya yang selama ini hanya berbohong dan menunggu waktu untuk mengusir dirinya dari rumah itu. Jiyeon menangis, mengambil barang-barang miliknya dan memasukan nya kedalam koper, dia menyeret koper itu pergi dengan langkah kaki lemas dan derai air mata, hatinya sakit dan hancur menerima kenyataan ini.


Semua terjadi begitu saja, tanpa gadis malang ini mempersiapkan segalanya. Dia berjalan tak tau arah dan tanpa tujuan.


Kemudian gadis cantik ini ingat dengan seseorang yang mungkin masih bisa menampung dirinya satu malam saja. Ya, dia akan ke tempat Naeun sahabat baiknya, pasti dia bisa membantu Jiyeon untuk menginap di tempatnya, hanya satu malam saja.



Jiyeon sampai di depan pintu apartemen milik Naeun, gadis itu ingat password apartemen Naeun karena memang mereka sering menghabiskan waktu bersama di Apartemen ini. Mereka adalah sahabat baik dan wajar saja jika mereka saling terbuka satu sama lain.


"Kemana Naeun? Bukankah tadi dia sudah pulang?" Ya, Naeun tadi sempat pergi ke pemakaman ayahnya tapi gadis itu sudah pulang sejak tadi, lalu kemana dia sekarang.


Jiyeon semakin masuk kedalam dan samar-samar Indra pendengaran nya, mendengar sesuatu yang aneh dari balik kamar Naeun.


"Aaaahhhh... terusss... aahh.... lebih dalam lagi...."


"Lebih cepat... Ahhh.... lagi lagi..."


Jiyeon bergidik mendengar suara itu, dia bukan gadis polos yang tidak tahu apapun tentang hal semacam ini. Jiyeon memberanikan diri untuk membuka pintu itu dan betapa terkejutnya dirinya saat melihat apa yang ada di hadapannya itu. Hati Jiyeon mencelos, sakit dan sesak seketika. Bagai di sambar petir di siang bolong, pemandangan ini benar-benar menyakitkan.


"APA YANG SEDANG KALIAN BERDUA LAKUKAN?!" Teriakan Jiyeon itu mengejutkan dua orang itu dan mereka juga sama terkejutnya dengan Jiyeon, mereka bertanya-tanya mengapa bisa Jiyeon ada disini dan mengganggu momen menyenangkan mereka. Mereka berdua terpaksa menghentikan kegiatan mereka.


Jiyeon berjalan cepat ke arah mereka dan menarik sang laki-laki untuk turun dari atas tubuh Naeun. Air matanya tak bisa ia tahan lagi, sungguh hatinya sakit sekali melihat kekasihnya sendiri tengah bercumbu dengan sahabat baiknya. Apa ini?!


"Apa yang kalian lakukan? Kenapa? Kenapa kalian lakukan ini kepadaku? Sejak kapan, sejak kapan kalian seperti ini di belakang ku?!" Jiyeon tidak bisa menahan dirinya dia memukul-mukul dada bidang Seungho yang merupakan kekaishnya sedang Naeun masih berbaring dan menutupi tubuh naked nya.


Seungho memegangi kedua tangan Jiyeon, mencengkram tangannya kuat-kuat. "Baiklah, karena kau pun sudah tahu, aku akan mengatakan segalanya". Ucap Seungho dengan sorot mata tajamnya yang lagi-lagi tak Jiyeon kenali.


"Aku dan Naeun, kami sudah berhubungan sejak lima bulan yang lalu. Dia memberikan apa yang tidak bisa kau berikan, dia mengerti aku dan tidak seperti dirimu yang sok suci dan selalu beralasan ini dan itu, benar-benar membuat orang muak". Ucap Seungho menghempaskan tangan Jiyeon kasar, dia tersenyum sinis.


Jiyeon tidak percaya dengan semua ini, selama ini dia telah di khianati oleh sahabat baiknya sendiri, sungguh tidak bisa di percaya.


"Iya Jiyeon, semua itu benar.. Kau pikir kau saja yang bisa memiliki segalanya dan hidup seperti seorang putri? Huh, bahkan laki-laki mu saja memilih ku. Sungguh malang sekali nasib mu". Naeun berucap dengan sombong nya sambil menatap Jiyeon rendah, selama ini dia tidak benar-benar bersedia menjadi sahabat Jiyeon, dia menjadi sahabat Jiyeon hanya demi popularitas dan di hormati orang lain. Sudah sejak lama dia mencintai Seungho tapi Jiyeon dengan mudah nya bisa memiliki laki-laki itu, membuat Naeun jengkel dan mencari cara lain untuk mendekati Seungho, walau harus membayar mahal tapi nyatanya dia bisa memiliki Seungho.


Plak~


Jiyeon menampar wajah Seungho begitu keras, dia benar-benar tidak menyangka jika Seungho akan setega ini pada dirinya.


"Kalian berdua memang cocok, sama-sama hina!!" Ucap Jiyeon dengan amarah yang meluap-luap, tangannya mengepal dan bergantian menatap dua orang itu jijik.


"Aku menyesal pernah mengenal kalian!! Beruntung tuhan memberitahu ku semua ini sekarang!! Kalian berdua menjijikkan!!"


Setelah mengatakan itu, Jiyeon berlari pergi keluar dari apartemen Naeun dengan tangis yang tak bisa ia tahan dan tubuh lemas.


Hari ini benar-benar hari yang berat untuk Jiyeon, begitu sempurna, bagaimana tidak? Ayahnya baru saja meninggal dan dia di usir paksa oleh ibu tirinya dan lagi dia mengetahui kenyataan menyakitkan dimana kekasihnya berselingkuh dengan sahabat baiknya. Apa lagi? Apa lagi sekarang? Kenapa tuhan begitu kejam padanya, cobaan apa yang telah tuhan berikan pada gadis malang ini.


Alam seolah tak berpihak padanya, hujan turun mengguyur kota seoul. Jiyeon berjalan tak tahu arah di tengah guyuran hujan dan jalan yang gelap. Tidak punya tujuan dan tidak memiliki harapan, apa lagi yang lebih baik dari pada mati untuk semua ini? Yah, Jiyeon tidak tahan lagi, semua ini terlalu berat untuk ia pikul sendiri, dia tidak bisa, dia hanya seorang gadis lemah yang butuh perlindungan. Dia tidak bisa.


"Appa, eommaa... Aku ingin ikut kalian saja". Ucap gadis itu lirih.


Matanya melihat sebuah cahaya dari kejauhan, sudah di pastikan jika itu adalah mobil yang tengah melaju ke arahnya. Tanpa pikir panjang, Jiyeon berlari dan berdiri di depan mobil itu berharap dengan ini beban berat hidupnya akan berakhir, suara klakson itu tak membuat Jiyeon takut atau menyingkir dia sudah pasrah dan siap untuk mati kapan saja.


"Appa eomma, sebentar lagi aku akan bertemu dengan kalian". Ucap Jiyeon seraya menutup matanya dan detik berikutnya..


Brak~


"Aarrgghhh....."


.


.


.