President'S Priceless Wife

President'S Priceless Wife
Part 13




.


.


.


.


.


Tiga hari berlalu dengan begitu cepat, tapi Sehun masih belum juga memberikan kabar pada Jiyeon atau yang lainnya. Apakah misi itu berhasil? Apakah dia baik-baik saja? Hanya Sehun dan orang-orang di sana yang tahu.


Jiyeon duduk di sofa ruang tengah seorang diri, bosan jika terus berada di dalam kamar. Entahlah, dia merasa tidak nyaman jika berdiam diri dengan kurun waktu yang lama. Jieun pergi ke salon sedang Krystal sejak pagi uring-uringan karena Sehun belum memberitahu apakah misinya berhasil atau tidak.


Hasil pemeriksaan obat-obatan milik ayahnya juga belum keluar dan mungkin butuh sedikit waktu lagi hingga hasilnya dapat Jiyeon lihat. Gadis itu menghela napas. Berharap bahwa hasilnya tidak akan mengecewakan dan dugaannya benar.


Tidak tahu harus melakukan apa, jadi Jiyeon hanya menunggu sampai Sehun kembali. Dia bilang akan kembali setelah tiga hari atau mungkin saja besok dia sudah kembali, tidak ada yang tahu bukan.


Krystal keluar dari dalam kamar, ikut bergabung bersama Jiyeon di ruang tengah. Terlihat sekali bahwa gadis cantik ini tengah meradang juga tak sabar menunggu Sehun yang entah kapan akan datang. Sebenarnya bukan kabar Sehun yang ia tunggu, melainkan orang lain yang tengah Sehun selamatkan, ya siapa lagi jika bukan Kai.


"Sebenarnya apa sih yang Sehun lakukan? Kenapa dia masih belum menghubungi kita?!" Krystal mengambil cemilan Jiyeon dengan kasar dan langsung memasukannya kedalam mulut.


"Tenanglah Krystal, mungkin urusannya belum selesai makanya dia belum memberikan kabar." Jiyeon mencoba meredam kekesalan Krystal. Jika Jiyeon begitu tidak penting, setidaknya beritahu Krystal saja juga tidak apa-apa, lihatlah lingkar hitam di sekitar bawah mata Krystal, sangat ketara menunggu kabar hingga tidur pun tak tahu kapan mata terpejam.


"Apa dia tidak menghubungi mu?" Jiyeon menggeleng kecil, sejak Sehun pergi sampai sekarang tak ada pesan atau satupun panggilan dari Sehun. Jiyeon juga tidak terlalu memikirkan itu karena mungkin saja Sehun sibuk dengan urusannya di sana. Lagipula Jiyeon bukanlah orang yang cukup penting untuk Sehun, jadi untuk apa saling menghubungi satu sama lain, hanya buang-buang waktu saja.


"Jiyeon, apa kau tidak tertarik dengan Sehun? Apa kau tidak khawatir tentangnya?" Krystal mulai penasaran, sudah cukup lama Jiyeon berada di sisi Sehun dengan status sebagai Nyonya Oh. Apakah tidak ada perasaan atau sesuatu yang terjadi di antara keduanya? Ini benar-benar mustahil, mengingat Sehun sangat tampan dan pesonanya sulit untuk di tolak oleh siapapun.


Jiyeon menggeleng kecil. "Saat ini aku memang khawatir tentangnya, tapi bukan berarti aku menyukainya Krystal. Hubungan ini hanya bagian dari rencana, dan ketika rencana itu berakhir maka hubungan ku dengan Sehun juga berakhir. Semua ini tidak nyata Krystal." Jiyeon memang tidak boleh sampai menyukai Sehun, perasaannya tidak boleh terlibat dalam rencana ini. Karena perasaan Jiyeon bisa menjadi kelemahannya dan Jiyeon tak ingin menjadi lemah lagi karena perasaannya.


"Tapi bagaimana jika suatu hari, semua ini menjadi nyata Jiyeon? Bagaimana jika tiba-tiba kau atau Sehun jatuh cinta?"


"Itu tidak mungkin Krystal, Sehun adalah orang yang hebat dia bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari pada aku dan saat ini dia hanya membutuhkan ku bukan untuk di miliki."


Krystal ingin kembali membuka suara, tapi ia urungkan karena melihat tatapan Jiyeon yang bersungguh-sungguh mengatakan semua itu. "Kau tidak mengerti Jiyeon.." Batin Krystal.


"Baiklah, tapi aku sangat yakin, kelak kau atau Sehun akan jatuh cinta. Kita lihat saja." Feeling Krystal tidak pernah salah dan dia amat sangat yakin bahwa suatu hari akan ada masa dimana Sehun dan Jiyeon saling menyukai bukan karena hubungan palsu, tapi mereka benar-benar jatuh cinta satu sama lain. Jiyeon menghela napas, terserah saja orang mau berpikir apa yang penting Jiyeon tetap pada tujuannya.


Brak!


Jiyeon dan Krystal terkejut ketika pintu rumah itu di buka dengan kasar, mereka pikir Sehun telah kembali namun rupanya yang datang adalah Jieun dengan begitu heboh.


"Yak Lee Jieun! Apa kau tidak bisa masuk ke dalam rumah dengan sopan?!" Marah Krystal, hampir saja dia berlari ke depan. Yang datang malah Jieun. "Ada apa? Kenapa kau masuk dengan terburu-buru begitu?"


"Jiyeon lihatlah ini!" Jieun memberikan sebuah undangan dengan desain yang begitu indah, terlihat sangat mewah.


"Apa ini?" Jiyeon menerima undangan itu, masih belum sadar jika nama sang mantan kekasih tercetak tebal bersanding dengan nama sang ****** licik.


"Tadi ada orang yang mengantar ini di depan, kebetulan aku baru datang jadi di berikan padaku. Ini undangan pernikahan gadis bernama Son Naeun. Dia mengundangmu ke acara pernikahannya." Jelas Jieun. Jiyeon pernah bercerita bahwa mantan kekasihnya berselingkuh dengan temanya yang bernama Son Naeun, makanya dia begitu heboh masuk kedalam setelah mendapat undangan ini.


Jiyeon menyeringai. "Ohhh... Jadi mereka akan menikah?" Jiyeon meremas undangan tebal itu hingga tak berbentuk. Sebuah rencana untuk mempermalukan Naeun pun tiba-tiba terlintas dalam benak Jiyeon. "Sepertinya aku harus memberikan dia kado saat acara pernikahannya." Ucap Jiyeon.


Melihat Jiyeon seperti ini, Krystal yakin bahwa Jiyeon telah memiliki sebuah rencana yang hebat untuk membalas dua makhluk hina itu. "Apa yang akan kau berikan Jiyeon?" Tanya Krystal penasaran dengan rencana Jiyeon.


"Kau akan tahu nanti Krystal, dan tentu aku akan butuh bantuan kalian berdua. Tunggu dan lihat saja, akan aku buat dia malu hingga tak bernai mengangkat kepalanya." Jiyeon masih ingat bagaimana sakitnya ia melihat penghianatan yang di lakukan Seungho juga Naeun. Jiyeon akan membalasnya, berkali-kali lipat hingga rasa puas dan hatinya lega.


...


"Yak! Sehun apa kau sudah gila?" Baekhyun meninggikan nada suaranya ketika harus menghadapi sikap keras kepala Sehun. Dia belum pulih benar bahkan lukanya masih belum mengering, tapi sudah bersikeras ingin kembali ke korea. "Jangan melakukan hal bodoh Sehun! Tunggu sampai luka mu sembuh baru kembali!" Baekhyun begini juga karena menghawatirkan Sehun, tapi sepertinya ucapan Baekhyun tak berarti apapun untuk Sehun.


"Aku sudah tidak apa-apa Baek, aku ingin kembali saja." Sehun tetap pada pendiriannya, dia tidak mau berlama-lama disini. Lagipula lukanya sudah di obati dan hanya tinggal menunggu hingga pulih saja.


"Kau tidak apa-apa apanya?! Lihatlah kondisimu Sehun!" Baekhyun emosi, Sehun ini kenapa tidak mengerti betapa Baekhyun sangat khawatir tentangnya. Sehun bukan tidak tahu kalau Baekhyun khawatir, tapi sungguh dia tidak betah berlama-lama di sini. Rasanya ingin cepat-cepat kembali saja. "Kai juga belum pulih betul, apa kau tidak kasihan dengannya?"


"Aku juga ingin segera kembali Baek." Ucap Kai yang berjalan tertatih-tatih ke dalam ruangan Sehun ini. Baekhyun berdesis, dia dengan sigap membantu Kai untuk duduk di pinggir ranjang Sehun.


"Kalian berdua sekongkol? Atau bagaimana, huh?" Rasanya Baekhyun akan cepat menua jika menghadapi Kai dan Sehun. Dua orang yang sama-sama keras kepala dan sekali memutuskan sesuatu maka hal itu akan terjadi saat itu juga. "Lihatlah kondisi kalian, apa kalian yakin bisa melakukan perjalanan ini?" Rasanya sekarang Baekhyun sudah seperti ibu Sehun juga Kai saja.


"Sudah aku bilang, aku baik-baik saja Baek. Cukup kau siapkan semuanya dan kami akan pergi." Kai mengangguk setuju. Dua lawan satu, baiklah Baekhyun kalah dan dua orang keras kepala ini menang. "Dan juga ingat, jangan sampai media tahu tentang kondisi kami."


Baekhyun mengerti. "Baiklah... Aku akan mengurus anak buah mu dulu baru aku siapkan kendaraan untuk kalian." Baekhyun mendengus sebal, kenapa hanya dia yang sehat dan tidak terluka. Jika saja dia terluka mungkin dia tidak harus kerepotan seperti ini.


"Kenapa kau ingin segera kembali?" Tanya Sehun, tadinya ia ingin meninggalkan Kai disini untuk beberapa hari sampai kondisinya benar-benar pulih tapi tak disangka dia juga ingin kembali ke korea.


"Apa lagi? Tentu saja aku tidak sabar ingin bertemu dengan macan betina ku." Ucap Kai, sekarang Krystal pasti sangat khawatir dengannya. Karena setelah kepergian Myungsoo, hanya tinggal mereka berdua saja. Dan Kai juga telah berjanji pada kakaknya itu bahwa dia akan menjaga Krystal sama seperti kakaknya menjaga mereka berdua dulu. Sehun sudah menduganya. Meskipun kadang Kai dan Krystal tak pernah akur dan lebih banyak adu mulut sama seperti Baekhyun dan Jieun, tapi keduanya diam-diam saling peduli satu sama lain.


"Lalu kau sendiri, kenapa ingin segera kembali?" Kini ganti Kai yang bertanya.


"Aku?" Sehun tersenyum menyeringai. "Tidak ada alasan khusus, hanya ingin kembali saja." Jawab Sehun seadanya. Padahal yang sebenarnya adalah jika terus berada disini dia kepikiran Jiyeon yang ada di sana. Belum lagi, mereka tak saling menghubungi satu sama lain, itu semakin membuat Sehun takut jika Jiyeon melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya sendiri.


"Ah, begitu.." Kai manggut-manggut mengerti. Dia masih belum tahu bahwa Sehun telah menikah jadi dia percaya saja dengan jawaban Sehun.


...


Baru saja merebahkan tubuhnya, bel pintu terdengar. Jiyeon mengerutkan keningnya. Siapa yang kira-kira bertamu selarut ini? Mungkinkah Sehun sudah kembali? Jiyeon bergegas bangkit dari posisinya dan keluar dari kamar. Rupanya Krystal dan Jieun juga keluar dari kamar.


"Apakah itu Sehun?" Tanya Krystal, Jiyeon tidak yakin tapi siapa yang akan datang selaurt ini selain Sehun.


Mereka bertiga bergegas turun, bel pintu masih berbunyi seolah tak sabar ingin segera masuk. Jiyeon memutar kunci kemudian membuka pintu itu lebar-lebar.


"Sehun!" Pekik Jiyeon melihat Sehun yang datang dengan kondisi wajah babak belur serta di papah oleh Baekhyun.



Tidak hanya Sehun ada seseorang juga yang di papah Baekhyun di sisi lain.



"Astaga! Apa yang terjadi pada kalian?!" Heboh Jieun.


"Kai!!" Krystal tak mampu menahan air matanya, dia senang sekaligus sedih melihat kondisi Kai yang tak beda jauh dengan Sehun. Si gadis langsung saja berhambur memeluk Kai.


"Aa.. aa.. yak! Ini sakit bodoh!" Eluh Kai yang mengaduh kesakitan akibat pelukan Krystal pada dirinya.


"Oh... Maafkan aku, maaf.." Krystal melepaskan pelukan itu dan menjaga jarak dengan Kai.


Jiyeon masih mematung di tempatnya, menatap wajah Sehun yang penuh dengan luka. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dia jadi seperti ini? Itulah yang ada di benak Jiyeon.


"Yak! Apa kalian hanya akan menonton saja?!" Ucap Baekhyun yang sudah lelah memapah Sehun juga Kai, dia yang sehat juga bisa jatuh sakit jika seperti ini. "Bantu aku! Jangan hanya melihat saja!" Lagi Baekhyun menaikkan nada suaranya karena kesal.


Jiyeon yang sadar langsung membantu Baekhyun dan mengambil alih untuk memapah Sehun. Tubuhnya bergerak sendiri. Sedangkan Krystal mengambil alih tubuh Kai dan membawanya ke kamar.


"Pelan-pelan, ini sakit." Protes Sehun ketika Jiyeon sedikit berjalan cepat supaya segera sampai di kamar Sehun.


"Ini juga sudah pelan." Jiyeon sedikit memperlambat jalannya. Sehun diam-diam tersenyum melirik Jiyeon yang seperti kesulitan memapah dirinya.


"Yak! Baekhyun!" Jieun menghampiri Baekhyun setelah menutup pintu, laki-laki itu tengah meregangkan otot-ototnya yang terasa kebas. Dia menoleh, menatap Jieun dengan pandangan bertanya. "Kenapa wajah mu tidak babak belur seperti Sehun dan juga Kai? Kenapa diantara mereka berdua kau yang paling sehat? Apa jangan-jangan kau membiarkan mereka bertarung sendirian?" Jieun geleng-geleng kepala, menatap Baekhyun dengan pandangan seolah meremehkan dirinya.


"Yak! Tahu apa kau?! Kau pikir aku akan meninggalkan teman-teman ku yang sedang dalam kesusahan?! Aku tidak terluka karena aku hebat! Dasar bodoh." Baekhyun lelah, jika dia terus disini maka Jieun tidak akan berhenti mengoceh dan mengoloknya. Jadi Baekhyun putuskan untuk pergi dan segera masuk kedalam kamar, tempat yang paling aman juga nyaman.


"Yak! Haishhhh." Jieun mendesis, padahal dia belum selesai bertanya Baekhyun malah pergi. Sudahlah, dia juga lelah jadi Jieun putuskan untuk kembali ke kamar dan tidur. Besok saja dia kembali mewawancarai Baekhyun.


Jiyeon membuka pintu kamar Sehun, ini pertama kalinya dia masuk kedalam kamar si pria. Jiyeon merebahkan tubuh Sehun dengan hati-hati di atas ranjang, tak lupa Jiyeon juga menaikkan selimut Sehun agar menutupi setengah tubuhnya. Sehun hanya diam memperhatikan apa yang sedang Jiyeon lakukan.


"Kau tidak ingin bertanya?" Pancing Sehun. Jiyeon menghela napas, rasa penasaran pasti ada tapi melihat kondisi Sehun alangkah lebih baik besok saja membicarakan tentang ini dan membiarkan Sehun istirahat.


"Istirahat saja Sehun, ini sudah malam dan kau butuh istirahat." Jiyeon mencoba terlihat setenang mungkin kemudian berniat untuk pergi, namun di cegah oleh Sehun dengan menarik belakang baju Jiyeon, hal itu sukses membuat Jiyeon berhenti dan menoleh pada si pria. "Ada apa?" Tanya Jiyeon.


"Kau mau kemana?"


"Tentu saja kembali ke kamar ku, ini sudah malam Sehun."


"Bagaimana bisa kau kembali ke kamar mu sedangkan aku dalam kondisi seperti ini? Jika tiba-tiba aku butuh sesuatu bagaimana? Tidak mungkin kan aku mengambilnya sendiri."


Jiyeon memutar bola matanya malas, tahu kemana arah pembicaraan Sehun. Dia menginginkannya dirinya tetap tinggal disini, menunggunya.


"Baiklah Sehun, apa yang kau inginkan?" Jiyeon melipat tangannya di dada sambil menatap Sehun.


"Tidurlah disini, temani aku." Ucap Sehun tanpa ragu, tangannya masih memegangi ujung baju Jiyeon. Jiyeon menghela napas, Sehun ini kenapa jadi begini? Kemana perginya CEO yang dingin itu? Baiklah Jiyeon mengalah, dia juga tidak tega meninggalkan Sehun sendirian dalam kondisi seperti ini.


"Ya sudah, aku akan menemani mu. Lepaskan tangan mu." Sehun menurut dan melepaskan tangannya yang memegangi ujung baju Jiyeon.


Sehun mengerutkan kening ketika Jiyeon berjalan menjauh, bukannya tadi dia sudah setuju untuk tidur bersama lalu kemana gadis itu akan pergi. Rupanya Jiyeon berjalan menuju sofa mewah yang tak jauh dari ranjang Sehun, ia baru saja menghempaskan bokongnya untuk duduk, sampai suara itu membuatnya kembali berdiri.


"Kenapa kau duduk di sana?!"


"Tentu saja aku akan tidur disini, kau bilang ingin di jaga. Ya begini cara ku menjaga mu."


Sehun mendesis pelan, bukan tidur secara terpisah yang Sehun maksud. Dia ingin Jiyeon juga tidur di ranjangnya. Kenapa wanita itu tak mengerti juga. Jika saja kondisinya tidak sedang terluka, pasti Sehun sudah menyeretnya untuk tidur di ranjangnya.


"Park Jiyeon kemari!!" Perintah Sehun.


"Apa lagi Sehun?" Jiyeon terpaksa berjalan mendekat ke arah Sehun. "Kau minta di temani, aku sudah temani. Sekarang apa lagi?" Jiyeon ini bodoh atau apa, kenapa masih tidak mengerti maksud Sehun.


"Tidurlah disini, sofa itu keras kau tidak akan nyaman tidur di sana." Sehun menunjuk sisi ranjang yang kosong.


"Ha?" Jiyeon menatap Sehun tak percaya, Pria ini baru saja menyuruh Jiyeon untuk tidur seranjang dengannya. "Ti-tidak usah, aku sudah biasa tidur di sofa." Jiyeon tentu saja menolak, dia masih cukup waras untuk tidak tidur di ranjang yang sama dengan Sehun.


"Park Jiyeon kau mau menolak?! Sudah tidak menginginkan Hansang lagi?" Jiyeon menelan ludahnya sendiri. Kenapa juga Sehun harus mengancam dengan cara seperti ini. Mau tidak mau Jiyeon harus menuruti semua kemauan Sehun, lagi pula hanya tidur saja toh Sehun sedang terluka pasti tak akan terjadi sesuatu.


"B-baiklah.. aku akan tidur di ranjang." Jiyeon berlari kecil menuju sisi ranjang yang lain. Jiyeon naik ke atas ranjang, menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya dan dia pun tidur dengan membelakangi tubuh Sehun. "Sudah kan? Sekarang tidurlah Sehun." Ucap Jiyeon yang memejamkan matanya.


Sehun menahan tawanya, tingkah konyol Jiyeon ini semakin membuat Sehun ingin menggodanya. Jika tidak ingat sedang sakit, pasti Sehun sudah merengkuh tubuh itu dan memeluknya erat. Sudahlah, masih banyak waktu dan kesempatan untuk kembali menggoda Jiyeon, sekarang dia harus istirahat dan memulihkan tenaganya.