President'S Priceless Wife

President'S Priceless Wife
Part 17




.


.


.


.


.


Hari ini adalah hari yang sudah Jiyeon tunggu. Dia akan datang ke acara resepsi pernikahan Naeun dan juga Seungho, tentunya dengan membawa hadiah yang telah ia siapkan dengan susah payah. Jiyeon ingin melihat sampai mana mereka bisa menyombong diri dan bersenang-senang di atas penderitaan Jiyeon. Dua manusia hina yang telah menyakitinya, mereka pikir Jiyeon akan diam saja dan merasa sedih? Tentu tidak! Mereka harus membayar apa yang telah mereka lakukan.


Jieun membantu Jiyeon memilih pakaian yang akan ia kenakan malam ini, ia juga merias wajah Jiyeon hingga nampak begitu cantik dan memesona. Hanya menggunakan dress hitam selutut lengan panjang dan make Up tipis, Jiyeon sudah mampu membuat siapa saja langsung jatuh hati padanya.



"Wah Jiyeon, kau cantik sekali.." Puji Jieun melihat hasil karyanya yang nampak sempurna. Ia menyadari pada dasarnya Jiyeon sangatlah cantik dan dengan memoles sedikit wajah sang gadis semakin membuatnya terlihat luar biasa.


"Ini karena kau yang pandai merias Jieun." Jiyeon tak ingin besar kepala, ia sangat tahu bahwa sebuah pujian sebenarnya adalah ujian.


"Kau akan pergi dengan Sehun kan?" Tanya Jieun memastikan. Jiyeon mengangguk mengiyakan pertanyaan Jieun. Dia sudah memikirkan hal ini dan akan terlihat konyol sekali jika Jiyeon datang sendirian. Sama saja pergi ke medan perang tanpa senjata, yang ada ia malah menjadi bahan tertawaan Naeun dan orang-orang yang ada di sana. Jangan lupa, seluruh korea tahu bahwa Jiyeon adalah istri Oh Sehun dan wajahnya akhir-akhir ini sering menghiasi layar televisi berkat status hubungan mereka itu.


Jiyeon keluar dari dalam kamar setelah menyambar sebuah tas mewah merek ternama. Jieun memberikan semangat seolah Jiyeon hendak pergi ke medan perang. Gadis itu perjalan perlahan menuruni anak tangga, suara sepatu berhak tinggi menggema di mana-mana. Rupanya Sehun sudah menunggu di ruang tamu sambil sesekali melirik jam tangannya. Terlihat seperti orang yang sibuk dan waktunya sangat berharga.


Jiyeon semakin dekat tapi rupanya Sehun masih belum menyadari kedatangan sang gadis. Akhirnya Jiyeon berdehem kecil, menyadarkan Sehun yang langsung berbalik dan sedikit tersentak kaget melihat Jiyeon. Ia menatap Jiyeon dari ujung kaki hingga ujung rambut yang lagi-lagi hal ini membuat Jiyeon risih dengan pandangan Sehun pada dirinya.


"Kenapa memandang ku begitu? Apa ada yang aneh dengan penampilan ku?" Tanya Jiyeon karena Sehun terus saja menatap dirinya dan tak mengatakan apapun.


"Ekhem. Tidak, tidak aneh kok... ayo jalan sekarang." Sehun merapikan jas hitam miliknya dan berjalan mendahului Jiyeon.


Malam inipun Sehun tak kalah tampan dengan stelan tuxedo hitam dan model rambut hair up, membuat aura ketampanan Sehun semakin terlihat dan memesona.


Percayalah, siapapun yang melihat Jiyeon dan Sehun berjalan beriringan malam ini akan terhipnotis. Pesona keduanya sama-sama kuat dan yang paling penting adalah mereka pasangan suami istri yang sangat serasi dan banyak dibicarakan dimana-mana. Pasti akan ada banyak pasang mata yang iri melihat keduanya malam ini. Ya, Raja dan Ratu yang sesungguhnya telah muncul.


Hari ini Sehun mengemudikan mobilnya sendiri tanpa Baekhyun, jadilah Jiyeon duduk di depan samping tempat duduk sopir. Sehun mulai menjalankan mobilnya perlahan, meninggalkan garasi yang berisi mobil berjejer begitu banyak.


...


Jiyeon dan Sehun sampai di sebuah gedung hotel berbintang. Banyak sekali tamu undangan yang datang, rupanya kedua orang tua Naeun dan juga Seungho tak melewatkan kesempatan untuk memamerkan harta mereka yang berlimpah dengan membuat pesta yang begitu meriah juga mengundang begitu banyak tamu yang terlihat bukan dari kalangan orang biasa. Itu nampak jelas dari cara mereka berpakaian juga perhiasan yang di gunakan.


Jiyeon hendak turun dari mobil namun di cegah oleh Sehun. "Kau bodoh?" Tanya Sehun tiba-tiba. Jiyeon mengernyit heran tak mengerti maksud ucapan Sehun.


"Apa maksud mu? Aku hanya mau turun karena kita sudah sampai."


"Kau sekarang ada istri dari seorang Oh Sehun dan semua orang kini tengah memperhatikan mobil ini, jika kau turun sendiri apa yang akan para pemburu berita itu pikirkan?"


"Ya mana aku tahu? Mereka yang berpikir kenapa kau tanya pada ku?"


Sehun berdecak kesal, kenapa Jiyeon tidak peka sekali dengan situasi dan kondisi yang bisa menguntungkan mereka ini. Terkadang Jiyeon pintar tapi juga lemot.


"Sudahlah, diam disini.. Aku yang akan membukakan pintu mobil untuk mu." Sehun segera turun dari dalam mobil, semua kamera wartawan langsung menyorot dirinya. Sehun berlari kecil ke sisi mobil yang lain kemudian membuka pintu mobil itu dan mengulurkan tangannya.


Oh, Jiyeon mengerti sekarang. Rupanya dia sedang berusaha membuat image yang baik di depan publik. Berpura-pura menjadi suami yang romantis dan sangat mencintai istrinya. Dasar Oh Sehun. Jiyeon pun menerima uluran tangan Sehun dan keluar dari dalam mobil. Jiyeon tersenyum sangat manis hingga mereka tak bisa membedakan apakah itu senyum tulus atau terpaksa. Jiyeon mengapit lengan kekar Sehun mesra, keduanya saling bertukar pandangan dan tersenyum malu-malu. Semua wartawan langsung mengambil gambar keduanya ketika berjalan masuk menuju gedung dimana acara berlangsung. Besok pasti wajah keduanya menghiasi halaman utama majalah.


Benar saja, baru masuk kedalam ruang acara pesta semua orang sudah sibuk berbisik-bisik. Tatapan iri dan juga dengki di layangkan para wanita itu pada Jiyeon yang bergelayut manja pada lengan sang suami.


'Oh.. aku tidak menyangka tuan Oh akan datang ke pesta ini.'


'Beruntung sekali wanita yang menjadi istrinya itu, dia sangat cantik.'


'Ya Tuhan, mereka sangat serasi. Seperti pasangan yang turun dari langit.'


'Oh ada apa ini? Apa mereka juga mengundang Tuan Oh? Hebat sekali.'


Itu adalah segelintir pembicaraan para wanita yang hobi bergosip, tentunya masih ada banyak lagi yang membicarakan Jiyeon juga Sehun.


Sang empunya acara nampak girang, seolah menang jackpot dengan kedatangan orang hebat macam Sehun. Tak di sangka undangan yang mereka kirim disambut baik oleh sang CEO yang super sibuk.


"Terima kasih tuan Oh, anda mau datang ke cara pernikahan putri kami. Padahal kami tahu anda orang yang sangat sibuk." Ingin menjilat Sehun? Lupakan saja, bahkan kini ekspresi wajah Sehun benar-benar datar tak ada senyuman seperti pertama kali ia masuk kedalam gedung ini.


"Ini semua karena istriku yang meminta, jika tidak aku pasti tak akan datang." Dingin Sehun.


"Terima kasih Jiyeon, ku dengar kau bersahabat dengan Naeun, beruntung sekali dirimu bisa bersanding dengan orang hebat seperti CEO Oh." Kini giliran ibu Naeun yang membuka suara. Jiyeon tersenyum kecil.


Sahabat? Jangan bercanda? Ya, mungkin karena dulu Jiyeon begitu bodoh dan polos makanya dia bisa tertipu dengan kebaikan palsu Naeun. Tapi sekarang Jiyeon sudah tak sama lagi seperti dulu.


"Tentu Bi, orang baik akan bertemu dengan orang baik pula." Jawab Jiyeon yang sebenarnya adalah sindiran untuk putri mereka.


Tuan Son mempersilahkan Sehun juga Jiyeon untuk duduk di salah satu meja yang telah di sediakan. Sejujurnya Sehun benar-benar tidak ingin datang ke acara seperti ini, membosankan dan buang-buang waktu. Tapi dia ingin melihat rencana Jiyeon yang telah gadis itu siapkan juga tak mau membuat sang gadis dipermalukan karena datang seorang diri.


Seorang pelayan datang memberikan segelas anggur untuk Sehun juga Jiyeon. Sehun nampak terkejut saat melihat wajah pelayan yang ternyata adalah Krystal. Ia tak menyangka bahwa Krystal akan menyamar menjadi pelayan di acara pernikahan putri keluarga Son. Pasti ini juga bagian dari rencana Jiyeon.


"Selamat menikmati." Ucap Krystal dan mengeringkan sebelah matanya pada Jiyeon. Jiyeon pun tersenyum dan balas mengeringkan matanya pada Krystal.


Sehun menatap Jiyeon meminta penjelasan. Jiyeon yang mengerti arti tatapan itu hanya tersenyum simpul. "Sebentar lagi pertunjukan akan di mulai." Bisik Jiyeon tepat di telinga Sehun, orang yang melihat dari sudut pandang yang lain mungkin mengira bahwa keduanya tengah berciuman. Padahal tidak begitu.


Baiklah Sehun tak bertanya lagi, dia akan menunggu pertunjukan seperti apa yang Jiyeon maksud. Di saat keduanya tengah menikmati anggur, sepasang pria dan wanita menghampiri mejanya. Jiyeon mendengus, kenapa juga dia harus datang kesini? Membuat Jiyeon malas saja.


"Oh, ku pikir kau tidak akan datang Jiyeon." Ucapnya dengan nada bicara yang sombong, membuat siapa saja muak. Seungho nampak terkejut dengan bola mata melotot, ia tidak percaya bahwa wanita cantik yang duduk di sana adalah Jiyeon, mantan kekasihnya yang telah ia khianati.


Jiyeon tersenyum dan mengibaskan rambutnya kebelakang. "Tentu saja aku datang, kau sendiri yang mengirim undangan itu khusus untuk ku, masak aku tidak datang. Iyakan sayang?" Ucap Jiyeon meminta dukungan pada Sehun dengan aksen manjanya. Seungho kembali di buat terkejut.


"Sayang? Apa hubungan mereka?"


"Tentu saja, sudah aku bilang bukan? Jika istriku yang meminta pasti akan aku turuti." Ucap Sehun sambil mengelus-elus surai coklat Jiyeon. Naeun kesal, tadinya ia pikir Jiyeon akan datang sendirian dan dia bisa mencemooh gadis itu, tapi siapa sangka jika Sehun sangat mencintai Jiyeon hingga rela datang ke acara resepsi pernikahannya dengan Seungho.


Seungho membatu di tempatnya, entah kenapa perasaannya tidak rela melihat Jiyeon bersama dengan orang lain apalagi orang itu rupanya adalah suami Jiyeon. Seungho tidak percaya ini, Jiyeon sudah menikah? Kapan? Dan kenapa dia tidak tahu? Ia menyesal telah memutuskan hubungan dengan wanita yang kini terlihat semakin cantik itu.


"Ada apa tuan Yoo? Kenapa anda menatap istriku seperti itu? Bukankah itu tidak sopan?" Tegur Sehun karena sejak tadi Seungho hanya diam dan memandangi Jiyeon. Jiyeon melirik Seungho sekilas namun dia buru-buru buang muka, tak sudi menatap pria brengsek yang telah mengkhianati dirinya.


Naeun pun menatap Seungho, ia tahu bahwa sebenarnya Seungho masih belum melupakan Jiyeon sepenuhnya. Hal itulah yang membuat Naeun semakin benci dengan sosok wanita di depannya itu.


"Maaf tuan, saya hanya merasa familiar dengan istri anda." Jawaban bodoh macam apa itu? Sungguh rasanya Jiyeon ingin tertawa mendengar ucapan Seungho itu.


Ayah dan ibu Naeun memanggil putra putrinya untuk naik ke atas panggung memberikan sambutan dan ucapan terima kasih pada tamu yang hadir. Seungho dan Naeun pun segera naik ke atas panggung. Saat itulah Jiyeon tersenyum misterius, pertunjukan yang ia maksud akan segera di mulai.


Semua tamu undangan kini fokus pada kedua pasangan yang menjadi topik utama di acara ini. Wartawan pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengambil gambar juga video dua anak dari pengusaha sukses yang mengelar acara pernikahan. Krystal berjalan melewati beberapa tamu undangan, ia melempar pandangan pada Jiyeon. Jiyeon memberikan kode pada Krystal untuk segera memulai pertunjukan yang di balas anggukan kepala oleh Krystal.


"Hei Sehun..." Panggil Jiyeon membuat Sehun otomatis menoleh pada Jiyeon.


"Huh?"


"Hitung mundur mulai dari tiga."


"Cepat hitung mundur mulai dari tiga."


Sehun mengernyit, masih tidak mengerti apa maksud Jiyeon memintanya untuk menghitung mundur. Tapi akhirnya dia tetap menuruti permintaan si gadis. Sehun mulai menghitung mundur dan ketika hitungan Sehun berakhir, muncul sebuah video di atas panggung.


Semua orang awalnya bingung dan terkejut melihat video itu. Apalagi Naeun dan juga Seungho, mereka tidak ingat ada bagian acara seperti ini.


Video itu terus berjalan dan mulai pada puncaknya, Naeun terbelalak kaget melihat video itu dan berteriak meminta video itu untuk di hentikan.


"Hentikan videonya! Hentikan!!" Percuma saja, seluruh acara malam ini telah di atur oleh Jiyeon juga Krystal, tidak ada yang bisa menghentikan video itu kecuali Krystal.


Itu adalah video rekaman Naeun yang sedang bercinta dengan seorang pria asing, tidak hanya satu tapi ada lebih dari tiga pria. Di dalam video itu terlihat bagaimana Naeun menikmati pergulatannya dengan pria-pria asing itu. Dia sudah seperti ****** yang haus akan belaian.


"Hentikan! Hentikan video itu!! Itu tidak benar! Video itu bohong!!" Naeun sudah seperti cacing kepanasan di atas panggung. Sedangkan Jiyeon tertawa kecil melihat pertunjukan di atas sana, sungguh melihat wajah menderita Naeun adalah hal yang membahagiakan untuk Jiyeon. Sehun ikut tersenyum kecil melihat Jiyeon.


Semua orang mulai berbisik-bisik dan mencemooh Naeun. Ayah dan ibu Naeun tentu malu sekali melihat hal ini dan keluarga Seungho juga terkena imbasnya karena ternyata calon menantu mereka tak sebaik seperti yang mereka pikirkan terlebih menantu mereka sangat hina dan murahan.


Seungho menatap Naeun penuh amarah, dia memang melakukan hubungan intim dengan Naeun tapi tak menyangka bahwa selama ini gadis yang ia pikir hanya mencintai dirinya sangatlah hina dan suka melakukan hubungan badan dengan banyak pria. Seungho benar-benar menyesal karena menikah dengan Naeun.


"Kau! Dasar murahan!!" Berang Seungho yang tidak bisa lagi menerima kenyataan ini. Naeun memohon dan memegang tangan Seungho erat.


"Ini... ini tidak seperti yang kau pikirkan Seungho, video itu palsu! Itu tidak benar." Bukti sudah ada di depan mata dan Naeun masih saja bersilat lidah. Sungguh usaha yang sia-sia. Ia pikir Seungho akan percaya? Lupakan saja!


"Pernikahan ini di batalkan!!" Ucap ayah Seungho yang malu tak karuan, acara pernikahan putranya menjadi bahan olokan dan gunjingan orang, mau di taruh dimana muka mereka.


"Tidak! Tidak paman tidak!" Naeun memohon pada ayah Seungho namun langsung di tepis begitu saja. Ia sudah seperti orang gila yang menangis dan memohon pada kedua orang tua Seungho.


"Kita pulang sekarang! Memalukan sekali!" Sinis ayah Seungho dan menyeret putra mereka untuk ikut pulang. Berlama-lama disini semakin membuat mereka malu.


"Tidak! Pernikahan ini tidak boleh batal!! Tidakk! TIDAKKKKK!!" Naeun mengacak rambutnya seperti orang kesetanan, semua orang menatapnya dengan tatapan jijik juga mengatakan bahwa dia gadis yang tidak tahu malu.


Semua sudah berakhir sekarang, para tamu undangan satu persatu keluar dari ruangan pesta tak terkecuali Jiyeon dengan Sehun yang tadi sangat menikmati pertunjukan penuh drama menyedihkan Naeun. Jiyeon puas sekali melihat bagaimana Naeun menangis dan meraung begitu keras seolah putus asa. Kado yang Jiyeon berikan ini benar-benar membuat Naeun serta keluarganya malu dan hancur.


Dalam perjalanan pulang, Jiyeon masih saja terkekeh pelan jika mengingat Naeun. Sungguh hiburan tersendiri untuk Jiyeon.


"Kau nampak senang sekali, lolly pop?" Tanya Sehun yang salut dengan usaha Jiyeon. Pasti tidaklah mudah mendapatkan rekaman video itu, belum lagi Jiyeon masih terlalu awal untuk urusan semacam ini. "Puas dengan hasil usaha mu hari ini?"


"Hem... tentu saja, aku puas sekali!!" Jawab Jiyeon semangat. Sudah lama ia tak bersemangat seperti ini, rasanya benar-benar melegakan sekali. "Melihat wajah Naeun yang tersiksa seperti tadi, aku benar-benar senang." Jiyeon tersenyum lebar, usahanya tak sia-sia dan dia harus berterima kasih banyak pada Krystal, jika tidak ada gadis itu mungkin rencana Jiyeon tak akan berjalan semulus ini.


Sehun ikut tersenyum, walau hanya senyum kecil yang tak dapat Jiyeon lihat. Macan betinanya telah berkembang begitu banyak dan Sehun suka itu.


"Kerja bagus Lolly pop. Kau melakukannya dengan baik." Sehun mengacak pelan rambut Jiyeon dan tentu hal ini menimbulkan efek samping bagi sang empunya rambut.


"Jangan mengacak rambut ku seenaknya!" Protes Jiyeon dan memalingkan wajahnya, menatap keluar jendela. Pipinya kembali memanas, entah karena pujian Sehun atau karena pria itu mengacak rambutnya. Jiyeon berusaha tidak peduli.


Jiyeon, Krystal dan Jieun merayakan keberhasilan misi mereka dengan minum anggur bersama di ruang tamu. Mereka bertiga puas sekali dengan keberhasilan misi ini terutama Jiyeon yang akhirnya bisa membalaskan dendam pada Naeun juga Seungho. Keduanya pasti sangat malu, tahu sendiri masyarakat korea sangat benci dengan sebuah kekurangan dan kesalahan sedikit saja bisa menjadi masalah besar. Orang tua Naeun dan juga Seungho tidak akan bisa lagi sombong dan memamerkan kekayaan mereka, karena sebentar lagi mereka akan jatuh miskin.


Gelak tawa Krystal mendominasi dan memenuhi ruang tamu. Ia sebenarnya sangat jijik melihat Video Naeun tapi melihat bagaimana reaksi Naeun ketika video itu di putra membuatnya senang.


"Kau tahu? Wajahnya benar-benar lucu." Ucap Krystal dan kembali tertawa.


"Haishh... harusnya aku ikut tadi supaya bisa melihat bagaimana reaksi wanita ****** itu." Jieun memberengut. Tadinya Krystal sudah mengajak dirinya untuk menyamar sebagai pelayan, Jieun saja yang terlalu rewel dan membuatnya meninggalkan gadis itu.


"Aku punya videonya jika kau ingin lihat, tenang saja." Ya, Krystal sempat meminta salinan video acara tadi. Jieun berbinar dan kembali ceria.


"Terima kasih banyak, kalian berdua sudah mau membantuku. Jika tidak ada kalian, rencana ini pasti tidak akan berhasil." Jiyeon dengan tulus berterima kasih pada Jieun dan Krystal.


"Kami senang membantu Ji."


"Iya, Krystal benar Ji."


Satu masalah sudah berhasil Jiyeon selesaikan, kini tinggal masalah yang lain yang harus siap Jiyeon hadapi.


"Wah-wah.. ada apa ini? Kalian berpesta tanpa mengajak kami?" Dua orang pria datang dan bergabung bersama wanita-wanita itu. Mereka adalah Baekhyun dan juga Kai.


"Hei cantik, ada acara apa ini? Kau ulang tahun ya?" Tanya Kai pada Jiyeon. Krystal langsung memukul kepala Kai dengan kepalan tangannya. "Aw... Sakit Krys sayang." Eluh Kai.


Krystal dan Jieun merotasikan bola matanya jengah. Kai tidak berubah, masih tetap suka menggoda dan menyebalkan.


"Jangan ganggu Jiyeon, mau ku pukul lagi?" Krystal menunjukan tangannya yang siap memukul Kai kapan saja. Kai tersenyum dan minta ampun pada Krystal.


"Jiyeon jangan dekat-dekat dengan Kai, dia itu playboy bodoh dan menyebalkan." Ucap Jieun dan memeluk Jiyeon dari samping.


"Eunnie sayang, kenapa kau bilang hal buruk tentang ku pada Jiji yang manis?" Ucap Kai terdengar sangat menjijikan dan membuat siapa saja ingin muntah.


"Yak! Kai berhenti sekarang juga atau ku bunuh kau!!" Baekhyun tidak tahan lagi, tubuhnya merinding setiap kali Kai mengatakan hal-hal yang menjijikan baginya.


Kai tertawa keras, dia hanya menggoda orang-orang disini saja. Senang rasanya dia bisa kembali lagi ke rumah ini dan berkumpul dengan orang-orang yang sama payahnya seperti dirinya, belum lagi ternyata ada anggota baru dalam kelompok mereka.


Mereka berempat minum hingga mabuk dan tak sadarkan diri, semuanya sudah tepar di ruang tamu. Hanya Jiyeon saja yang masih sadar karena ia minum sedikit sekali tadi. Dulu saat ayahnya masih hidup, beliau melarang Jiyeon untuk minum-minuman yang memabukkan tapi sedikit saja pasti boleh.


Gadis itu berdiri dan hendak menaiki anak tangga menuju kamarnya, tapi sebelum itu dia tak melihat Sehun setelah kembali dari pesat, dia juga tidak ikut berkumpul bersama yang lain di ruang tamu. Lalu kemana dia?


Jiyeon memutar tubuhnya. Berjalan menuju kamar Sehun. Di ketuknya pintu kayu itu pelan dan ketika mendengar suara orang memintanya untuk masuk, barulah Jiyeon masuk.


Jiyeon melihatnya. Sehun yang tengah duduk di sofa sambil menghisap cerutu dengan santainya. Ia tidak tahu kalau Sehun juga suka menghisap barang yang bisa merusak paru-paru itu.


"Ada apa?" Tanya Sehun setelah menghembuskan asap dari cerutu yang ia hisap.


"Tidak ada, ku pikir kau kemana, ternyata disini." Jawab Jiyeon seadanya, ia memang mencari Sehun dan memastikan bahwa si laki-laki baik-baik saja. "Kau juga merokok rupanya?"


"Hem... seperti yang kau lihat." Jawab Sehun masih asik dengan kegiatannya.


"Jangan terlalu banyak, tidak baik untuk kesehatan mu."


Sehun mendengus pelan. "Apa kau sedang menghawatirkan kesehatan ku sekarang? Mau menjadi istri yang baik dengan mengingatkan suami?" Entah itu pujian atau sindiran, tapi Jiyeon sedikit kesal mendengarnya.


"Aku hanya tidak ingin menjanda dengan cepat." Balas Jiyeon.


"Sudahlah, sebaiknya kau tidur ini sudah malam." Jiyeon keluar dari kamar Sehun dan menutup pintunya kembali.


Sehun menatap pintu dimana Jiyeon keluar tadi dan setelah itu dia mematikan rokok dan membuangnya.


"Hahh... Sepertinya aku akan kesulitan untuk tidur lagi." Gumam Sehun, berjalan menuju lemari untuk berganti pakaian.



Semoga suka sama part kali ini


Di tunggu vommetnya♡️


Follow:lianqueen_