President'S Priceless Wife

President'S Priceless Wife
Part 26




.


.


.


.


.


.


Siapa yang nungguin hayo? Kekeke... semoga suka sama part kali ini♡️


〖️〗️


Jiyeon berendam dalam bak mandi yang di penuhi dengan busa, hari ini cukup melelahkan tapi juga menyenangkan, untuk pertama kalinya ia melihat sisi lain Sehun yang energik dan penuh semangat, bahkan ia tertawa begitu lepas, ia menikmati hari ini dan sangat berterima kasih pada Sehun, sejenak ia bisa melupakan misi balas dendam yang membuatnya sedikit tertekan.


Jiyeon memejamkan kedua mata, membiarkan tubuhnya sedikit rileks di dalam bak mandi yang busanya perlahan-lahan menguap. Jiyeon ingin menyudahi acara berendam nya, mengingat sudah sangat lama ia berendam, namun ketika netra nya terbuka betapa terkejutnya ia mendapati Sehun berdiri tegap di depan pintu kamar mandi, menatap ke arah bak mandi dimana ia berendam sekarang.


'Bodoh! Bagaimana bisa aku lupa mengunci pintu?!' Runtuk Jiyeon menyadari kebodohannya yang lupa mengunci pintu kamar mandi, ia menenggelamkan tubuhnya lebih dalam lagi karena malu, tapi sialnya busa yang ia pikir bisa membantu menutupi tubuh telanjangnya telah menguap dan di sana Sehun masih berdiri dengan tatapan yang errr... sulit untuk di artikan ke arahnya.


"Ah! Maaf aku tidak tahu jika kau sedang mandi, ku pikir kau ada di dapur, lagipula tidak ada suara air dan juga pintunya tidak di kunci, jadi kupikir tidak ada orang, maaf." Sehun berucap dengan suara serak juga pandangan mata yang tidak fokus, ia mencoba mengalihkan atensinya dari bak mandi. Setelah itu, Sehun langsung keluar dan menutup pintu kamar mandi kembali.


'Bodoh, Jiyeon bodoh!' Jiyeon masih saja merutuki kebodohannya karena lupa mengunci pintu, astaga dia sangat malu sekali. Jiyeon mendesis pelan.


Jiyeon berdiri, meraih sebuah jubah mandi di dekat bak mandi, memakainya. Jiyeon membuka sedikit pintu kamar mandi, mengintip apakah Sehun ada di dalam kamar, ia bernafas lega karena tidak ada siapapun di dalam kamar ini. Buru-buru Jiyeon berlari kecil ke dalam walk in closet guna mengganti pakaiannya sebelum Sehun kembali.


Sedangkan di kamar mandi lain, tampak Sehun tengah mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin  di bawah shower, ia sedang berusaha meredakan hasratnya yang sedikit terpancing akibat tidak sengaja melihat lekuk tubuh Jiyeon yang hanya tertutup sedikit busa dan air dalam bak mandi.


Ketika ia kembali ke dalam kamar, ia melihat Jiyeon sudah terlelap di balik selimut yang menutupi setengah tubuhnya. Ia melirik jam yang ada di dinding, pantas saja Jiyeon sudah tidur karena jarum jam menunjukan pukul sebelas malam dan pastinya sang gadis lelah karena acara kencan mereka hari ini. Sehun tersenyum, ia memposisikan diri untuk tidur di samping Jiyeon, tanpa melakukan apapun. Meskipun sebenarnya ia ingin memeluk tubuh Jiyeon tapi Sehun langsung menepis jauh-jauh pikiran bodohnya itu.



Sehun membuka kedua mata, sama seperti malam-malam sebelumnya, ia tertidur dengan lelap tanpa mimpi buruk. Ketika ia membuka kedua matanya dengan sempurna, Sehun mengerutkan kening karena sisi di sebelahnya telah kosong, Jiyeon tak ada. Kemana perginya sang gadis sepagi ini. Ia beringsut bangun, kamar mandi menjadi tujuan utama, namun setelah mengetuk hampir lima kali tak ada jawaban, Sehun membuka pintu, mengintip sedikit takut kejadian semalam terulang, tidak ada siapapun.


Sehun membuka kran air, ia membasuh muka dengan air, juga menggosok gigi, mungkin Jiyeon ada di luar ia akan melihat setelah urusan kamar mandinya selesai.


Di sisi lain, Jiyeon tengah sibuk berkutat di dapur menyiapkan sarapan, tiba-tiba saja saat bangun tadi ia ingin memasak, lagipula bahan makanan ini akan membusuk jika tidak segera di olah. Sehun mendengar suara besi yang saling berbenturan juga bau harum yang berasal dari masakan Jiyeon. Langsung saja ia bergegas menuju dapur guna melihat apa yang terjadi.


"Oi, apa yang sedang kau lakukan?" Jiyeon tersentak kaget mendengar suara Sehun yang menyapa indera pendengarannya. Sontak ia menoleh ke sumber suara. Sehun tampak berdiri sambil melipat kedua tangannya di dada, menatap tepat ke arah Jiyeon.


"Kenapa kau suka sekali membuat orang terkejut? Tiba-tiba muncul begitu," Ucap Jiyeon yang kembali fokus pada penggorengannya.


Sehun mendekat, melihat apa yang sedang Jiyeon lakukan, "Kau sedang membuat sarapan?" Tanya Sehun melihat masakan Jiyeon yang hampir selesai.


"Hem, duduklah di sana dan aku akan segera selesaikan ini."


"Tumben sekali, ada apa ini? Apa kau sedang berperan menjadi istri yang baik?" Sehun terkekeh pelan.


Jiyeon menoleh, menatap Sehun dengan tatapan mata garang, "Jika kau ingin mendapatkan jatah sarapan, cepat duduk di sana dan jangan banyak bicara, Sehun." Ancam Jiyeon, Sehun tersenyum sebelum akhirnya mengangkat kedua tangan tanda menyerah dan berjalan menuju meja makan.


Dari sana, ia asik memandangi punggung Jiyeon, seulas senyum terlukis indah di wajah tampan Sehun. Rasanya seperti sedang melihat istri  membuatkan sarapan untuknya, meskipun Jiyeon memang istrinya. Tidak salah memang ia meminta semua penghuni rumah untuk pergi, jadi ia bisa menikmati waktunya berdua saja dengan Jiyeon. Ah, atau sebaiknya Sehun membeli rumah lagi? Khusus untuk dirinya dan juga Jiyeon, baiklah itu bukan ide yang buruk, hanya saja Jiyeon pasti tidak akan mudah menerima usulnya itu.


Karena terlalu asik dengan pikirannya, Sehun sampai tidak sadar jika Jiyeon sudah berada di depannya dengan menghidangkan makanan sederhana khas rumahan yang ia buat.


"Sehun!"


"Hem? Apa?"


Jiyeon menatap Sehun bingung, entah apa yang sedang Pria itu pikirkan hingga tak mendengar suaranya atau bahkan kehadirannya, "Kau ini sedang memikirkan apa? Ini, sarapannya sudah siap," Ucap Jiyeon.


Sehun langsung saja berbinar, makanan di hadapannya terlihat lezat, "Wah, apa kau yakin ini masakan mu sendiri? Kau tidak memesan dari luar kan?" Goda Sehun.


"Yak! Tentu saja ini masakan ku, apa sih? Kalau tidak suka ya sudah, jangan makan," Jiyeon hendak mengambil piring di dekat Sehun, namun Sehun segera melindungi piringnya itu.


"Eih, siapa bilang aku tidak suka? Kau ini tidak mengerti ya? Aku itu sedang memuji masakan mu, karena terlihat lezat,"


Blush!


Pipi Jiyeon langsung merona, akhir-akhir ini dia selalu merasa ada yang tidak beres dengan dirinya jika mendengar sesuatu yang baik dari Sehun, entah itu pujian atau sikap perhatian yang Sehun berikan. Jiyeon segera menepis perasaan aneh yang mulai menghinggapi hati dan juga pikirannya, ia harus ingat bahwa pernikahannya dengan Sehun hanya pernikahan sandiwara atas dasar menguntungkan satu sama lain, lagipula ia dan Sehun bagaikan langit dan bumi. Sehun sangat bersinar, di luar sana banyak wanita yang lebih baik dan lebih cantik di bandingkan dirinya, Jiyeon dia tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan Sehun yang selalu mampu menarik perhatian semua wanita.


Oh astaga! Jiyeon segera menghilangkan pikiran-pikiran anehnya itu dan makan sarapannya dengan diam, tak peduli jika sekarang Sehun tengah menatapnya aneh.


"Yak! Lolipop, ada apa dengan ekspresi wajah mu itu?"


"Kenapa? Aku baik-baik saja. Kau tidak bekerja hari ini?" Jiyeon segera mengalihkan pembicaraan, jika tidak Sehun akan terus bertanya ini dan itu.


"Tidak, aku masih cuti." Jawab Sehun sambil memasukan sayuran kedalam mulutnya, masakan Jiyeon benar-benar cocok di lidah Sehun, rasanya ia ingin makan lagi dan lagi. Jiyeon hanya manggut-manggut mengerti.



Jiyeon menghela napas, ia meletakkan sebuah buku yang baru saja selesai ia baca, hanya buku novel romansa biasa. Ia bosan, Sehun yang tadinya cuti harus kembali ke kantor karena ada urusan mendesak, meninggalkan Jiyeon sendirian di rumah yang tidak ada siapapun selain dirinya.


Mungkin saja jika ada Jieun atau Krystal, Jiyeon tidak akan merasa kesepian, setidaknya ia bisa membagi cerita dan bergosip bersama dengan kedua temannya itu. Jiyeon ingin keluar, jalan-jalan sebentar tak jauh dari sini, tapi ia takut jika orang-orang yang mengincar Sehun akan kembali menangkap dirinya dan menyulitkan Sehun, Jiyeon tidak mau jadi beban Sehun lagi.


"Kapan Sehun akan kembali?" Jiyeon melihat keluar jendela, hari sudah siang dan mungkin sore baru Sehun akan kembali mengingat ia pergi dengan tergesa-gesa sampai lupa membawa dompetnya.


"Huwaaaa~ Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Jiyeon beranjak dari ruang baca di lantai dua, ia menuruni anak tangga dengan perlahan-lahan. Baiklah, ia akan berkeliling rumah ini saja, nanti pasti juga lelah.



Baekhyun nampak kesulitan membawa barang belanjaan Jieun yang begitu banyak, ia sudah seperti pelayan si gadis yang kini terlihat asik memilih sebuah parfum. Baekhyun sudah lelah, menyesal ikut kesini jika tahu akan begini maka ia pasti tak akan mau ikut dan memilih  tidur di hotel yang nyaman dan tenang.


Jieun seolah tidak merasa bersalah dan kasihan pada pria pendek yang wajahnya sudah kusut kumal seperti kain pel di belakangnya, ia lebih fokus pada parfum yang sangat ia sukai dan sudah lama ingin ia beli.


"Baek, menurutmu baunya enak yang mana?" Tanya Jieun pada Baekhyun.


"Mana aku tahu! Cepatlah, tangan ku sudah pegal semua ini!" Protes Baekhyun, ia bisa saja meninggalkan Jieun dengan semua belanjaannya ini, tapi pasti gadis ini akan mengamuk dan akhirnya mereka akan bertengkar seperti anak kecil, ah Baekhyun benar-benar lelah.


Jieun berdecak, "Iya iya, ini juga sudah mau selesai kok, sabar sedikit,"


Baiklah, Jieun mengalah, lagipula wajah Baekhyun itu sudah seperti akan memakan dirinya hidup-hidup bila ia tak segera menyelesaikan acara berbelanja ini. Jieun segera membayar kedua parfumnya dan bergegas kembali, tak mau membuat Baekhyun semakin emosi.


Baekhyun langsung memasukan semua barang ke dalam mobil, wajahnya nampak kusut dan kesal sekali, Jieun bisa merasakan hawa hitam yang menyelimuti sekitar area tubuh Baekhyun dan itu malah membuatnya ingin tertawa.


"Yak! Baekhyun-ah, jangan marah, eoh," Ucap Jieun ketika keduanya dalam perjalanan kembali ke hotel. Baekhyun tak menjawab dan hanya fokus menyetir, "Akan aku traktir nanti, apapun," Bujuk Jieun, tapi tak mampu membuat mood Baekhyun kembali baik.


Jieun terdiam, memikirkan sesuatu yang lain yang pastinya tidak akan di tolak oleh Baekhyun, "Baiklah baik, aku akan belikan Video game terbaru, bagaimana? Masih tidak mau?"


Mendengar kata Video game, mau tidak mau Baekhyun langsung saja tersenyum lebar dan menoleh pada Jieun. Akhirnya berhasil juga, video game adalah cara terbaik untuk membujuk Baekhyun yang sedang merajuk, untung saja ia ingat cara ini.


"Janji ya? Awas jika kau bohong," Ucap Baekhyun girang.


"Ya iya, aku tidak akan bohong," Jieun pun memberikan seulas senyum untuk Baekhyun, kemudian suasana yang tegang dan penuh hawa dingin berubah mencari, dua orang itu kini tengah asik mengobrol membicarakan video game juga acara Fashion Jieun yang akan di adakan besok. Sedangkan semua belanjaan tadi adalah oleh-oleh yang sengaja ia beli untuk Krystal dan Jiyeon.



Suasana begitu hening. Sehun dengan mata tajamnya menatap sosok wanita yang kini duduk di hadapannya dengan ekspresi wajah sedih dan putus asa, Sehun menghela napas panjang, kenapa juga ia harus terlibat dengan gadis rumit dan keras kepala  di hadapannya ini. Siapa lagi jika bukan Jisoo. Rupanya gadis itu masih belum menyerah dan lagi alasan yang sama yang membuat Sehun harus berada di sini, di rumahnya sekarang.


Harusnya sekarang ia sudah berada di rumahnya berdua saja dengan Jiyeon menikmati makan malam, tapi sialnya ia malah terjebak di sini, jika tidak ingat Ayah Jisoo adalah rekan bisnis yang telah banyak membantunya maka Sehun pasti tidak akan peduli pada gadis ini dan mungkin saja ia sudah membunuh Jisoo dengan tangannya sendiri.


"Berhentilah berbuat bodoh, Jisoo, sampai kapan pun aku tidak akan pernah menyukai mu!" Dingin Sehun.


Jisoo dengan mata sembab sehabis menangis menatap Sehun nanar, "Aku tidak memintamu untuk mencintaiku Sehun! Aku hanya ingin berada di sisimu, hanya itu! Apakah itu sulit?" Jisoo berucap dengan suara serak, khas orang sehabis menangis.


Sehun benci ini, ia benar-benar tidak menyukai Jisoo dan bagaimana bisa berada di sisinya jika ia saja tidak menyukai gadis ini berada di jarak dekat dengannya, "Lupakan itu, kau cantik dan latar belakang keluarga mu juga baik, pasti banyak laki-laki yang mau menjadi pendamping hidupmu, jangan sia-siakan hidupmu, Jisoo." Sehun tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi wanitanya yang begitu terobsesi dengan dirinya ini, Sehun ingin segera lepas dan bebas dari wanita macam Jisoo ini. Ia mengambil sebuah minuman yang ada di depannya, pelayan rumah ini baru saja meletakkannya di sana dan Sehun langsung meneguknya hingga habis tak tersisa. Jisoo tersenyum samar.


"Aku tidak mau! Aku hanya ingin dirimu Sehun!" Jisoo dan keras kepalanya adalah dua hal yang Sehun benci, kenapa juga ia begitu terobsesi dengan dirinya, oh astaga tiba-tiba kepala Sehun terasa nyeri menghadapi Jisoo.


"Aku sudah menikah dan aku hanya mencintai istriku saja, tolong kau pahami itu," Ucap Sehun, ia merasakan sesuatu yang tidak beres dengan tubuhnya, tiba-tiba saja terasa panas dan tidak nyaman. "Aku akan pergi sekarang," Sehun berdiri, tubuhnya semakin tidak karuan.


Jisoo menahan langkah Sehun, ia memeluk tubuh Sehun dari belakang, "Aku tidak akan membiarkan mu pergi, Sehun! Kau hanya milik ku dan akan selalu begitu!"


Oh, pasti ada yang salah dengan dirinya, Sehun benar-benar merasa kepanasan dan sesuatu dalam dirinya tiba-tiba bergejolak. Sial, sudah pasti ini adalah jebakan yang Jisoo buat, buktinya kini ia menggerayangi tubuh Sehun, membuat hasrat Sehun semakin meningkat.


"Bukankah kau butuh bantuan, Sehun?" Bisik Jisoo sensual di telinga Sehun. Benar dugaannya, pasti ada yang salah dengan minuman yang tadi ia minum, pasti Jisoo memasukan sesuatu kedalam minumannya itu.


Sehun melawan dirinya sendiri, ia melepaskan pelukan Jisoo dan mendorong tubuh si gadis hingga jatuh tersungkur di lantai, "Apa yang kau lakukan? Apa kau pikir dengan memasukan obat perangsang dalam minumanku, maka aku akan tergila-gila padamu? Huh! Jangan mimpi! Itu tidak akan pernah terjadi, Jisoo!" Sehun segera melangkah pergi dari rumah Jisoo, meninggalkan sang gadis yang kini hanya bisa meratapi nasibnya karena gagal mendapatkan Sehun sepenuhnya. Sehun harus segera pulang dan melakukan sesuatu pada tubuhnya yang semakin tidak bisa di kontrol.


Di dalam perjalanan pulang, Sehun melonggarkan dasi dan melepas jas kerjanya, wajahnya memerah seperti kepiting rebus sedangkan sesuatu di bawah sana terasa menyiksanya. Entah berapa lama efek obat ini akan berlangsung, yang jelas Sehun merasa tersiksa sekali dengan keadaan ini.


"Jisoo sialan!" Umpat Sehun.



Jiyeon duduk di ruang tengah dengan layar televisi yang menyala, memperlihatkan gambar idol-idol yang sedang menari dan menyanyi di atas panggung, sesekali ia melihat ke arah pintu berharap seseorang akan mengetuknya atau masuk kedalam, ia kesepian.


Jam sudah menunjukan pukul sepuluh, tapi Sehun masih juga belum kembali entah hari ini ia akan pulang atau tidak, tapi Jiyeon akan menunggu sebentar lagi sampai Sehun kembali.


Deru mobil di luar menyapa indera pendengaran Jiyeon, pastilah itu Sehun yang baru saja kembali. Jiyeon berdiri bersiap membukakan pintu, tapi rupanya Sehun lebih dulu membuka pintu dengan penampilan yang kacau dan wajah memerah.


"Sehun, ada apa? Kau baik-baik saja?" Tanya Jiyeon khawatir, ia pergi dengan tergesa-gesa tadi dan saat kembali malah seperti ini, tentu saja Jiyeon khawatir ada sesuatu atau masalah yang terjadi.


Gila, benar-benar gila, Sehun tidak bisa menahan dirinya lagi, apalagi saat melihat bibir Jiyeon yang menggoda. Sehun tiba-tiba saja mencengkram kedua pundak Jiyeon dan tanpa aba-aba mendaratkan bibirnya pada permukaan bibir Jiyeon, hal ini tentu saja membuat Jiyeon terkejut. Sehun tidak hanya menempelkan bibirnya, namun ia juga ******* bibir Jiyeon secara kasar dan menuntut.


Jiyeon memukul-mukul dada Sehun, meminta si pria untuk menghentikan ciuman kasar ini, tapi Sehun seolah buta, ia tengah di kuasai oleh nafsu yang tidak biasa di tahan akibat obat perangsang yang Jisoo berikan, Sehun semakin memperdalam ciumnya pada Jiyeon bahkan ia memaksa lidahnya masuk kedalam mulut Jiyeon. Tubuh Jiyeon perlahan-lahan mundur kebelakang karena dorongan dari Sehun, ia terjerembab dan jatuh di sofa yang berada tepat di belakangnya.


"Eummmm... eumm...." Jiyeon masih berusaha melepaskan diri, tapi Sehun seolah tuli, tidak mempedulikan Jiyeon sama sekali. Sungguh, Jiyeon ketakutan sekarang.


Sehun menarik paksa kancing kemeja Jiyeon, ia kini menenggelamkan kepalanya pada cerukkan leher Jiyeon, mencium, mengigit dengan ganas dan brutal.


"Sehun hentikan! Sehun sadarlah!!" Jiyeon memukul-mukul punggung Sehun, ini sudah seperti mimpi buruk untuk Jiyeon, tubuhnya bergetar karena takut. "Sehun... aaarrrgghh... Sehun... Hen-hentikan!" Ucap Jiyeon terbata karena Sehun menghisap lehernya begitu kuat.


Jiyeon tidak tahu apa yang terjadi pada Sehun, kenapa pria ini berubah menjadi beringas dan kasar seperti ini tapi yang jelas Jiyeon takut, ini seperti kejadian saat Seungho berusaha untuk melecehkan dirinya. Tenaga Jiyeon tak sekuat Sehun, ia hanya bisa berteriak histeris berharap Sehun akan sadar dan menghentikan aksi gilanya ini. Jiyeon tidak mau seperti ini, ia tidak mau.


"Aku mohon... Hentikan Seh.. eeummmm." Sehun kembali membungkam bibir Jiyeon dengan sebuah ciuman, cairan asin itu akhirnya lolos juga dari pelupuk mata Jiyeon. Ia benci, ia benci cara Sehun yang kasar dan brutal, ia benci ini. Jiyeon pada akhirnya mengigit bibir Sehun keras membuat sang empunya mengaduh kesakitan dan menghentikan aktivitasnya.


Sehun terbelalak kaget setelah menyadari apa yang terjadi, ia hilang kendali dan menggila, kini ia melihat dengan jelas wajah terluka Jiyeon yang berada di bawahnya, mata tajam penuh amarah milik Jiyeon menatap langsung pada mata sayu milik Sehun. 'Apa yang aku lakukan?' Bisik Sehun pada dirinya sendiri.


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Sehun, kemudian tubuhnya limbung dan jatuh ke bawah, "Aku membencimu, Sehun!" Ucap Jiyeon sebelum berlari pergi meninggalkan dirinya, jelas sekali kilatan kebencian di mata Jiyeon untuknya, pasti Jiyeon berpikir bahwa Sehun sama seperti pria-pria brengsek di luar sana dan dia tidak ada bedanya dengan Seungho yang pernah hampir melecehkan Jiyeon.


"Apa yang aku lakukan? Aarrgghhh..." Sehun mengacak rambutnya frustasi, baru saja kemarin ia membuat gadis itu tertawa bahagia, sekarang ia malah membuat luka yang tak mungkin bisa di maafkan oleh Jiyeon. Semua ini karena Jisoo, jika saja ia tidak memberikan obat perangsang, pastilah semua ini tidak akan terjadi.


Sehun akhirnya kembali mendapatkan kontrol terhadap dirinya, ia sudah berganti pakaian dan berendam lama di dalam bak mandi, kini saatnya meminta pengampun pada Jiyeon dan meluruskan semua kesalahpahaman di antara keduanya.


Sehun mengetuk pintu kayu di hadapannya pelan, ia tahu Jiyeon ada di dalam karena isak tangisnya terdengar jelas di pendengar Sehun, "Jiyeon buka pintunya, aku ingin bicara dengan mu.." Tak ada jawaban hanya suara isakkan yang terdengar. Sehun benar-benar menyesal.


Sehun memutuskan untuk duduk di depan pintu, bersandar di sana dengan wajah menyesal juga rasa bersalah yang perlahan-lahan menyelimuti hatinya semakin tebal, "Jiyeon, aku tahu kau mendengar ku, aku hanya ingin mengatakan ini. Kau mungkin berpikir, bahwa aku sama seperti pria brengsek di luar sana karena hampir saja melecehkan mu, sungguh aku tidak bermaksud begitu Jiyeon aku benar-benar tidak sadar tadi," Sehun mulai menjelaskan situasinya pada Jiyeon.


"Jisoo kembali ingin bunuh diri, aku ke sana karena pelayanannya terus mendesak dan memohon agar aku datang dan menghentikan aksi bodoh Nona mereka, aku benar-benar tidak ingin pergi tapi aku juga tidak mungkin mengabaikan Jisoo yang merupakan putri dari rekan kerja ku. Aku di jebak Jiyeon, ia memasukan obat kedalam minumanku yang membuatku hilang kendali dan berbuat kurang ajar padamu, aku sungguh-sungguh melakukan semua itu karena tidak sadar, bukan keinginanku.."


"Aku tidak peduli apa kau mau percaya atau tidak, tapi aku benar-benar menyesal Jiyeon aku tidak pernah bermaksud melakukan hal itu padamu, maafkan aku.." Sehun menundukkan kepalanya, menatap ubin di bawah kakinya yang nampak mengilap menampilkan gambaran dirinya yang menyedihkan. Suara isak tangis Jiyeon sudah berhenti tapi masih belum ada tanda ia akan membuka pintu.


"Kau boleh marah Jiyeon, lakukan apapun yang kau inginkan padaku bahkan jika kau ingin menghajar ku lakukan saja, aku akan terima itu... Tapi aku mohon, maafkan aku," Untuk pertama kalinya seorang Oh Sehun meminta maaf pada seseorang dan untuk pertama kalinya ia menyesal telah melakukan sesuatu.


"Aku benar-benar dijebak Jiyeon, ku mohon percayalah." Tidak ada jawaban dari dalam, mungkin Jiyeon masih butuh waktu untuk menenangkan diri, ia pasti syok dan tergoncang karena semua kejadian ini. Sehun akan bicara lagi dengan sang gadis esok pagi saja, saat semuanya sudah membaik.


"Tidurlah di sana jika kau mau, kita bicara lagi besok... Sekali lagi, maafkan aku," Ucap Sehun sebelum beranjak dari depan kamar yang dulunya kamar Jiyeon.


Baru beberapa langkah, terdengar suara handle pintu yang berputar dan tak lama kemudian pintu kamar itu terbuka, "Apa yang kau katakan tadi itu benar?" Lirih Jiyeon.


Sehun langsung berhenti dan menoleh, "Hem, semuanya benar Jiyeon, aku tidak pernah bermaksud menyakitimu, jika aku memang memiliki niat jahat harusnya aku sudah melakukan hal itu sejak lama, itu karena pengaruh obat Jiyeon,"


Jiyeon masih di bayangi ketakutan, tapi ia memang merasa ada yang aneh dengan Sehun tadi, sudah pasti apa yang Sehun katakan benar, ini bukan keinginannya tapi karena pengaruh obat. Ia menghela napas, "Aku sudah memaafkan mu Sehun, tapi jangan ulangi hal ini lagi."


Sehun tersenyum dan mengangguk cepat, "Hem, aku tidak akan mengulanginya lagi Jiyeon, aku janji."


"Istirahatlah, aku juga ingin istirahat," Ucap Jiyeon kemudian menutup pintu kamarnya kembali tanpa menunggu Sehun yang hendak mengatakan sesuatu, Sehun hanya bisa menghela napas dan menatap pintu kayu itu sedih, sudahlah malam ini ia akan tidur sendiri, membiarkan Jiyeon tenang lebih dahulu, besok semua pasti akan baik-baik saja, yang penting sekarang Jiyeon sudah memaafkan dirinya dan semua kesalahpahaman selesai.