President'S Priceless Wife

President'S Priceless Wife
Part 21




.


.


.


.


.


.


Jiyeon perlahan membuka kedua mata, belakang kepala terasa sakit. Ia baru sadar jika kedua tangan dan kaki di ikat, ruangan ini pengap dengan cahaya yang minim, kotor dan penuh tumpukan kardus usang yang sudah lama tak di gunakan. Sebenarnya dia ini ada dimana? Dan siapa yang melakukan hal semacam ini? Seingat Jiyeon, setelah bertengkar dengan Sehun ia keluar menuju tepi pantai untuk menangkan diri dan setelah perasaannya sedikit tenang, dia berniat kembali tapi tiba-tiba saja ada yang memukul belakang kepalanya hingga membuatnya tak sadarkan diri dan berakhir di tempat seperti ini. Siapa kira-kira yang menculiknya dan untuk apa?


Jiyeon mencoba melepaskan diri dengan bergerak tak beraturan, berharap tali yang mengikat tangan dapat terlepas. Namun semua usaha Jiyeon lakukan sia-sia saja, tali ini sangat kuat dan tidak mudah untuk melepaskannya. Jujur saja, Jiyeon takut dan ingin berteriak sekeras mungkin, tapi yang ada penjahat-penjahat itu yang akan datang dan menyumpal mulutnya, Jiyeon tidak mau itu terjadi. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Apakah Sehun tahu jika dia diculik?


Jiyeon tersentak kaget, ketika pintu kayu yang berada tepat di depannya terdengar bunyi suara membuka kunci. Itu pasti mereka, para penculik. Jantungnya berpacu dengan tidak normal, kecemasan menyelimuti seluruh tubuh Jiyeon. Tapi dia tidak boleh terlihat takut atau musuh akan semakin senang melihat raut ketakutan Jiyeon.


Pintu itu sempurna terbuka dan beberapa pria berbadan kekar menyeruak masuk kedalam. Jiyeon menatap mereka satu persatu dengan tatapan tak bersahabat nya. Hingga seorang pria yang berpenampilan berbeda dari yang lain muncul, tersenyum menyeringai pada Jiyeon. Mungkin itu pemimpin dari komplotan ini. Pikir Jiyeon berasumsi.


"Siapa kalian? Kenapa kalian membawaku kesini?" Tanya Jiyeon dengan nada bicara yang di buat setenang mungkin.


Pria itu kembali menyeringai. "Rupanya tuan putri kita sudah bangun." Ia perlahan-lahan mendekati Jiyeon. "Hoho... Si brengsek Sehun itu bisa juga mendapatkan barang bagus seperti ini." Pria itu mencengkeram kuat pipi Jiyeon, membuat sang empunya meringis kesakitan.


"Apa yang kau inginkan?" Tanya Jiyeon setelah pria itu melepaskan cengkraman pada wajahnya. Sudah bisa di pastikan bahwa mereka adalah musuh Sehun.


"Tenang Nona, kami tidak punya urusan dengan mu yang kami butuhkan hanya Sehun datang kesini dan setelah itu kami akan membebaskan mu." Ah, rupanya mereka menjebak Sehun untuk datang dengan Jiyeon sebagai umpan. Jiyeon tertawa, pria itu nampak bingung kenapa gadis ini tertawa. "Apa yang lucu? Kenapa kau tertawa?" Ia nampak tak suka dengan suara tawa Jiyeon yang seolah mengejeknya.


"Kalian salah jika membawaku ke-tempat ini sebagai umpan, Sehun tidak akan datang karena aku ini hanya satu dari sekian banyak mainan Sehun. Bahkan Sehun bisa dengan mudah mendapatkan pengganti ku jika aku tidak ada. Bodoh sekali kalian." Jiyeon kembali tertawa, ia tahu ucapannya ini hanya akan memancing amarah dari penjahat itu, tapi siapa tahu mereka percaya dan melepaskan Jiyeon.


"Kau pikir aku bodoh?! Aku sudah lama memperhatikan kau dan juga Sehun, dia pasti akan datang apalagi jika melihat mu dalam kondisi yang mengenaskan, pasti akan membuatnya lebih cepat datang." Pria itu kembali menunjukan seringaiannya pada Jiyeon. Ia sudah tahu bahwa Sehun pasti akan datang, karena sebelum ini dia melihat sendiri Sehun menyelamatkan gadis ini ketika di bawa oleh seseorang.


"Sial!" Umpat Jiyeon dalam hati, mereka tidak percaya pada apa yang dikatakan Jiyeon. Semoga saja Sehun sadar jika ini sebuah jebakan dan dia tidak akan datang kesini, supaya mereka jera dan melepaskan Jiyeon dengan suka rela.


"Ini adalah masalah mu dengan Sehun, kenapa aku harus ikut diseret kedalam masalah kalian?! Lepaskan aku!!"


"Karena kau istri Sehun! Jadi tentu kau ikut terlibat juga dalam masalah ini. Dan jangan harap aku akan melepaskan mu!" Pria itu bertumpu pada pegangan kursi dan sedikit mencondongkan tubuhnya mendekat pada Jiyeon. "Kau cantik, sayang sekali harus menjadi istri si brengsek itu. Bagaimana jika kau menjadi wanitaku saja?"


Jiyeon merotasi kan bola matanya jengah, kemudian tersenyum sinis. "Sayang sekali, aku tidak berminat menjadi wanita mu! Jadi simpan saja rayuan itu untuk wanita ****** mu yang lain!" Jiyeon tak gentar, ia membalas tatapan pria itu.


"Sialan!" Bentaknya membuat Jiyeon harus menutup mata karena kaget. "Kau benar-benar sombong nona! Lihat apa yang akan aku lakukan pada wajah cantikmu itu." Pria itu memberikan kode pada anak buahnya untuk memberikan sebuah belati lipat untuknya. "Setelah ini, Sehun Pun akan meninggalkan mu!" Ucapnya dan mengacungkan sebuah belati lipat pada Jiyeon.


"Apa yang mau kau lakukan?!"


"Bermain, mungkin."


Pria itu mengelus pipi mulus Jiyeon, sebelum melukainya. Jiyeon segera memalingkan wajahnya, pria itu tersenyum kecut lalu dengan sekali gerak berhasil menggores wajah mulus Jiyeon.


"Aaarrgggh...." Erang Jiyeon merasakan perih di pipi kirinya. Pria ini benar-benar sudah gila. Bahkan ia tersenyum puas setelah melukai wajah Jiyeon. Darah segar terasa mengalir di wajah Jiyeon, gadis itu hanya bisa meringis kesakitan. Tidak berhenti sampai di situ, si pria juga menampar wajah Jiyeon berkali-kali hingga nampak memar juga sudut bibirnya mengeluarkan darah. Sungguh, dia tidak mengerti dengan jalan pikiran pria ini, mungkin saja ia psikopat gila.


Penampilan Jiyeon sangat berantakan juga wajahnya terasa sakit dan perih. Ia bahkan tidak punya tenaga lagi untuk berteriak minta tolong. Jiyeon hanya menunduk menyedihkan dan pria itu terlihat puas sekali melihat wajah menderita Jiyeon.


"Ambil gambarnya dan kirim pada Sehun." Ucapnya menyeringai. Sehun pasti langsung naik pitam jika melihat istri tercintanya dalam keadaan mengenaskan seperti ini. Sehun harus membayar apa yang ia lakukan pada kakak lelakinya. Anak buah pria itu menuruti kemauan bosnya itu dan mengambil beberapa gambar Jiyeon untuk dikirim pada Sehun.


"Nona manis, nikmati malam mu disini." Ucap pria itu dan keluar dari ruangan Jiyeon. Ia meminta anak buahnya untuk menjaga tempat ini dengan aman, jangan sampai ada tikus yang masuk dan mengacaukan rencananya.


...


"Jangan bodoh Sehun! Ini adalah jebakan, yang mereka inginkan adalah kau bukan Jiyeon!" Baekhyun menghalangi Sehun yang ingin pergi menyelamatkan Jiyeon, entah apa yang terjadi dengan gadis itu saat ini. Sehun khawatir sekali. "Mereka Black Doggie, bukan musuh sembarangan dan kau tidak bisa pergi ke sana begitu saja!" Baekhyun tak mau sampai Sehun salah langkah dan malah mencelakai diri sendiri.


"Aku tahu mereka Black Doggie! Tapi Jiyeon sedang mereka sandera dan apapun bisa terjadi Baek!" Sehun tahu jika ini jebakan untuk memancingnya datang ke markas musuh, tapi dia juga tidak bisa mengabaikan Jiyeon begitu saja. Si gadis baru saja mengalami hal buruk dan sekarang ini, entah apa yang sedang Jiyeon lakukan di sana, mungkin saja dia ketakutan dan butuh diselamatkan.


Baekhyun mengerti kekhawatiran Sehun, semua ini terjadi karena mereka tahu bahwa Jiyeon adalah wanita Sehun dan dengan begitu mereka bisa menjadikannya umpan untuk memancing Sehun datang. Sejak awal Baekhyun tahu hal semacam ini pasti akan terjadi, cepat atau lambat. Jiyeon hanya menjadi kelemahan Sehun saja dan hal ini tentu tidak baik untuk Sehun juga Jiyeon, orang-orang yang mengincar Sehun akan menggunakan Jiyeon untuk mengancam Sehun. Baekhyun harus melakukan sesuatu.


Tiba-tiba ponsel Sehun bergetar, ada sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak di kenal, Sehun membuka pesan itu. Sehun melotot marah setelah mengunduh sebuah gambar yang dikirim, menampilkan Jiyeon dengan keadaan yang mengenaskan di sana. Sehun menggenggam erat ponselnya, ia benar-benar marah sekarang dan tidak ada yang bisa menghentikan Sehun untuk datang.


"Berani sekali mereka!" Geram Sehun dan kembali menghancurkan telpon genggam yang entah sudah ke berapa. Baekhyun sempat melihat gambar itu sekilas, dia tidak menyangka bahwa mereka akan menyakiti Jiyeon hanya demi untuk memancing Sehun datang. "Tidak akan aku biarkan!" Sehun berdiri, mengambil mantelnya dan keluar. Baekhyun menyusul langkah Sehun.


"Sehun kau mau kemana?! Jangan gegabah Sehun, kita harus pikirkan rencana untuk menyelamatkan Jiyeon!" Sehun seolah tuli dan tak mendengarkan ocehan Baekhyun di belakangnya. "Sehun! Jangan emosi, tenangkan dirimu! Sehun!" Sehun masuk kedalam mobil dan benar-benar tak peduli pada teriakan Baekhyun, yang ada di pikirannya saat ini adalah menyelamatkan Jiyeon. Hanya itu.


Baekhyun mengeram marah ketika mobil Sehun pergi meninggalkan halaman Villanya, harusnya tidak begini. Meskipun Baekhyun tahu Sehun kuat dan pasti bisa menghajar mereka, tapi ada Jiyeon yang mereka gunakan sebagai alat mengancam Sehun. Baekhyun tidak bisa diam saja, ia menghubungi Kai untuk segera datang ke Busan. Baekhyun harus selamatkan Sehun dari kebodohannya.


...


Jiyeon tertidur karena lelah, tangannya yang di ikat terasa sakit karena mereka mengikatnya dengan kuat, belum lagi rasa nyeri dan perih di wajahnya. Kapan mereka akan melepaskannya? Ia bahkan tidak tahu ini sudah pagi atau masih malam hari karena ruangan yang benar-benar pengap dan tidak ada cahaya apapun yang masuk kedalam sini.


Byurr!!


Jiyeon terlonjak kaget ketika seorang pria menyiramnya dengan air dingin, sontak saja dia langsung membuka mata, rambut dan setengah dari tubuhnya basah. Mereka benar-benar tidak berperasaan. Pikir Jiyeon. Jika saja tangan dan kakinya tidak diikat mungkin Jiyeon bisa memberikan sedikit pukulan pada wajah pria-pria brengsek itu dan kabur dari sini.


"Bangunlah Nona, ini sudah pagi!" Ucapnya dan membuang ember air itu sembarangan. Ia mendekati Jiyeon, melepaskan tali yang mengikat Jiyeon di kursi juga melepaskan ikatan kaki Jiyeon.


"Apa yang kalian lakukan? Apa kalian mau melepaskan ku?" Pria itu terkekeh geli mendengar pertanyaan Jiyeon, mereka bukan mau melepaskan Jiyeon tapi membawanya keluar untuk melihat pertunjukan yang menarik. Tak lama lagi Sehun pasti akan datang ke tempat ini dan saat itu tiba, Jiyeon akan menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana Sehun akan mati.


"Kau terlalu percaya diri Nona." Ucap pria itu kembali mengikat tangan Jiyeon dan menyeretnya untuk mengikuti langkah kaki si pria keluar dari ruangan pengap ini. Kaki Jiyeon mati rasa terlalu lama di ikat, membuat jalannya sedikit terseok-seok sedangkan pria yang menyeretnya tidak peduli.


Jiyeon di bawa ketempat yang lebih terbuka, ruangan ini lebih luas dan ada ventilasi udara yang membuat sinar matahari masuk kedalam. Ia kembali di dudukkan di sebuah kursi kayu dan di jaga. Pria yang merupakan bos dari komplotan ini kembali datang dengan menghisap cerutu nya, membuat Jiyeon menatapnya malas.


"Selamat pagi Nona, apakah tidurmu nyenyak?" Jiyeon langsung memalingkan wajahnya ketika pria itu mendekatkan wajahnya pada Jiyeon. Ia berdecak kemudian mencengkram pipi Jiyeon membuat gadis itu meringis kesakitan. "Kau tahu nona? Aku paling benci diabaikan. Dan setiap orang yang mengabaikan ku, pasti akan mati." Ucapnya terdengar mengancam, tapi Jiyeon sama sekali tidak takut dengan ucapan pria brengsek di depannya ini.


"Kau pikir aku takut mati? Aku bahkan berulang kali bunuh diri tapi tetap tidak bisa mati, jika kau bisa membunuhku itu bagus sekali." Matanya bak pedang yang siap menusuk musuhnya. Ya, Jiyeon tidak takut mati karena sebelum ini dia pernah berusaha mengakhiri hidupnya jika kalian lupa. Pria itu melepaskan cengkeramannya pada wajah Jiyeon dan menghempaskan nya kasar. Ia akan membunuh Jiyeon setelah menghabisi Sehun.


Seharusnya Sehun sudah datang, ini telah lewat dari jam yang ia tentukan. Jiyeon hanya diam memperhatikan sekitar. Mereka seperti sedang menunggu seseorang dan Jiyeon sepertinya tahu siapa yang mereka tunggu, semoga saja Sehun tidak bodoh dengan datang kesini. Jika Sehun tidak datang maka Jiyeon akan dilepaskan atau mungkin malah dihabisi.


Brakk!


Tiba-tiba ada seorang pria yang terlempar menabrak dinding dengan begitu keras, membuat Jiyeon dan orang-orang di sana tersentak kaget. Pria itu nampak tersenyum menyadari bahwa orang yang di tunggu datang. Jiyeon memejamkan matanya sejenak dan membuat ekspresi seolah menyalahkan kedatangan Sehun.


Sehun datang dengan gaya sombong dan menyeret salah seorang anak buah si pria yang menghadang jalannya saat masuk. Ia melemparkan pria itu lagi dan berhenti sekitar dua puluh langkah di hadapan pria yang menyekap Jiyeon.


Pria itu tertawa dan bertepuk tangan. "Rupanya kau punya nyali juga datang sendiri ke kandang musuh mu, Sehun." Ucap si pria itu senang karena rencananya berhasil.


Tatapan Sehun fokus pada Jiyeon yang berantakan dengan tubuh dan rambut basah, wajahnya tak terlalu jelas karena tertutup rambut tapi bisa di pastikan bahwa kondisi wajahnya sangat memprihatinkan. Tangan Sehun terkepal kuat di bawah sana, emosinya benar-benar sudah berada di ubun-ubun dan siap meledak kapan saja.


"Aku sudah datang, sekarang lepaskan dia!" Teriak Sehun masih mencoba menahan emosinya. Jiyeon tak menyangka bahwa Sehun akan datang, ia pikir Sehun tidak akan peduli. Ternyata Jiyeon salah, Sehun walau begitu masih peduli padanya.


"Apa yang kau inginkan?"


"Datang kesini dan sujud di hadapanku tanpa melawan, serta jatuhkan semua senjata yang kau bawa." Jiyeon menggeleng, tanda Sehun tidak boleh melakukan hal bodoh itu dan Sehun masih tak bergeming, pria itu nampak tak sabaran. Ia mengeluarkan sebuah pistol dari balik jasnya dan ditodongkan langsung pada kepala Jiyeon. "Cepat lakukan! Atau ku lubangi kepala gadis ini!" Kepala Jiyeon ditekan menggunakan moncong pistol, gadis itu memejamkan matanya sesaat karena terkejut.


"Baik akan aku lakukan!" Sehun mengeluarkan semua senjata yang ia sembunyikan di balik baju, setelah itu berjalan pelan menuju si pria.


"Jangan Sehun! Cepat pergi dari sini!!" Teriak Jiyeon memperingatkan Sehun.


"Diam!" Ucap pria itu kembali menekan pistol di kepala Jiyeon. Pria itu memberikan kode pada anak buahnya, mereka mengerti dan langsung memukul Sehun dengan balok besar tepat di punggungnya, Jiyeon terbelalak sedang si pria tertawa penuh kemenangan. Lagi mereka memukul Sehun berulang kali hingga balok kayu itu patah menjadi dua, namun Sehun masih terus berjalan tanpa mempedulikan rasa sakit di punggungnya. Mereka mengambil balok kayu yang lain lalu memukul tepat di kaki Sehun, membuatnya jatuh berlutut.


Si pria mendekat, jarak mereka sudah dekat ia menarik rambut kepala Sehun keras, sampai membuat Sehun mendongak meringis kesakitan. "Bagaimana rasanya Sehun? Sakit bukan?" Ucap si pria puas sekali melihat wajah kesakitan Sehun. Sehun tertawa, ini sama sekali tidak sakit bahkan ia pernah merasakan hal yang lebih sakit dari ini.


"Apa hanya ini kemampuan mu? Dasar lemah."


"Aarrgghhh..."


Brakkk!


Tubuh Sehun terlempar dan menabrak tumpukan kardus. Sialnya punggung Sehun terasa remuk dan tulang-tulangnya sedikit bergeser. Si pria kembali datang dan memberikan pukulan-pukulan pada wajah dan tubuh Sehun, tentu Sehun tak tinggal diam. Dia membalas pukulan-pukulan itu, memelintir juga menendang. Sayangnya, tenaga mereka sedikit berbeda dan karena hal itu Sehun lebih dulu lelah dan jatuh terkulai lemas di lantai. Namun ia tidak menyerah, Sehun kembali berdiri.


"Akan aku akhiri sekarang juga!" Seru si pria memegang pistol dan siap menembak Sehun. "Oh Sehun! Mati kau!!" Di tariknya pelatuk itu dan peluru langsung meluncur bebas membidik tepat di dada kiri Sehun.


Dorrr!


"Aarrgghh..."


"Sehun-aaahhhh!!"


Semua seperti mimpi buruk bagi Jiyeon, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri peluru itu menembus dada Sehun. Sehun pun mulai limbung dengan darah yang bercucuran keluar dari tubuhnya. Pria itu tertawa senang dan kembali menodongkan pistolnya lagi pada Sehun, kali ini Jiyeon tak akan biarkan pria itu berhasil menebak Sehun, ia bangkit dengan kaki terseok-seok mendorong pria itu hingga jatuh dan segera menghampiri Sehun.


Si pria mengerang marah, kembali bangkit dan hendak menebak Jiyeon namun tembakannya meleset hingga hanya mengenai lengan kiri Jiyeon saja karena dia lebih dulu tertebak entah dari mana asal tembakan itu. Lagi ia tertembak begitu juga dengan anak buahnya satu persatu.


"Sehun-ah! Jangan tutup matamu!" Jiyeon tidak bisa memeluk atau menyentuh Sehun, tangannya masih diikat belum lagi bau anyir yang mulai memenuhi ruangan membuatnya semakin pusing. Sehun bergumam tak jelas lalu setelahnya ia tak sadarkan diri. "SEHUN! SEHUN!! ANDWEEEE!" Teriak Jiyeon sebelum akhirnya kesadaran Jiyeon ikut menghilang dan ambruk di atas tubuh Sehun.


..


"Ini bukan salah Jiyeon Baek, dia sendiri juga korban disini!"


"Tapi jika dia tidak datang dan masuk kedalam kehidupan Sehun, semua ini tidak akan terjadi, Sehun tidak akan berakhir seperti ini!"


"Sudahlah Baek, dia sedang terluka sekarang dan Sehun juga sudah di tangani, jangan berdebat disini."


Samar-samar Jiyeon mendengar suara Baekhyun dan Kai yang tengah berdebat di depan ruangan, suara mereka begitu keras hingga mampu mengganggu pasien lain. Perlahan kedua mata Jiyeon terbuka, bau obat langsung menusuk indera penciuman Jiyeon, juga langit-langit putih ruangan ini menyambut indera penglihatan. Ia selamat dan masih hidup.


Suara pintu di geser membuat atensi Jiyeon teralihkan, rupanya Kai yang masuk kedalam ruangan. "Oh Jiyeon, kau sudah sadar." Kai melangkah mendekat, bersyukur karena Jiyeon sudah sadar. Jiyeon berusaha untuk duduk dan Kai dengan sigap membantu Jiyeon untuk duduk. "Kau butuh sesuatu?" Gadis itu menggeleng kecil.


"Bagaimana keadaan Sehun?" Air muka Kai berubah muram, ia tidak ingin memberitahu Jiyeon tapi dengan melihat gerak-geriknya saja Jiyeon langsung paham dengan apa yang terjadi. "Antar aku menemui Sehun, Kai."


"Tidak tidak... Kau baru sadar, istirahat saja dulu."


"Tidak Kai, antar aku sekarang.. Jika kau tidak mau, aku akan pergi sendiri."


"Baiklah baik, akan aku antar."


Kai membantu Jiyeon turun dari ranjang, ia membawa kantung infus Jiyeon dan berjalan di belakang si gadis. Sampai di depan ruangan Sehun yang hanya berjarak dua ruangan, Kai menggeser pintunya sontak saja Baekhyun menoleh dan memberikan tatapan tak sukanya pada Jiyeon. Ia masih kesal dengan si gadis, karena menurut Baekhyun, Jiyeon Lah orang yang bertanggung jawab atas kondisi Sehun saat ini. Kai menyadari tatapan Baekhyun dan hanya bisa menghela napas saja.


"Mau apa kau kesini? Sehun masih belum sadar dan semua ini karena mu!" Sinis Baekhyun yang sudah mengalihkan perhatiannya pada lain tempat. Ia tak ingin marah atau memaki Jiyeon karena kondisi Jiyeon pun masih baru sadar, hanya saja ia tidak bisa menahan kekesalannya.


"Baek sudah! Ini bukan salah Jiyeon." Kai mencoba menahan agar Baekhyun tak kembali mengucapkan kalimat-kalimat pedas yang mampu membuat Jiyeon sakit hati.


Jiyeon menunduk merasa bersalah, ia tahu ini salahnya Sehun datang untuk menyelamatkan dirinya dan memang sudah sepantasnya Baekhyun marah akan hal ini. "Maafkan aku Baek, maaf." Hanya itu kalimat yang Jiyeon ucapkan mewakili rasa bersalah di dalam hatinya melihat kondisi Sehun saat ini.


"Semenjak kau datang, kau selalu membuat masalah dalam hidup Sehun tidak hanya itu kau juga membuatnya kesusahan dan terus melindungi mu! Kau seperti kesialan dalam hidupnya!" Baekhyun mencurahkan perasaan yang ia rasakan semenjak Jiyeon masuk kedalam hidup Sehun. "Dan selama kau ada! Maka Sehun harus terus melindungi mu, harusnya kau sadar! Kau adalah titik kelemahan Sehun!"


Jiyeon mulai oleng, untung saja Kai sigap menahan tubuh Jiyeon. "Hentikan Baek! Saat ini kondisi Jiyeon sedang tidak baik! Haruskah kau mengeluarkan semua curahan hatimu?!" Kai mulai geram, ia tidak suka cara Baekhyun. Kai tahu bahwa Baekhyun sangat menghormati Sehun juga adalah orang yang tak ingin Sehun terluka, tapi ini semua bukanlah salah Jiyeon, gadis ini tidak harus menerima semua makian Baekhyun.


"Pergilah Jiyeon pergi yang jauh! Pergi sejauh mungkin dari kehidupan kami jika kau memang merasa bersalah dan menyesal!" Air mata Jiyeon akhirnya lolos juga, ia sudah berusaha untuk tidak menangis tapi tetap saja air mata sialan itu mengalir.


"Yak! Baekhyun-ah!" Kai tidak tahu apa yang merasuki Baekhyun hingga pria kecil itu mengucapkan kalimat yang begitu menyakitkan ini. "Jangan dengarkan dia Jiyeon! Kau tidak harus pergi, Sehun pasti juga tidak ingin kau pergi."


Jiyeon menggeleng. "Baekhyun benar Kai, semua masalah yang Sehun alami adalah demi untuk melindungi ku dan selama aku masih ada di sekitar kalian maka mereka akan terus menggunakan ku untuk mengancam Sehun. Aku akan pergi jika itu bisa membuat Sehun selamat, semua harus kembali pada tempatnya." Jiyeon mengusap air matanya, jujur ia berat untuk pergi tapi ucapan Baekhyun benar dia harus pergi dan kembali ke tempat masing-masing.


"Kau akan pergi kemana? Apa kau punya tujuan, sudahlah Baekhyun hanya sedang marah tidak usah pedulikan ucapannya."


"Sampaikan salam ku pada Jieun dan juga Krystal, terima kasih banyak untuk semuanya." Jiyeon mencabut jarum infus yang ada di tangannya, si gadis mengernyitkan perih ketika jarum itu berhasil lepas dan tangannya kembali mengeluarkan darah. Kai masih berusaha menghentikan Jiyeon tapi Jiyeon tetap pada pendiriannya dan perlahan melangkah pergi dari ruangan Sehun.


"Kau gila Baek! Sehun pasti akan sangat marah padamu!" Kai berlari keluar setelah mengucapkan kalimat itu, dia mengejar Jiyeon.


Sepanjang jalan keluar gedung Rumah sakit, air mata Jiyeon tak henti-hentinya mengalir dan entah kenapa dadanya terasa sesak juga sakit harus pergi dengan cara seperti ini. Ia tidak punya tempat tujuan, harus kemana ia sekarang? Luka di tubuh juga belum mengering. Apa harusnya ia mati saja? Ah lagi-lagi hanya bunuh diri saja yang ada di dalam otak kecil Jiyeon.


Tapi mungkin begini lebih baik, ia tidak harus berurusan dengan Sehun juga yang lain. Sehun tidak akan melindunginya lagi dan Jiyeon tidak akan berhutang apapun lagi pada Sehun. Jiyeon menghapus air matanya, ia masih bisa hidup meskipun tanpa bantuan Sehun, ia pasti bisa menemukan cara mengambil alih perusahaan dan hartanya. Jiyeon pasti bisa!


Jiyeon menenangkan diri sejenak, menarik napas dan menghembus kan nya lewat mulut kemudian setelah tenang dan yakin bisa menghadapi dunia seorang diri, ia kembali berjalan. Tapi baru beberapa langkah terdengar suara seseorang yang memanggil namanya.


"JIYEON!!" Panggil suara itu begitu keras membuat Jiyeon berhenti dan menoleh ke sumber suara.


Greb!


Seseorang menarik dan memeluk Jiyeon begitu erat, tubuhnya basah karena keringat dingin yang keluar dari pori-pori tubuh juga karena berlari demi untuk menghentikan gadis bodoh ini. Napasnya naik turun tidak teratur. Jiyeon mematung di tempat dengan kedua mata yang kembali berkaca-kaca.


"S-Sehun..."


"Siapa yang mengizinkanmu pergi? Kau tidak boleh pergi Jiyeon, tidak boleh! Selama aku tidak mengizinkanmu pergi, maka kau tidak boleh pergi!" Sehun semakin mendekap tubuh Jiyeon erat, seolah takut jika ia melepaskan pelukannya ini makan Jiyeon akan kembali hilang dari pandangan matanya.


Jiyeon merasa senang, ia tidak menyangka Sehun akan berlari menyusul dirinya bahkan memintanya untuk tetap tinggal. Jiyeon membalas pelukan Sehun dan menangis keras.


"Kau mengerti Jiyeon?! Jangan coba-coba pergi dariku lagi!" Jiyeon hanya mengangguk lemah menjawab ucapan Sehun.



Ku balik lagi dengan cerita absurd ini.. ehehe


Semoga kalian masih suka dan mau baca ya, walaupun garing dan upnya lama🤣🤣🤣


Di tunggu Vommetnya♡️