
.
.
.
.
.
.
.
Lagi-lagi Jiyeon harus berlari keluar ketika mendengar suara gemericik air di kamar mandi telah berhenti diikuti dengan suara pintu kamar mandi yang terbuka. Genap seminggu mereka tinggal di dalam kamar yang sama, Jiyeon tahu itu karena setiap malam ia selalu menghitungnya dengan perasaan yang masih tidak nyaman dan selama itu Jiyeon selalu keluar ketika Sehun selesai mandi. Salah Sehun karena ia terbiasa hanya menggunakan handuk sebatas pinggang setelah selesai untuk menutupi tubuh bawahnya sedangkan tubuh atasnya terekspos dengan bebas.
Saat awal-awal Jiyeon berteriak histeris dan membuat Sehun marah, ia kembali tersinggung dengan sikap Jiyeon yang seolah berhadapan dengan pria cabul atau orang asing, jangan lupa mereka sudah tinggal bersama dalam kurun waktu yang tidak sebentar dan Jiyeon juga sudah pernah melihat tubuh bagian atas Sehun saat pria itu terluka, kenapa hingga sekarang masih saja malu dan tak terbiasa.
Sehun tahu bahwa Jiyeon selalu berlari keluar ketika ia selesai mandi, tapi mau bagaimana lagi ia sendiri tidak bisa menghilangkan kebiasaannya memakai handuk sebatas pinggang walaupun tahu Jiyeon tidak nyaman atau mungkin merasa malu melihat tubuh bagian atasnya yang indah, ini hanya asumsi Sehun saja.
Jiyeon kembali masuk setelah di rasa Sehun sudah berganti pakaian, ia tadi sedang merapikan baju dan hendak memasukannya kedalam lemari. Sehun nampak tampan dengan celana hitam dan kemeja putih, rambutnya masih berantakan sedangkan kedua tangannya sibuk mengancing lengan kemejanya. Jiyeon tak perlu bertanya karena ia tahu, pasti Sehun punya janji yang penting dengan klien atau urusan penting lainnya, Jiyeon tak mau ambil pusing dan ikut campur di dalam urusan Sehun.
Dengan mulut yang terkatup rapat, Jiyeon melangkah mendekati tumpukan bajunya yang ia biarkan tergeletak di sofa. Sehun masih dengan kegiatannya memasang dasi di depan cermin rias, Jiyeon meraih tumpukan baju itu membaginya menjadi dua bagian dan ketika hendak mengangkat tumpukan yang sebelah kiri,namun suara Sehun menghentikan gerakan Jiyeon.
"Bersiaplah Jiyeon, satu jam lagi kita harus pergi." Kening Jiyeon nampak berkerut, ia menoleh pada Sehun yang kini melihatnya dari cermin. Memangnya ia akan kemana hingga harus bersiap? Sehun tidak mengatakan apapun sebelum ini, itulah kenapa Jiyeon terlihat kebingungan.
"Ada acara amal yang harus ku hadiri dan sebagai istriku, kau harus ikut bersama ku menghadiri acara itu." Jelas Sehun menjawab kebingungan Jiyeon, Sehun selalu begitu mengatakan sesuatu yang penting di saat-saat waktu yang tidak tepat, Jiyeon bahkan belum mempersiapkan apapun untuk pergi ke acar itu dan seenak ia meminta Jiyeon bersiap.
"Apakah dadakan adalah hobi mu, Sehun? Tidak bisakah kau mengatakannya sejak semalam, hingga aku bisa bersiap dengan baik." Jiyeon membawa tumpukan baju, memasukannya kedalam lemari.
Sehun berbalik, telah selesai memasang dasi dan berjalan menuju lemari yang lain untuk mengambil jas, "Tidak perlu khawatir, aku sudah meminta Jieun untuk menyiapkan baju yang akan kau pakai, sekarang pergilah mandi dan lupakan baju-baju itu, kenapa kau suka sekali dengan baju-baju jelek itu?" Sehun menatap tak suka pada baju-baju Jiyeon yang terlihat biasa-biasa. Oh ayolah, siapapun tahu bahwa Sehun adalah orang yang memberikan baju-baju itu pada Jiyeon, karena saat Jiyeon datang ia tak memiliki apapun.
Jiyeon merotasi kan bola matanya jengah, entah Sehun ini pura-pura lupa ingatan atau memang ada masalah dengan otaknya, Jiyeon tidak tahu itu. "Kau yang memberikan baju-baju ini untuk ku Sehun," Ucap Jiyeon menutup pintu lemari dengan wajah datar.
"Benarkah? Ah, sepertinya kau salah." Sehun mengelak, ia tidak ingat memberikan baju jelek dan biasa saja pada Jiyeon, seingatnya ia memberikan baju yang bagus dan dari desainer terbaik.
"Sehun, jika kau masih berniat mengajak ku berdebat, nanti saja! Sekarang aku harus mandi dan bersiap." Jiyeon langsung saja melangkah meninggalkan Sehun, masuk kedalam kamar mandi dan tak lupa mengunci pintunya. Hanya mengantisipasi jika tiba-tiba Sehun masuk.
Akhir-akhir ini Sehun semakin sering mengajak Jiyeon beradu argument dan dia tidak pernah mau mengalah, sudah seperti anak kecil, saat hendak tidur pun mereka masih sesekali merebutkan selimut dan bantal guling. Kadang Sehun dengan iseng membuang bantal guling ke lantai dan mendekat pada Jiyeon, hal itu sukses membuat Jiyeon menjerit histeris, reflek mendorong tubuh Sehun menjauh darinya. Sehun selalu puas menggoda Jiyeon, baginya tiada hari tanpa menggoda Jiyeon dan lagi-lagi ia bisa tertawa hanya karena melihat ekspresi kesal di wajah Jiyeon.
Meskipun selalu bertengkar sebelum tidur, pada akhirnya mereka tetap tidur bersama dan pagi hari selalu terbangun dengan melihat wajah satu sama lain dengan tangan yang saling tindih-menindih. Jika Sehun yang pertama kali membuka mata, maka ia akan membiarkan Jiyeon dan dengan leluasa menikmati wajah cantik di depannya tanpa mengganggu tidur sang empunya. Bagi Sehun, tidak ada wajah yang cantik dan polos seperti wajah Jiyeon, benar-benar sempurna di mata Sehun. Tak jarang ia membelai lembut wajah Jiyeon, ia terkadang juga berpikir untuk kembali ******* bibir cherry milik Jiyeon, yang selalu berhasil menggodanya.
Namun, beda lagi dengan Jiyeon, ia akan tersentak kaget dengan pipi bersemu merah ketika membuka mata melihat wajah Sehun tepat di depan mata dan dengan hati-hati memindahkan tangan Sehun dari atas pinggang, kemudian secepat kilat berlari masuk kedalam kamar mandi. Entah menetralkan perasaan terkejut atau sekedar berdiri di balik pintu.
Jiyeon keluar dari kamar mandi setelah sekitar lima belas menit membasuh tubuhnya agar nampak segar dan wangi, Sehun sudah tidak ada di dalam kamar, mungkin ia menunggu di luar atau sedang membicarakan sesuatu dengan Baekhyun. Pintu kamar di ketuk dan menit berikutnya terbuka menampilkan sosok Jieun yang membawa satu set baju.
"Ini pakailah, Sehun sendiri yang memilihnya khusus untuk mu," Ucap Jieun menggantung pakaian itu di gagang pintu lemari, ia sedikit memberikan senyuman menggoda pada Jiyeon, yang tak mendapatkan respon apapun dari Jiyeon. Jiyeon masih diam memperhatikan baju yang dibawa Jieun, ia suka baju itu. "Cepat pakai Jiyeon, jangan hanya melihatnya saja."
Jiyeon mengambil baju itu, membawanya masuk kedalam kamar ganti. Tak lama kemudian Jiyeon keluar, baju itu benar-benar cocok di pakai oleh Jiyeon. Celana kain berwarna blue sky dengan blazer senada, di balik blazer itu terdapat baju berlengan pendek berwarna biru gelap. Jieun memberikan seluas senyum pada Jiyeon, tak menyangka bahwa pilihan Sehun bisa sebagus ini di pakai Jiyeon.
"Kau terlihat cantik Jee," Ucap Jieun mengacungkan jari jempolnya pada Jiyeon, yang di puji hanya tersenyum kecil, tersipu malu. Jieun membantu Jiyeon menata rambut dan merias wajah, hari ini ia akan mengikat rambut Jiyeon menjadi satu, agar aura Jiyeon semakin terpancar, tak perlu memberikan make Up tebal karena pada dasarnya Jiyeon sudah cantik tanpa make Up sekalipun.
Tak membutuhkan waktu lama, Jiyeon telah siap. Ia berterima kasih pada Jieun karena selalu membantunya bersiap untuk pergi dalam acara apapun bersama dengan Sehun, Jieun kembali memberikan senyuman terbaiknya pada Jiyeon dan mengatakan bahwa ia senang melakukannya dan kapan pun itu, jika Jiyeon membutuhkan bantuan Jieun dengan senang hati akan menolong.
Sehun tak bisa berbohong jika wanita yang kini berdiri di hadapannya terlihat begitu cantik, Sehun memberikan seulas senyum pada Jiyeon dan mengulurkan tangannya. Jiyeon nampak ragu menatap tangan Sehun, hingga akhirnya ia menerima uluran tangan itu. Mereka berjalan bersama keluar dari dalam rumah, Sehun yang akan mengemudikan mobil hari ini, tanpa Baekhyun yang menjadi supir pribadi. Pria kecil itu bisa beristirahat dengan tenang sekarang, mengingat belakangan jadwalnya begitu padat menggantikan Sehun.
Amsterdam, Belanda.
Ini sudah ketiga kalinya dalam lima menit Chanyeol menghembuskan napasnya. Wajahnya nampak kusut dan tak bersemangat menatap setumpuk berkas yang menghiasi mejanya sejak dua hari yang lalu. Rencananya untuk pergi ke Korea tak berjalan sesuai harapan, buktinya kini ia masih disibukan dengan seabrek kerjaan yang entah kapan akan selesai. Padahal bulan lalu, Chanyeol sudah berusaha menyelesaikan proyeknya lebih awal dari jadwal, tapi masih ada hal yang harus ia revisi dan penataan ulang.
Pintu ruangan Chanyeol di ketuk dan tak lama kemudian terbuka, menampilkan sosok pria tampan dengan stelan jas navy yang membuatnya nampak semakin tampan. Pria itu melangkah mendekati Chanyeol dan menduduki kursi di hadapan Chanyeol.
"Kenapa wajahmu nampak lesu begitu, Chan? Ku pikir kau sudah terbang ke Korea," Ucap si pria mengawali pembicaraan mereka. Chanyeol mengangkat kepalanya yang sempat tertunduk, wajahnya semakin lesu saja.
"Bagaimana aku bisa terbang ke Korea, Hyung, jika tumpukan dokumen sialan ini tak bisa mengurus diri sendiri, Tuan Hadson ingin aku merevisi semua kertas-kertas ini, tiba-tiba saja ada bagian yang tidak ia setujui belum lagi urusan dengan Nyonya Karamoi. Sepertinya aku akan menunda kepergian ku untuk sementara waktu hingga semua masalah disini selesai." Akhirnya Chanyeol hanya bisa berharap keajaiban akan muncul dan membantunya menyelesaikan setumpuk berkas itu.
Pria asal Tiongkok yang bernama Zhang Yixing dan akab di sapa Lay ini hanya mampu memberikan senyum semangatnya pada Chanyeol yang sudah ia anggap seperti adik sendiri, ia adalah sahabat juga kakak senior Chanyeol saat mereka kuliah di jurusan seni dulu, Chanyeol belajar banyak hal dari Lah dan karena banyak memiliki kesamaan, mereka memutuskan untuk berteman.
Meskipun Lay tidak tahu banyak tentang bisnis, namun sesekali ia memberikan saran juga masukan untuk Chanyeol, ia sempat merasa kehilangan ketika Chanyeol memutuskan untuk pindah jurusan menjadi businessman.
"Jangan terburu-buru, Chan. Aku yakin gadis itu masih bisa menunggu." Chanyeol sudah sering menceritakan tentang sosok Jiyeon yang amat ia cintai juga merupakan cinta pertamanya, Chanyeol selalu mengatakan bahwa Jiyeon itu cantik dan tidak ada yang bisa menggantikan posisi di gadis dalam hati Chanyeol, padahal sudah lima tahun berlalu dan perasaan untuk Jiyeon tetap tumbuh subur di hati Chanyeol.
"Akunya yang tidak bisa menunggu," Chanyeol menghela napas dan menyadarkan tubuhnya pada punggung kursi, "Aku benar-benar ingin bertemu dengannya, tck... aku bisa gila jika begini." Chanyeol mengacak rambutnya frustasi. Lah terkekeh pelan melihat sahabat yang tengah di mabuk cinta.
"Sudah, jangan mengeluh lagi dan selesaikan laporan-laporan mu," Lay mengingatkan, tadinya ia kesini ingin mengajak Chanyeol makan siang, tapi sepertinya Chanyeol tak akan bergerak kemanapun dan hanya setia dengan tumpukan dokumen di depannya. Baiklah, untuk hari ini Lay mengalah besok ia bisa datang lagi. "Semangat Chan! Jangan sampai Jiyeon menunggu terlalu lama." Ucap Lay sebelum menghilang di balik pintu.
Semangat dalam diri Chanyeol langsung meningkat ketika mengingat Jiyeon. Ya, satu bulan cukup untuknya menyelesaikan semua ini dan setelah itu ia akan pergi menemui pujaan hatinya.
Seoul, South Korea.
Mobil Sehun terparkir dengan cantik di depan sebuah hotel tempat di adakan nya acara amal tahunan, setiap tahun Sehun selalu menghadiri acara ini tanpa di temani siapapun, ia akan berbincang sedikit dengan rekan bisnisnya sebelum para wanita-wanita mengerubungi dirinya dan menanyakan banyak hal prihal kehidupan pribadi Sehun. Sehun hanya menjawab seperlunya dan segera menyingkir sejauh mungkin, ia tidak begitu menyukai acara seperti ini. Tapi sekarang berbeda, ia tidak datang sendiri melainkan dengan Jiyeon yang berstatus istri, pasti wanita-wanita itu tak akan lagi mengganggunya.
Sehun turun dari mobil begitu juga dengan Jiyeon, kamera wartawan langsung saja menyorot kedua sejoli yang nampak cantik dan tampan rupawan. Sehun menghampiri Jiyeon, ia kembali mengulurkan tangannya untuk Jiyeon genggam, namun alih-alih menggenggam tangan Sehun, Jiyeon memilih bergelayut pada lengan kekar sang suami. Jiyeon menatap Sehun sekilas dan tersenyum, Sehun tak masalah, ia malah merasa nyaman dengan Jiyeon bergelayut di lengannya.
Jiyeon dan Sehun masuk kedalam gedung, mereka langsung menuju aula dimana acara amal sudah berlangsung. Jiyeon sempat terlihat gugup, datang ke acara seperti ini memang bukan yang pertama kali karena dulu ia juga sering datang bersama sang ayah, namun sekarang ia datang sebagai istri Oh Sehun tentu semua terasa berbeda belum lagi tatapan iri dan kagum yang mengiringi langkah kakinya masuk kedalam aula utama.
Sehun menyadari kegugupan Jiyeon, ia menyentuh tangan Jiyeon membuat atensi Jiyeon teralihkan dan mata hitam kelamnya bertemu dengan mata hazel milik Sehun, "Jangan gugup, semua akan baik-baik saja, Jiyeon. Tidak akan ada yang bisa menyakitimu disini selama ada aku." Ucap Sehun pelan, mencoba memberikan ketenangan pada Jiyeon. Jiyeon menarik napas dan menghembuskan nya pelan, rasa gugupnya perlahan sirna berganti dengan senyuman menawan.
Sehun mempersilahkan Jiyeon untuk duduk terlebih dahulu dan barulah ia mengambil tempat duduk di samping Jiyeon, seorang pelayan datang dan menuangkan minuman anggur kualitas terbaik dalam gelas Jiyeon juga Sehun, tapi sayang sekali Jiyeon tidak bisa minum itu atau dia akan mabuk. Sehun menyesap anggur dalam gelasnya dengan santai, seolah terbiasa minum minuman tersebut. Sedangkan Jiyeon hanya menatap gelasnya tanpa minat.
"Kenapa tidak kau minum?"
"Aku tidak bisa minum ini, bisa mintakan air saja untuk ku?"
Sehun menahan tawanya, gadis di depannya ini sungguh polos bahkan minuman seperti ini saja ia tidak bisa minum, nampaknya Sehun memang harus mengajari Jiyeon banyak hal. Sehun kembali memanggil pelayan dan meminta segelas air putih untuk Jiyeon.
Ketika Mc memulai acara pembacaan dana yang masuk, tiba-tiba saja seorang wanita paruh baya dan gadis muda dengan tidak tahu dirinya ikut bergabung di meja Sehun. Ingin rasanya Jiyeon marah dan mencaci-maki wanita dengan wajah tanpa dosa itu saat ini, tapi itu mungkin dia yang dulu karena sekarang Jiyeon tidak akan melakukan hal itu.
"Ooh Jiyeon ternyata kau juga datang, nak. Senang eomma bisa melihat mu lagi setelah kau kabur dari rumah, eomma benar-benar sedih sayang." Jiyeon memutar bola matanya jengah, entah drama apa lagi yang akan ibu tirinya ini buat untuk mempermalukan Jiyeon. Jiyeon masih diam, tak mau menanggapi ucapan sang nenek sihir yang penuh dengan tipu muslihat.
"Sayang, aku ke sana sebentar," Sehun beranjak setelah mengusap rambut kepala Jiyeon, membiarkan Jiyeon mengatasi masalahnya dengan caranya sendiri dan ia hanya akan memantau dari jauh.
Nayeon tidak bisa mengalihkan padangan matanya dari sosok Sehun yang sangat tampan dan sempurna, jika ia bertemu lebih dulu dengan Sehun, mungkin saja kini ia yang bersanding dengan pria sempurna itu dan bukan Jiyeon yang bodoh dan juga menyebalkan.
"Seharusnya sekarang kau sudah menjadi gembel," Akhirnya ia menapakkan kebusukannya juga setelah drama menjijikkan yang ia lakukan saat ada Sehun. Jiyeon tersenyum sinis, bersandar pada punggung kursi sambil melipat tangannya di dada, tatapan matanya tak menunjukan rasa takut sama sekali.
"Tapi sayang sekali itu tidak terjadi," Balas Jiyeon dengan nada meremehkan.
"Hah! Sombong sekali kau! Aku tahu, kau pasti menggoda tuan Oh bukan? Kau pasti menjual tubuhmu!" Kini Nayeon ikut memojokkan Jiyeon. Jiyeon terkekeh pelan, kemudian merubah posisi duduknya dan menatap Nayeon tajam, untung saja mejanya berada di belakang jadi tidak ada yang memperhatikan.
"Aku bukan ****** seperti ibumu, yang menggoda suami orang dan bahkan mengandung anak haram." Jiyeon menyeringai. Mudah saja memancing emosi dua wanita ini dan lihatlah hanya dengan kalimat itu mereka berdua sudah nampak berapi-api, seolah siap untuk menerkam Jiyeon.
"Jaga mulut mu, Jiyeon! Berani sekali kau mengatakan hal buruk tentang ibuku!" Nayeon berdiri, menunjuk-nunjuk tepat di depan wajah Jiyeon, semua orang mulai memperhatikan tempat Jiyeon. Sekali lagi dengan wajah santainya Jiyeon memberikan senyuman mengejek pada Nayeon.
"Ini adalah fakta, harusnya kau juga tahu itu, karena anak haram itu adalah dirimu sendiri." Sebuah tamparan melayang tepat di pipi kanan Jiyeon, rupanya sang nenek sihir yang menampar wajah Jiyeon dengan begitu keras. Semua atensi yang semula berfokus pada mc yang ada di panggung, kini mengalihkan fokusnya pada pertengkaran keluarga itu. Jiyeon tersenyum, senang karena berhasil memancing emosi dua manusia yang harusnya di lenyap kan saja dari muka bumi ini.
"Apa yang terjadi?"
"Oh, bukankah itu keluarga Park? Apa mereka bertengkar?"
"Sepertinya pertengkaran keluarga?"
"Wah-wah, ada apa dengan keluarga Park? Kenapa wanita itu memukul anak perempuannya?"
Bisik-bisik mulai terdengar sayup-sayup, saatnya Jiyeon menunjukan bakat akting yang ia pelajari dari Sehun. Entah sejak kapan, matanya sudah berkaca-kaca siap mengeluarkan air mata kapan saja. Ia akan membuat dua wanita itu malu, salah sendiri datang dan mengusik Jiyeon. Mereka pikir Jiyeon masih bodoh dan juga polos? Itu salah besar! Jiyeon sekarang sudah pandai berpura-pura, jangan lupakan itu!
"Eomma, kenapa kau menamparku? Aku hanya ingin berkunjung ke rumah dan bertemu dengan kalian, kenapa kalian malah marah dan bahkan menamparku, apa salahku? Bukankah aku juga putrimu?" Air mata sudah membasahi wajah cantik Jiyeon. Nayeon dan ibunya begitu syok dengan perubahan ekspresi Jiyeon, kini ia nampak menderita dan di tindas.
"Omong kosong apa yang kau bicarakan?!" Wanita paruh baya itu berteriak marah.
"Hentikan sandiwara mu, Jiyeon!" Nayeon mendorong tubuh Jiyeon, untungnya ada Sehun yang datang dan menangkap tubuh si gadis hingga tak berhasil mencium lantai. Kini semua orang mulai berbisik-bisik dan mencemooh sikap kasar dari anak dan ibu itu. Mereka mulai membuat asumsi-asumsi bahwa mungkin saja selama ini Jiyeon yang merupakan anak kandung banyak di siksa dan di sakiti oleh keduanya dan mungkin saja berita yang beredar bulan lalu adalah ulah keduanya untuk menutupi kejahatan mereka dengan menjadikan Jiyeon sebagai kambing hitam.
"Ada apa ini? Apa yang kalian lakukan pada istriku?" Sehun melayangkan tatapan tajamnya pada ibu dan anak itu, ia terlihat marah. Nayeon merapat pada sang ibu, merasa takut dengan tatapan Sehun yang mengerikan dan mampu membuatnya tak bisa berkata-kata.
"Sudahlah Sehun, ini bukan salah mereka aku saja yang harusnya sadar diri dan tidak meminta sesuatu kepada mereka. Padahal aku hanya ingin memperbaiki hubungan keluarga ini." Jiyeon tahu, apa yang ia lakukan akan mempermalukan nama baik keluarga Park, tapi ia tetap harus melakukan ini demi untuk membuat dua wanita ****** itu malu dan sadar bahwa mereka bukan apa-apa. Semoga saja ayahnya tidak marah ketika melihat putrinya melakukan hal semacam ini.
"Ohh kasihan sekali, dia pasti banyak menderita."
"Bukankah dia itu putri yang sesungguhnya? Lalu kenapa bisa di usir dari rumahnya sendiri? Pasti dua wanita itu yang mengusirnya, kasihan sekali."
"Harusnya dua wanita itu yang pergi, kenapa malah sang anak kandung yang di usir?"
"Wanita pengrusakan hubungan rumah tangga memang begitu, mereka silau akan harta dan tahta."
Ibu tiri Jiyeon tidak bisa berkata-kata, tatapan mengintimidasi dan bisik-bisik itu membuatnya nampak memalukan dan terlihat begitu buruk, ia menutup wajahnya dan berpaling ke lain tempat, sedangkan Jiyeon yang berada di dalam dekapan Sehun tersenyum mengejek. Mereka salah jika mengira Jiyeon adalah gadis lemah dan polos seperti dulu, sekarang Jiyeon berbeda ia memiliki banyak muka dan tentu Jiyeon yang lemah sudah lama mati.
"Cepat pergi dari sini, atau aku akan melakukan sesuatu yang buruk pada kalian karena telah berani mengangguk istriku." Tak menunggu lagi, ibu dan anak itu segera pergi dengan Nayeon yang mendengus sebal karena di permalukan seperti ini oleh Jiyeon, ia benar-benar membenci Jiyeon. Padahal sudah di usir dari rumah dan harusnya bunuh diri atau kalau tidak menjadi gelandang, malah beruntung bertemu dengan Sehun jadi istrinya pula.
Nayeon benar-benar benci takdir mereka yang seolah bertolak belakang, sejak dulu Jiyeon selalu mendapatkan apa yang tidak bisa ia dapatkan, memiliki keluarga dan ayah yang sangat menyayanginya, meskipun ia mendapat hak yang sama tetap saja ayah tirinya lebih sayang pada Jiyeon, sekeras apapun ia berusaha membuat ayahnya senang tetap saja Jiyeon yang selalu menjadi kesayangan. Jujur, dalam lubuk hati yang terdalam Nayeon iri, iri dengan segala sesuatu yang dimiliki oleh Jiyeon.
"Kau baik-baik saja? Coba ku lihat." Sehun meraih dagu Jiyeon dan memeriksa apakah pukulan di pipi Jiyeon terdapat memar, apa yang Sehun lakukan ini sontak membuat Jiyeon kaget dan segera melepaskan tangan Sehun dari dagunya. Ia mencoba menetralkan debaran jantungnya yang tiba-tiba berdetak dengan cepat.
"A-aku baik-baik saja," Ucap Jiyeon terbata dan kembali duduk, Sehun pun juga ikut duduk dan masih memperhatikan gerak-gerik Jiyeon.
"Kau sudah melakukan yang terbaik, Jiyeon." Ucap Sehun tiba-tiba membuat Jiyeon reflek menoleh padanya dan seulas senyum Sehun berikan pada Jiyeon yang kini terpaku menatap senyum cerah Sehun. Ia tidak tahu ketika Sehun tersenyum maka wajahnya akan setampan ini dan sudah berapa lama mereka tinggal bersama, namun baru sekarang Jiyeon menyadarinya. Benar apa yang di katakan semua orang bahwa Sehun itu sempurna. Jiyeon akui itu sekarang.
Meskipun sedikit ada keributan, tapi tetap saja acara amal ini berjalan dengan baik hingga selesai.
Jiyeon kembali bergelayut manja pada lengan Sehun ketika mereka berjalan keluar dari gedung, semua pasang mata kembali menyorot mereka, banyak dari mereka yang kagum dan iri pada Jiyeon. Yah, ini bukan lagi hal yang mengherankan atau perlu di banggakan.
Tak sengaja, mata cantik Jiyeon menangkap sosok anak laki-laki tengah menangis di bawah tiang, sepertinya ia kehilangan orang tuanya. Jiyeon langsung menghentikan langkah Sehun, melepas tangannya yang bergelayut di lengan Sehun dan melangkah menghampiri si anak laki-laki. Sehun dengan wajah bingung hanya memperhatikan Jiyeon, hingga ia sadar apa yang akan Jiyeon lakukan.
"Hai nak, kenapa kau menangis?" Anak itu terperanjat kaget, sontak ia melangkah menjauh dari Jiyeon. Namun, Jiyeon memberikan sebuah senyum ramah yang menandakan bahwa ia tak berniat jahat, hanya ingin menolong si anak ini saja.
"Jangan takut, aku bukan orang jahat." Ucap Jiyeon kembali mendekat pada si anak laki-laki. "Kenapa kau menangis, heum? Dimana orang tua mu?" Anak laki-laki itu menggeleng, tadi ia berlari keluar lebih dulu dan ketika kembali masuk orang tuanya sudah tidak ada, ia kebingungan dan akhirnya menangis sendiri disini.
Jiyeon mengusap kepala si anak laki-laki lembut, Sehun melangkah mendekat pada Jiyeon yang sibuk dengan anak laki-laki itu. "Sudah jangan menangis, pasti orang tuamu sedang mencari mu sekarang. Kita tunggu mereka saja ya?" Jiyeon merogoh saku blazer, sepertinya tadi ia sempat memasukan sebuah permen lolipop kedalam saku, hidangan yang di berikan saat acar tadi. "Nah, ini.. makanlah, pasti perasaanmu akan sedikit membaik." Ucap Jiyeon memberikan permen itu pada si anak laki-laki.
Sehun diam membeku di tempat, matanya tak lepas menatap sosok Jiyeon yang kini tengah tersenyum sambil membukakan sebuah permen lolipop pada si anak kecil. Kalimat itu, ia pernah mendengarnya, di hari ketika ibunya meninggal dan tidak ada siapapun yang mencoba menenangkan, semua sibuk menenangkan diri masing-masing. Sehun tersenyum, sekarang ia semakin yakin dengan perasaannya sendiri.
"Jiyi.." Gumam Sehun, Jiyeon menoleh ketika sekelebatan mendengar suara dan hanya ada Sehun di sana.
"Kau mengatakan sesuatu, Sehun?" Bukannya menjawab, Sehun malah berhambur memeluk Jiyeon, begitu erat seolah tak ingin melepaskannya dengan cepat. Jiyeon yang masih bingung dengan apa yang terjadi mencoba melepaskan diri, tapi Sehun memeluknya terlalu kuat.
"Sehun, kau ini kenapa? Lepaskan aku, banyak orang yang melihat kita, malu." Ucap Jiyeon merasa malu karena mereka berpelukan di depan umum, apalagi semua orang kini menatap mereka.
"Sudah ku duga....terima kasih Jiyeon." Ucap Sehun yang kini malah mencium pucuk kepala Jiyeon berulang kali, al hasil Jiyeon hanya bisa diam membeku dengan kedua pipi yang bersemu merah, debaran jantungnya berdetak dengan tidak karuan, berpacu dengan cepat. Jiyeon mencoba menetralkan perasaannya dan menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan nya pelan.
Jiyeon tidak tahu apa yang terjadi pada Sehun, tapi setelah pelukan tadi wajahnya nampak berseri-seri, seperti orang yang baru saja memenangkan undian berhadiah. Ia juga menyalakan musik ketika perjalanan pulang dan sesekali ikut bernyanyi mengikuti alunan lagu yang di putar.
"Besok kau tidak ada acara, bukan?" Tanya Sehun tiba-tiba membuat Jiyeon reflek mengangkat kepalanya dan menoleh pada Sehun dengan eksepsi wajah terkejut.
"Eoh, tidak ada, kenapa?"
"Bagus! Besok kita pergi berkencan!"
"Ha? Kencan?!"
Semoga suka sama part kali ini, maaf nggak bisa sering-sering Update..
See you♡️