
"Juan... Elus kepalaku dong!! Biar tenang hehehe"kata kakak.
Tak disangka, kak Juan pun melakukannya.
"Yoshh..Yosh... Anak cowok ga boleh nangis"kata kak Juan.
"Hehehehe"terlihat wajah kakak yang kesenangan.
"Bahkan kakak juga? Yah.. Mungkin kak Juan melakukannya karena biasa melakukannya pada kakak"batinku.
"Oke gays... Aku udah tenang!!"kakak bersemangat kembali.
"Lebay"kataku.
"Awww... Critical Hit 100 tepat di jantungku, kamu ga boleh bilang gitu cantik"kata kakak.
"Bener sih yang dibilang Paula"kata Kak Juan.
"Hiks.."kakak berlagak menangis lagi.
"Astaga... Udah ayo Fajarrrr!!!"kata kak Ari mencubit pipi kakak.
"Iya iya..., sekarang mau main apa?"tanya kakak.
"Fighter!!"aku dan kak Juan berbicara bersamaan.
"Mentang-mentang sekarang satu tim, pikiran kalian berdua jadi satu gitu?"kata kakak.
"Ahh.. Aku lupa aku akan satu tim dengan kak Juan. Loh..., kenapa nih?? Kok aku deg-degan sih. Aish... Salah nih salah"batinku.
Aku merasakan detak jantungku yang berdebar.
"Oh harus... Aku ga mau kalah lagi"kata Kak Juan.
"Kak Juan di sampingku...,dia wangi sekali...,"kataku sedikit melirik ke arahnya.
"Paula!!, mau bertaruh apa?"tanya kak Juan.
"Ehmm... Terserah kak Juanda aja"kataku.
"Oke.."kak Juan mengekuarkan satu kotak stik dengan rasa matcha.
"Ini aja ya..."kata kak Juan.
Setelah itu permainan dimulai. Pertama kakak melawan kak Juan. Dengan mudahnya kakak mengalahkan kak Juan. Setelah itu giliran aku melawan kak Ari. Dan aku pun menang. Pertandingan ini adalah babak terakhir, penentuan siapa yg akan memenangkan pertandingan ketiga ini.
"Sudahlah Paula, kau menyerah saja. Tidak ada yang bisa melawanku. Ha ha ha ha"kata kakak dengan bangganya.
"Heleh... Kita lihat nanti saja kak, siapa yang akan memenangkannya. Janganlah kau sombong dahulu wahai ferguso"kataku.
Setelah pertarungan yang sengit, tiba-tiba...
"Kak lihat saja, ulti ku sudah siap. Bersiaplah untuk mati. Hahaha"kataku.
"Kamu yang akan mati!!"kata kakak.
"YAHHHHHHH"kata kami berdua.
"Ahhhhh!! Hubby"teriak kak Ari. Terjadi pemadaman listrik di rumah kami.
"Ahh.. Kenapa mati listrik di saat seperti ini.., dek coba liat keluar yang padam kita doang apa sekitar juga padam?"kata kakak.
Aku beranjak dan menyalakan lampu di HP ku. Aku berjalan dengan perlahan menuju jendela.
"Mati semua kak"kataku.
"Hubby, kamu dimana hiks"teriak kak Ari.
"Nihh aku di samping mu"kata kak Juan sembari memegang tangan kak Ari.
"Ahh Hubby, aku tenang sekarang. Anoo.. Paula, kamu ada lilin atau senter?"tanya kak Ari padaku.
"Ahh.. Sebentar aku akan kebawah dan bertanya pada ibu"Kataku.
"Sebelum itu bisakah kamu mencari hp kita? Saat kamu pergi akan menjadi gelap lagi kamar ini"kata kakak.
"Aku berbalik dan mengarahkan ke segala arah. "Tuh kak ada di meja belajarku"kataku menunjuk ke arah meja.
Kakak mengambil semua hp dan kembali ketempat semula.
"Sudah kan? Aku akan pergi"kataku pergi dari kamar.
Aku menuruni tangga dengan perlahan.
"Bu... Ibu!!! Ibu dimana??"teriakku.
"Ibu di ruang tamu nak!!"kata ibu.
Aku menghampiri ibu dan meminta beberapa lilin darinya untuk dinyalakan di kamar.
"Kak Fajar dimana nak?"tanya ibu memberikan lilin padaku.
"Ohh.. Dia di kamar bu, nemenin kak Juan dan Kak Ari. Kan ga boleh berduaan mereka, apalagi sekarang gelap. Kalau ada setan lewat gimana hihihi"kataku cekikikan.
"Hahaha.. Bener tuh..., ya udah kmu cepetan balik sana..., kasian mereka ibu akan disini menunggu ayah"kata ibu.
"Ya udah klo gitu hati-hati ya bu... Di pojokan ada yang ngawasin hehehe"kataku.
"Hahaha.. Hantu yang takut sama ibu. Nanti ibu tendang dia"kata ibu dengan percaya diri.
"Hahaha ya sudah aku kembali ya bu. Oh iya korek!!"kataku mencari korek di sekitar meja.
"Nih nak.."ibu memberiku sebuah korek gas.
"Dah bu.."kataku.
Aku segera kembali ke kamar. Saat hendak menaiki tangga, batre ponsel ku habis. Sehingga lampunya pun mati. Aku merogoh korek yang ada di saku celanaku dan menyalakannya untuk penerangan. Aku tidak menyalakan lilin karena panas dan aku tidak tahan.
"Pelan.. Pelan..."aku menaiki tangga dengan perlahan.
Aku memegang pinggiran tangga untuk membantuku berjalan. BRUKK!!! aku menabrak sesuatu, aku hampir terjatuh, untungnya ada yang menarikku.
"Hahh.. Hah.. Ahh... Andai saja tidak ada kamu pasti aku jatuh"gumamku.
Aku mencari sosok yang menolongku itu. Tetapi, aku tidak menemukan siapapun disekitarku.
"Loh? Bukannya tadi ada yang ku tabrak dan menolongku yah?"batinku.
"Ehmm ano? Ada orang lain kah disini?"kataku.
Tak ada jawaban. Aku hanya mendengar suara tertawa, itu pasti kakak dan yang lain.
"Jangan.. Jangan..!! Hantu!! Yang tadi itu hantu??!!, aku harus cepet ke kamar nih"batinku.
Seketika aku merasa merinding di sekujur tubuh. Aku segera berlari lurus, semoga saja aku tidak menabrak tembok.
"Adohhhh!!"teriakku.
Benar saja, karena tidak hati-hati aku menabrak tembok.
"Paula?? Apa itu kamu"tanya kakak dari dalam.
"Iya kak ini aku"aku mengelus dahiku yang kesakitan.
"Kamu kenapa Paula??"tanya kak Ari yang keluar dari kamar.
"Hehe cuman nabrak tembok"kataku.
"Hati-hati.."kata kak Ari. "Iya kak.. Hehe"
Aku memasuki kamar terlebih dahulu disusul kakak dan kak Ari.
"Mana lilinnya?"tanya kakak.
Aku memberikan 3 buah lilin pada kakak.
"Terus koreknya mana?, apa kakak harus menggesekan kedua batu terlebih dahulu agar tercipta api?"tanya kakak.
"Ahh.. Sepertinya ada di bawah"kataku yang panik merogoh saku ku.
"Hilih.. Kimi kinipi gik sikiliin biwi kirik nyi sih. Jidi bilik-bilik nih"kata kakak nyinyir.
"Yiidih si kik miif"kataku membalas omongannya.
"Idihlih kilian birdii, pising dih iki"kata kak Ari ikut-ikutan.
"Hahahaha apaan sih kita"kata kakak.
Kami tertawa bersama untuk memecah keheningan yang ada.
"Kak Juan mana?"kataku.
"Ohh tadi ke toilet"kata kak Ari.
KRETT!!! terdengar suara pintu terbuka.
"Nah tuh dia"kata kakak.
"Ya udah aku turun dulu nyari korek. Adikku yang pintar ini tidak membawanya"kata kakak.
"Andai kau tahu kak apa yang terjadi tadi..!! -_-, koreknya terjatuh dari genggamanku saat menabrak sesuatu tadi"batinku.
"Korek?? Ehmm nih aku nemu di bawah"kata kak Juan menyodorkan korek yang ku bawa tadi pada kakak.
"Akhirnya, kita bisa menyalakan sumber penerangan kita"kata kakak.
Kakak mengambil selembar kertas untuk dijadikan alas lilin. Kakak menaruh dua lilin di sudut kamar ku dan sisanya dibawa ke tengah-tengah kita.
"Nahh ayoo siapa yang ulang tahun?? Ayo adik-adik tiup lilinnya dulu?"kata kakak bergurau.
Kak Juan dengan semangat meniup lilin yang kakak bawa.
"Ehh si oon.. Beneran di tiup"kata kakak.
"Hahaha.. Hubby ngapain ditiup"kata Kak Ari.
"Lah kan dia suruh niup lilinnya, ya udh ku tiup saja"kata kak Juan.
Bersambung...