Paula

Paula
Chapter 13



"Hmm.. Kok suaranya lain??"batinku.


Kami sudah berada di dekat panggung, lebih tepatnya di belakang panggung.


"Suaranya bagus banget ya la..."kata kak Ari.


"Bagus sih.. Hanya saja bukan dia yang kucari"kataku dengan lirih.


Kami berjalan ke depan panggung. Nampak sebuah band tengah tampil. Banyak orang yang menonton penampilan mereka, kebanyakan adalah perempuan remaja.


"Siang semua!!!"teriak vokalis band itu.


"Siang!!!"teriak semua orang. "Perkenalkan kami 'the sixth', kami akan menampilkan 2 lagu lagi. Semoga kalian menyukainya...!!"vokalis itu mengedipkan sebelah matanya membuat semua perempuan disini berteriak.


"Bukan.. Ini bukan yang tadi, apa yang tadi sudah selesai tampil ya?"batinku bertanya tanya.


"La.. Kita disini dulu ya, nanti habis mereka kelar tampil kita balik"kata kak Ari sambil menyenggol-nyenggol lenganku.


Mau tidak mau aku harus menyaksikan aksi mereka, padahal tujuanku kesini ingin cari tahu pemilik suara tadi.


"Hish!!"kataku kesal.


Di keramaian aku mendengar suara yang mirip seperti tadi.


"Oh iya.. Hahaha makasih udah dateng kesini"katanya dari kejauhan.


Aku hanya bisa mendengar samar-samar karena keadaan yang berisik. Aku mencari sumber suara itu dengan melihat sekeliling.


"Aku pernah dengar suara ini.. Duhh otak, ayo dong inget!!"kata ku sembari memukul-mukul kepalaku.


Saat aku hendak keluar dari kerumunan, lagi - lagi kak Ari menghentikan langkahku, dia menarik lenganku.


"Yuk Paula pergi!! Udah selesai nih"kata kak Ari mengajakku ke arah berlawanan.


"Tapi kak.. Aku masih ada urusan"kataku melepaskan tangannya.


"Tapi tante udah nyariin es kelapanya la.. Nih baca"kak Ari memberikan hpnya yang berisi pesan dari ibu.


"Oh jadi perempuan tua ini lebih mementingkan es kelapanya"batinku.


"Hmm.. Ya udahlah ayo kak"kataku pasrah.


Sudahlah aku sudah capek, lebih baik aku tiduran saja dan meminum es kelapa.


"Terimakasih semua yang masih setia menunggu kami tampil. Bagi yang baru datang kami adalah 'Adorez'. Kami telah menyanyikan 1 lagu kami di awal tadi, sekarang sebagai penutup, kami akan mengcover salah satu lagu terkenal untuk para perempuan disini. Satu, dua, tiga..."


Saat aku hendak pergi, suara itu muncul kembali menyanyikan lagu 'Girls Like You' dari Maroon 5. Aku menengok ke arah belakang, ternyata itu adalah Vero bersama band-nya. Pantas saja aku merasa tidak asing dengan suara ini. Aku pernah mendengar dia nyanyi saat di sekolah.


"Ngapain dia ada disini??"batinku.


"Kak Ari.. Bisa duluan ga???, aku mau ngobrol sama temen aku sebentar"kataku meninggalkan dia.


"Tapi laa..es kelapa tante gimana?? uangnya kan ada di kamu"aku tidak mendengarkannya.


Aku berlari menuju depan panggung lagi tapi kali ini aku berada di barisan belakang.


~**Cause girls like you


Run around with guys like me


Til sundown, when I come through


I need a girl like you, yeah yeah


Girls like you


Love fun, yeah me too


What I want when I come through


I need a girl like you, yeah yeah**~


Semua orang bernyanyi bersama, aku melihat Vero dengan mudahnya dapat mengendalikan semua penonton untuk bernyanyi bersamanya. Saat aku asik melihatnya, tiba-tiba saja Vero melihat ke arahku. Mata kami bertemu, aku tidak tahu benar atau tidak. Tapi aku merasa bahwa Vero memang melihatku. Padahal aku ada di barisan paling belakang tapi dia bisa mengenaliku. Dia tersenyum cukup lama, lalu melihat ke arah lain lagi.


"Mungkin dia liat orang lain ya.."batinku.


Aku yakin mukaku memerah sekarang, aku terlalu pede. Jika memang bukan aku yang Vero lihat, pasti aku akan malu sendiri.


"Wow.. aura Vero berbeda sekali dengan yang biasanya"gumamku.


"Veroo sayang!!! kamu keren banget sih"teriak seseorang.


Aku mendengar suara itu di tengah keramaian. Mungkin itu salah satu fansnya, pikirku.


Setelah itu Vero dan band nya selesai tampil, aku pun segera pergi. Entah mengapa aku merasa malu jika ada orang yang kenal pada ku mengetahui aku disini, seperti Vero. Belum jauh aku pergi, Vero memanggilku.


"Oyy Paula!!, tunggu dulu"teriaknya.


"Aduhh... kenapa manggil sih"batinku.


Aku pura-pura tidak mendengarnya dan terus berjalan, jika aku berlari aku akan ketahuan menghindarinya. Tidak disangka, Vero mengejarku. Dia berlari ke arah ku.


Dengan cepat aku menurunkan posisi topi yang ku kenakan hingga menutupi wajahku dan aku menundukan kepala. Untung saja kak Ari membelikan ku topi tadi.


"Ehmm maaf Anda salah orang, saya harus pergi"kataku berdalih.


"Aku tidak mungkin salah mengenali orang, apalagi saat aku menggunakan softlens, aku tau kamu Paula. Kamu di belakang kan tadi?!!"katanya.


Walau aku sudah bicara seperti itu, Vero tidak mau melepaskan genggamannya. Perlahan dia mencoba membuka topiku.


"Duhh aku malu banget ketemu dia. Aku harus pergi dari sini"batinku.


"Ver!!! masih lama gaa?? ayo makan. Aku udah laper"Teriak seseorang perempuan dari belakang.


"Tuh ada yang manggil"kataku.


"Urusanku sekarang sama kamu la, Tanya bisa nanti"katanya.


Ternyata perempuan itu Tanya, berarti yang daritadi meneriaki naman Vero saat dia tampil dia. Kini wajahku sudah terlihat jelas olehnya, topi ku berada di tangan kirinya.


"Ahh.. sakit"rintihku karena dia memegang tanganku cukup kencang.


"Ahh maaf, lancangnya aku" dia pun melepaskan genggamannya.


"Aku cuma mau bilang.., Terimakasih la sudah melihatku tadi. Aku senang kamu ada disana"katanya.


"Ohh iya sama-sama Ver, udah kan? sana gih Tanya kayaknya ga seneng tuh"kataku menunjuk Tanya yang tak jauh dari kami.


"Aku masih mau ngobrol sama kamu la.., kan jarang kita bisa ketemu di luar. Oh.. atau kamu ikut kita aja makan, gimana??"ajaknya.


"Kan sudah ku bilang, aku harus pergi"kataku.


Sejujurnya aku tidak mau bersamanya, pasti akan melelahkan. Aku juga malu bertemu temannya yang lain, ditambah lagi ada Tanya.


"Ayolah la.."


"Ehmm maaf aku harus pergi, Ahh kamu!!, Ga perlu repot-repot kesini"


Aku pergi ke arah belakang Vero untuk menghampiri seseorang. Vero berbalik, terlihat ada sedikit kekecewaan di wajahnya.


"Maaf ya ver"batinku.


"Ayo kita pergi"aku mengajak orang itu pergi dari sini.


"Itu siapanya Paula ya? kok sepertinya akrab sama Paula. Paula saja bahkan menggandengnya dan dia cowok, aku ga boleh kalah sama cowok itu"batin Vero.


"Ayo sayang kita makan"seseorang menghampiri Vero dan merangkulnya, lalu mereka pergi.


Sesekali aku menengok kebelakang untuk memastikan bahwa Vero tidak akan mengejarku kali ini. Setelah merasa cukup jauh dan yakin Vero tidak mengejarku, akhirnya aku menghentikan langkahku. Aku melirik orang di sampingku, tanpa sadar aku menggandeng tanganya.


"Aduh Paula.. bodoh banget sih kamu"batinku.


Aku melepaskan genggamannya tapi dia menggenggam tanganku lagi.


"Jangan dilepas dong.. baru kali ini ada perempuan yang menggengam tanganku"katanya.


"Aduh maaf kak, aku tadi cuman reflek aja"kataku mencoba melepaskan lagi.


"Hmm.. ya sudah deh, tapi aku tetap bersyukur bisa ketemu kamy disini Non.."


"Loh kak Joseph sendiri kenapa disini?"tanyaku.


Tunggu sebentar..., kenapa aku malu bertemu Vero tapi tidak dengan kak Joseph. Padahal kan mereka berdua orang asing di hidupku, aku hanya baru beberapa kali mengobrol dengan mereka. Apa karena aku sering chatan sama kak Joseph ya jadi aku agak nyaman dengannya.


"Aku lagi liburan. Pusing aku sama kerjaan, butuh penyegar"katanya.


"Ohh.. kakak juga pernah bilang gitu di chat, emang jadi pekerja disitu segitu melelahkannya ya kak?"tanyaku lagi.


"Yahh.. capek Nona.... kadang harus layanin orang yang susah di kasih tahu, kadang juga harus menata buku terus, belum urus masalah uang, inilah, itulah, belum lagi nyelesain volume manga selanjutnya. Capek deh pokoknya..."eluhnya.


"Volume manga selanjutnya?"tanyaku heran.


"Ohh.. apakah aku berkata itu? hehe pasti aku ngelantur"


"Oh.. oke, hmm kalau segitu melelahkan kenapa kakak ga cari pekerjaan yang lain saja?"


"Hmm.. gimana ya Nona... aku sudah nyaman dan aku hanya lulusan SMA susah di saat ini mau cari pekerjaan tetap full-time dengan hanya lulusan SMA"


"Kalo gitu kenapa kakak gak kuliah aja".


"Hmm... Ciee Nona perhatian sama aku. Aku jadi terhura, gini non.. aku orang miskin, aku tidak ada biaya untuk kuliah dan aku tidak cukup pintar untuk beasiswa"


"Maaf kak aku ga tau.."aku merasa bersalah mendengar perkataanya.


"Gapapa kok Non.."dia tersenyum padaku dengan tulus.


Itulah percakapan kami yang terakhir, karena ibu menelpon ku terus menerus untuk menyuruhku kembali. Kak Joseph mengirimi ku pesan di instagram katanya. terimakasih untuk menemaninya.


Bersambung...