Paula

Paula
Chapter 19



30 menit kemudian


Kini aku telah sampai di sekolah. Suasana gelap dan sepi membuat rasa takut ku muncul.


"Duhh gini amat hidup"batinku.


Aku mendekat ke arah gerbang utama, terlihat disana ada seorang Satpam yang berjaga.


"Malam pak, saya boleh masuk ke dalem gak?"tanyaku pada pak satpam.


"Mau ngapain neng? Udah malem gini, mending pulang"kata pak satpam.


"Tapi pak barang saya ada yang ketinggalan di kelas dan itu penting banget"


"Duhh ga bisa neng, besok pagi aja ambilnya. Besok masuk sekolah kan??"


"Iya sih pak. Tapi, kalo saya ga ambil itu bisa terancam hidup saya pak. Boleh ya pak cuman sebentar kok. Abis itu saya langsung pulang deh"kataku meyakinkan pak satpam.


"Duhh gimana ya neng, ga bisa kuncinya ga sama saya. Lagian juga nanti kalo saya nganterin si eneng pos nya ga ada yang jaga"


"Yahh pakk.. Ayolah pak"


"Ehh yang jaga Pak Agung, Apa kabar pak?"seseorang berbicara di belakangku.


"Siapa yaa??"batinku. Karena gelap aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.


"Ehh kamuu ngapain kesini malem-malem?"tanya pak Satpam pada cowok itu.


"Biasa pak, oh iya ini ada makanan buat bapak. Lumayan buat temen ngopi"


Cowok itu mendekat dan memberikan sekotak donat pada pak satpam. Kini wajahnya terlihat jelas karena sinar lampu. Cowok itu kak Joseph, untuk apa dia malam-malam kesini??, itulah yang terpikirkan olehku.


"Kak Joseph??"kataku.


"Ehh Nona.. Kamu ngapain disini??"kata kak Joseph


"Ehmm.. A..aku.. Mau ambil barang di kelas, tapi pak Satpam ga ijinin. Kakak.... sendiri ngapain disini?"tanyaku.


"Ohh haha aku ada urusan di sekitar sini Nona. Pak, ayolah izinkan Nona ini masuk. Kasian dia.., udah jauh-jauh dari rumahnya kesini buat ambil barangnya yang ketinggalan. Masa bapak biarin dia pulang tangan kosong sih?"kak Joseph membantuku meyakinkan pak Satpam.


"Hmmmm.. Ya udah deh si eneng boleh masuk, cuman kamu temenin ya bro hehe. Soalnya Si Pai ga masuk dia jadinya saya sendiri"kata pak Satpam.


"Beneran nih pak??"kataku.


"Iya neng.. Bentar saya bukain pagernya"


Pak Satpam membuka pagar kecil di samping pos. Aku dan Kak Joseph pun segera masuk.


"Makasih ya pakk"aku membungkuk menunjukan rasa terimakasihku.


"Ahaha iya neng, Bro makasih donatnya ya"


"Hehe santai pak. Oh iya kuncinya ditempat biasa kan?"tanya kak Joseph.


"Iyaa bro, oh iya nih senter"pak Satpam memberikan senter pada kak Joseph.


Kami masuk ke gedung sekolah. Hanya beberapa lampu yang dinyalakan di dalam. Aku mengajak kak Joseph ke lantai atas, tepatnya ke kelas ku.


"Jadi kamu sekolah disini Non?"tanya kak Joseph.


"Iya kak hehe..."


Kak Joseph memilah kunci yang cocok untuk membuka pintu kelas ku. Setelah bebeeapa percobaan akhirnya kuncinya ditemukan. Aku segera masuk ke kelas dan mengecek laci mejaku. Untung saja hp ku ada. Aku berpikir bahwa hpku tidak ada karena ada yang mengambilnya. Aku mengecek hpku, terlihat baterai hpku tersisa 5% dan ada chat dari Vero, ibu, dan banyak notif lainnya.


Aku kembali ke depan dan memberitahu kak Joseph bahwa aku sudah mengambil barangku. Tapi, kak Joseph tak ada disana. Aku melihat ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaannya tetapi tidak ada disana. Aku mencoba mengechat kak Joseph tapi dia sedang tidak online sehingga chatku mungkin tidak terbaca.


"Apa aku turun duluan aja kali ya?? Tapi kalo aku turun duluan nanti kak Joseph nyariin lagi"batinku.


Aku memutuskan untuk menunggunya di luar kelas.


"BOOO!!!"


"Ehh Kodok"aku kaget akan suara itu.


Aku melihat kak Joseph sudah di belakangku tengah tertawa cekikikan.


"Ihh.. Kak Joseph ngangetin aja"kataku.


"Hehehe nungguin yaa"


"Kak Joseph kemana sih?? Aku pikir ninggalin aku sendiri".


"Udah kak. Nihh"aku menunjukan hpku.


"Ohh hp tohh.. Ya udah ayo kita keluar"


Kak Joseph mengunci pintu kelasku dan kami turun. Tiba-tiba terbesit dibenakku,


"Kenapa kak Joseph tahu tempat penyimpanan kunci ya? Dan sepertinya kak Joseph tidak asing dengan sekolahku. Apa kak Joseph alumni sini ya?"batinku.


"Ehmm kak.."aku memanggil kak Joseph.


"Iya Non ada apa?? Hatimu ketinggalan? Hahaha"


"Hatiku selalu bersamaku hehehe, aku heran kok kak Joseph bisa tau betul tempat ini. Emang kak Joseph alumni sini?"tanyaku.


"Ehhmmm.... Kasih tau gak yaaa"kak Joseph menggodaku.


"Terserah kak Joseph sih... Sebenarnya aku hanya penasaran saja. Tidak terlalu peduli hahaha"


"Uhh sakit hatiku dengar perkataanmu"


"Hehehe"kami tertawa bersama.


Kak Joseph mengembalikan kunci ke tempat semula. Setelah itu aku berterimakasih kembali pada pak Satpam dan kak Joseph karena sudah menemaniku. Aku berpamintan pulang dan meninggalkan sekolah. Aku berjalan sendirian saat ini, tapi aku merasa ada yang mengikutiku. Sesekali aku menengok ke belakang untuk memastikan, tetapi tidak ada siapapun disana. Selang beberapa menit aku berjalan akhirnya aku menemukan pengikutku, Kak Joseph. Dia bilang bahwa dia tidak bisa membiarkanku pulang sendirian sehingga dia berniat menemaniku hingga ke halte bis.


Cuman dia takut aku tidak suka makanya dia bersembunyi ketika aku menengok ke belakang agar aku tidak mengetahuinya. Dia meminta maaf padaku, akupun memaafkannya. Lalu kami berjalan beriringan, di sepanjang jalan dia banyak bercerita tentang banyak hal. Mulai dari kesukaannya pada J-seven, alasan dia disana dan lain-lain. Tak terasa kami sudah sampai saja di halte bis. Kak Joseph menemaniku hingga aku mendapatkan bis. Saat aku merogoh saku celanaku untuk mengeluarkan uang, disitu hanya terdapat uang 2000 rupiah. Mana bisa aku naik bis dengan uang segini. Aku mencoba mengechat orang tuaku untuk meminta jemput, tapi belum ada yang membalasnya. Melihat gelagatku, kak Joseph bertanya.


"Kamu kenapa Non?? Duitmu habis?? Hehe"tanyanya.


"Lohh kok kak Joseph tahu?? Upss"aku keceplosan.


Niatnya aku tidak ingin memberi tahu kak Joseph agar dia tidak kepikiran.


"Ehh beneran habiss?? Terus Nona pulangnya gimana??".


"Aku udah chat ibu untuk minta jemput tapi ibu belum membacanya"


"Ohh sebentar kak, ibu balas chat aku"


Aku membuka chat dari ibu. Dia berkata bahwa ayahku belum pulang sehingga tidak ada yang bisa menjemput, ayah akan pulang sekitar 1 jam lagi.


"Ga bisa ya?? Hmm bentar deh"kak Joseph merogoh saku celananya.


"Yahh ga bawa dompet aku Non.."


"Ehmm gapapa kok kak, mungkin aku nunggu ayah aja disini, lagipula aku sudah mengirimkan lokasiku jadi aku tinggal menunggu"kataku.


"Ehmmm..."


Kak Joseph berdiri dari duduknya dan tiba-tiba berlari pergi meninggalkanku. Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya, mungkin dia bosan sehingga pergi dariku. Aku merasa agak sedih memikirkannya.


Tak lama, tepat di depanku muncul seseorang menggunakan motor. Dia tak lain adalah kak Joseph. Dia menawari untuk mengantarku pulang. Awalnya aku menolak karena aku akan merepotkannya, tetapi dia memaksa ku dan mengancam tidak akan memberihukan tentang J-Seven lagi. Karena itu, mau tidak mau aku terpaksa ikut dengannya. Aku mengabari ibu bahwa aku sudah di jalan pulang. Sepanjang perjalan kami saling diam, tidak ada percakapan. Tapi aku merasa kak Joseph berbicara denganku, tetapi aku tidak mendengarnya.


"Nonn"kata kak Joseph.


"Hah?? Apa kak?"kataku.


"Kamu kok diem aja, ngantuk ya??"


"Hah?? Apaan kak?? Batuk?? Gak aku ga batuk"


"Ohh ga ngantuk... Bagus deh aku takut kamu tiba-tiba tidur nanti"


"Hehehe iya".


Akhirnya aku sampai di rumah dengan selamat. Aku mengucapkan terimakasih pada kak Joseph dan menunggunya pergi. Aku berharap kak Joseph pergi sebelum ibu melihat dia, jika iya ibu akan terus menanyakan tentangnya.


"Ohh kamu ternyata tinggal disini Non"kata kak Joseph, dia masih duduk di motornya.


"Iya kak hehehe.. Sekali lagi makasih ya kak... Udah mau... Direpotin"


"Hehehe gapapa kok Non... Sekali-sekali ajakin cewe jalan haha, kapan-kapan boleh dong aku main kesini??"


"Ahh.. Haha... Ini udah malem kak, alangkah baiknya kakak pulang. Lagipula kakak masih ada urusan di dekat sekolah kan??"aku mengusirnya secara halus.


"Ohh iyaa.. Ya udah aku pulang ya Non.. Dadah sayangg haha"


Kak Joseph memakai helmnya dan pergi. Untunglah kak Joseph telah pergi, setelah kak Joseph pergi, ibu keluar dari rumah. Aku segera membawa ibu masuk kembali dan menceritakan bagaimana aku bisa pulang.


Bersambung...