
"Ehmm halo J-Seven, apakah Anda sedang sibuk saat ini??"sepertinya kak Joseph menelpon seseorang.
"Hmm J-Seven?? Itu beneran J-Seven??"batinku.
Aku melihat kak Joseph tapi saat dia melihatku aku memalingkan wajah.
"Ohh baguslah aku tidak mengganggumu, ini si Nona ada yang ingin ditanyakan padamu"
"Maksudku Paula. Anda ingat perempuan yang Anda temui di toko waktu itu?? Nah itu dia. Dia temanku, saat ini aku tengah bersamanya dan dia punya pertanyaan untukmu"
"Oke akan ku berikan padanya, Non.. Ini J-Seven.. Kamu bisa menanyakan pertanyaanmu tadi langsung padanya. Dia tidak bisa lama-lama karena harus melanjutkan menggambar komik"
Aku hendak mengambil hpnya tapi dia menariknya kembali.
"Nona harus memaafkanku terlebih dahulu baru ku kasih"
"Iya aku maafin kak Joseph, sekarang berikan hpnya. Katanya tidak bisa lama-lama??"
"Tersenyum dulu baru aku kasih"
Aku dengan terpaksa tersenyum dan mengambil hpnya.
"Halo?? "kataku.
"Halo?? Paula ya??"
"Iya ini saya. Anda benar J-Seven?"
"Iya.. Apakah kamu melupakan suaraku?"
"Ahaha maaf ingatan saya sangat buruk"
"Jadi apa pertanyaan yang mau kamu tanyakan??"
"Ehmm.. Saya penasaran dengan kehidupan asmara Anda. Bisakah Anda memberitahu saya?"
"Ehmmm bagi seorang komikus/mangaka, hidupnya biasanya di dedikasikan untuk komik. Setiap hari hanya membuat komik dan di kejar deadline. Jadi tidak ada waktu untuk urusan yang lain. Maka dari itu aku Jomblo sampai sekarang huhuhu. Aku hanya takut jika aku berpacaran, pacarku akan terabaikan"
"Ohh.. Sedih juga ya.. Tak apa walau Anda jomblo, penggemar Anda akan selalu mendukungmu. Termasuk saya, jadi jangan pernah merasa sendiri ya?"
"Ahh aku jadi terhura.. Terimakasih Paula atas dukunganmu selama ini. Jika tidak ada yang lain bisa aku tutup telponnya??"
"Tentu saja, terimakasih karena sudah mau mengobrol dengan saya walau hanya sebentar. Semangat J-Seven Sensei hehe"
"Terimakasih. Selamat Malam"
"Malam"
J-Seven menutup telpon. Aku mengembalikan hp kak Joseph padanya. Aku mengembalikan hp kak Joseph padanya. Aku mengucapkan terimakasih pada kak Joseph. Tapi aku masih sebal padanya. Hp ku berdering, kak Joseph mengirimkan foto di Instagram. Itu foto dia dengan seseorang. Tertulis Joseph X J-Seven. Aku segera menyimpan fotonya dan mencrop bagian kak Joseph sehingga hanya J-Seven saja.
"Nah ini baru bagus"kataku sembari menunjukan hasil foto yang sudah ku edit.
"Jahat huhuhu"kak Joseph berupara-pura menangis.
"Kak jika kangen kak Joseph sudah terobati mending kakak pulang deh, aku ngusir nih hehe"
"Belum... Aku masih mau disini, boleh kan? Atau kita jalan-jalan saja gimana?"
"Hmm kalau gitu kita main game aja mau ga kak?"
Aku menyalakan komputerku kembali. Aku membuka game Heaven Light dan menjelaskan tentang game itu pada kak Joseph. Kak Joseph hanya mengangguk entah dia paham yang aku bicarakan atau tidak. Setelah selesai menjelaskan, aku mempersilahkan kak Josep untuk duduk di singgasana ku. Aku mengarahkannya untuk membuat akun terlebih dahulu. Setelah membuat akun, aku menyuruhnya membuat karakter yang dia inginkan. Awalnya dia ingin menggunakan karakter perempuan tetapi, aku melarangnya. Aku tidak begitu suka dengan Hode. Setelah selesai membuat karakter, kak Joseph menuliskan nicknamenya. JoVernon seperti nama ig nya. Setelah itu permainan dimulai, aku membantu kak Joseph menaikan levelnya. Jika kak Joseph bermain bersamaku maka dia akan naik level dengan cepat. Untung saja kak Joseph mengambil role tank jadi aku dengan mudah dapat pelindung. Omong-omong role ku di game ini Archer.
Aku menggunakan laptop yang ada di kamar kakak untuk bermain bersama kak Joseph. Selama 30 menit bermain, kak Joseph sudah paham betul cara bermain game ini. Dia bahkan lebih pintar dari player lama. Tapi masih pintaran aku haha. Setelah itu kami tetap melanjutkan bermain hingga ibu dan ayah pulang. Aku melihat mobil ayah dan ibu pulang, aku menjadi panik. Bagaimana jika aku dimarahi karena malam-malam hanya berdua dengan lelaki, di kamar lagi. Aku segera keluar dari game dan mengajak kak Joseph turun untuk duduk di ruang tamu. Untung saja saat aku dan kak Joseph telah duduk di ruang tamu, ayah dan ibu masuk.
"Wah Wahh!! Siapa nih??"tanya ibu.
"Selamat malam Om, Tante..." Kak Joseph menyapa mereka berdua.
"Malam.. Kamu siapa?? Temennya Paula?? Atau ohh.. Ayah paham"tiba-tiba saja ayah tersenyum.
Aku tak mengerti apa yang membuat dia tersenyum.
"Ibu juga mengerti apa yang ayah maksud. Ayo yah kita ke dalam saja jangan gangguin muda mudi hihihi"kata ibu.
"Tapi ayah ga bisa ninggalin mereka berduaan. Tunggu yah nanti om balik lagi selepas ganti baju"
Ayah dan ibu pergi meninggalkan kami. Sepertinya mereka habis berkunjung ke suatu tempat. Dilihat dari pakaian yang mereka kenakan, sangat rapih. Aku menghela nafas lega, aku takut jika ayah dan ibu akan memarahiku. Melihatku yang seperti itu, kak Joseph menenangkan ku dengan mengelus rambutku. Dan ya, pipiku memerah lagi. Tapi kali ini tidak hanya aku yang memerah, kak Joseph juga.
Tak lama ayah datang membawa papan catur. Sepertinya ayah mengajak kak Joseph untuk duel melawannya sembari mengobrol.
"Kamu bisa main catur?? Udah lama om ga main"tanya ayah.
"Bisa dong om, saya ini dulu juara satu main catur loh"kata kak Joseph membanggakan diri
"Oh ya?? Setingkat apa??"
"Tingkat rt hehehe. Tapi saya tetap jago kok"katanya.
"Om kirain tingkat Internasional haha. Ayo kita susun dulu... kamu hitam yah, om Putih"
Mereka pun tampak senang bermain bersama. Untuk memecah keheningan ayah membuka obrolan. Kebanyakan ayah menanyakan tentang kehidupan kak Joseph. Kak Joseph menaggapinya dengan santai. Sesekali mereka berdua tertawa, aku hanya bisa tersenyum melihat mereka. Tak lama ibu datang membawa cemilan dan minuman untuk kami ber empat. Kami mengobrol bersama, tapi ibu dan ayahku lebih tertarik pada kak Joseph. Hingga tak terasa hari semakin larut. Aku baru menyadari bahwa sudah pukul 10 malam. Kak Joseph pamit pulang pada ibu dan ayah. Sepertinya mereka sangat menyukai kak Joseph.
Kedua orang tua ku masuk ke dalam rumah, tapi, aku masih mengantarnya ke luar pagar. Tiba-tiba saja kak Joseph mencium keningku dan membisikan selamat malam di telingaku dengan sangat lembut. Aku terpaku karenanya, kak Joseph tersenyum dan dia pergi. 5 menit berlalu sejak kejadian tadi aku masih terpaku di luar hingga ibu memanggilku. Aku masuk dan sesi introgasi dimulai. Sebenarnya mereka berdua hanya penasaran kak Joseph itu siapaku. Aku menjawab sebenarnya jika kak Joseph kenalanku.
"Aku mengenalnya di toko buku yang sering aku kunjungi yah, bu"kataku.
"Oh iya.. dia bilang tadi kalau bekerja di sebuah toko buku"kata ayah.
"Terus.. terus tanggapan kamu gimana?"tanya ibu.
"Tanggapan apa bu? Paula ga ngerti deh?"
"Itu loh.. kamu suka ga sama dia?? Ibu sama Ayah sudah sepakat merestui kalian loh. Iya kan yah??"kata ibu.
Ayah mengangguk
"Udah ah... mending kita tidur. Ayah dan Ibu juga pasti lelah"kataku.
"Hmm.. ya sudah kita lanjut besok pagi saja. Selamat Malam ya sayang"Ibu mencium keningku.
"Malam Sayang" Ayah mengelus rambutku.
Mereka pergi bersama menuju kamarnya, setelah itu aku pergi ke kamarku.
Bersambung...