
Aku pun segera turun dan berteriak memanggil nama kakak.
"Kakakkk.. Kau pulang juga. Apakah kau yang membuat game ini?" aku memeluk kakak yang berada di depan pintu.
"Paulaa.. Adik ku yang sangat maniss... Iyaa itu game buatan kakak dan dia"kata kakak menunjuk seseorang di belakangnya.
Ahh gawat malunyaaaa, ternyata ada teman kakak. Berarti dia melihat tingkah manja ku pada kakak. Aku melepas pelukanku pada kakak dan menutup wajahku untuk menyembunyikan wajah merahku.
"Ka..kakak kenapa tidak memberitahu jika ada orang asing
"kataku.
"Hahaha maaf yaa, tapi dia bukan orang asing. Dia temanku"jelasnya.
"Hey, ayo kau masuk ke dalam. Kau makan saja dulu disini aku sudah memberitahu ibu untuk memasak makanan yang sangat enak untuk temanku tercinta hahahaha"kata kakak merangkul temannya untuk masuk.
Terlihat seorang pria tinggi berkacamata dan menggunakan hoodie putih.
"Hoodie putih itu sepertinya aku pernah melihatnya" gumamku dalam hati.
"Ahh benar dia pria yang kemarin kan? Ternyata dia tampan juga. Kemarin aku tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup oleh kupluk hoodienya."batinku.
"Hoii.. Berhentilah menatap temanku. Kau membuatnya risih, hehe"kata kakak mengacak rambutku.
"Ahh.. Ahh maaf... kalau begitu aku pergi ke kamar dulu"kataku segera pergi ke kamar.
"Fajarr.. Ayo bantu Ibu dulu sebentar"teriak ibu dari dapur.
"Iyaa bu aku segera kesana!!!"
Tak lama ada seseorang mengetuk pintu kamarku.
"Ehmm.. Paula, aku disuruh Fajar untuk memberitahumu bahwa makan malam sudah siap"itu suara teman kakak, suaranya terdengar dingin..
"I..iya sebentar" saat aku membuka pintu, teman kakak sudah turun ke bawah.
Semua orang sudah berkumpul di meja makan. Begitupun ayah yang baru saja sampai rumah.
"Jadi nak Juanda, kamu teman sekamar fajar?" Tanya ayah.
"Ohh jadi dia si Juanda Dirgantara"gumamku dalam hati.
"Iya Om.."katanya.
"Kita sudah berteman sejak semester 1 yah, aku mengajaknya kesini untuk ikut menginap, tapi ternyata dia malah ingin tidur di rumah pamannya saja."jelas kakak.
"Apakah ia tinggal di sekitar sini? Siapa namanya siapa tahu om mengenalnya"
"Om saya bernama Gunawan Indra"
"Ohh.. Mas Gun. Apakah dia sudah balik dari Perancis?"tanya ayah.
"Sudah om dan dia memberikan oleh -oleh untuk om sekeluarga"
"Oh iya...??Tapii kami tidak menerimanya tuh.."
"Itu karena saat saya antarkan kesini, selalu tidak ada orang di rumah."katanya.
"Oh iyaa.. Kapan itu?"tanya ayah.
"Jum'at, Sabtu, Minggu kemarin saya kesini"katanya.
"Gawatt... Hari itu aku selalu di rumah dan saat minggu aku melihatnya tapi aku takut menemuinya"batinku.
"Bukannya selama minggu kemarin kau dirumah terus.., ya kan Paula?"Tanya ayah padaku.
"A..ahh mungkin dia datang ketika aku tidur yah."kataku ngeles.
"Mungkin besok paman yang akan mengantarnya sendiri om"katanya tersenyum.
"Ehmm.. Aku sudah selesai makan."aku berpamitan pada semua orang untuk pergi ke kamar.
Aku harus menyiapkan peralatan sekolahku untuk besok. Tak lupa aku memberikan review ku pada kakak dan kakak memberikanku sekantung plastik berisi makanan ringan.
"Senang berbisnis dengan anda"kataku menjabat tangan kakak.
"Tentu saja.. Terimakasih"kata kakak.
"Pftt.."aku melirik sepertinya kak Juanda tertawa melihat tingkah kami. Setelah itu kak Juanda pamit pulang karena sudah malam.
"Terimakasih om, tante, Fajar..."katanya.
"Hati-hati ya nak"kata ibu.
"Yakin nih broo gak mau aku temani.. Hehe.... Ku dengar setiap malam ada suara tawa cewek di jalan deket kebun sana."kata kakak menakuti kak juanda.
"Tidak, terimakasih...."Kak Juanda tersenyum.
"Dah kak Fajar, Kak Juanda"kata ku melambaikan tangan.
"Dadah adikku yang manis, jangan pacaran dulu ya sebelum kakak punya pacarr hahahaha"kata kak fajar.
Kak Juanda memukul kepala kakak, mungkin dia jijik. Seperti biasa aku menjalani aktivitas sekolah dengan normal. Waktu menunjukan pukul 12 siang, waktunya makannnn, aku sudah mengeluarkan bekalku dan bersiap menuju kantin untuk makan. Tiba-tiba saja ketua memanggilku untuk meminta bantuan membawakan kertas. Akupun mengambil tumpukan kertas dan ketua membawa tumpukan buku. Aku pun berjalan di belakang ketua.
"Paula.. Maaf ya kau jadi telat makan siang"kata Ketua.
"Tiii...tidak apa apa kok, su..sudah tugasku membantumu"kataku.
Saat menuju ruang guru aku melihat Vero sedang berjalan dengan 3 perempuan. Salah satu perempuan merangkul lengannya, mungkin itu adalah pacarnya. Saat di depan ruang guru salah satu perempuan yg bersama vero menyenggolku dan membuat aku jatuh dan kertas berhamburan.
"Paula!!"kata Ketua.
"Ehh.. Kamu kalo jalan tuh jangan nunduk. Punya mata dipake"omel perempuan tersebut.
"Tapi... Tapi... Kau juga salah. Kau asik bercanda sehingga
tidak memperhatikan langkahmu " kataku membela.
"Sudahlah, Cindy.. Hai kau tidak apa-apa?."Vero
berjongkok di depan ku.
"Tidak.. Aku baik baik saja. Hanya saja kertasnya jadi berhamburan"kataku.
"Kau yang kemarin tidak sengaja ku tabrak kan??. Maaf ya untuk yang kemarin dan juga hari ini"dia tersenyum padaku.
"Mari kubantu bangun" Dia berdiri dan mengulurkan tangannya padaku. Tetapi salah satu perempuan menarik tangannya.
"Vero.. Ayo pergi ke kantin, pasti sudah ramai disana. Bagaimana kalau kita tidak dapat tempat duduk?"Eluh perempuan itu.
"Tanya, waktu istirahat masih lama. Lagipula aku sudah minta tolong kepada temanku untuk mengamankan salah
satu meja"kata Vero.
"Tapi Veroo.. Sudahlah ayo"katanya menarik Vero untuk jalan.
"Iya Vero ayo kita pergi"sahut dua perempuan lainnya.
"Tapi kita harus membantunya dulu. Kalian tidak lihat kertas nya berhamburan"kata vero sembari memegang tangan Tanya.
"Ahh ti..tidak apa-apa kok. Kalian bisa pergi ke kantin. Lagipula ada ketua yang membantuku. Iya kan
Ketua?"kataku.
"Tidak!!, mereka harus bertanggung jawab Paula. Ayo segera bantu ambilkan, semakin cepat kalian membantu semakin cepat kalian bisa pergi."kata Ketua.
Aku pun bediri dan segera mengambil kertas yang berhamburan diikuti Vero dan temannya.
"Ini kertasnya, sekali lagi maaf ya. Ayo Cindy minta maaf"Suruh Vero.
"Hmph, maaf" memalingkan wajahnya.
"Iyaa..."balasku. Vero dan temannya pun pergi meninggalkan kami.
Setelah selesai, aku bergegas menuju kantin untuk makan, karena aku sudah sangat lapar. Setibanya disana, aku melihat meja di kantin sudah penuh.
"Yahh.. Makan di taman lagi deh.."gumamku lirih. Saat hendak pergi, pundaku ditepuk seseorang dari belakang. Aku pun menengok dan yang menepukku adalah Vero.
"Kau mau bergabung bersamaku? Kulihat semua tempat sudah penuh. Tempat kami masih ada untuk satu orang"Ajaknya.
"Ahh.. Tidak perlu aku bisa makan di mana saja."tolakku.
"Tidakk.. Kau sudah jauh-jauh kesini jadi kau makan disini. Aku juga akan mentraktirmu minuman. Kau mau ya?"Katanya.
"Ahh.. Baiklah"kataku. Aku pun berjalan mengikuti Vero menuju mejanya.
"Wahh kau membawa anak kucing Vero?"Tanya salah satu temannya.
"Ahh.. Dia temanku, iya kan?"Vero menyengol pundaku.
"Hah teman... Kita saja belum berkenalan secara benar. Bagaimana kau bisa menganggapku teman?"batinku.
"Ahh.. Tiidak aku hanya ingin menumpang makan disini. Ji..jika kalian keberatan aku akan pergi"kataku.
"Baiklah, aku dan kedua temanku keberatan dan tidak ada tempat kosong lagi, jadi kau bisa pergi" kata Tanya tersenyum.
"Heii.. kamu kenapa bilang seperti itu"Kata Vero.
"Uhmm.. Kalau begitu aku permisi. Maaf mengganggu kalian"Aku pergi meninggalkan mereka.
"Paulaa!!"Teriak Vero. Tapi aku tidak menggubrisnya dan segera pergi dari kantin.
Bersambung...