
"Hmm pakaian serba hitam? Dimana ya J-Seven?"kataku.
Aku melihat sekeliling untuk mencari J-Seven.
"Ahh sepertinya orang itu J-Seven"kataku.
Aku berjalan menuju meja di dekat jendela. Terlihat seorang pria mengenakan hoodie hitam, masker hitam, topi hitam, celana hitam, dan sepatu hitam tengah membaca sebuah manga.
"Ini pasti J-Seven.. Ahh bagaimana ini.. Apa dia beneran mau bertemu denganku? Ahh gugup sekali. Jantungku berdebar-debar"batinku.
Aku berdiri diam di depannya. Aku tidak tahu bagaimana harus menyapanya. Aku hanya memandanginya saja.
"Ahh.. Kau pasti Paula?"
Orang itu mendongakan kepalanya dan melihatku. Lalu dia membuka maskernya. Benar kata kak Joseph, dia sangat tampan. Dia tersenyum padaku.
"Silahkan duduk"katanya.
Aku duduk di hadapannya. Aku tidak bisa melepaskan padanganku darinya. Dia idolaku, dia yang membuat hari ku berwarna.
"Ehem.."katanya.
Aku terbangun dari lamunanku.
"Ah.. Ma...maaf"kataku.
"Tidak apa... Apa kau benar penggemarku?"tanyanya.
"Ahh.. Iya saya menyukai semua karyamu, bahkan karyamu yang terbaru. Manga itu yang paling saya suka karena menampilkan sesuatu yang baru."aku terus saja berbicara.
Entah mengapa ada banyak hal yang ingin ku sampaikan padanya. Aku sangat senang.
"Ahahaha..."J-Seven tertawa melihatku.
"Tenanglah, tidak perlu terburu-buru, aku masih lama disini"katanya.
"Ahh.. Maaf, saya senang sekali bertemu anda"kataku.
"Pasti saat ini wajahku memerah"batinku.
Aku menunduk untuk menyembunyikan wajahku yang memerah.
"haha... Aku senang punya penggemar yang sangat antusias pada komik buatanku"katanya.
"hehehe"aku tertawa kecil.
"Oh iya... Kau masih sekolah?"tanya J-Seven.
"Iya, saat ini saya kelas 2 SMA"kataku.
"Ehmm, J-Seven jika boleh tahu kenapa anda menjadi seorang mangaka?"tanyaku.
"Ehmm.. hobi, sejak kecil aku sangat suka menggambar dan kebetulan kedua orang tua ku sangat mendukungku menggambar sehingga aku bisa sampai sekarang"katanya.
"Ohh.. Begitu.."kataku.
Aku bingung mau mengobrol apa lagi denganya. Dan kami hanya terdiam, aku memakan parfait pisang yang kupesan, sedangkan J-Seven memakan waffe coklat.
"Anu.. Paula?"katanya.
"Iyaaa..."kataku. J-Seven mendekatkan dirinya padaku, dan tanganya mengusap bibir bagian bawahku.
"Ahh.."aku kaget melihat tingkahnya.
"Ahh.. Maaf aku melihat sisa es krim di bibirmu jadi aku secara reflek membersihkannya. Maaf jika aku tidak sopan."katanya.
Aku menyentuh bagian yang disentuh J-seven tadi. Wajahku memanas dan memerah. Aku tidak bisa menyembunyikannya lagi.
"Ahh.. Te...terimakasih atas waktu yang anda luangkan untukku. Saya harus segera pergi sekarang."kataku pamit.
Aku berdiri dari kursiku, tetapi J-seven menahan tanganku.
"Ahh.. Bisakah kita bertemu lain kali?"katanya tersenyum.
"Hah... Seorang J-Seven mengajak ku bertemu di kemudian hari?, ini mimpikan? Ini pasti mimpi. Tidak mungkin"batinku.
Aku menepuk-nepuk pipi ku untuk memastikan.
"Kau kenapa?"tanya J-seven.
"Tidak apa-apa kok... Ahh apakah saya bisa bertemu denganmu lagi?"tanyaku memastikan.
"Tentu saja bisaa... Malahan aku yang ingin bertemu denganmu lagi."katanya tersenyum.
"Bisa pinjam hpmu sebentar?"katanya. Aku memberi hpku padanya. Dia ternyata mengambil sebuah selfi di hpku. "Hehe ini spesial untukmu. "katanya.
"Ahh.. Te.. Terimakasih" aku memegang hpku dengan erat.
Setelah itu dia mendapatkan panggilan dan pamit untuk pergi. Kami keluar bersama dari toko dan berpisah di persimpangan.
"Ahh.. Aku lupa tidak meminta id Instagramnya. Bagaimana aku bisa menghubunginya untuk pertemuan selanjutnya?"kataku menepuk jidat.
Hpku berbunyi...
Chat (Instagram)
JoVernon : Bagaimana Nona?
P_aul_a : Aku sangat senang.... Tetapi kami tidak banyak mengobrol
JoVernon : Oh ya?? Apakah Nona masih bersamanya??
P_aul_a : Dia ada urusan sepertinya, jadi kami mengakhiri pertemuan kami. Tapi....
JoVernon : Tapi apa nih...??
P_aul_a : Dia mengajakku untuk bertemu di lain waktu Kak Josephhh....
JoVernon : wahh.. Dia sudah mengambil langkah duluan. Mau melangkahiku dia
P_aul_a : Maksud kakak?
JoVernon : Iyaa... Dia mau bersaing denganku untuk mendapatkan mu, hehe
P_aul_a : Sudahlah kak, aku mau pulang. Terimakasih :)
Jovernon : Hati-hati ya Nona
Di jalan pulang, aku melewati sebuah taman bermain. Aku mampir sebentar ke taman itu.
"Aku sudah lama tinggal disini tapi baru tahu jika ada taman bermain..."kataku.
Aku duduk di sebuah ayunan. Walau disore hari, taman ini cukup ramai. Masih ada anak-anak yang bermain. Aku jadi teringat saat kecil dulu. Dulu, aku sangatlah bahagia. Kami sekeluarga sering pergi berlibur. Kakak selalu menemaniku bermain saat tak ada seorangpun yang mau bermain denganku.
"Haha.. Jadi teringat saat kecil. Apa kabar mereka ya?, semoga saja karma baik yang datang pada mereka"kataku.
"Oyy.. Dek"panggil seseorang.
Aku hanya diam, aku berpikir bahwa itu adalah salah satu keluarga dari anak anak ini.
"Oyy.. Ngapain diem aja"katanya lagi.
Aku melihat sekeliling mencari orang yang dari tadi memanggil.
"Paula Mawar Haris, ayo pulang bareng kakak"katanya.
"Heh... Kakak? Dia ada dimana sih?"kataku.
Aku melihat sekeliling dan tetap tidak menemukan kakak. Tiba tiba seseorang memeluku dari belakang.
"Ini pasti si kakak kampret itu"batinku.
Aku berbalik, dan yang terlihat adalah seorang perempuan.
"Paulaaa!!"katanya.
"Ahh.. Maaf anda siapa?"aku melepaskan pelukannya dan mundur.
"Seharusnya kakak yang memeluku, bukan orang asing ini"gumamku.
"Heiii!!"seseorang menepuk pundak ku dari belakang, membuatku kaget.
"Ahh.. Ihh kakak, bikin kaget aja"kataku memukul perut kakak.
"Ahahahahaha maaf maaf..."tawa kakak terbahak-bahak.
"Hmph... Kakak tahu tidak tadi aku berpikir bahwa aku halu denger suara kakak"kataku cemberut.
"Hahaha... Abisnya kakak sebel, kamu cuekin kakak. Padahal kakak sudah lama memanggilmu tapi kau diam saja."jelasnya.
"Ehmm.. Maaf deh"kataku.
"Kak.. Kenal perempuan ini? Dia tadi tiba-tiba memelukku"bisik ku pada kakak.
"Ohh... Kenalin ini Kak Ariana"kata kakak.
"Ohh... Ari.. Ana? Yang semalam?"tanyaku.
"Hehehe.. Iya Paula ini aku. Ternyata kamu beda ya sama yang diceritain Fajar"katanya.
"Ini kakak kampret cerita apa tentangku"batinku.
"Maksud kakak?"tanyaku.
"Iyaa.. Fajar bilang kalau kamu tuh pendek, jelek. Tapi nyatanya kamu cantik banget. Aku aja sepertinya kalah darimu..."katanya.
"Hehe.. Kak.. Ariana bisa saja"kataku.
"Ahh... Juan sini"kata kakak.
"Hehh.. Kak Juanda ada disini juga?? Ahh aku tidak akan mempermalukan diriku lagi di depannya. Oke Paula mode Jaim On"batinku.
Kak Juanda berjalan menuju kami. Dia membawa dua plastik yang sepertinya berisi makanan ringan dan minuman.
"Ohh.. Ada Paula"kata kak Juanda.
"Sore"kataku.
"Ehm.. Sore"balas kak Juanda.
"Hubby... Apa kamu mau kubantu?"tanya kak Ariana pada kak Juanda.
"Oh iya mereka berpacaran ya..., Hubby?? Panggilan apa itu hehe"batinku.
"Tidak perlu Ar, ayo kita pulanng"ajak kak Juanda.
"Ihh Hubby, kan udah ku bilang kalo kamu manggil aku Hubby juga"kata Kak Ariana.
"Hmm.. Iya udah ayo kita pulang Hubby"kata Kak Ariana.
"Pulang? Memangnya kalian tinggal serumah?"tanyaku polos.
"Hahaha maksud Hubby, kita pulang ke rumah mu"jelas Kak Ariana.
"Heh..?"aku memiringkan kepalaku.
Aku bingung dengan penjelasan kak Ariana.
"Gini loh dek.. Jadi mereka mau main ke rumah kita. Kebetulan kita ewat sini, terus si Ari pengen camilan. Ya udah deh si Juan beli di minimarket di depan sana. Terus kita nunggu disini"jelas kakak.
"Ohh.. Gitu..."kataku.
"Ayo deh pulang, hehe"kakak menggandeng tanganku.
"Ihh kakak apaansih, malu tau, Hmphh!!"aku melepas genggamannya.
"Huhuhu padahal kamu su.."
Aku segera memotong omongan kakak.
"Udah ayo pulang"kataku.
Aku berjalan duluan di depan mereka.
"Ayo paulaa tahann. Maaf kak, lain kali saja saat tidak ada orang yang lihat"batinku.
Bersambung...