
Hari ini hari kamis, hari yang paling aku senangi. Kenapa demikian, karena aku hanya di sekolah sampai jam 12 siang. Sehingga aku punya banyak waktu untuk diriku sendiri.
"Paulaaaa...."Sapa Michaela.
"Ada... apa??"tanyaku.
"Kamu belum ngasih id line kamu, huhuhu. Selama ini aku berusaha bicara sama kamu, tapi kamu sibuk terus"
"Oh iya, ehmmm maaf, sebentar ya..."
Aku mengeluarkan hpku. Aku menunjukan id lineku pada Michaela dan dia langsung menambahkanku.
"Akhirnya... Hehehe"
"Kalau gitu aku duluan ya"aku beranjak dari kursiku.
"Kamu hari ini sibuk?? "tanya Michaela.
"Ehmm.. I..iya nih... hehe, selamat tinggal"aku pergi meinggalkan Michaela.
"Bye!! Bye!!"Michaela melambaikan tangannya padaku.
"Dijemput lagi?"Tanya Tommy dari belakang pada Michaela.
"Iyaa nih"kata Michaela.
"Telat lagi??"
"Kayaknya sih iya"
"Mau kutemenin??"
"Ga usah Tom.. Makasih"Michaela tersenyum.
Lalu mereka berdua pergi meninggalkan kelas bersama. Walau Michaela bilang seperti itu Tommy tetap saja menunggu Michaela untuk dijemput di tempat dia biasa menunggu.
"Ahhh senangnyaaa.. Akhirnya aku bisa ngunjungin tempat ini"kini aku sudah berada di depan arena permainan.
Sudah lama aku ingin pergi kesini tetapi selalu tidak sempat. Terlihat dari luar, bahwa sekarang tempat ini tengah ramai. Aku memasuki tempat itu. Aku pertama pergi ke kasir untuk membeli koin. Satu koin seharga 5000 rupiah, aku membeli sebanyak 5 koin terlebih dahulu. Mungkin aku akan membeli lagi jika aku ketagihan bermain.
"Hehehe akhirnyaaa.. Hmm mari kita lihat. Coba apa dulu yaaa??"kataku.
Aku melihat-lihat sekeliling, banyak mesin permainan dengan berbagai macam tipe permainan, tetapi hampir semua sedang di gunakan. Pilihan pertamaku jatuh kepada mesin capit. Mesin capit itu berisi boneka-boneka kecil yang sangat lucu. Mulanya aku memilih targetku, tak perlu waktu lama aku sudah jatuh hati pada boneka berbentuk koala warna biru itu. Tetapi boneka itu tertindih boneka yang lain, sehingga aku membutuhkan tehnik khusus untuk mendapatkannya.
"Oke percobaan pertamaa.... Semoga dapat"aku memasukan koin pertamaku.
Aku menggeser capit ke kanan lalu ku geser ke belakang dan hap!!. Capit kuturunkan.
"Ahh.. Ga dapet"aku hanya menggeser boneka di atasnya.
Tak apalah akan lebih mudah untuk mendapatkannya. Koin kedua ku masukkan, aku mengulangi hal yang kulakukan tadi. Sial!!, hasilnya sama seperti awal.
"Aku pengenn itu... Tapi dapetinnya susah. Kalo aku mainin ini terus nanti ga bisa mainin yang lain..."kataku.
Aku berfikir sejenak, akhirnya aku memutuskan untuk menyerah saat ini dan mencobanya di akhir nanti saat akan pulang.
"Kak.. Ayo main ini!!!. Aku pengen boneka itu kak!!"seorang anak kecil menarik tangan seseorang yang sepertinya kakaknya?.
"Engga kak, aku pengen main itu. Main balapan sama kakak. Yang itu ajaa..."anak kecil yang lain juga menarik tangan orang yang sama ke arah lain.
"Engga Dan, kita harus kesitu dulu"
"Ihh Dinaa kan aku dah bilang tadi, kita main game balapan dulu"
Mereka saling menarik orang itu ke arah berlawanan. Aku ingin tertawa melihat tingkah laku mereka tapi aku juga kasihan dengan kakaknya.
"Haha"aku tertawa kecil.
Akhirnya si perempuan menang dan mereka menuju kesini. Ke mesin capit boneka.
"Kakak... Mainnya udahan dongg... Dina sama kakak Dina mau main nih"kata anak bernama Dina.
"Adek mau main??"tanyaku.
Dia mengangguk, aku melihat sang anak laki-laki cemberut berada di belakang punggung si kakak. Aku pergi meninggalkan mereka untuk memberinya ruang bermain.
"Kamu baik-baik disana yaa... Nanti aku balik lagi kok"batinku. Aku melambai pada mesin capit itu.
...
Aku membeli 5 koin lagi, tersisa 2 koin lagi. Selain koin, aku juga memiliki banyak tiket yang dapat ditukarkan. Aku mendapatkan tiket dari hasil bermain beberapa permainan tadi.
"Wahh... tiket kakak banyak banget"seorang anak kecil menghampiriku.
"Ini bocah tadi bukan sih?"batinku.
Mereka adalah orang yang sama dengan yang tadi.
"Ehh.. Kakak yang tadi, wahhh banyak banget tiketnya. Nih liat kak punya Dina cuman segini"kata Dina.
"Hahaha.. Punyaku banyak juga dong"Dani memamerkan tiketnya yang lebih banyak dari Dina.
"Wuuuu.. Itu kan kamu dibantuin kak Juan, makanya bisa dapet banyak"sorak Dina.
"Bentar... Bentar... Juan?? Apa pria itu kak Juanda Dirgantara?"batinku.
"Oh.. ternyata bener kamu"kata pria itu.
"Hehh?? maksud anda apa ya?"tanyaku.
Dia membuka maskernya, benar itu kak Juan yang ku kenal. Teman sekampus kakak. Pasti dia kesini menemani adiknya bermain. Kakak yang perhatian sekali dia.
"Loh kak Juan!!"kataku.
"Ehmm.. kakak kenal kak Juan?"tanya Dina.
"Ohhh apa jangan-jangan kakak ini kak Ari yaaa?? Pacar
kak Juan"mendengar ucapan Dani aku dan kak Juan kaget.
"Bukan kok"aku dan kak Juan berbicara barengan.
"Hmm masa sih dia kak Ari??"Dina melihat ku dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Ciri-cirinya sama seperti yang kak Juan sering bilang. Hanya saja dia rata seperti triplex haha"kata Dani.
"Iya yah... Kakak ini rata. Kak nanti kalau kakak punya anak gimana beri ASI nya kak? Soalnya punya kakak beda sama kaya punya Mamah Dina"tanya Dina polos
"Shhhh Dina, Dani kalian ngomong apa sih. Kasian tuh kakaknya mau nangis dibilang rata. Ya walaupun dia rata kalian ga boleh gitu"kata Juan membekap mulut kedua anak itu agar berhenti bicara
Seketika hatiku sakit mendengar kata 'Rata'.
"Iya..iya aku rata. Ga usah diperjelas juga. Diulang sampai tiga kali lagi. Kak Juan juga ikut-ikutan"batinku.
"Ahh.. Ha ha ha"
"Cup Cup"tiba-tiba kak Juan menepuk-nepuk pelan
kepalaku. Seketika mukaku memerah
"Wahh kakak seperti bunglon bisa berubah warna"kata Dani.
"Iyaa kakak menjadi merah, kak Juan Dina bisa jadi merah juga ga??"tanya Dina.
"Ahh.. Maaf reflek"kata kak Juan yang segera mengangkat telapak tanganya dari kepalaku.
"Ehmmm pengen pulang aja deh rasanya"batinku.
"Ehmm.. Tami mana ya?"Dina seperti mencari sesuatu.
"Tami?? Bonekamu?"tanya kak Juan.
"Iya kak.. Tami mana?? Kak Juan liat ga??"Dina kebingungan mencari bonekanya yang hilang.
"Dan.. Jangan aneh-aneh deh. Balikin bonekanya Dina"suruh kak Juan.
"Dani gak ngumpetin kok kak. Kan daritadi dipegang terus sama Dina"kata Dani.
"Ehm... Apa mungkin jatuh kali?"dugaku.
"Ahhh kak Juann.. Tami dimana huahhhhh.. TAMIIII!!!!! DINA MAU TAMII!!!"Dina menanagis.
Mendengar tangisannya, orang-orang disektar melihat ke arah kami. Aku bisa mendengar ada yang berkata kasihan, kami orangtua yang buruk karena tidak mengizinkan Dina bermain dan lain-lain. Aku bisa menerima perkataan yang lain tapi tidak dengan 'Orang Tua'. Apakah orang yang berkata itu tidak bisa membedakan gadis dan ibu-ibu. Berbeda dengan ku, kak Juan malah tertawa mendengar kata itu. Aku tidak tau apa yang dia pikirkan setelah mendengar kata itu. Yang jelas aku hanya melihat tawa anehnya. Disisi lain Dani berusaha menenangkan Dina, segala cara ia coba. Seperti memberi permen dan tiket yang ia dapat tapi Dina tetap saja tidak diam. Aku bingung bagaimana menenangkannya karena tidak pernah berurusan dengan anak kecil, makanya aku hanya bisa berkata 'cup cup' pada Dina.
Kak Juan berjongkok dan memeluk Dina untuk menenangkannya
"Kok tuan putri nangis?? Kalo tuan Putri sedih, Pangeran juga ikut sedih. Jadi tuan Putri jangan sedih lagi ya"kak Juan berkata seperti itu dengan lembut sembari mengusap rambut Dina.
"Hiks.. Hiks... Dina ga mau kak Juan sedih. Oke deh Dina gak nangis lagi"kata Dina. Dia berdiri dari duduknya dan mengusap air matanya.
"Nahh gitu dong.. Coba deh tuan Putri senyum, pasti cantik banget. Bahkan bisa mengalahkan kecantikan kakak ini"kata kak Juan lagi.
Mendengar itu Dina langsung tersenyum lebar agar dibilang cantik oleh kak Juan. Setelah tenang, kami ber-empat berpencar mencari Tami, boneka Dina yang hilang. Aku dengan Dani dan kak Juan dengan Dina. Sekitar 15 menit aku mengitari seluruh arena permainan ini. Tapi baik aku atau Dani tidak melihat Tami. Kami bahkan mencari di sela-sela antar mesin dan kolong-kolong mesin tapi kosong disana.
"Gimana nih kak, Tami ga ada dimana-mana"kata Dani.
"Ehmm.. Ya udah kita balik aja dulu ke kak Juan sama Dina, mungkin dia udah menemukan Tami"
Aku dan Dani balik ke tempat semula.
Bersambung...