
Akhirnya, kakak menyalakan kembali lilinnya. Kak Juan meniupnya lagi,
"Dihh.. Jangan ditiup setan! Capek nih nyalain"kata kakak.
"Hahaha.. Maaf maaf"
Kak Juan menjauh dari lilin. Kakak pun menyalakannya kembali dan kali ini dia melindungi api menggunakan kedua telapak tangannya.
"Awas aja klo mati atau ditiup lagi"kata kakak.
Kak Juan menggelengkan kepalanya memberi tanda bahwa dia tidak akan iseng lagi. Setelah merasa aman, kakak membuka kedua telapak tanggannya dan cahaya lilin itu seketika menyinari ruangan ini. Tetapi, terjadi sesuatu yang membuatku merinding. Seluruh liilin di kamarku tiba tiba saja mati. Tidak mungkin kan Kak Juan meniupnya satu persatu.
"Juan.. Jangan main-main lah. Astaga kamu gabut banget apa?"kata kakak mengomeli kak Juan.
"Ehh engga kok jar, daritadi aku ngerangkul tangan Hubby kok. Dia ga kemana-mana"bela kak Ari.
"Tidakk..tidak...tidakk... Itu bukan itu kan? Iya kan? Haha"batinku.
"Paula minjem hpmu dong, batre hp kakak abis nih"kata kakak dengan tanpa sengaja memukul kepalaku.
"Aww kak sakit, tangannya diem aja. Hp ku juga mati"kataku menjauhkan tangannya.
"Yee maaf hehe, hoi pasangan mesum. Minjem hp kalian buat penerangan"kata kakak.
"Ehh.. Enak aja pasangan mesum. Ga ada hp, hp kita mati semua"kata kak Ari.
"Lah emang pasangan mesum kok. Pasti sekarang kalian berdua pelukan sangat erat kayak kena lem"kata kakak.
"Hehehe iya sih, tapi tetep aja kita ga mesum, hmphh.."jawab kak Ari.
"Ini kenapa semua hp pada mati!!! Ampun deh..."kata kakak dengan nada kesal.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki. Aku merasa suara itu berasal dari luar kamarku. Aku meyakinkan diriku bahwa itu adalah ibu, karena satu-satunya orang di luar kamarku hanya ibu atau mungkin itu ayah. Suara itu lama kelamaan semakin terdengar jelas dan mendekat ke kamarku.
"Hubby.. Itu siapa? Tante kah?"kata kak Ari yang masih memeluk kak Juan.
"Aku ga tau.. Kalo aku tau pasti aku kasih tau"kata kak Juan.
"hishh Hubby"kata kak Ari.
"Paula!! Ibu dibawah kan tadi?"tanya kakak.
"Iyaa ibu di ruang tamu tadi nungguin ayah"kataku.
"Mungkin itu ibu"kata kakak.
"Buu.. Ibu!! Apa ibu di luar"teriak kakak.
Tidak ada jawaban, lagipula jika itu memang ibu seharusnya terlihat cahaya senter atau lilin. Tetapi di luar hanya ada kegelapan.
"Bu??!! Ibu jangan bercanda dongg!!"kataku.
Tetap saja hanya keheningan yang terasa. Setelah itu terdengar suara ketukan pintu.
"Loh.. Bukannya ibu tinggal masuk saja ya? Kenapa ini malah ketuk pintu dahulu?"batinku.
"Ibu jika ingin masuk, ya masuk aja. Gak perlu ketuk pintu bu"kata kakak.
KRETT!!! pintu kamar ku terbuka, aku tidak bisa melihat siapa sosok yang membuka pintu.
"Bu.. Ibu bisa tolong nyalakan lilin di kamar ini? Ibu bawa senter kan?"pinta kakak.
Tak ada jawaban, aku berpikir ibu? Hanya terdiam di depan pintu.
"Bu??"tanyaku memastikan.
Rasa penasaran menghantui ku, akhirnya aku berjalan menuju pintu dengan bersandar pada tembok sebagai penuntun. Setelah merasa sampai aku mencari-cari ibu, tetapi aku tidak menemukan siapapun. Aku hanya dapat merasakan pintu, tidak ada siapapun di depan pintu.
"Kak.. Ga ada siapa-siapa disini"kataku.
"AHHHH HANTUUUUU!!!!, Hubby aku takut..."teriak kak Ari.
"Paulaa.. Jangan bercanda dong, lagi gelap nih"kata kakak.
"Ihh.. Serius kak"kataku.
"Oke sudah malam, selamat tidur. Mimpi indah gaes" kataku.
Aku melakukan ini karena aku takut, dengan tidur aku akan melupakan rasa takutku.
"Dehh kok kamu malah tidur sih, jangan ninggalin kita dong"kata kakak.
Aku tidak mendengarkan perkataan kakak dan mencoba memejamkan mataku.
"Hishh.. Paulaa!!"teriak kakak.
"Percuma!! Ini percuma, aku tidak akan bisa tertidur jika kakak tetap berisik"batinku.
Akhirnya aku memakai earphone dan mendengarkan musik yang dapat membantuku tidur dan menghalau suara mereka. 30 menit telah berlalu, Aku tetap berusaha untuk tidur, aku tidak peduli dengan mereka semua. Sudah cukup lama aku mencoba untuk tidur, tapi tetap saja aku tidak bisa memejamkan mataku. Mungkin saja ini karena aku takut, atau masih ada orang di kamarku. Aku mencari posisi yang nyaman untuk aku tidur. Akhirnya aku memiringkan badanku ke arah luar kasur. Yang tadinya berisik sekarang sudah cukup tenang.
"Hmm.. Kak?"kataku.
"Apaa?"katanya.
"Masih disini toh?"kataku.
"Iyalah.. Kan ga bisa keluar ini gelap. Si Ari dah tidur"kata kakak.
"Kenapa dia bisa sedangkan aku enggak?"batinku.
Sekali lagi aku mengubah posisi tidurku menjadi miring ke dalam.
Tak lama setelah itu, akhirnya listrik menyala kembali. Aku pun membuka selimut ku dan
"AAAAAAA!!!!!"
Aku kaget melihat sosok didepan mataku, wajahnya putih, rambutnya panjang. Aku segera meloncat dari kasur dan sembunyi di balik badan kakak.
"Apaan sih dek?"kata kakak.
"Itu kak di kasurku"kataku menunjuk sosok di kasurku itu.
"Ya ampun, itu ibu de. Astaga, ibu ngapain disini?"kata kakak.
Ibu beranjak dari kasurku dengan wajah tersenyumnya, dan berdiri di di depan kami sekarang. Setelah itu, Aku melihat kak Ari terbangun dan dia melihat ibu yang masih dengan penampilannya itu.
"Hantuuu!!!, hubby tu ada hantuu!!"kata kak Ari. Dia memeluk kak Juan karena ketakutan.
"Hahaha.. Nak Ari ini tante yang cantik bukan hantu kok"kata ibu.
"Iya ri itu ibunya Fajar. Dia kayaknya cuman mau nakutin tadi"jelas kak Juan.
"Hehehe.. Iya nih, tante bosen nungguin ayahmu, jadi tante iseng deh ke kalian, maafin tante ya"jelas ibu.
"Jadi dari tadi itu ibu?"kataku.
"Iya nak, dan sebenarnya, ibu sudah lama tidur denganmu tadi"kata ibu.
"Insiden semua lilin mati itu ibu juga yang lakuin?"kata kakak.
"Ohh kalau itu ibu gak tau menau. Mungkin karena angin jadi mati"kata ibu.
"Ya udah ibu turun dulu ya, ibu sudah puas hehehe"kata ibu berlalu meninggalkan kamarku seperti tanpa dosa.
"Masa iya sih angin matiin semua lilin?, sekenceng apa sih anginnya? Perasaan, tadi ga ada angin sama sekali deh"kata kakak.
"Bener kamu jar, apa jangan-jangan?"kata kak Juan.
"Iya juga, jendela masih tertutup tuh. Walaupun kebuka anginnya tidak akan sekecang itu dan kami pasti bisa merasakan anginnya"batinku.
Kami berempat saling menatap. Setelah itu, kami lari pergi meinggalkan kamar setelah melihat lilin yang jatuh sendiri.
Setelah itu ayahku pulang. Kak Juan dan kak Ari berpamitan pulang karena sudah larut malam, mereka diantar oleh kakak menggunakan mobil ayah. Aku belum berani ke kamarku karena insiden tadi.
"Masa iya sih kamarku ada hantunya? Ga asik banget ih"batinku.
Aku menonton tv berusaha untuk menghilangkan ingatan kejadian saat mati listrik.
Bersambung...