Paula

Paula
Chapter 28



"Hahh.. Hahh..."


"Paula kamu ada disini?? Sejak kapan?? Aku tidak melihatmu daritadi"tanya Michaela.


"Sepertinya dia dari dalam kolam"Tommy menunjuk kolam.


"Kamu ga papa?"Michaela membantuku naik ke atas.


"Tak apa.. Aku hanya berlatih menahan nafas"kataku.


"Kamu kesitu hanya untuk itu saja?"tanya Michaela.


"Ehmm sebenarnya a..aku kesini mau latihan renang. A..aku sengaja datang saat tak ada orang lagi di sekolah"jelasku


"Tapi..., jika kalian ingin menggunakannya silahkan saja. Aku akan pergi"


"Hmmm baiklah jika itu maumu"kata Tommy.


"Tidak apa kok la"kata Michaela. Tommy agak mebelalakkan matanya mendengar itu.


"Kita berenang bersama saja?? Berdua dengan Tommy memang menyenangkan tapi jika ada orang lain akan tambah menyenangkan"lanjutnya sembari tersenyum.


"Tapi..."


"Udah ayoo..."Michaela menarikku ke tepi kolam.


"Kita ga jadi tanding nih??"tanya Tommy.


"Ohh jadi dong.. Paula bisa kah kamu menjadi jurinya??"


"Ehmm baiklah"kataku.


"Nih pegangin"Tommy menyerahkan hpnya.


Pada layar hpnya sudah nampak Stopwatch, sepertinya dia menginginkan ku untuk menghitung waktu renangnya. Mereka berdiri di tepi kolam dengan posisi siap melompat. Untuk pertandingan pertama mereka berlomba gaya dada lalu gaya kupu-kupu, gaya bebas dan terakhir gaya punggung.


...


Pertandingan selesai, semua gaya dimenangkan oleh Tommy dalam kecepatan. Tapi soal kehindahan aku lebih suka Michaela. Wajar saja jika Tommy menang karena lawannya adalah seorang perempuan. Terlihat Michaela agak sedikit kecewa tapi Tommy dengan mudahnya membuat Michaela tersenyum kembali.


Setelah itu mereka istirahat, aku menceburkan diri ke kolam lagi. Melihat itu Michaela ikut menceburkan diri juga dan kami bermain air bersama. Michaela mengajariku bagaimana agar dapat mudah mengambang di air dan tidak tenggelam. Kami melakukan kegiatan ini hingga petang.


Selasa Minggu ke 3 di Bulan Juli, kak Ben mengajarkan kami gaya yang lain. Mulanya dia menjelaskan secara teori lalu lagi-lagi dia menyuruh Michaela untuk memperagakannya. Aku heran kenapa Michaela mau saja disuruh olehnya. Padahal jika mau, kak Ben bisa melakukannya. Kan dia lulusan terbaik dari kampusnya.


Gaya yang kami pelajari sekarang adalah gaya punggung. Menurutku lebih susah dari gaya yang minggu lalu. Sepintas sebuah pemikiran muncul di kepalaku.


"Kenapa kita ga pelajari dulu gaya dada sampai mahir. Kenapa harus belajar gaya punggung juga??. Aku pikir masih banyak yang belum terlalu mahir berenang gaya dada. Aku ingin protes sama kak Ben"batinku.


"K..kak Be.."


Belum selesai aku berbicara seseorang sudah memanggilnya duluan. Dia menyampaikan persis seperti isi kepalaku. Mendengar itu kak Ben agak kaget karena ada yang mengomentarinya tapi dia memberikan alasan kenapa dia mengajarkan gaya berbeda hari ini. Cukup lama kami berdebat dan pada akhirnya kak Ben tetap menjalankan rencananya. Mau tidak mau kami harus mengikuti keinginannya. Menyebalkan sih, tapi ya mau gimana lagi. Apa yang ia ajarkan tidak salah hanya saja, sebagian murid di kelasku mengalami kesusahan dalam mempelajari gaya renang dada. Jika mereka di ajarkan suatu hal yang baru lagi mereka akan semakin terbebani.


"Sudahh.. Pelajari saja. Ayo absen pertamaaaaa!!"teriak kak Ben.


Kali ini aku hanya mojok di sudut yang orang tidak akan menyadarinya. Aku memikirkan bagaimana nasibku. Yang gaya dada saja aku masih seperti itu, ini ditambah lagi gaya punggung. Aku membenamkan kepala diantara kakiku. Aku menghela nafas berat. Cukup lama aku seperti ini hingga aku merasa sesorang memperhatikanku.


"Hoi"aku mendengar suara laki-laki berada di dekatku.


Aku mengangkat kepala dan melihat itu Tommy. Aku bertanya-tanya bagaimana dia bisa menemui ku disini.


"To..Tommy? Bagaimana kamu menemukanku?"tanyaku.


"Michaela sedari tadi mencarimu. Dia terlihat khawatir karena absennya dirimu"katanya.


"Ehmm kenapa dia seperti itu?"batinku.


"Ayo kembali, jangan salah sangka. Aku melakukan ini hanya untuk membuat Michaela tenang"dia berjalan duluan.


Untuk apa aku mendengarkannya, aku sudah nyaman disini. Lagipula, Michaela tak perlu mengkhawatirkanku. Aku tidak biasa diperhatikan orang asing. Yahh walaupun Michaela teman sekelasku, tapi dia tetap orang asing bagiku.


Tak lama seseorang berlari ke arahku, itu Michaela.


"Hahhh kamu disini, ayo kita kembali"dia menarik tanganku.


"Kenapa?"tanyanya.


"Kenapa sih kamu selalu baik padaku? Tolonglah aku tidak suka kamu bersikap itu padaku"kataku.


"Aku..."


"Aku hanya ingin berbuat baik saja padamu. Apakah itu salah??"


"Salah!!"kini aku berdiri di hadapannya.


"Paula!! Apa salahnya Michaela bersikap itu?? Seharusnya kamu berterimakasih padanya. Kamu lupa?? Kemarin dia membantu berlatih"kini Tommy ikut berbicara dan mendekati kami.


"Tommy, kamu tidak boleh berteriak pada perempuan. Paula, jika aku ada salah aku minta maaf"


"Tolonglah!! Jangan pernah berbuat baik padaku. Dan untuk yang kemarin aku tidak meminta Michaela membantuku, dia yang ber-inisiatif. Aku tidak mau berhutang budi padamu jadi tolong jangan berbuat baik padaku, membantuku, atau apapun itu"kataku.


"Udahlah kita pergi saja dari sini Michaela. Perhatianmu sia-sia hanya untuk orang seperti ini"Tommy menarik tangan Michaela.


"Sebentar Tom, Paula.., aku merasa kamu sangat aneh hari ini?? Apakah kamu tidak enak badan sehingga membuatmu tak nyaman?"tanyanya.


Aku melihat wajahnya yang sangat khawatir, terlihat matanya berkaca-kaca.


"Aku sehat!! Kalau kamu tak mau pergi aku saja yang pergi"aku meninggalkan mereka berdua.


Untung saja kini giliranku latihan. Begitu selesai aku segera pergi dari tempat itu dan menuju kelas.


Hari Jum'at..


Sepanjang hari Michaela terus menggangguku. Dia bilang inilah itulah. Aku melihat wajah Tommy yang kesal. Aku mengabaikannya dengan pergi ke tempat yang tidak dia ketahui.


"Maaf" hanya kata itu yang kuucapkan saat ini.


"Aku hanya ingin sendiri. Sejak awal aku memang ingin sendiri. Biarlah perintah ayah tidak aku selesaikan. Aku hanya ingin sendiri"batinku


Aku memejamkan mataku. Sembari mengingat tentang perkataan kak Ben tentang renang.


Tak lama setelah aku memejamkan mata, aku merasakan benda dingin di pipiku. Aku kaget dan segera membuka mataku. Vero yang menempelkan sekaleng minuman dingin ke pipiku. Lalu dia memberi minuman itu padaku. Dia lalu duduk di sampingku dan meminum minuman yang lain.


"Kamu kenapa??"tanyanya lembut.


"Tak apa"


"Masa?? Ah aku tahu..."


"Kamu... Pasi mengantukk hahaha.. Soalnya aku melihatmu memejamkan mata sangat lama"lanjutnya


"Jadi kamu sudah lama disini?"tanyaku.


"Ehmm jadi sebenarnya..."


10 menit sebelumnya, di sebuah jalan dekat taman belakang sekolah...


"Broo kemana aja si kamuu... Kita jadi jarang latihan dengan anggota lengkap"kata Rendy.


"Iya nih.. Apa kamu kencan terus dengan Tanya?"tanya Dion.


"Biasaa.. Papaku semenjak pulang dari Amerika selalu ingin bersamaku..."kata Vero.


"Eitss bentar bentar..." Vero menengok ke arah kanan. Sepertinya dia melihat seseorang yang ia kenal disana.


"Kalian duluan aja ya bro.. Aku ada urusan sebentar"kata Vero.


"Yaudah kita tunggu di kelas ya"kata Rendy.


Dion dan Rendy pergi meninggalkan Vero di belakang. Vero pun pergi menghampiri gadis yang duduk di kursi bawah pohon besar itu.


"Ahh.. Paula ternyata, sedang apa dia disini?? Apakah dia tidur?"batin Vero.


Vero terus memandangi Paula yang tengah terdiam itu. Dia berniat mencubit pipi Paula tapi dia mengurungkan niatnya. Lalu dia pergi membeli minuman dan Paula membuka matanya berkat minuman yang Vero tempelkan pada pipi Paula.


Bersambung...