
( Sudut Pandang Paula )
Tak lama, seseorang berteriak dari luar memanggil namaku. Aku yakin itu pasti Vero. Sebelumnya aku bertanya padanya apakah masih ada di sekolah atau di rumah. Kenapa aku bertanya itu, karena belum lama dia mengupload foto tengah bermain gitar dengan latar dinding yang sangat ku kenal. Iya itu dinding ruangan latihan band Adorez. Melihat itu aku jadi menghubunginya dan meminta bantuan untuk membukakan pintu.
Oh ya... Sudah sekitar 1 jam aku di ruangan ini bersama Michaela. Aku baru sadar setelah aku mengecek hp. Kami tidak tersadar akibat asik mengobrol bersama.
"Paula.. Dan Kamu, Michaela kan?"kata Vero yang sudah berada di ruangan ini.
"Ahh.. Terimakasih sudah membukakakn pintunya untuk kami"kataku.
"Ahh iya.. Aku Michaela, makasih ya Veri?? Hehe"kata Michaela
"Aku Vero. Ingat itu V, E, R, O, Vero hahaha"
"Oh iya.. Bapak yang mengunci kalian tadi menitipkan maafnya padaku. Dia tidak mengecek dulu apakah masih ada orang di dalam atau kosong. Jadi, bapak itu tidak sengaja mengunci kalian. Tolong dimaafkan ya dan jangan marah"lanjut Vero
"Engga kok.. Aku maafin"kataku
"Aku juga pasti maafin si bapak"kata Michaela.
"Ya sudah kalau begitu aku balik duluan ya. Aku masih ada tempat yang harus ku kunjungi. Kamu jika tidak ada urusan segeralah pulang ya Micha. Pasti tante Farah mengkhawatirkanmu"kataku.
"Aha.. Tunggu aku akan bilas dengan cepat. Bisakah kalian menungguku?"
"Ahh.. Kamu udahan berenangnya. Sepertinya kamu baru sebentar renangnya??"tanyaku heran
"Ahaha.. Tak apa.. Aku sudah senang bisa mengobrol dengamu lagi Paula hehe "katanya tersenyum.
"Ya sudah.. Aku ganti ya, jangan ditinggal!!"dia berlari meninggalkan aku dan Vero.
"Ah... Sepertinya aku paham apa yang menganggumu tadi siang. Hahaha"celetuk Vero.
"Jangan sok tau deh"kataku.
"Hmmm... Aku senang kamu udah bisa senyum lagi. Daritadi cemberut terus"dia mengelus rambutku.
Dan seperti yang biasa terjadi, pipiku memerah. Aku memalingkan wajahku agar Vero tak melihatnya. Sebenarnya aku ingin melepas tangannya, tapi entah kenapa aku senang dielus seperti ini. Dulu saat kakak masih di rumah, dia sering mengelus rambutku. Tapi, karena kami sudah jauh jadi jarang sekali dia mengelus rambutku.
Terdengar getar hp, sepertinya itu hp Vero karena hp milikku aku aktifkan suaranya. Dia mengambil hpnya dan membaca pesan masuk.
"Ahh.. Menganggu saja ini anak berdua"eluhnya.
"Paula.. Ahh maaf sekali aku harus meninggalkanmu sendiri, tak apa kan?? Maaf banget ya" lanjutnya.
"Tak apa kok Ver, sekali lagi makasih ya".
"Ya sudah.. Aku pergi dulu ya, jangan nangis loh hehe"
"Ihh apaan si. Udah sono pergi"kataku
Dia pergi meninggalkanku sendiri, dan aku masih menunggu Michaela keluar dari kamar ganti. Kami keluar bersama. Saat sampai di gerbang aku melihat tante Farah. Aku menyapanya dan segera pergi. Dia mulanya menawariku untuk pulang bersama, tapi aku menolak karena saat ini aku belum mau pulang.
Keesokannya...
Aku bangun dari tidurku, jam 12 siang. Yaps, aku segera turun untuk makan dan kembali ke kamar. Aku melihat hpku, terdapat notifikasi pesan dari Vero
Vero memberitahuku bahwa kami harus berkumpul jam 10 di depan alamat yang sudah dia bagikan padaku. Aku dan Michaela pergi bersama menaiki kendaraan umum. Perjalanan kami memakan waktu 1 jam. Tepat jam 10 kita sampai di depan kolam renang itu. Terlihat sudah ada Tommy. Vero dan temannya. Selain itu ada Tanya juga dan aku melihat ada seorang perempuan lainnya yang tidak ku kenali.
"Akhirnya kalian sampai, kalau begitu ayo kita masuk sekarang. Aku sudah tidak sabar ingin mencoba semua wahana disini"kata Vero bersemangat.
"Ahh.. maaf ya kalo kita lama"kata Michaela.
"Iyaa.. kalian lama banget sampai hitam kulitku nih nungguin kalian"kata Tanya.
"Ahh.."Michaela terlihat lesu
"Engga kok.. kalian kan sampai tepat waktu, kami aja yang datengnya kecepetan haha"kata Vero
"Ayo la.. semangat kita mau berenang loh"kata Tommy
"Paula.. kamu cocok kalo di kuncir seperti itu"kata Vero tersenyum.
Akupun tersipu malu mendengar pujian darinya.
...
Kami menaruh barang kami terlebih dahulu di tempat penitipan barang agar tenang saat kita tinggal berenang. Aku pergi dengan Michaela serta Tanya menuju ruang ganti wanita. Perempuan yang sedari tadi selalu dekat dengan Vero, juga ikut bersama kami.
"Ehh.. Paula.. Jangan ke senengan ya. Cuman karena dipuji sama Vero seperti tadi"kata Tanya dengan nada cukup tinggi.
"Maksudmu apa Tanya??"tanyaku.
"Alah!! ga usah sok ga tau deh. Kamu pasti sekarang udah mulai suka kan sama Vero"katanya.
"Inget baik-baik, jangan merasa istimewa hanya karena Vero baik sama kamu, Vero selalu muji kamu, Dan hal lain yang bisa buat kamu tersipu. Karena apa?? Dia berkelakuan seperti itu ke semua perempuan. Jadi jangan sok kecentilan"katanya.
"Tahan Paula.. Tahan"batinku.
"Iya.. aku sadar diri kok. Lagian Vero kan udah punya pacar"kataku
"Lagipula aku tidak semudah itu jatuh cinta dengan orang hanya karena kebaikannya saja dan apalagi dia sudah jadi milik orang lain"lanjutku.
Aku berlalu sambil menarik Michaela menjauh dari Tanya. Aku tidak ingin emosi ku terpancing, jika aku terus di dekatnya mungkin saja dia sudah ku hajar daritadi. Tapi aku menahan itu hanya karena Vero. Aku tidak enak dengannya
Petualangan kami dimulai dari mencoba satu persatu seluncur yang ada disini. Dari yang terpanjang sampai yang tertinggi. Aku sangat beruntung bisa datang kesini, perkataan Tanya yang tadi saja sudah menghilang dari otak ku. Kami sangat bersenang-senang disini, hingga lupa waktu. Tak terasa tempat ini sudah mau tutup saja. Vero masih sangat betah disini sehingga cukup sulit membujuknya pulang. Tapi, saat hendak pergi kami berpapasan dengan pemilik tempat ini. Ya itu temannya ayah Vero. Sehingga mereka saling kenal. Dia berkata bahwa kita bisa berenang lebih lama lagi disini selama 1 jam. Tak ingin membuang waktu lebih lama kami segera menceburkan diri lagi ke kolam dan bermain main lagi.
Disini kami tidak hanya bermain tapi juga belajar beberapa gaya renang. Kalau aku sih tinggal mendalami saja gaya dada dan Punggung terlebih dahulu. Michaela dengan sabar mengajariku sepenuh hati. Dia tak memarahiku jika aku berbuat salah, Dia bahkan langsung mencontohkan yang benar. Aku sangat mengerti setelah diajari Michaela daripada ajaran kak Ben yang berbelit-belit. Kami pulang diantar oleh Vero menggunakan mobil pribadinya karena dia yakin bahwa aku dan Michaela capek sehingga tak tega membuat kami pulang sendiri menggunakan kendaraan umum. Tommy tidak ikut karena arah rumahnya berlawanan dengan arah rumah kami.
Saat di mobil aku masih bertanya-tanya siapa gadis yang duduk di depan itu. Saat aku hendak menanyakannya, Michaela sudah mengeluarkan rasa penasarannya.
"Ehmm.. Vero.. Wanita cantik itu siapa?"tunjuk Michaela pada kursi depan.
"Kepoo ya.. hahaha"Vero tertawa
"Ihh Vero.. aku ingin berkenalan dengan kakak yang sangat cantik seperti putri salju itu"katanya lagi.
"Ahaha apakah aku memang secantik itu?"
Suara itu berasal dari depan, tidak mungkin suara sefeminim itu milik pak supir. Pasti itu kakak yang tadi.
Bersambung...