
Ternyata itu ibu, ia membawa nampan yang berisi kue yang kak Juan bawa tadi dan dua gelas serta 1 botol minuman soda. Melihat itu kak Juan segera menaruh album itu dan membantu ibu. Lagipula untuk apa kak Juan menyembunyikan album di punggungnya. Mungkin dia hanya kaget karena melihat tanpa izin. Ibu melihat kak Juan yang tengah melihat album. Dia pergi lalu kembali dengan beberapa album lagi. Ibu malah menunjukan lebih banyak fotoku dan kakak pada kak Juan. Tak berselang lama kakak kembali dan ikut melihat lihat album yang dibawa ibu.
"Tuh liat!! Aku dari dulu tuh udah ganteng hahaha"
Kakak memperlihatkan fotonya saat SD bersama teman teman cewenya.
"Iya iya kamu ganteng... Tapi walau ganteng kamu jomblo tuh haha masa kalah sama aku yang biasa aja"ledek kak Juan.
"Bener kata nak Juanda, Jar haha.. Mana nih calon menantu ibu"ibu ikut-ikutan menggoda kakak.
"Apaan sih bu.. Kan aku nanti akan menikahi Paula hahaha, dia yang meminta pas kecil"kata kakak.
"Hish.. Ibu serius. Yang kamu bawa ke rumah selalu cowo. Satu-satunya cewe yang kamu bawa hanya Ariana. Sayang Ariana udah punya pacar, jadi kamu harus cari yang lain haha"kata ibu.
"Ahh.. Tentu saja, aku akan membawakan menantu idaman ibu. Hanya untuk sekarang aku harus lulus dulu dengan nilai memuaskan. Mendapatkan pekerjaan yang aku impikan. Membahagiakan kalian bertiga. Menikahi Paula deh hahaha"
"Ihh kamu gitu, gimana kalau Paula denger, dia akan malu mendengarnya"kata ibu mencubit lengan kakak.
Kak Juan hanya bisa tertawa melihat tingkah laku kakak dan ibu.
"Sudah terlambat bu, aku sudah mendengar semuanya"kataku tiba-tiba dari pintu.
Sebelumnya...
Setelah selesai membersihkan jendela di bawah. Aku berencana membersihkan jendela di atas, saat aku ke atas aku melihat kamar kakak terbuka dan terdengar suara tawa dari dalam. Aku penasaran apa yang terjadi di dalam jadi aku mengintip dan mendengar semua.
"Ara... Yang di omongin dateng"kata ibu.
"Ibu mau kabur ahhh"ibu berdiri dan pergi keluar, dia mengusap rambutku sebelum pergi.
"Hmph"
Aku kesal dengan kakak, kenapa harus membicarakan hal memalukan itu di depan kak Juan. Kak Juan juga malah tertawa mendengarnya. Aku memasang ekspresi sebal seraya memasuki kamar kakak. Aku juga menghentakkan kaki ku agar memberitahu bahwa aku sedang marah.
"Calon pengantinku datang!! Sini duduk samping kakanda haha"goda kakak.
Aku tak menghiraukannya dan menuju ke arah jendela. Aku mulai melakukan pembersihan pada jendela kamar kakak. Mereka melanjutkan perbincangan tadi. Aku sengaja membuat suara decitan agar mereka merasa terganggu. Tapi itu gagal, mereka tetap asyik mengobrol.
"Jadi tuh.. Pas aku masih SMP, si Paula nonton kartun di tv. Nah ada adegan pernikahan karakter utamanya. Dia bilang katanya dia mau pake gaun cantik seperti itu dan mau menikahi seseorang yang Paula cintai"
"Tapi... Karena cowo yang Paula ketahui hanya aku dan ayah jadi dia menyuruhku berjanji untuk menikahinya karena dia takut dengan cowo yang lain yang belum ia kenal. Hahaha lucu banget kan dia. Aku masih inget ekspresinya pas bilang itu padaku"kata kakak.
"Hahaha.. Ternyata kamu juga lucu pas kecil la, ga beda jauh si sama si Dina. Dia juga minta aku buat jadi Pangeran berkudanya. Anak kecil emang gemesin ya"sahut kak Juan.
Seluruh wajahku panas dan memerah saat ini. Aku sangat menyesal pernah berkata seperti itu saat kecil. Yang lebih ku kesalkan kenapa aku harus meminta pada kakak yang orangnya sangat menyebalkan itu. Aku terus membuat decitan agar kakak berhenti membicarakanku.
"Wahh wahh dia marah tuh"kata kakak.
"Kamu dulu lah jar, inget umur hahaha"kata kak Juan.
"Ahh sebenarnya cewe tuh banyak yang deketin aku an, hanya saja mereka tidak ada yang sesuai tipeku"
"Emangnya tipemu seperti apa Jar?"
"Ehmmm seperti PAULA!! hahaha"
"Hphm.... Aku selesai"aku berteriak dan keluar dengan menghentakkan kaki ku lagi.
"Sudahh jangan goda Paula lagi"kata kak Juan.
"Aku serius an, aku suka tipe cewe yang seperti adikku yang imut itu"katanya.
"Hmmm.. Kalau gitu kenapa kamu ga nyoba aplikasi kencan aja?? Siapa tahu kamu mendapatkan cewe idealmu"saran kak Juan.
"Ehmmm.. Boleh juga sih, tapi aku masih mau berusaha mencari sendiri dulu. Oh iya kita selesaikan sampai sini pembicaraan tentangku. Sekarang ada urusan apa kamu kesini? Yakin cuman mau main doang?"tanya kakak.
"Sebenarnya... Ini tentang Ari, Jar"
Sebenarnya aku belum benar pergi, aku masih bersembunyi di balik pintu untuk menguping pembicaraan mereka. Aku takut kakak akan mengatakan yang tidak-tidak lagi tentangku pada kak Juan. Tapi ternyata mereka malah membahas tentang kak Ari.
"Apa jangan-jangan kak Juan lihat kejadian waktu itu lagi??"aku mendekatkan telingaku pada pintu dan Krett pintunya agak terbuka karena memang tidak tertutup rapat.
"Ahh.. Nanti dulu an, ada tikus yang penasaran nih haha. Sana pergi adikku yang cantik.. Pekerjaan mu belum selesaikan :), tenang saja kakak tidak akan membicarakanmu lagi"katanya dari dalam.
"Sial!! Aku ketahuan"batinku.
Aku mengintip dan pamit.
Karena itu aku tidak bisa mendengar apa yang ingin kak Juan katakan. Walau kamar kami bersebelahan aku tetap tidak bisa mendengar pembicaraan mereka.
"Ya sudahlah aku lanjut bersih-bersih saja"kataku.
Setelah merasa bersih, aku turun untuk membersihkan langit-langit. Tampak banyak sarang laba-laba di setiap sudut. Aku menggunakan sapu khusus untuk membersihkannya, jadi aku tidak perlu naik ke atas kursi/meja untuk membersihkannya. Ibuku terlihat sibuk menyapu lantai sedangkan ayah sibuk mengerjakan pekerjaan kantornya di ruang tamu. Hingga saat ini kak Juan belum juga keluar-keluar dari kamar kakak.
Jam sudah menunjukkan hampir pukul 12 siang. Sudah sekitar 2 jam kak Juan berada disini. Ibu sudah selesai memasak makan siang. Terlihat ibu memasak cumi goreng dan tumis buncis. Dia menyuruhku yang tengah menonton tv untuk memanggil kakak dan kak Juan makan. Aku pun mengiyakan dan berjalan ke atas. Belum sempat aku memanggil kakak dan kak Juan sudah keluar dari kamar. Terlihat kak Juan sepertinya akan pulang. Aku memberitahu mereka bahwa ibu menyuruh mereka untuk makan. Awalnya kak Juan menolak tapi kakak memaksanya dan kami bertiga turun bersama ke ruang makan.
Setelah selesai makan, kak Juan pamit untuk pulang. Kakak juga ikut keluar karena dia ingin membeli sesuatu. Mereka berduapun keluar bersama. Aku kembali ke kamar ku untuk tidur siang. Aku sudah mengantuk sekali, karena kurang tidur.
Terlihat kakak yang sudah berada di depan kamarku. Dia mengetuk pelan pintu kamarku, tetapi aku tak menyahut karena sedang tidur. Setelah lama dia mengetuk dan tak ada sahutan dariku, dia akhirnya pergi tapi sebelum itu dia meletakkan sesuatu di depan pintu kamarku.
Hari sudah menjadi gelap, jam dinding menunjukkan pukul 8 malam, saat ini aku tengah bermain Heaven Light seperti biasa. Sedari aku bangun hingga sekarang aku belum keluar kamar sekalipun. Aku menggunakan headphone yang baru saja ku beli 1 bulan yang lalu, headphone itu berwarna pink dengan hiasan telinga kucing di atasnya. Saat aku tengah bermain, aku samar-samar ada sesuatu yang menghantam jendelaku. Aku tidak memperdulikannya dan terus bermain. Tapi aku tidak bisa fokus, itu terus menggangguku hingga aku akhirnya membuka jendela dan melihat sekeliling. Terlihat ada kepala yang tiba-tiba saja menongol ke atas yang membuatku kaget.
Bersambung...