Paula

Paula
Chapter 29



Kembali ke sekarang...


"Hah.. Terimakasih minumannya"aku meneguk minuman yang dibawa Vero.


"Kamu kenapaa?"Vero menatapku dengan mata sendunya.


"Tak apa.. Sudahlah aku kembali ke kelas saja. Kamu bisa duduk disini"aku beranjak dari kursi.


"Hei.. Maaf jika aku mengganggumu. Kamu bisa tetap disini, aku yang akan pergi"Vero juga beranjak dari kursi.


"Ahh.. Ya sudah selamat tinggal"


"Eh.. Beneran pergi"


"PAULAAA!!! jika kamu ingin cerita, kamu bisa bercerita padaku. Aku siap mendengarkanmu okee"Vero berteriak padaku.


Aku berbalik dan mengangguk, lalu melanjutkan jalanku. Kelas berjalan dengan lancar seperti biasanya, hanya saja aku merasa ada tatapan tak suka dari seseorang. Biarlah aku tak terlalu peduli.


Sebelum pulang aku mampir ke gedung renang, apakah sepi atau ada orang di dalam. Setelah memastikan keadaan sekitar aku mengambil baju renang yang sudah ku bawa setiap hari dalam tas ku.


"Apa ku kunci saja pintu gedung ini?? Agar tak ada orang yang datang??"batinku.


"Sudahlah...jikapun ada yang datang aku akan pergi, aku harus memanfaatkan sebaik mungkin waktu ini"batinku.


...


Kini aku sudah berlatih renang selama satu jam. Jam sudah menunjukan pukul 5 sore. Aku memikirkan apakah aku harus lanjut berlatih atau meneruskannya besok. Aku duduk sembari mengecek hpku. Terdapat pesan dari kak Joseph yang mengirimi ku sebuah video yang sangat lucu. Aku tertawa melihat itu, seketika rasa lelahku hilang. Semangatku kembali lagi dan aku putuskan untuk berlatih 30 menit lagi, lalu mampir ke Toko Buku yang biasa ku kunjungi. Setelah itu pulang ke rumah dan tidur.


...


Aku membilas tubuhku dengan bersih. Aku menyanyikan sebuah lagu yang saat ini tengah terngiang-ngiang di kepalaku. Aku bisa melakukan ini karena aku berpikir aku sendirian disini. Pertama aku tidak akan malu dan dengan bernyanyi aku tidak terlalu merasa sepi haha. Tak terasa aku sudah berada di kamar mandi selama 15 menit. Aku mengeringkan badan serta rambutku lalu pergi dari ruang ganti ini. Tak kuduga, disana ada Michaela yang tengah memakai baju renang. Aku berpaling saat ia menyadari aku melihatnya. Aku segera berlalu menuju ke pintu sebelum sesuatu yang tidak kuinginkan terjadi.


"Paula??"Dia memanggilku.


Aku tetap berjalan menuju pintu. Sepertinya Michaela menghampiriku. Aku berjalan dengan cepat


"Ahhh.. Kenapa pintunya sangat jauh"batinku. Sebenarnya pintunya tidak terletak jauh ini hanya perasaanku saja.


Aku sampai di depan pintu. Aku berusaha membukanya tapi pintu ini tidak mau terbuka.


"Kamu salah, pintu ini ditarik ke samping"kata Michaela di belakangku.


Malunya aku, aku pun menariknya ke samping tapi tetap saja pintu ini tidak mau terbuka.


"Pintu ini belum dibuka kuncinya, kamu harus memutar pengahalang pintu ini"katanya lagi.


Ahhhh... Aku tidak tahan dengan ini..., aku memutar itu. Tetapi tetap saja tidak terbuka. Aku mau menangis saja saat ini.


"Ka.."


"Apalagi.. "kataku memotong bicaranya.


"Kayaknyaa dikunci pakai kunci deh"katanya dengan agak pelan.


"Hmm??"


"Iyaa.. Sepertinya pintu ini sudah di kunci seseorang dari luar menggunakan kunci pintu ini, bukan yang kamu putar tadi"jelasnya.


"Ahhh.."batinku. Aku sudah pusing saat ini.


Michaela mendekat dan menggedor pintu itu. Dia juga berteriak meminta tolong. Aku menjauh untuk memberi dia ruang. Sekuat tenaga dia berteriak tapi tak ada yang mendengar. Aku mengintip dari kaca kecil yang terletak di pintu, keadaan sekitar sangat sepi. Setelah aku selesai, Michaela ikut mengintip juga. Dia berkata mungkin kita harus menunggu hingga seseorang datang. Tapi aku tidak bisaaa... Aku lelah ingin tidur. Aku terduduk di depan pintu sedangkan Michaela pergi. Tak lama kembali menggunakan jaketnya. Dia duduk tak jauh dariku. Aku pikir aku hanya mendengar suara detikan jam saat ini. Hening sekali, tidak ada percakapan diantara kita berdua.


"Hah... Apa Paula masih marah padaku ya?"batinku.


Kini aku dan Paula terjebak dalam ruangan ini. Awalnya aku kesini ingin berenang, tapi setelah melihat ada Paula disini entah kenapa aku sedikit agak canggung. Entah lah ada apa denganku, padahal selama ini aku menganggunya dengan santai. Aku duduk tak jauh darinya yang duduk di depan pintu. Aku mengeluarkan hpku dan mencoba menghubungi Tommy.


"Ahh.. Tommy pergi karena ada urusan pasti saat ini dia sibuk. Lebih baik aku tidak usah menghubunginya"aku mengembalikan hpku ke saku jaket.


Aku melihat Paula tampak gelisah dan yang jelas dia sepertinya tidak nyaman. Aku agak menjauh untuk memberinya ruang.


"Apa yang harus kulakukan"batinku.


"Ehmm Maaf"kata Paula.


Tiba-tiba Paula berkata itu, walau pelan tapi aku masih bisa mendengarnya dengan jelas.


"Maaf?"tanyaku.


"Ahh.. Lupakan saja"


"Paula.. Kamu minta maaf untuk apa?"kini aku memberanikan diri mendekat padanya.


"Ehmm.. Maaf kalau aku udah menjauhi kamu. Ehmm.. Aku menjauhi kamu bukan karena kamu jahat. Hanya perasaanku saja"


"Kalau begitu bisa aku mendekatimu lagi?? Aku bahkan mengharapkan hubungan pertemanan"


"Ahh.. Tidak kamu jangan mendekat padaku. Seperti yang sudah ku bilang aku tidak bisa menerima semua kebaikanmu. Aku tidak mau berhutang budi padamu"dia mengatakan semua hal tadi dengan kepala tertunduk.


Aku mengangkat kepalanya dan membuat dia menatap mataku.


"Aku tidak terlalu paham apa yang kamu bicarakan. Tapi percayalah aku hanya ingin membantumu tidak ada maksud lain. Aku juga tidak mengharapkan sebuah balasan dari sikap baik ku. Aku melakukan semua ini karena keinginanku. Aku ingin baik pada semua orang. Aku ingin berteman dengan semuanya apalagi dengan mu Paula. Tolonglah, biarkan aku membantumu"tak terasa air mataku mengalir begitu saja.


Terlihat dari matanya yang mebelalak setelah mendengar omonganku tadi. Dia melepaskan genggamanku lalu bangkit dari duduknya.


"Ehmm.. Aku takut kamu terluka kelak"


"Jelaskan padaku apa yang membuatku teluka?? Aku tidak berfikir kamu akan bisa melukaiku"aku bangkit juga dan berhadapan dengannya.


"Hahh.. Aku.. Aku.. tidak tahu"


"Lihat.. Kamu saja tidak tahu. Itu artinya kamu memang tidak akan menyakiti orang yang dekat dengamu"


"Tapi.. Sebuah hubungan pertemanan.. Menurutku itu terlalu cepat bagiku. Aku belum bisaa"


"Hmm tak apa... Aku akan menunggumu. Tenang saja, aku akan selalu ada disaat kamu membutuhkan ku. Aku akan membantu dan mendorongmu"aku tersenyum.


"Hmm.. Kalau begitu terimakasih ya Michaela..."


"Panggil aku Micha (Mika)"


"Micha (Mica)?"


"Ahh itupun tak apa hahaha"


"Hahahaha"


Setelah itu kami mengobrol banyak hal. Dari mulai anime yang Paula rekomendasikan sampai Novel yang aku suka. Kami juga membahas soal renang. Aku menunjukan cara yang dapat dipahami pemula untuk berenang dengan gaya tertentu.


Selepas itu Paula menghubungi seseorang. Dia bilang jika orang itu akan segera datang membukakan pintu ruangan ini.


Bersambung...