
Tak berselang lama kami mati karena ledakan bom kak Ariana. Mulanya dia ingin melemparkan bom kepada musuh di depan kami, tetapi dia tidak tahu cara melemparnya sehingga bom itu akhirnya meledak.
"Paulaa!!! Ayo makan malam nak, Ayah membeli makanan jepang"Teriak ayah.
"Takoyaki kah? Atau Yakiniku?"gumamku.
Aku segera turun untuk makan.
"Ternyata sushi toh"kataku dengan wajah kecewa.
"Kenapa kamu ? Tidak suka?"tanya ayah.
"Ehmm.. Bukannya aku tidak suka tapi aku menginginkan yang lain. Tapi, Arigato Gozaimasu Oto-sama hehehe"kataku menunduk.
"Bagaimana sekolahmu nak? Lancarkah?"Tanya Ayah.
"Uhmm.. Lancar"kataku.
"Apa kamu sudah memiliki seorang teman?"tanya ayah.
"Werum, api au uah iak uup agi"kataku dengan mulut penuh makanan.
"Ngomong apa sih kamuu?"tanya ibu. Aku meminum segelas air dan menjelaskan pada ibu dan ayah.
"Belum bu..yah.. Tapi.. Aku sering berbicara dengan orang lain sejak kemarin. Makanya aku sudah tidak begitu gugup jika mengobrol dengan orang"jelasku.
"Hiks.. Anakku. Ibu terhura"ibu menyeka air matanya.
"Hishh ibu.. Biasa saja. Nanti jika aku jarang ngobrol aku akan gugup kembali hehe"kataku.
"Bagus itu paula, kamu sudah ada kemajuan. Saran ayah, carilah teman yang mau berteman denganmu tanpa syarat dan kamu juga berteman dengannya tanpa syarat"kata ayah.
"Maksud ayah?"tanyaku.
"Jadi kamu berteman dengannya karena memang kamu ingin berteman dengannya. Jangan berteman jika kamu hanya ingin memanfaatkan nya karena itu bukan teman namanya."jelas ayah.
"Tentu saja Ayah..., aku akan mengingat apa yang Ayah bilang"kataku.
"Kalau begitu Paula duluan ya yah..bu.."kataku beranjak dari kursi.
"Selamat Malam sayang'kata ibu.
"Selamat Malam nak"kata ayah.
"Selamat Malam"kataku.
Di pagi hari, aku membalas pesan kak joseph karena merasa tidak enak. Kak Joseph menyuruhku datang ke Cafe Book, tetapi dia tidak memberi tahuku apa maksud menyuruhku datang.
"Pokoknya Nona harus datang ya...aku menunggumu. Jika Nona tidak datang, aku akan merasa sedih dan menganggap Nona belum memaafkanku"VN dari Kak Joseph.
"Suaranya kenapa begitu lembut. Beda dengan hari kemarin"gumamku.
Aku pun berangkat sekolah bersama ayah. Sesampainya di sekolah, aku melihat sekumpulan perempuan berada di depan ruang musik. Terdengar suara gitar, drum, keyboard memainkan sebuah instrumen yang menurutku tidak harmonis.
"Astaga.. Ini masih pagi kenapa sudah ada suara bising sih. Pagiku yang indah terganggu dengan band itu. Ah!! aku harus menggunakan earphone sampai bel masuk".kataku mengeluarkan kotak earphone di dalam tas ku.
Saat aku hendak memasangnya di telinga, terdengar suara nyanyian yang begitu indah. Tanpa sadar aku melangkahkan kakiku menuju kerumunan itu. Aku berusaha mengintip yang terjadi di dalam.
"Vero!!"kataku dalam hati. Suaranya begitu indah hingga aku merasa nyaman di hati. Aku terpaku pada nyanyian Vero.
"Ahh.. Dia ternyata punya suara seindah ini"batinkui.
Aku terus menatap Vero, dia menoleh ke arahku dan kami melakukan kontak mata.
"Gawat... Dia pasti berpikir aku terbuai olehnya."kataku dengan wajah memerah.
Dia melihatku dan mengedipkan sebelah matanya. Setelah itu aku langsung bergegas ke kelas untuk tidak menimbulkan pemikiran bahwa aku seperti perempuan-perempuan yang tadi.
Di kelas...
"Hmmm..Hmmm..Hmmm..Hmmm.."bersenandung.
Entah mengapa lagu yang dinyanyikan Vero tadi terngiang-ngiang di kepalaku saat ini.
"Anak-anak, hari ini kita akan melakukan praktik sains di lab dengan kelas 2-5. Ayo kita ke Lab, ketua kelas tolong beritahu anak-anak kelas 2-5... ya untuk segera bergabung"Kata Bu Ami.
"Baik Bu"kata Ketua.
"Tumben kelas gabungan... Aku harap anak kelas 2-5 tidak rusuh"batinku.
Aku yang terakhir pergi dari kelas. Dari belakang aku melihat anak-anak di kelas pergi dengan temannya.
"Hanya aku sendiri di belakang, kesepian... Huhuhu."kataku.
Di Lab...
"Baiklah, ibu akan membagikan kelompok yang terdiri anak kelas 2-1 dan kelas 2-5. kelompok 1 Ardhito kelas 2-1, Arya kelas 2-1... Dan kelompok 10 ada Paula Kelas 2-1, Bagas Kelas 2-1, Vero kelas 2-5, Tanya kelas 2-5, dan Guntur kelas 2-5. Baiklah semua sudah dapat kelompok kan?, apakah ada yang belum?"Tanya Bu Ami.
"Bu.. Saya mau sama Vero dan Tanya. Saya bisakan bu pindah?"kata seorang cewe yang adalah Cindy.
"Jika kamu ingin pindah kamu bisa bicara langsung dengan kelompok tersebut dan salah satu anggotanya harus bersedia bertukar denganmu."jelas Bu Ami
"Eh..!!! Lo yang kemarin kan? Lo sekelompok sama Vero ya?? Tukeran sama gue dong. Gue ga mau sekelompok sama orang yang mukanya bodoh kaya gitu"kata Cindy padaku dan menunjuk salah satu anak cowo di kelompoknya mungkin?.
"Hah?.... Emangnya aku sekolompok sama... Vero ya??"tanyaku.
"Cindy.. Kamu ga boleh gitu"kata seorang cowo dari belakangku, dia adalah Vero.
Aku reflek menengok ke arah suara itu. Vero tepat berada di belakangku.
"Wahh... Dia tinggi sekali"gumamku dalam hati.
"Kamu harus berbaur dengan yang lain dan tidak boleh menghina orang begitu"kata Vero dengan lembut.
"Tapi ver.. Tanya.. Ayolah bilang sama Vero biar gue masuk ke kelompok lo"kata Cindy.
"Vero... Biarin aja Cindy disini. Lagipula Paula..., iya kan nama lo Paula? Sepertinya dia tidak keberatan"kata Tanya dengan manja.
"Ehmm..ba.."kataku terputus.
"Engga, lain kali aja ya Dy"jelas Vero.
Cindy balik ke kelompoknya dengan wajah kecewa.
"Baiklah apakah sudah selesai?"tanya Bu Ami pada kelompok kami.
"Sudah bu"Jawab Vero.
"Baiklah kita mulai praktik hari ini. Semua alat dan bahan serta langkah kerja sudah ibu tulis di kertas yang ada di meja kalian. Sekarang kalian bisa siapkan alat dan bahannya."kata Bu Ami.
"Baik Bu!!'kata semua orang.
"Ambil sesuai dengan Arahan ya. Hari ini kita akan melakukan 5 eksperimen yang berbeda dan kalian harus mencoba semuanya. Tuliskan reaksi apa yang terjadi pada eksperimen yang kalian lakukan dan mengapa itu bisa terjadi"
"Lalu. tuliskan mana dari 5 eksperimen yang kalian sukai beserta alasannya. Jika ada yang tidak dipahami kalian bisa menanyakannya pada ibu"jelas bu Ami.
"Aihh.. Aku tidak mengerti ini. Paula!! Apa kau mengerti ini"Kata Vero menyerahkan kertas langkah kerja padaku.
"Hmm... Mari.. Kita coba"kataku.
Kami membagi tugas, Tanya menulis laporan, Vero dan Bagas menyiapkan alat dan bahan, mereka juga yang akan membersihkannya. Sedangkan aku dan Guntur melakukan eksperimen.
...
Saat ini kami sedang melakukan percobaan yang ketiga. Selama ini kami melakukannya dengan lancar tanpa hambatan.
"Vero.. Aku bosan"Kata tanya merangkul lengan Vero.
"Tanya.. Jangan begitu. Disini sempit nanti kalau kamu menyenggol tabung reaksi ini gimana?"kata Vero berusaha melepas tangan Tanya.
"Engga akan kok sayang..."kata tanya yang masih bermanja dengan Vero.
"inggi ikin kik siying.. Hilih kimprit"gumamku dalam hati.
"Bukannya ngelakuin hal berfaedah malah pacaran"batinku.
Dan ya.. Apa yang dibilang Vero menjadi kenyataan.
"Prankk!!"
Badan Tanya menyenggolku yang sedang memegang tabung reaksi dan tabung reaksi itu pun jatuh. Untung saja tabung reaksi itu kosong, tapi itu tidak mungkin. Aku tadi sedang menggoyangkan cairan yang ada dalam tabung reaksi dan cairan itu mengenai tanganku.
"Aduh... Ahh panas"kataku kesakitan.
"Tuh kan Tanya apa aku bilang... Paula kamu gapapa?"Kata Vero.
Dia melihatku, segera aku menutupi lukaku dan dia menarik tanganku untuk melihatnya.
"Duh.. Maaf ya, makanya kamu kalo megang sesuatu yang bener, sayang ngapain kamu megang tangan dia!!! Nanti juga Bu Ami dateng buat nolong"kata Tanya.
"Eh nenek lampir, ini bukan salah gue ya.. Lo nya aja yang rusuh"batinku.
"Dih apaan sih Nya.. Ini kan gara gara lu"Kata Guntur.
"Bu.. Paula terkena cairan kimia"Kata Bagas.
"Ya ampun... Vero kamu bisa antar paula ke UKS?"Kata Bu Ami.
"Bu.. Kenapa ga ibu aja.. Kenapa Veroo?? Nanti nenek lampir itu akan semakin membenciku"gumamku dalam hati.
"Tidak apa kok bu... Saya.. Bisa sendiri"kataku.
"Engga.. Aku akan temanimu"kata Vero.
"Tapi.."kataku.
"Ga ada tapi tapi. Ayo!"Vero menarik tanganku yang satunya dan pergi meninggalkan lab.
"Pasti ini ulahmu ya!!"Kata Bu Ami pada Tanya.
"Enggak kok bu.. Kok saya. Paulanya aja yang megangnya gak bener"kata Tanya membela
"Ibu tadi melihat kamu bercanda dengan Vero, dan ibu juga melihat kamu yang nyenggol badan Paula. Kamu yang berbuat kamu yang bertanggung jawab. Tolong bersihkan ya..."Kata Bu Ami.
"Ayo yang lain lanjutkan percobaannya."Kata Bu Ami lagi.
"Hishh... Guntur bantuin dong"Kata Tanya.
"Ogah ah.. Gue mau lanjutin percobaannya"kata Guntur..
Bersambung...