
Sabtu dini hari...
"Eslante Derum Xia"
Aku mengucapkan suatu mantra pada PR ku. Tidak ada yang terjadi, PR ku masih kosong tak ada isinya. Mantra itu aku ketahui dari anime yang kutonton malam tadi. Aku baru menyelesaikan season pertamanya, masih ada 2 season lainnya. Mantra yang kuucapkan tadi berarti "Selesailah". Jika mantra itu bekerja di dunia nyata, hidupku akan sangatlah mudah.
"Aku Paula!! Aku adalah penyihir terhebat dari Negri Angin. Kalian semua tidak ada yang sebanding denganku!!!"
Kataku memperagakan salah satu penyihir dalam anime yang kusebutkan tadi. Setelah menonton anime itu sejak pulang sekolah hingga jam 2 pagi. Aku merasa bahwa aku terjerumus ke dalam dunia anime itu. Petualangan para penyihir cantik dan hebat mengalahkan Kaisar Merah. Aku sejak kecil ingin sekali mempunyai kekuatan sihir seperti Sailor Moon. Tapi apa daya, ini dunia nyata. Aku dulu merengek pada ibuku untuk membelikan tongkat dan baju yang dikenakan Sailor Moon. Aku juga menginginkan rambutku diwarnai kuning agar terlihat semakin mirip. Aku berfikir bahwa jika aku berpenampilan sama dengannya aku akan seperti dia. Ok back to present, aku melihat jam di dinding. Pukul 4 Pagi!!!!!, aku berniat akan mengerjakan prku setelah menonton anime. Tapi, hingga sekarang pikiran ku masih buntu, hampa, kosong.
Sebenarnya ini untuk selasa depan, hanya saja aku tidak betah jika masih ada tugas yang belum terselesaikan. Aku merasa terbebani sekali. Ibu yang mengajariku begitu.
"Jika kamu punya urusan yang harus diselesaikan, segeralah selesaikan maka itu kamu akan bahagia dan tidak terbebani"kata ibu saat 7 tahun yang lalu.
Untuk menfokuskan pikiranku, aku mendengarkan musik yang cukup membuatku jedag jedug hehe. Jika aku mendengarkan musik slow, aku akan tertidur.
(Hikaru Nara - Goose House)
Kimi da yo kimi nanda yo oshiete kureta
Kurayami mo hikaru nara hoshizora ni naru
Kanashimi wo egao ni mou kakusanai de
Kirameku donna hoshi mo kimi wo terasu kara
source: https://www.animesonglyrics.com/your\-lie\-in\-april/hikaru\-nara
Aku menyanyikan lagu itu sambil menggoyang-goyangkan pulpen yang tengah kupegang. Setelah lagu itu berakhir aku mematikan lagunya dan mulai mengerjakan PR.
Di pagi hari.. tepatnya pukul 9 pagi
"Sayang!! Ayo bangun, udah siang nih"kata ibu,mengetuk pintu kamarku.
Aku masih tertidur dengan lelapnya di ranjang kesayanganku. Aku bahkan lebih memeluk erat gulingku.
"Paula Mawar Haris jika kamu tidak keluar sekarang kamu akan tahu akibatnya!!"teriaknya.
Aku merasa pernah mendengar perkataan itu sebelumnya, aku merasa dejavu.
"Satu!!! Dua!!!"
"Iya iya aku udah bangun bu"
Aku bangkit dan membuka pintu. Jika aku telat aku rasanya tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ibu tersenyum melihat ku sudah keluar kamar. Ibu tidak biasanya membanguniku ketika libur sekolah. Tapi, hari ini pengecualian karena hari ini hari bersih-bersih. Mendengar kata bersih-bersih dari ibu aku segera pamit ke dalam untuk tidur kembali. Saat aku akan menutup pintu, ibu menahan pintunya agar tidak tertutup.
"Ara... Ara... Ayo tuan Putri, ayah dan kakakmu sudah mulai bersih-bersih. Ayah mencuci mobil. Kakak menyapu halaman. Ibu akan mengepel dan menyapu rumah. Dan tuan Putri mengelap kaca diseluruh rumah dan membersihkan langit-langit"
"Ibuu aku pusing nih, ahh kayaknya panas juga deh"
Aku berbohong untuk tidak ikut bersih-bersih.
"Ohh anakku yang cantik demam kah?? Hmm. Baiklah bersih-bersih adalah obatnya. Jika kamu berkeringat kamu akan cepat sembuh hahaha"
"Cepat ganti pakaianmu, habis itu turun untuk makan. Baru setelah itu kamu bisa mulai bersih-bersih"ibu tersenyum padaku.
"Iya iya.. Ibu pergi saja sebentar lagi aku turun"
10 menit kemudian...
"Paulaa!!!! Ibu saat bersih-bersih nemu komik di ruang tengah. Ini di jual gapapa kan??. Apa?? Boleh?? Oke ibu pisahkan ke barang yang akan di jual"teriaknya dari luar.
"Ahhh jangan bu jangan!!!"kataku keluar dari kamar.
Aku segera mengambil komik yang ada ditangan ibu.
"Kenapa kamu belum ganti baju?? :)"
"Ya sudah, ayo turun sekarang... Tak perlu ganti pakaian"
Ibu menarikku keluar kamar, aku melempar komikku kedalan dan menutup pintu. Aku melihat ayah dan kakak baru saja masuk. Sepertinya, mereka sudah selesai bersih-bersih.
"Tuan Putri baru bangun yahh!! Para pembantunya sudah selesai bersih-bersih"ejek kakak.
"Apaan sih kak hpmh"aku memalingkan wajahku.
"Ayo nak makan dulu"kata ayah.
"Baik yah"
Aku mencuci wajah dan buang air kecil dulu. Habis itu aku makan. Hari ini ibu hanya menyediakan roti panggang dengan telur mata sapi. Aku memakannya dengan agak malas, aku melama-lamakan makanku agar aku bisa masih lama bersih-bersihnya. Tapi ibu menyadarinya dan menyuruhku untuk makan dengan benar. Ibu tersenyum dengan sorot mata yang tajam saat mengatakan itu padaku. Melihat itu aku lebih baik segera bersih-bersih daripada mendengar ceramahnya.
Akhirnya aku selesai makan. Aku mengambil alat pembersih seperti semprotan sabun dan pembersihnya. Pertama aku membersihkan kaca yang ada di luar. Matahari hari ini sangat terik membuat aku cepat berkeringat.
"Hah... Mataharii... Panas.... Bagaimana jika kulitku terbakar. Orang-orang akan tahu nanti jika aku adalah vampir"aku mengeluh sendiri.
Aku kembali ke dalam dan mengambil payung yang biasa ku pakai. Lalu aku mulai membersihkan kaca, kali ini aku sungguh-sungguh membersihkan kaca. Tidak ada kata nanti atau alasan lain yang dapat menghambatku. Lebih cepat aku menyelesaikan ini lebih cepat aku akan kembali ke ranjangku.
"Permisi..."seseorang berkata demikian dari luar pagar.
Aku mengabaikannya dan lanjut bersih-bersih.
"Permisii..."katanya lagi.
"Permisi Paket!!!"katanya.
Mendengar itu aku menengok untuk melihatnya. Dia bukan kurir paket melainkan kak Juan.
"Dek!!!, Bukannya di ambil paketnya malah diem aja"kata kakak.
"Paket apaan?? Orang itu kak Juan"kataku pelan.
Kakak menuju gerbang dan menyapa kak Juan. Lalu dia mengajak kak Juan masuk ke dalam. Aku melihat dia membawa sesuatu. Dari baunya, sepertinya itu kue.
"Eh nak Juanda!! Ayo sini duduk nak"kata ibu.
"Siang Tante, Om. Ini ada oleh-oleh dari Paman"kak Juan memberikan kotak itu pada ibu.
"Ohh makasih ya nak sudah repot-repot membawakan kemari"kata ibu.
"Tidak apa-apa Tante.., Juanda sekalian mau main sama Fajar. Boleh kan Tan??"tanya kak Juan.
"Ohh tentu saja boleh. Fajar ajak nak Juanda ke kamarmu sana. Nanti ibu bawakan camilan dan minuman untuk kalian"
"Oke bu... Ayo ke kamarku"
Kakak dan kak Juan pergi ke atas. Kamar kakak berada di samping kamarku.
"Aku mandi dulu ya, gerah banget nih. Keringetan!! Kamu disini aja ya, jangan kemana-mana"kata kakak.
"Oke.. Jar"
Kakak mengambil handuk dan bajunya, lalu pergi ke bawah untuk mandi. Sementara aku masih melakukan kerja paksa di bawah sinar matahari yang terik ini. Kak Juan melihat-lihat foto yang terpajang di rak dekat lemari baju kakak. Ada banyak foto disana, dari kakak kecil hingga dia dewasa. Bahkan terdapat beberapa foto dia dengan kak Juan yang sepertinya belum lama diambil. Terlihat juga foto kakak dengan kak Ari bersama teman sekelasnya saat masih SMA. Kak Ari terlihat sangat tomboy dengan rambutnya yang pendek. Kak Juan tertawa melihatnya.
Dia melihat sebuah album foto di samping foto tadi. Dia membukanya dan melihat foto kakak saat bayi, di bawah foto kakak terdapat sebuah foto bayi lainnya. Bayi ini mirip kakak tetapi mengenakan baju lain, dilihatnya keterangan pada bawah foto. Itu adalah aku, Paula saat bayi. Entah mengapa, kak Juan menatap foto itu cukup lama. Lalu, dia membalikan halaman yang lain. Itu foto kami sekeluarga saat liburan di kebun binatang. Aku menangis saat itu karena melihat kakak seperti gorila dan dia menakutiku. Dia tertawa melihatnya. Di bukanya lagi halaman selanjutnya, halaman sebelum halaman terakhir dia melihat kakak dan kak Ari berfoto bersama saat kelulusan. Di foto itu, kakak memeluk erat kak Ari sambil berpose ke kamera. Kali ini kak Juan diam melihatnya, mungkin dia iri atau cemburu. Entahlah hanya dia dan tuhan yang tahu.
Krettt
Seseorang membuka pintu kamar. Dia segera menyembunyikan album itu di balik punggunya.
Bersambung...