Paula

Paula
Chapter 21



Terlihat kak Juan dan Dina sudah disana. Aku melihat wajah sedih menghampiri Dina lagi. Sepertinya mereka juga tidak menemukan Tami.


"Ketemu?"tanya kak Juan. Aku menggeleng


"Hikss Tami..."


"Hmm.. Ya udah kakak ambilin lagi, gimana mau??"tawar kak Juan.


"Tapi kak.. Emang ada yang mirip seperti Tami??"tanya Dina


"Ada kok, yaaaa paling hanya beda warna. Ayo kita lihat dulu. Semoga aja ada yang sama persis seperti Tami"kak Juan menggandeng Dina dan Dani pergi ke Mesin Capit.


Aku sedih melihat Dina yang seperti itu. Sekali lagi aku mencari sendiri ke setiap sudut arena permainan ini.


"Ohh iya aku ga tau Tami itu bentuknya gimana. Dani tadi juga ga kasih tau"


Aku balik lagi ke tempat tadi. Saat aku hendak balik tiba-tiba di depanku seorang anak kecil berlari sangat cepat, itu Dina.


"Dinaa tunggu"terdengar teriakan kak Juan. Dibelakang kak Juan dan Dani tengah berlari menyusul Dina. Aku pun mengikuti mereka juga.


"Tami!! Tami!!"Dina meneriakan nama Tami.


Aku melihat Dina mengejar seorang anak kecil yang tengah membawa sebuah boneka. Aku tidak tahu pasti boneka itu Tami atau hanya mirip. Yang tahu pasti itu Tami adalah mereka.


"Jangan bawa Tami pergii!! Balikin Tami"Dina menarik tangan anak itu hingga bonekanya terjatuh.


"Dekk.. Apa apaan sih. Ga diajarin sopan santun ya. Tuh liat boneka anak saya jadi jatoh, kotor kan"omel seorang wanita yang sepertinya ibu anak tersebut.


Dina dan anak itu mengambil Tami bersamaan. Tak ada yang mau saling melepaskan.


"Balikin!! Ini boneka aku"kata anak itu.


"Ini Tami!! Kamu pasti ngambil Tami aku!!'


"Enggak!! Ini boneka aku!! Aku dapet boneka ini!!"


Melihat boneka itu akan robek, Dina dengan terpaksa melepaskan genggamannya. Anak itu terjatuh dan menangis


"Huahhh Mama... Dia jatuhin aku huahhh"teriak anak itu.


"Dek!! Kamu ga usah jatuhin anak saya juga dong!!"ibu itu membantu anaknya berdiri.


"Tapi.. Tapi.. Dina ga se..."


"Halahh!! Kamu pasti sengaja kan. Cup cup nak"omel ibu itu.


"Bu.. Maaf tapi adik saya memang ga sengaja buat anak ibu jatoh"kak Juan menyela dari belakang. Aku dan Dani ikut menimbrung


"Betul bu.. Sepertinya Dina melihat boneka itu akan robek jika dia terus menariknya. Mau tidak mau agar tidak robek dia melepaskan genggamannya"kataku membela Dina.


"Kalian ini siapa hah?? Ngapain ikut campur"Omel ibu itu dengan nanda tinggi.


"Saya kakak dari anak ini. Sudah sepantasnya saya membelanya karena dia tidak salah"kata kak Juan.


Aku merangkul Dina untuk menenangkannya. Setelah agak tenang dia membisikkan sesuatu pada kak Juan.


"Kamu yakin Din??"tanya kak Juan.


"Iya kak. Dina yakin"


"Bu.. Sepertinya boneka yang anak ibu pegang itu milik adik saya"


Entah mengapa dimataku saat ini kak Juan sangatlah keren. Dia tidak terbawa emosi nya dan menanggapi ibu itu dengan biasa. Raut wajahnya tidak menunjukan wajah marah sedikitpun.


"Tidak mungkin, saya yang lihat sendiri anak saya dapat dari mesin capit. Bagaimana kamu bisa mengaku ini punya adik kamu??"


Dina membisikan sesuatu lagi pada kak Juan


"Saya punya bukti kalau itu punya adik saya. Ibu bisa lihat di pita boneka itu. Tertulis nama adik saya 'Dina'. Adek bisa tolong ambil pitanya?"pinta kak Juan pada anak itu.


"Ehmm.. Hmm.. I..iya"


"Hahaha.. Anda bohong, ga ada apapun di pita ini. Sudahlah ayo kita pergi nak. Buang-buang waktu saja, nanti kita jahit lengannya"kata ibu itu menggandeng anaknya pergi.


Ibu itu menjatuhkan pita itu ke lantai dan aku mengambilnya.


"Din.. Kakak tau kamu depresi dan sedih kehilangan Tami. Tapi, kamu ga boleh mengakui barang yang bukan milikmu. Ayo kita minta maaf, sebelum anak itu pergi menjauh"kata kak Juan.


"Tapi kak.. Dina ga bohong"Dina masih mengelak.


"Udahlah Din.. Ayo minta maaf"Ucap Dani.


"Kak.. Kakak percaya sama aku kan??"Dina melihatku dengan ekspresi sedih. Aku hanya terdiam.


Aku memeriksa kembali pita tadi. Memang benar tidak ada tulisan di Pita itu. Tapi saat aku membaliknya ada tulisan 'Dina'. Dina tidak berbohong. Aku memberitahu kak Juan akan hal itu. Dengan cepat kami berlari mengejar ibu dan anak itu. Kak Juan menjelaskan semuanya pada ibu itu dan memperlihatkan pita itu lagi padanya. Kali ini ibu itu hanya terdiam, dia tidak bisa mengelak lagi. Dengan terpaksa anak itu menyerahkan boneka itu pada Dina tapi dia merusak boneka itu karena kesal. Lengan boneka itu putus, si anak langsung lari pergi. Ibunya segera minta maaf pada kami, sepertinya dia tidak bisa menahan malu sehingga dia segera pergi. Orang-orang yang melihat ini, berbisik-bisik menyalahkan ibu itu. Aku dan kak Juan pergi dari tempat ini agar Dina dan Dani tidak mendengar perkataan mereka.


"Kak liat Tami balik lagi, Aku seneng banget deh"Dina menunjukkan Tami yang tanpa lengan kirinya padaku.


"Jaga baik-baik ya jangan kamu lepasin lagi"kataku mengelus rambutnya.


Kucrukk.. Kucruk...


Terdengar suara aneh...


"Suara apa tuh?"tanya Dani.


"Hehe.. Itu suara perut kakak. Kakak laper nih hehe"kataku.


"Suaranya lucu.. Kucruk.. Kucruk"kata Dina.


"Mendengarnya perutku ikutan bunyi deh"kata Dani mengelus perutnya.


"Kalian makan gih sana.. Ajak kak Juan makan. Kalau gitu aku pamit ya kak, Dina, Dani"kataku.


"Kakak mau kemanaa?? Ikut kita makan aja"kata


"Ahh aku ga mau ganggu kalian"kataku.


"Ayo la ikut kita makan aja. Aku traktir sebagai ucapan terimakasih"kata Kak Juan.


Aku melihat puppy eyes pada Dina dan Dani. Melihat mereka aku tidak bisa mengatakan tidak. Akhirnya, aku setuju untuk ikut bersama mereka. Kita menuju sebuah restoran cepat saji yang tak jauh dari arena permainan ini. Hanya berjalan sekitar 10 menit kami pun sampai. Terlihat restoran itu cukup ramai.



"Wahhh baunya enak"kata Dani.


"Iya nih.. Hmmmm aku jadi pengen cepet-cepet makan"kata Dina.


Kami menuju tempat pemesanan. Kami melihat-lihat menu yang tersedia. Aku melihat es krim yang sangat menggoda. Es krim rasa Blueberry dengan toping saus caramel.


"Kak!! Kak!! Dina mau yang itu. Yang ada mainannya. Dina mau yang Putri itu"kata Dina.


"Dani juga kak!! Dani mau yang Pangeran buat jagain Dina"kata Dani.


Mendengar itu, aku dan kak Juan tersenyum.


"Kalo kamu la mau apaa?"tanya kak Juan.


"Aku mau es krim Blueberry itu sama Paket yang itu"


Aku menunjuk menu yang ku pesan, kak Juan mengangguk lalu masuk ke antrean.


"Yang antre kakak saja. Kalian bertiga bisa cari meja yang kosong, oke??"kata kak Juan.


"Siap Boss!!!!"kata Dani dan Dina serempak.


Kami bertiga pergi dan mencari meja kosong.


Bersambung...