Paula

Paula
Chapter 22



Aku melihat sekeliling, tampak ada meja yang baru saja kosong. Aku, Dina dan Dani segera menuju kesana. Dani dan Dina duduk di depanku, terlihat mereka tengah asyik bermain bersama. Sembari menunggu kak Juan datang aku bermain game di hpku. Melihat aku tengah asyik bermain. Dina dan Dani mengangguku dan meminta agar dipinjamkan hpku untuk bermain. Karena masih dalam mode asyik-asyiknya aku tidak bisa meminjamkan hpku pada mereka. Terlihat wajah mereka menjadi murung mendengar perkataanku. Tetapi, mereka tak menyerah. Mereka tetap menggangguku sampai kak Juan datang menghentikan mereka.


"Dani.. Dina.. Ngapain kalian gangguin kak Paula?"tanya kak Juan.


"Dina sama Dani mau main game yang ada di hp kak Paula, Kak! Tapi kak Paula tidak mengizinkan kami bermain..."kata Dani.


"Ehm.. Tapi kan tadi aku masih ditengah permainan jadi ga bisa minjemin ke kalian"kataku.


"Hmm.. Kalian ga boleh ganggu orang ya... Kalau mau main kan bisa nunggu kak Juan"kata kak Juan.


"Paula maaf yah, ayo yang lain minta maaf juga"lanjutnya.


"Kami minta maaf kak Paulaaaa..."kata mereka berdua.


"Gapapa kok, nanti kalo kalian bisa habisin makannya kak Paula pinjemin hpnya deh"tawarku pada mereka.


Terlihat wajah mereka yang ceria kembali mendengar itu. Mereka menyetujui persyaratanku dan memakan dengan lahap makanan yang dibawa kak Juan.


"Duhh nurutnya hehe"batinku.


Aku sangat gemas melihat tingkah mereka. Kak Juan duduk disampingku. Kami semua memakan makanan yang sudah tiba. Aku tak tau mengapa, tapi Dina terus melihat ke arahku. Aku agak risih dilihat olehnya tapi apa alasan dia melihatku seperti itu. Saat ini aku tengah memakan es krim ku. Saat aku menaruhnya di meja, Dina fokus kembali pada makanannya, saat aku memakan es krimku kembali dia melihatku lagi.


Ahh, aku mengerti sekarang. Sepertinya Dina menginginkan es krim yang kumakan. Aku menawarkan es krimku pada Dina, awalnya Dina ingin mengambilnya tapi kak Juan melihatnya dan tidak jadi diambil. Akhirnya aku menyuapinya saja tapi nanti setelah dia selesai makan ayamnya.


"Ehmmm enak kak, seger banget"katanya memakan eskrim.


"Oh yaaa.. Kamu suka rasa blueberry juga?"tanyaku .


"Aku suka semuaaaaa... Rasa manis, aku juga suka kak Paula. Karena kak Paula manis!!! Hehe"katanya.


"Ahh.. Hehe"pipiku memerah mendengar kata polosnya.


"Kak, aku ke toilet dulu ya mau cuci tangan"kataku beranjak dari tempat duduk.


"Ikut kak!!"kata Dina segera berdiri juga.


"Dani sama kak Juan nanti ya"kata kak Juan.


"Oke deh"kata Dani.


Aku menggandeng Dina dengan tangan yang bersih. Kebetulan toilet tidak terlalu ramai jadi kami tidak perlu lama mengantre.


"Tunggu sebentar ya sayang, aku buang air kecil dulu"kata seorang perempuan.


Perempuan itu memasuki salah satu bilik toilet yang kosong. Tak lama perempuan itu keluar, kini dia berada di sampingku. Aku melihat wajahnya dari cermin didepanku, dia kak Ari.


"Kak tungguin Dina ya!! Udah kebelet nih"Dina memasuki bilik toilet.


"Ehmm kak Ari"sapaku.


"Ohh Paula?? Kamu makan disini?? Sama siapaa??"dia melihat ke arahku dan memelukku.


"Ahh.. Apa aku bilang saja aku makan sama kak Juan?? Tapi aku tidak ingin menyusahkannya"batinku.


"Sama saudaraku kak.. Yang tadi baru saja pergi"


"Ohh anak kecil tadi??"


"Iyaa.. Kak Ari sendiri disini sama siapa??"


"Ohh aku sama temen kampus kesini, sekalian ngerjain tugas"


"Ohh sebentar ya"katanya pada seseorang.


Aku menengok ke belakang hanya terlihat punggung seorang pria. Setelah kak Ari selesai mencuci tangan dia pamit pergi.


"Paulaa.. Aku duluan ya!! Dadah"Dia melambaikan tangannya dan pergi dari toilet.


Aku melihatnya pergi dengan pria yang tadi ada di depan. Aku masih menunggu Dina keluar dari toilet.


"Ahh mungkin itu teman yang kak Ari maksud. Jangan berfikir negatif dulu la"batinku. Aku menepuk-nepuk pipiku.


Kami kembali ke meja makan. Aku bingung memberitahu tentang kak Ari atau tidak. Tapi, sebaiknya aku simpan saja untuk diriku sendiri. Mungkin, kak Juan sudah diberitahu oleh kak Ari. Atau dia melihatnya sendiri. Setelah kak Juan dan Dani kembali dari toilet kami pulang ke rumah bersama.



Langit sudah berwarna jingga, Matahari sudah rendah. Kami sudah sampai di daerah rumah kami. Saat melewati taman, Dina dan Dani ingin bermain disana. Sebenarnya aku ingin pulang, tapi lagi-lagi aku dipaksa kedua bocah ini untuk bermain bersama. Kami berempat bermain bersama, terlihat dari wajah kak Juan bahwa dia malas bermain, tetapi demi Dina dan Dani dia terpaksa untuk menikmati. Kami bermain petak umpet. Kali ini giliran aku yang berjaga.


"Aku hitung sampai 10 yah. Satu.... Dua..."


Mereka bertiga menyebar untuk bersembunyi di sekitar taman.


"Baiklah kita cari mereka"


Pertama aku mencari disekitar kubah yang ada di tengah taman, tetapi tidak ada siapapun disana. Lalu aku mencari di sekitar pepohonan sebelah barat tapi tidak ada.


"Apa mereka ngumpet di tempat sampah ya?? Ehh tapi ga mungkin lah"batinku.


Walau aku tahu itu tidak mungkin terjadi, tapi aku tetap mencari di segala tempat sampah yang ada tetapi tidak ada juga. Sudah 10 menit aku mencari tetapi aku tidak bisa menemukan mereka.


"Dinaaa!!! Dani!!!! Kak Juan!!!! Keluarlah, aku menyerah"Teriakku.


Tak ada tanggapan dari mereka, hanya anak kecil yang bermain di taman menatapku heran. Aku memanggil mereka sekali lagi, tetap sama saja.


"Apa jangan-jangan aku ditinggalin lagi??"batinku.


Saat aku hendak kembali ke kursi tempat tasku berada. Kak Juan datang dengan meminum sekaleng minuman. Dia juga membawa minuman yang lain di kantung yang ia bawa.


"Dina sama Dani mana??"tanya kak Juan.


"Gak tau kak, aku belum menemukan mereka. Aku sudah mencari keseluruh taman tapi tidak ada mereka"


"Lagipula kenapa kakak malah ke Mini Market bukannya bersembunyi??"


"Kan sekarang kita bermain petak umpet. Aku bersembunyi di Mini Market. Lagipula aku haus, kamu juga haus kan?? Nih minum"kak Juan memberikan kantung yang ia bawa.


Aku mengambil sekaleng minuman kopi dan segera meminumnya. Kak Juan yang telah selesai minum, pergi dari hadapanku.


"Kak Juan mau kemana?"tanyaku.


"Cari si kembar"katanya.


Aku pikir dia akan meninggalkanku sendiri. Aku pun mencari si kembar lagi.


"Dinaa!!! Dani!!! Keluar yuk, kita pulang!!! Udah sore nih"teriak kak Juan.


"Dinaaa!!! Daniii!!!"teriakku.


Aku kembali ke tempat semula.


"Ketemu?"tanyaku


Kak Juan menggeleng. Aku melihat kekhawatiran di wajah kak Juan. Bagaimana tidak khawatir, adiknya hilang begitu saja. Pasti kak Juan memikirkan yang tidak-tidak.


"Apa mungkin mereka pulang ya kak?"dugaku.


"Engga!, mereka ga tau jalan pulang"katanya.


"Kalau begitu jangan-jangan mereka diculik kak?"


Aku memiliki dugaan tersebut karena mereka anak yang tampan dan cantik. Penampilan mereka juga seperti anak orang kaya.


"Apa kita telpon orang tuanya saja kak?"usulku.


"Ahh.. Jangan, maksudku kita cari lagi mereka. Kita perluas daerah pencarian. Siapa tahu mereka tersesat disekitar sini"katanya.


Kami berpisah untuk mempercepat pencarian. Kak juan ke daerah kanan dan aku ke kiri. Setelah 10 menit mencari, kak Juan dan Aku akan kembali ke taman. Mereka tidak ada dimanapun. Ini positif mereka diculik, huhuhu.


"Kemana mereka pergi sih??"kak Juan terlihat frustasi.


Hari sudah semakin gelap. Taman sudah sepi, hanya tinggal kami berdua disana. Aku berniat ingin menenangkan kak Juan tetapi aku mengurungkan niatku. Tiba-tiba saja HP kak Juan berdering. Terlihat wajahnya yang panik ketika melihat nama si penelpon.


"I..iya tan"kata kak Juan


"Tan?? Tantenya toh"batinku


"Apa??? Hahh... Kenapa tante tidak bilangg!!! Kau membuatku khawatir"kak Juan menghela nafasnya.


"Iyaa... Juan pulang sekarang"


Kak Juan menutup telponnya. Dia ingin membanting hpnya karena kesal tidak diberitahu oleh tantenya soal si kembar yang sudah pulang. Tetapi dia masih sangat sayang pada hpnya itu makanya dia mengurungkan niatnya. Dia memberitahuku bahwa Dina dan Dani sudah pulang bersama orangtuanya.


"Emang rumah kak Juan disekitar sini?"tanyaku.


"Ehmm tidak, aku disini tinggal sama paman dan tanteku"


"Jadiii?? Dina dan Dani bukan adik kakak?"


"Ahaha.. Bukan, mereka anak tante dan pamanku. Mereka tadi ada urusan sehingga menitipkan Dani dan Dina padaku. Agar tidak bosan di rumah, mereka memberiku uang untuk mengajak mereka pergi keluar"jelasnya.


"Ohhh aku berfikir mereka adik kakak"


"Walau mereka bukan adikku, tapi aku sudah menganggap mereka sebagai adikku sendiri. Aku menginginkan adik sejak lama"


"Ya sudah kalau begitu aku sudah lega mengetahui bahwa Dani dan Dina aman. Hari sudah malam, aku pamit pulang ya kak"kataku.


"Aku akan mengantarmu"


"Tak usah kak, kak Juan pasti capek. Jika kakak mengantarku kakak harus berjalan jauh lagi untuk sampai ke rumah"


"Tak apa la.. Ayo"


Kak Juan sudah berjalan duluan menuju arah rumahku. Aku mengikutinya dari belakang. Tak perlu waktu lama kami sampai di rumahku. Aku berterimakasih padanya karena sudah mengantarku pulang. Dia juga berterimakasih karena telah bermain bersama si kembar dan dirinya. Dia juga memberiku sebuah boneka yang mirip seperti boneka yang ku inginkan tadi. Dia berkata seharusnya itu untuk kak Ari tapi dia teringat bahwa aku menginginkannya jadinya dia memberikan itu padaku sebagai ucapan terimakasih. Setelah itu kak Juan pamit pergi dan aku masuk ke dalam rumah.


Sesampainya di kamar, aku menaruh tas dan boneka yang di kasih kak Juan. Saat melihat ke arah meja aku melihat ada jaket kak Juan yang terlipat rapih. Aku teringat belum mengembalikannya, dengan cepat aku segera mencari totebag dan membawa jaket itu. Aku berlari keluar untuk mengejar kak Juan. Untung saja dia belum pergi jauh sehingga dia masih dapat ku kejar.


"Kak!!! Ini jaket kak Juan"kataku memberikan totebag berisi jaket padanya.


"Jaket?? Kok ada di kamu la?"tanyanya.


"Iyaa kakak inget gak pas hari Minggu, pas kita ke pantai. Kakak meminjamiku jaket yang kakak kenakan karena bajuku basah terkena hujan"


"Ahhh.. Aku ingat sekarang, Makasih ya"


"Ahh aku yang harusnya berterimakasih pada kakak. Kalau begitu aku pulang ya kak. Kak Juan hati-hati di jalan, di ujung sana sering ada suara perempuan tertawa"


"Ahh.. Aku tidak takut haha. Ya sudah aku balik yah. Selamat Malam la"


"Selamat Malam kak"


Kami berbalik dan pergi ke arah berlawanan. Selama di kamar aku terus memandangi boneka itu, bahkan aku memeluknya saat aku tidur. Kalian jangan salah paham, ini hanya rasa suka aku pada bonekanya. Kalian kan tahu aku menginginkannya tadi siang. Begitulah hari ini berakhir, aku pun mengetahui sisi kak Juan yang lainnya hari ini.


Bersambung...