Paula

Paula
Chapter 14



"Kelapaaa, kepalaaa, kelapaa..."Aku berjalan dengan malas mencari penjual es kelapa.


"Hoi... Ini pantai, kenapa yang jual es kelapa jarang sekaliii!!"batinku.


Teganya ibu, aku disuruh mencari es kelapa sendiri dan itu bukan hanya satu tapi untuk kami semua. Bagaimana aku membawanya nanti, seharusnya kakak atau siapalah nemenin aku beli.


"Hahhhh!! Aku ingin main game, huhuhu"teriakku.


"Hoi berisik" seseorang berkata padaku.


Segera aku melihat ke arahnya, orang itu adalah kak Juan.


"Eh.. Kak Juan ngapain disini?"kataku.


Aku menyadari jarak kami yang cukup dekat, maka dari itu aku segera menjauh darinya untuk memberi jarak. Aku tidak mau disangka ingin merebut kak Juan karena berdekatan dengannya.


"Tante sama Ari nyuruh buat nemenin, ayo!! "katanya. Dia lanjut berjalan di depanku.


"Kenapa harus kak Juan?"batinku.


"Permisi, penjual es kelapa ada dimana ya?"tanyanya pada seorang penjual.


"Cuma ada satu yang buka mas, ada disanaaa"tunjuknya ke kiri.


"Ga jauh kok cuman 5 resto lagi yang harus dilewatin"sambungnya.


"Anjirlah.. Jauh banget dong, itu mah deket panggung tadi"batinku.


"Terimakasih pak"kak Juan berjalan lagi tanpa menghiraukan ku.


Dia berjalan sangat cepat, tapi sepertinya tidak. Akunya saja yang lambat berjalan.


"Kak, pelan pelan jalannya, capek nih"kataku dengan suara pelan.


Kak Juan sepertinya tidak mendengar ucapanku. Aku diam untuk beristirahat sejenak. Tak terasa, jarakku dan kak Juan semakin jauh saja.


Tiba-tiba saja rintik hujan turun dengan deras, aku segera berlari menuju tempat kak Juan berteduh.


"Lah kok hujan sih, jadi basah deh"eluhku.


"Nih pake, bajumu tembus tuh"


Kak Juan melepas jaket yang ia kenakan dan memberikannya padaku dia juga memalingkan mukanya.. Dengan segera aku menutupi dadaku agar dalamanku tidak terlihat oleh kak Juan, tapi sepertinya dia sudah melihatnya.


"Nih orang kok ngeselin sih, terakhir ketemu kayaknya orangnya asik, taunya ngeselin"batinku.


"Makasih kak"kataku padanya.


Cukup lama kami berdiri di bawah atap toko yang tutup ini. Karena tidak ada kursi, terpaksa kami hanya berdiri sampai seseorang datang menolong kami, atau hingga hujan reda.


"Acheww.. Hmm"


Aku bersin-bersin sejak tadi, mungkin aku kedinginan. Hidungku juga meler, dan aku harus menarik cairannya agar tidak keluar. Jika kak Juan melihatku dengan ingus keluar, mungkin dia akan jijik padaku. Cukup sekali aja aku mempermalukan diriku dihadapannya, tidak untuk kedua kalinya. Tak ada suara dari kami, hanya suara hujan yang terdengar sejak tadi.


"Kak"


"Paula"


Ucap kami berbarengan.


"Kakak saja dulu"


"Kamu kenapa manggil la?"


"Eh.. Anuu.. Ga jadi deh kak"


Seketika rasa gugup menghampiriku.


"Hmm.. Kamu bawa hp kan? Bisa telpon Ari ga suruh jemput kita?"


"Ahh.. Sebentar kak"


Aku mengeluarkan hp dengan grasak grusuk hingga hpku jatuh.


"Aduh aduh.. Kenapa jatuh sih hp"kataku sembari mengambil hp.


Berkat itu layar hpku menjadi basah dan berpasir, sehingga aku harus membersihkannya dahulu. Aku tidak bisa membersihkan dengan tanganku karena tanganku juga basah, satu satunya benda yang kering disini hanya jaket kak Juan.


"Kak, jaketnya ku pakai buat ngelap ini boleh kan?"aku menunjukan hpku yang kotor.


"Pake aja laa.. Cepetan ya"katanya.


Setelah merasa bersih dan kering, aku mencari kontak kak Ari dan menelponnya.


"Tutt.. Tutt maaf nomor yang anda tuju sedang ada hati yang dijaga, silahkan hubungi kembali saat sudah jomblo"


"Hah??... Aku ga salah denger kan ya?"batinku.


Aku mencoba mengubungi kak Ari lagi tapi tetap tidak diangkat olehnya. Akupun mencoba menelpon yang lain, tapi hasilnya sama saja. Aku bertanya-tanya, mereka semua kemana sih. Ga mungkin kan semua hp di silent.


"Ga diangkat-angkat kak"kataku.


"Sini"aku memberikan hpku padanya


Kak Juan mencoba menelpon kak Ari lagi.


"Halo ri.. Kita kejebak nih"dengan sekali percobaan telpon kak Juan langsung diangkat olehnya.


Kak Juan berkata jika sebentar lagi kak Ari datang, tapi dia hanya membawa satu payung, itupun yang hanya dia pakai.


"Kak.. Aku boleh nanya ga?, kakak sama kak Ari udh berapa lama pacaran?"tanyaku penasaran.


"Dari kami ospek berarti sudah mau hampir 4 tahun"katanya.


"Ohh.. Lama juga ya hahaha"


"Iya laa"


Kami saling diam kembali, 10 menit kemudian, kak Ari sampai.


"Hehe maaf lama ya Hubby"katanya.


Kak Juan pergi dahulu dengan kak Ari


"Laa.. Maaf ya duluan"kata kak Ari


"Gpp kok kak"kataku dengan tersenyum.


Mereka pun pergi, aku melihat dari kejauhan mereka sangat mesra sekali.


"Hmm iri sih liat mereka tapi... Cintaku hanya untuk Gintoki seorang"kataku.


Fyi, Sakata Gintoki adalah karakter utama dari serial Anime Gintama yang paling aku suka, dan dia adalah Husbu pertamaku dan mungkin terakhir hehehe, Ya walaupun dia agak bodoh, Aku tetap menyukainya.



Aku lupa mengembalikan jaket kak Juan. Ya sudahlah kuberikan saat di Mobil saja. Sudah sekitar 10 menit aku menunggu kak Ari, tapi batang hidungnya belum terlihat.


"Apa ku telpon lagi saja ya?, tapi aku ga enak"kataku.


Untuk menghilangkan kebosananku, aku menonton anime Gintama. Untung saja batre hp ku masih cukup banyak. Baru sekitar 10 menit aku menonton, aku merasa ada seseorang tengah memperhatikanku. Aku menghentikan anime yang ku tonton lalu mengangkat kepalaku dan aku melihat Vero ada di depanku.


"Ehh.. Paulaa.. Kamu masih disini?"tanyanya.


"Ahh.. Iya, kamu juga kok masih disini?"


"Aku pulangnya nanti malem, aku lagi kabur dari Tanya, dia ngoceh mulu aku capek dengernya. Ngomong-ngomong kamu kejebak? Mau aku anterin pulang ga?"


"Hmm ga usah Ver, aku udah ada yang jemput kok"


Aku kembali menonton.


"Jangan dingin gitu sama aku dong laaa, kamu nonton apa sih?? dari tadi aku liatin senyum-senyum mulu"


Jadi daritadi Vero sudah memperhatikan ku, malunyaaa. Dia mencoba mengintip apa yang sedang ku tonton.


"Ohh.. Anime, judulnya apa la?"tanyanya.


"Ganggu banget sih"batinku.


"Gintama Ver, kamu ga pergi?"kataku.


"Ehmm aku nemenin kamu aja deh la sampe di jemput, gapapa kan?"katanya.


"Terserah kamu aja Ver, tapi berdiri aja kamu gapapa?".


"Gapapa kok"Akhirnya kami menonton anime itu bersama.


"Hahaha lucu banget ya laa"kata Vero sembari tertawa.


Baru kali ini aku melihat Vero tertawa, ternyata dia manis juga.


"Hahaha.. Emang lucu anime ini, aku ga tahan sama kekonyolan mereka. Dari Gintoki sampai Shinsengumi"kataku.


"Kalau ada rekomendasi anime yang lucu lagi kasih tau aku dong la!!"


"Caranya?"


Dia meminjam hpku dan menambahkan dirinya sebagai teman pada Line.


"Kita udah saling add di line, jadi kamu bisa kasih tau aku dari situ"katanya.


"Oke deh.. Nanti sampai rumah ku kasih listnya".


Tak lama terdengar teriakan kakak,


"Ehhhh!! Paualaa"kata kakak.


"Loh kok kakak bukan kak Ari?"tanyaku dengan wajah kebingungan.


"Si Ari kesandung tadi terus kakinya luka deh, maaf ya kakak lama"kata kakak mendekati ku.


"Btw, ini siapa??"kakak berdiri di depan ku seolah melindungi ku dari kejahatan.


"Ahh.. Saya Vero kak"kata Vero.


"Dia kenalan Paula kak.."


"Hmmm.. Bukan pacarmu?"


Kakak tidak percaya dengan perkataanku dan dia menatap Vero cukup lama dengan wajah tidak senang.


Bersambung...