
Sabar ya Der punya Paman gendeng sama othor yang super gendeng!! Warga bocil silahkan minggir dulu area-area hareudang, yang jomblo resiko ditanggung sendiri! Yang punya pasangan jangan sampai lolos..
Sementara Qian mandi terlebih dahulu dan Darrel pergi ke ruangan gym, Darrel selalu menyempatkan diri untuk berolahraga meski sesibuk apapun itulah yang membuat otot-ototnya begitu kekar dan tubuhnya selalu terlihat bugar.
Yang pertama Darrel lakukan adalah melatih otot-otot tangannya dengan mengangkat barbel selama hampir lima belas menit, keringat dalam tubuhnya mulai bercucuran membuat Darrel memilih melepaskan kaos yang dia kenakan.
Berolahraga dimalam hari membuat tubuhnya terasa segar, apalagi membiarkan keringat-keringat itu terus menetes dari wajah dan tubuhnya! Selesai mengangkat barbel Darrel lanjut dengan treadmill (alat untuk berlari, berjalan, menanjak ditempat).
Tubuh Darrel terlihat mengkilap karena seluruh tubuhnya kini banjir dengan keringat, tentu saja keringatnya adalah keringat dengan aroma yang khas sama sekali tidak berbau justru menjadi nilai plus tersendiri ketika dilihat.
Sedangkan Qian yang baru saja selesai mandi segera pergi ke dapur untuk membuatkan spaghetti! Dengan memakai kaos ketat yang pas dengan tubuhnya, membuat lekuk tubuh Qian terlihat jelas seksi mirip seperti gitar Spanyol.
Qian mengenakan rok mini berwarna senada dengan kaos yang dia kenakan yaitu warna merah muda, pakaian santai itu sangat cocok untuk kulit tubuhnya yang putih dan mulus.
Karena Darrel merasa olahraganya telah cukup, Darrel yang merasa haus pergi ke dapur untuk mengambil minum.
Rupanya Qian pun baru membuka.lemari es untuk mengambil bahan makanan, keduanya saling menatap.
"Ya Tuhan tubuhnya membuatku ber ga i rah." Dalam hati Qian.
Bagaimana tidak, Qian melihat Darrel yang tidak mengenakkan atasan, dengan keringat yang masih bercucuran mengaliri otot-otot perut dan dadaa bidangnya! Apalagi Darrel hanya mengenakan celaan boxer yang sangat pres body, membuat lobak import yang terus on point itu terlihat sangat menyembul dari balik boxer.
Glek.
Qian menelan salivanya dan langsung buru-buru mengambil bahan makanan dari lemari es.
"Kau sudah mau masak?"
"I-iya Der," Qian buru-buru membelakangi Darrel.
Berharap Darrel segera mengambil minumnya lalu pergi dari dapur, tetapi setelah Darrel mengambil minuman dan meminum minumannya tidak sedikit kedua mata Darrel mengalihkan pandangannya dari tubuh Qian.
Darahnya berdesir hebat ga i rahnya sudah menggebu-gebu membuat Darrel segera melingkarkan kedua tangannya pada perut langsing Qian.
Dipeluknya tubuh Qian dari belakang oleh Darrel,, membuat kedua bola mata Qian memutar.
"Aku bantu masak ya!" bisik Darrel didaun telinga Qian.
Tubuh Qian sudah gelisah gundah merana dan merinding seluruhnya. Rasanya tubuh Qian sangat lemas ketika Darrel memeluknya dari belakang seperti ini.
"Kau berkeringat Der,"
"Habis olahraga tadi, kau tidak suka aku berkeringat?"
"Su-suka,"
"Kau terlihat kekar dan tampan!"
"Qian ssth,"
Darrel semakin merekatkan tubuhnya dengan tubuh bagian belakang Qian, membuat sesuatu dibawah sana mengenai bokong bulat padat berisi milik Qian.
"Der, keras sekali," Qian menggigit bibir bawahnya.
Tanpa diduga Darrel langsung me lu mat daun telinga Qian, membuat seluruh bulu kuduk Qian berdiri karena sensasi yang diberikan oleh Darrel.
"Emth,"
Dike cu pnya daun telinga hingga keleher jenjang Qian oleh Darrel, saat melakukannya disamping hasratt Darrel semakin memuncak ucapan Paman Nick pun terngiang-ngiang didalam pikiran Darrel.
"Qi bolehkah aku sedikit kasar padamu?"
Sambil kembali melanjutkan aksi menge cup leher jenjang Qian, mendengar keinginan Darrel untuk bermain kasar padanya Qian pun menganggukkan kepalanya.
Mendapatkan lampu hijau dari Qian yang Tika keberatan, Darrel semakin bersemangat untuk mengeluarkan sisi kelelakiannya.
"Emttth,"
Saat Darrel mulai meng hi sap kencang kulit leher Qian sontak saja Qian langsung kegelian, dengan liar Darrel membalikkan tubuh Qian satu tangan Darrel mengusap-usap pinggang ramping Qian sementara satu tangannya yang lain memegangi tengkuk leher Qian.
Bibirnya terus bergerak disepanjang leher jenjang Qian, mengabsen setiap inci kulit lehernya hingga menimbulkan bekas merah disekujur leher Qian.
Kedua tangan Qian berpegangan pada meja kompor dibelakangnya karena tubuh Darrel terus mendesak tubuhnya, puas telah membuat leher Qian dipenuhi bekas merah Darrel segera me lu mat bibir Qian.
Menarik bibir bagian bawah Qian yang terasa empuk dan manis, kemudian menggigitnya pelan dan langsung kembali menye sapnya.
Qian sangat kewalahan oleh permainan Darrel yang mendadak sangat menggila ini, tetapi jika boleh jujur Qian lebih menyukai sisi liar Darrel sekarang dibandingkan sisi lemah lembutnya ketika bermain.
Dengan senang hati Qian membalas ciuman Darrel sehingga keduanya saling menjulurkan lidah, hingga saling membelit dan saling menye sap secara bergantian.
Darrel seperti orang yang sedang diburu-buru oleh naf su yang kian mendesaknya, kedua tangan Darrel dengan kasar mengangkat kaos berwarna merah muda milik Qian hingga sampai diatas dadaa Qian.
Ampun Der othor tidak sanggup berkata-kata dengan perubahan mu yang sekarang diluar dugaan iniš¤¤