
Keduanya saling menatap dengan ibu jari Darrel yang masih betah berkelana didalam rongga mulut Qian.
"Qi," lirih Darrel karena seluruh tubuhnya sudah merinding geli.
Darrel pun mendekatkan wajahnya dengan wajah Qian.
"Leher mu sudah dipenuhi oleh jejak kepemilikan ku, aku bingung harus membuatnya disebelah mana lagi!"
Mendengar bisikan Darrel seketika Qian langsung mengeluarkan ibu jari Darrel dari rongga mulutnya, buru-buru Qian melompat dari atas ranjang untuk menuju cermin didalam kamar itu.
Dan ternyata benar apa yang diucapkan oleh Darrel, seluruh kulit leher Qian telah mendapatkan banyak jejak kepemilikan akibat perbuatan Darrel semalam.
"Darrel, kenapa sampai merah begini? Ya Tuhan, ini tidak bisa hilang Der," Qian berusaha menggosok-gosok kulit lehernya dengan tangan.
Tetapi semua usaha Qian sia-sia karena bekas kemerahan itu tak bisa hilang meskipun digosok-gosok oleh tangannya, Darrel pun menghampiri Qian lalu melingkarkan kedua tangannya dipinggul Qian.
Dilanjutkan dengan Qian yang langsung mendongakkan wajahnya keatas untuk menatap wajah Darrel.
"Abaikan jejak-jejak merah itu,"
"Abaikan bagaimana maksudmu, nanti semua orang di kantor pasti akan mengolok-ngolok aku karena mereka melihat ini, kau jahat Der,"
Cup..
Tapi Darrel justru kembali mendaratkan ciuman dibibir Qian.
"Ada hal penting yang ingin aku katakan padamu," kata Darrel.
"Hal penting? Ada apa?"
"Aku akan dijodohkan dengan gadis pilihan orangtuaku!"
Kedua bola mata Qian langsung membulat, Qian memutar tubuhnya menjadi berhadapan dengan Darrel.
"Kau serius?" tanya Qian dengan raut wajah yang mulai terlihat sedih.
"Aku serius!"
"Lalu untuk apa kau sedekat ini denganku, jika ujung-ujungnya kau akan menikahi wanita lain Der? Lebih baik aku pergi dari sini,"
"Bukan ini jawaban yang aku inginkan," kata Darrel.
Qian melepaskan kedua tangan Darrel yang melingkar dipinggulnya.
Secara perlahan Qian mulai sedikit menjauh memberikan jarak dari Darrel.
"Lebih baik aku pergi dari sini Der,. selamat untuk perjodohan mu,"
"Kau ingin aku menikah dengan gadis pilihan orangtuaku?" tanya Darrel.
Qian terdiam disaat seperti ini dia sendiri bingung untuk mengeluarkan apa yang ada didalam hatinya, jika boleh berbicara jujur didalam hati Qian sudah menjerit-jerit meronta-ronta meminta Darrel agar tidak menerima perjodohan itu.
Dapat Darrel lihat betapa Qian sangat kecewa mendengar berita ini, Darrel melangkah maju mendekati Qian diraihnya dagu manis Qian oleh satu tangan Darrel.
"Kau mau aku menerima perjodohan itu?"
"Kenapa bertanya padaku? Tentu saja aku tidak mau kau menikahi wanita lain,"
"Alasannya?"
"Karena aku menyukaimu!" Qian begitu putus asa sampai dia tidak sadar telah mengutarakan perasaan jujurnya dihadapan Darrel.
"Aku kan tidak kaya?"
"Tidak masalah, aku sekarang sudah kerja aku bisa membantumu mendapatkan uang untuk kebutuhan kita sehari-hari, tapi bisakah kau tolak perjodohan itu?"
"Bagiamana ya?"
Darrel malah keasikan menggoda Qian, dia sangat menyukai wajah murung dan kecewa Qian dengan bibir yang mengerucut seperti itu.
"Der, mungkin sikapku dulu padamu sangat keterlaluan tapi sekarang aku sadar laki-laki kaya atau miskin itu tidak penting, kau mampu mempertaruhkan nyawamu sendiri demi melindungi aku Der, aku jatuh cinta pada mu sejak dulu,"
Darrel sangat berbunga-bunga mendengar ungkapan cinta dari Qian, tetapi tugasnya belum selesai sebelum dia bisa mempertemukan Qian dengan kedua orangtuanya. Barulah setelah mempertemukan Qian dengan kedua orangtuanya, Darrel akan langsung melamar Qian untuk menjadi istrinya.
"Beri aku waktu untuk berpikir,"
Dalam hati Qian sebenarnya dia agak jengkel karena Darrel tak langsung menerima pernyataan cintanya, seperti sedang jual mahal. Tetapi apa boleh buat tidak mungkin juga Qian memaksakan Darrel harus memilihnya saat ini juga.
"Aku akan tunggu jawaban darimu,"
Ayo Der tunggu apa lagi sat set sat set dong kasihan itu lobakmu puasa sampai bab 30 belum juga berbuka puasa.😁